Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Utusan Tuhan



Tiga hari kemudian, Prilly diizinkan kembali dari rumah sakit, ia telah pulih, emosinya juga semakin membaik, tidak ada lagi Prilly yang sensitif dan cengeng.


Mereka kembali ke kediaman orang tua Alexander, menikmati hari-hari pemulihannya dengan sangat baik hingga tak terasa waktu terus berjalan. Alexander telah kembali bekerja seperti dulu, setiap pagi ia berangkat bekerja sekaligus mengantarkan William, Grace dan Leonel pergi ke sekolah. Sedangkan Prilly ia lebih banyak diam di kediaman orang tua Alexander sambil mendesain perhiasan dan juga ia mengatur calon tempat tinggal yang akan segera mereka tempati, hanya perlu sedikit lagi sentuhan maka mansion baru mereka telah siap untuk mereka tempati.


Penuh semangat Prilly memilih seluruh furniture dan juga hal-hal kecil lainnya, ia ingin keluarga kecilnya nyaman di tempat baru, ia ingin anak-anaknya tumbuh penuh cinta darinya dan Alexander.


Bibirnya menyunggingkan senyum saat ia sedang mengawasi layar ponselnya memeriksa melalaui kamera pengawas yang terpasang di setiap sudut calon tempat tinggalnya yang baru, ia sudah memutuskan meninggalkan mansion peninggalan Mike, tidak masalah, mansion berbentuk kastel itu akan menjadi milik Grace ataupun Leonel di masa depan, Glamour Enterprise juga sekarang mulai kembali berkembang pesat di bawah kendali Alexander. Pria itu benar-benar bertangan dingin memegang kendali perusahaan.


“Nyonya Johanson.”


Suara itu berhasil membuat Prilly mendongakkan kepalanya. “Hubby,” desahnya, bibirnya masih menyunggingkan senyum manis.


“Kau tampaknya sedang bahagia sekali, apa yang kau lihat?” tanya Alexander yang baru saja pulang dari bekerja, dengan wajah yang berseri-seri Alexander menghampiri istrinya yang duduk di sofa yang terletak di depan jendela kamar.



Photo from Google.


“Hubby, selamat datang, aku mencintaimu.” Prilly bangkit dari duduknya.


“Aku lebih mencintaimu.” Alexander memeluk istrinya, menciumi pipi Prilly penuh kasih sayang. “Jadi, katakan apa yang membuat istriku tersenyum sendiri?” tanya Alexander sambil mendudukkan bokongnya di sofa, sedangkan Prilly ia mendudukkan bokongnya di paha Alexander.


“Aku ingin segera pindah ke tempat tinggal kita yang baru,” rengek Prilly.


“Itu rupanya.” Jemari panjang Alexander menyelipkan rambut pendek Prilly ke belakang telinganya.


“Apa kau tidak ingin pindah?” tanya Prilly sambil memajukan bibirnya membuat Alexander semakin merasa gemas terhadap istrinya .


Bibir Alexander tersenyum simpul. “Tentu saja aku juga ingin pindah, aku telah mengatur waktunya,” katanya.


“Kapan itu? Aku tidak sabar lagi.”


“Kau selalu tidak bisa menahan rasa penasaranmu, ya?”


“Sebentar lagi masuk bulan Desember, aku ingin natal tahun ini kita telah berada di sana.”


“Semua akan seperti yang kau impikan sayangku,”, Alexander me jawab dengan nada penuh kasih sayang.


“Terima kasih,” ucap Prilly ia mencium pipi Alexander, ia sangat mencintai Alexander, bahkan hatinya penuh dengan pria ini, tidak ada lagi siapa pun selain dia.


“Hari ini surat ceraiku dan Jovita telah keluar." Alexander memberi tahu sambil menatap mata Prily.


“Kau sangat licik, mana mungkin secepat itu?”


Alexander menyeringai licik sambil mengangkat sebelah alisnya. “Apa yang tidak bisa aku beli?” tanyanya dengan nada yang terdengar licik pula.


Prilly terkekeh seraya menangkup kedua pipi Alexander, “hubby kau benar-benar berbuat curang.”


“Untuk mendapatkanmu, aku tidak bisa berlama-lama, Prilly kau tahu aku ingin sekali dunia tahu kau milikku," ujar Alexander sambil mengecupi telapak tangan istrinya.


“Terima kasih telah begitu gigih kepadaku,” kata Prilly lirih.


“Kau seperti utusan Tuhan saja, kau sok tahu,” kata Prilly dengan nada mengejek dan tertawa riang.


Mereka berdua tertawa bahagia, kebagian yang nyaris sempurna, mencintai dan di cintai.


***


Sementara di sudut lain London.


“Jadi kau telah resmi di ceraikan oleh Alex?” sinis Charles yang duduk di depan Jovita, mereka bertemu di sebuah restoran.


“Katakan saja apa maumu?” tanya Jovita dengan nada tak kalah sinis.


“Sederhana, aku hanya ingin kau mengambil Alexander kembali, aku akan membantumu,” jawab Charles dengan nada dingin.


“Alexander tidak menginginkanku lagi, sia-sia saja meski aku berusaha, aku bukan wanita bodoh yang akan mengemis cinta.” Jovita menjawab dengan nada ketus.


“Aku benar-benar serius menginginkan Prilly, jika Prilly menjadi milikku kujamin hidupmu dan Alexander akan tenang.” Charles mengucapkan kalimatnya dengan nada penuh percaya diri.


“Kau tidak akan bisa mengambil Prilly dari Alexander dengan cara sesederhana itu, mereka berdua memiliki ikatan yang sulit di jelaskan, bukan hanya sekedar anak,” kata Jovita dengan nada penuh tekanan, dadanya terasa sakit, ia tahu Alexander dan Prilly tumbuh bersama sejak kecil, ikatan mereka bukan sekedar anak.


“Katakan saja bahwa kau hamil, ia tidak bisa seenaknya saja menceraikanmu,” kata Charles enteng.


Sesaat Jovita terlihat gugup, ia memandangi Charles yang dengan mudah mengatakan agar ia menggunakan alasan ia hamil? Gurauan apa itu? Ia akan ditertawakan oleh Alexander dan Prilly. Kedua orang itu adalah orang yang mengetahui kekurangan dalam dirinya, dan sekarang ia harus bersandiwara bahwa ia hamil?


Jovita ingin sekali tertawa sekeras-kerasnya untuk menertawakan ide bodoh yang di cetuskan Charles.


“Itu gila dan konyol,” sinis Jovita.


“Apa suamimu tidak pernah lagi menyentuhmu sejak lama?” tanya Charles dengan seringai seperti menghina.


“Kau terlalu dalam mencampuri masalahku,” kata Jovita dengan nada dingin.


“Kau juga mantan sekretarisnya, apa kau memiliki informasi data perusahaannya? Jika kau memilikinya aku akan membuatnya menderita, jika kau bersedia bekerja sama denganku.” Charles benar-benar gigih untuk mendapatkan Prilly rupanya, ada apa dengan wanita itu? Batin Jovita mulai geram, semua pria tergila-gila ingin mengejarnya.


Dan data perusahaan? Kebodohan macam apa lagi? Jika Alexander bangkrut berarti ia juga akan mengalami kebangkrutan.


Perusahaan yang di berikan Alexander kepadanya hanyalah anak cabang saja, yang berarti itu perusahaan itu masih bergantung pada induknya, tidak bisa berdiri sendiri, dengan kata lain Jovita hanya mengurusnya, memantau dan hasil yang masuk ke dalam rekening miliknya tentu semua juga ada perhitungannya, bukan mutlak menjadi miliknya, Alexander yang kini adalah mantan suaminya itu bukan pria yang bodoh!


Dan ngomong-ngomong Jovita merasa mereka seperti dua orang patah hati yang sedang berusaha membuat persatuan, jika terlalu lama bersama Charles mungkin bisa berdampak buruk di mata orang lain meskipun ini di Eropa, ia baru saja bercerai, dan ia kini tengah duduk bersama seorang pria yang lebih muda darinya tiga tahun, ia khawatir jika dirinya terlihat seperti sedang menggoda seorang pria yang lebih muda darinya.


'Bodoh sekali!' batin jovita, buru-buru Jovita bangkit dari duduknya dan berpamitan meninggalkan Charles tanpa peduli lagi dengan tawaran dan usul konyol yang di ajukan Charles.


YANG MASIH PENASARAN SIAPA YANG BOBO SAMA JOVI, NANTI PASTI DI JAWAB, BEBERAPA PART LAGI🤗🤗🤗🤗 SABAR, ITU KUNCI BACA NOVEL ONLINE 😚😚😚😚


TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤


JIKA SAYANG AUTHOR JANGAN LUPA VOTE NOVEL INI ❤❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤