Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Lega



“David, aku ingin mengatakan sesuatu,” ucap Anne ketika ia kembali ke tempat di mana David menunggunya.


“Apa itu?” tanya David sambil membuka buku menu.


Anne menghela napas dalam-dalam lalu perlahan mengembuskannya, matanya menatap mata David dalam-dalam. Di dalam batinnya ia berdoa memohon kepada Tuhan agar keputusannya tidak salah. “Aku telah memutuskan, aku tidak bisa lagi memberikan kesempatan kepadamu,” kata Anne cepat-cepat. Berharap David segera mencerna apa yang ia ucapkan dengan cepat.


David menutup buku menu di tangannya. Ia membalas tatapan Anne. “Karena Harun?”


Anne tersenyum. “Ada atau tidak ada Harun, itu sama sekali tidak ada hubungannya.”


“Aku serius kepadamu kapi ini,” kata David dengan nada serius pula.


Anne menelan ludahnya. “David, hubungan kita dulu mungkin ada karena kita terbiasa bersama, bukan karena ada perasaan cinta yang sesungguhnya.”


“Logika macam apa itu?” sahut David dengan nada tidak terima.


“David, apa saat kita berpisah kau pernah mencariku?” tanya Anne dengan nada serius.


David tidak bisa menjawab karena faktanya demikian.


“Demikian juga aku, aku tidak pernah berusaha mencarimu dan aku merasa hidupku baik-baik saja tanpa dirimu.” Meski berat mengatakannya tetapi faktanya memang demikian. Hidupnya baik-baik saja tanpa pasangan, tanpa David.


“Anne, bisakah kau mempertimbangkan lagi keputusanmu? Pikirkan lagi... maksudku kita seharusnya menikah karena usia kita tidak muda lagi,” kata David, matanya menyorot Anne dengan penuh harap.


Anne tertawa hambar. “David, menurutku menikah bukanlah sebuah pencapaian dalam sebuah siklus kehidupan, untuk apa menikah jika rumah tangga yang kita bangun tidak di landasi cinta yang kuat?”


“Bisakah kau memikirkannya sekali lagi?”


Anne memejamkan matanya erat-erat beberapa detik. “Maaf, aku tidak ingin lagi memberimu harapan dan aku juga tidak ingin berharap apa-apa lagi dari hubungan kita. Sudah cukup, aku mengerti sekarang kita memang tidak sejalan dan pastinya tidak akan bisa kita paksakan.”


Anne menangkup telapak tangan David menggunakan satu telapak tangannya. Ia kembali memejamkan matanya beberapa saat untuk merasakan sesuatu di dalam benaknya yang sama sekali tidak merasakan apa pun. Ya, tidak ada getaran apa pun meski David menyentuh kulitnya.


Aku harap keputusanku ini benar.


“Bisakah kita bersahabat di masa depan?” tanya Anne.


David memaksakan senyumnya, ia sama sekali tidak menyangka jika Anne menemuinya hanya untuk mengatakan penolakan. Kecewa? Tentu saja kecewa tetapi ia harus menghormati keputusan Anne, lagi pula yang Anne katakan benar, sejauh ini mereka telah berpisah dan tak satu pun dari mereka saling berusaha memperbaiki hubungan yang retak hingga patut di pertanyakan apakah benar di antara mereka ada perasaan di dalam diri mereka yang di sebut Cinta?


***


“Kau tampak berseri-seri sekali hari ini,” ucap Prilly kepada Anne saat mereka memasuki mobil yang di kemudikan oleh Danny, mereka bertiga sedang menuju ke sebuah perusahaan milik Jay Al-fatih karena akan membahas rencana kerja sama.


“Benarkah?” tanya Anne.


“Iya, kau tampak bersinar seperti seorang perawan yang sedang jatuh cinta,” goda Prilly.


Anne terkikik. “Aku telah menolak David dua hari yang lalu,” kata Anne memberi tahu sahabatnya.


“Apa hubungannya? Kenapa kau jadi berseri-seri?” Prilly menggelengkan kepalanya.


Anne menaikkan kedua bahunya bersamaan. “Karena aku merasa tidak memiliki beban apa pun lagi, rasanya sangat lega,” ucapnya di sertai senyum semringah.


Bersambung.


Sorry pendek banget ya. Aku akan menamatkan dalam satu atau dua bab lagi.