
Sementara Jovita dan Harun.
“Madam, saya akan mengantarkan Anda kembali,” kata Harun dengan sopan.
“Tidak perlu,” tolak Jovita sambil melangkahkan kakinya menuju tempat di mana mobilnya di parkirkan.
“Tapi Madam, Sir Alexander memerintahkan,” kata Harun lagi, ia tidak mau di salahkan oleh bosnya yang tidak tahu terima kasih itu.
“Tidak kataku!” bentak Jovita yang telah kehilangan kesabarannya sejak adegan Alexander datang dan membawa Prilly.
“Maaf, saya tidak berani menentang Sir Alexander,” kata Harun masih berusaha mengejar Jovita yang melangkahkan kaki dengan cepat.
“Katakan di mana mereka tinggal?” tanya Jovita sambil mengatur nafasnya.
Harun hanya diam.
“Kau takut memberi tahuku?” tanya Jovita dengan nada galak.
“Maafkan saya, Madam,” jawab Harun, ini pertama kalinya ia melihat istri pertama bossnya tampak begitu marah.
“Katakan di mana mereka tinggal?!” bentak Jovita.
“Mereka berada di mansion orang tua Sir Alexander,” jawab Harun setelah mempertimbangkan bahwa nyonyanya yang satu ini tidak mungkin datang ke tempat itu.
Jovita segera membuka pintu mobilnya, menginjak pedal gasnya dengan kasar dan meninggalkan Harun yang tergagap, mungkin saja kali ini tebakannya salah. Harun segera mengejar ke mana Jovita melajukan mobilnya dan benar saja wanita itu ternyata nekat melajukan mobilnya menuju kediaman orang tua Alexander. Sesampainya di sana pelayan yang membukakan pintu untuk Jovita bahkan tidak mengenalnya jika ia adalah istri Alexander menantu resmi di keluarga itu.
“Aku ingin bertemu Alexander,” kata Jovita langsung.
“Maaf, Anda siapa?” tanya pelayan yang membukakan pintu dengan nada ramah.
“Aku istrinya,” jawab Jovita dengan nada kesal.
“Istri?” gumam pelayan itu sambil pandangannya menyapu dari ujung kepala hingga ujung kaki Jovita.
“Tapi Tuan Muda sedang tidak ada di tempat, mungkin Anda bisa menunggu terlebih dahulu,” kata pelayan itu.
“Bisakah aku menunggu di kamarnya?” tanya Jovita, ia enggan bertemu dengan Diana.
“Maaf, saya tidak berani mengizinkan Anda, saya akan bertanya dulu pada Nyonya.”
“Kurasa itu tidak perlu, aku istri Alex," kata Jovita sambil melangkahkan kakinya hendak memasuki mansion itu, tapi baru saja ia melewati pintu utama, suara wanita dengan nada dingin menghentikannya.
Diana sedang menggendong Grace yang tampak lemah dan manja.
“Kau tidak berhak memasuki rumahku tanpa seizinku,” suara itu adalah suara Diana.
“Mommy....” Jovita spontan menghentikan langkah kakinya.
“Mommy?” Diana dengan sinisnya mengulang appa yang di ucapkan Jovita. “Aku bukan siapa-siapamu, berhenti di situ, jika kau ingin menemui putraku, jangan melangkah lebih jauh atau aku panggil keamanan untuk mengusirmu,” ucap Diana dengan nada semakin sinis.
Jovita mendengus kesal, tentu saja ia sedikit menyesali tindakannya yang terbakar emosi hingga ia mengabaikan logikanya dan menyusul Alexander menuju kediaman orang tuanya, hasilnya ia justru mempermalukan dirinya sendiri.
“Nona, silakan duduk,” kata pelayan yang bernama Elly itu mempersilahkan Jovita untuk duduk.
Jovita dengan kesal duduk di sofa ruang tamu, dadanya turun naik menahan amarah, tidak hanya anaknya yang menyakitinya, mertuanya juga sangat keterlaluan.
Satu jam berlalu, Jovita menunggu sambil memainkan layar ponselnya sementara beberapa pelayan berdiri mengawasinya seolah ia adalah penjahat yang hendak merampok kediaman itu.
Sementara Harun berdiri tidak jauh dari para pelayan yang mengawasi Jovita, wajahnya amat sangat tegang, ia pasti akan di caci-maki oleh bosnya yang tidak tahu terima kasih dan sinting itu lagi, pria itu terus mendoakan dirinya, sejak bosny mengejar Prilly ia berubah menjadi sekretaris yang malang.
Ketika pintu utama mansion terbuka yang pertama kali Jovita lihat adalah Alexander yang menggenggam telapak tangan Prilly dan rambut keduanya yang tampak berantakan. Sekarang Jovita mengerti mengapa mereka begitu lama, mereka pasti telah melakukan hal-hal yang tidak wajar di dalam mobil.
Api cemburu Jovita berkobar di dadanya, ia segera bangkit dan entah dorongan dari mana tiba-tiba, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Prilly.
“Jovita!” Suara Alexander menggema di seluruh ruangan, tidak ada seorang pun yang menyangka karena kejadiannya begitu cepat dan tidak terduga.
Prilly memegangi wajahnya yang terasa panas. “Tampar aku lagi hingga kau puas Jovita, aku memang pantas mendapatkannya,” katanya dengan suara rendah.
Alexander langsung membawa Prilly ke dalam pelukannya.
“Kalian penghianat, kalian berzina di belakangku!” teriak Jovita.
“Jaga ucapanmu, Jovita!” Suara Alexander masih terdengar tinggi, lebih tinggi dua oktav di banding suara Jovita.
“Prilly, aku selama ini sangat kagum padamu, tapi aku tidak menyangka kau mengambil suamiku!" Seru Jovita sambil memicingkan kedua matanya.
“Prilly tidak salah, aku yang salah, aku yang mengejarnya, aku mencintainya, aku yang memaksanya untuk jatuh cinta kepadaku,” kata Alexander sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Prilly. “Aku telah menyiapkan gugatan perceraian, kau tanda tanganilah.”
“Cerai? Tidak Alex aku tidak mau!” Teriak Jovita.
“Jovita aku tidak mencintaimu, aku hanya mencintai Prilly, hanya dia yang kucintai seumur hidupku. Kumohon mengertilah.” Alexander mencoba menjelaskan sambil memberikan kode pada Harun dan pelayan untuk memegangi tubuh Jovita yang hendak menyerang dirinya dan Prilly.
“Sejak kapan kalian memiliki hubungan?” tanya Jovita sambil berusaha meronta karena tubuhnya di halangi oleh Harun, ia tampak sangat emosi hingga ingin memukuli Alexander.
“Kami menikah di Barcelona saat kau berada di singapura,” jawab Alexander sejujurnya.
“Kalian benar-benar menikamku dari belakang!” teriak Jovita sambil terus meronta.
“Maaf Jovita, aku hanya mencintai Prilly, kami saling mencintai,” kata Alexander tegas, meski berat mengatakan sejujurnya pada Jovita karena pasti ucapannya menyakiti Jovita, tetapi cinta memang kejam, ia juga harus memberikan ketegasan meski salah satu dari istrinya harus tersakiti.
“Prilly, kau percaya padanya? Ia hanya membual, ia mengatakan mencintaimu tapi dua minggu yang lalu di pesta ulang tahun Daddy Richard ia bahkan masih tidur denganku, cinta? cinta macam apa itu? kau pembohong Alex! Kau hanya memikirkan nafsumu! Kau tidak pernah cukup dengan satu wanita!” Cerca Jovita dengan nada sinis penuh emosi.
Prilly yang berada di dalam dekapan Alexander justru merasa kepalanya berputar-putar mendengarkan semua perkataan Jovita, ia merasa kepalanya semakin berat, tulang belulangnya seperti terlepas dari raganya, kakinya todak mampu lagi menopang berat badannya dan perlahan ia merosot dari dekapan Alexander. Prilly kehilangan kesadarannya.
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤
JIKA SAYANG AUTHOR VOTE NOVEL INI ❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤❤