Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Ambisi



TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!


Prilly melemparkan senyumnya kepada Jovita yang disambut dengan senyum yang tampak hambar oleh Jovita kemudian ia menyapa dengan nada ramah. “Selamat siang, Jovi.”


“Selamat siang, senang bertemu denganmu kembali,” jawab Jovita sembari berdiri dan menerima uluran tangan Prilly yang menyalaminya. Bagaimanapun ia memang kecewa karena yang ia temui bukanlah Alexander tetapi ia harus bersikap profesional dan memperlihatkan ketenangannya di depan Prilly.


“Senang bertemu denganmu,” ucap Prilly sambil menjabat erat tangan Jovita.


Danny menarik sebuah kursi untuk Prilly duduk, kursi itu adalah kursi yang biasa Alexander duduki di ruang pertemuan itu membuat Jovita sekilas melirik Prilly dengan ekor matanya dengan sinis.


“Terima kasih, Danny,” ucapnya kepada Dani sambil duduk.


Sementara Dani ia duduk di samping kiri Prilly, posisinya berhadap-hadapan dengan Jovita.


“Jovi, kebetulan aku wakili suamiku untuk pertemuan ini karena suamiku memiliki urusan yang lebih penting,” kata Prilly mengawali pembicaraan mereka.


Urusan yang lebih penting, dengan kata lain pertemuan ini sepertinya tidak begitu penting bagi Alexander.


Bibir Jovita mengilas senyum sinis yang sangat samar, nyaris tak terlihat oleh siapa pun. “Oh, tidak masalah selama kau mengerti dengan apa yang akan aku tawarkan,” ucap Jovita seolah meremehkan Prilly.


Prilly tersenyum manis, tidak ada emosi di wajahnya mendengar ucapan Jovita yang terang-terangan meremehkan dirinya. Tidak masalah, wajar Jovita meremehkannya karena selama ini Prilly lebih banyak berperan sebagai ibu rumah tangga tetapi Jovita sepertinya melupakan bahwa Prilly juga pernah memimpin perusahaan sebanyak dua kali.


“Aku akan mencoba memahaminya, bagaimana pun aku harus belajar,” ucap Prilly dengan nada merendah.


Jovita Menyerahkan sebuah map yang berisi salinan dokumen kepada Prilly. “Kau bisa mempelajarinya dulu, setelah itu kau bisa tanyakan apa saja kepadaku,” katanya dengan nada yang kurang bersahabat.


Prilly menerimanya tanpa mengucapkan apa pun. Sesuai kata Jovita yang mempelajari dengan saksama setiap tulisan yang berada di atas kertas di depannya, sedangkan Danny ia mengawasi kedua wanita di depannya dengan kewaspadaan penuh. Prilly membaca setiap lembar penawaran dengan ekspresi wajah begitu tenang seolah ia tidak terganggu dengan apa pun angka dan huruf yang ada di atas kertas itu. Setelah ia selesai membacanya ia memberikan kepada Danny dokumen itu.


Prilly berdehem. “Begini Jovita, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan,” ucapnya.


Jovita yang tadinya memfokuskan pandangannya di layar laptop mengalihkan pandangannya ke wajah prilly. “Aku akan menjawabnya.”


Satu demi satu Prilly menanyakan semua yang mengganjal di otaknya tanpa membuka dokumen yang baru saja di bacanya. Ia telah menghafal seluruhnya hanya dengan membacanya satu kali saja. Ia mampu mengingat semua nama yang tercantum di dokumen yang telah ia baca, ia juga ingat di mana angka-angka yang ganjil dan semua yang terlihat tidak akan memberikan keuntungan bagi perusahaan milik suaminya membuat Jovita diam-diam takjub dan tidak menduga jika Prilly bisa melakukan semua itu.


“Satu Minggu lagi bisakah kau menjadwalkan Mr. Al-Fatih untuk bernegosiasi? Kami memerlukan negosiasi langsung dengan pemilik perusahaan,” kata Prilly setelah dialog antara ia dan Jovita di rasa cukup.


***


“Kau melakukan dengan baik sayangku,” ucap Alexander saat pertemuan Prilly dan Jovita berakhir.


Prilly meletakkan map di tangannya ke atas meja kerja Alexander. “Istri seorang Taycoon harus bisa memantaskan diri, bukankah begitu?” Prilly mengucapkan kalimatnya dengan nada sombong.


Alexander menyeringai puas. “Kau memang istri seorang Taycoon,” katanya dengan nada bangga.


Alexander mengawasi kedatangan Jovita melalui kamera pengintai. Memang sejak awal ia telah merencanakan semua dengan rapi, jika Jovita datang bersama Jay maka Alexander akan menemui mereka bersama Danny. Tetapi, jika benar Jovita datang sendiri maka jalan yang terbaik adalah memberikan shock terapi kepada Jovita dengan menghadirkan istrinya untuk mewakilinya. Sementara Alexander mengawasi jalannya pertemuan itu di ruangannya.


“Jadi apa kesimpulanmu?” Alexander bangkit dari kursinya. Memberikan kursinya untuk di duduki oleh istrinya kemudian ia sendiri duduk di kursi yang ada di seberang meja seolah ia adalah bawahan Prilly.


“Mereka sepertinya telah bekerja sama dengan perusahaan milik orang tua Charles, bahkan kuasa hukum yang menangani perusahaan perwakilan milik Jay di sini adalah firma hukum milik Charles.” Prilly memberitahu suaminya isi berkas yang ia baca.


“Benarkah?” Alexander nyaris tidak bisa mempercayai apa yang ia dengar. “Jadi ayah Charles itu telah mampu bangkit kembali?”


“Lalu?”


“Maksudku, bisnis perhotelan mereka sama sekali tidak goyah karena aset perhotelan ini adalah milik ibu Charles,” kata Prilly.


“Dari mana kau tahu?” Alexander mengerutkan keningnya.


“Charles adalah teman satu fakultasku. Astaga, dia itu dulu sangat sombong. Playboy dan sok tampan,” kata Prilly, bibirnya mulai gatal bergosip.


Alexander tertawa kecil. “Padahal kau yang dulu kukenal sangat pendiam, ternyata kau gemar mendengarkan gosip juga, ya?”


Prilly menyeringai. “Karena dinding juga memiliki telinga, asal kau tahu itu,” katanya.


“Baiklah, lalu bagaimana menurutmu, Nyonya? Apa kerja sama itu akan menguntungkan bagi kita?” tanya Alexander dengan nada formal namun menggoda.


Prilly berdehem. “Yang aku lihat di sini... Jovita dan Charles mereka memperalat Jay untuk kepentingan mereka. Jay hanya alat untuk memenuhi ambisi mereka.”


Alexander menaikkan sebelah alisnya. “Kau yakin dengan analisamu?”


“Kau bisa pelajari dokumen itu jika kau masih tidak yakin dengan analisaku,” jawab Prilly.


***


Mike sedang bekerja di ruang belajar di tempat tinggalnya, ia sedang menyiapkan keperluan untuk film yang akan ia luncurkan. Jemarinya menari di atas keyboard laptopnya dengan cepat seolah otak dan jarinya menyatu dalam kekuatan menakjubkan. Sesekali ia berhenti dan mengamati tulisan yang telah di hasilkan di layar laptopnya.


Helena meletakkan secangkir kopi di mejanya, Mike mengalihkan tatapan atasnya ke arah istrinya yang hendak berlalu pergi meninggalkannya sendiri di ruangan itu. “Sayang, terima kasih,” ucapnya.


Helena mengangguk. Ia bermaksud kembali melangkahkan kakinya tetapi Mike memanggilnya lagi dan memerintahkan Helena untuk tetap tinggal di ruangan itu. “Ada apa?” tanya Helena.


“Temani aku,” kata Mike.


“Aku harus mengurus Sidney, dia... sedang bermain air bersama Kirara di belakang,” kata Helena.


“Sudah berapa lama?” tanya Mike.


“Belum terlalu lama, sekitar sepuluh menit sepertinya,” jawab Helena.


Mike melirik jam di laptopnya. “Biarkan lima belas menit lagi,” katanya.


“Mike kau... maksudku... besok kita memiliki janji dengan Sidney untuk pergi ke taman, apa kau mengingatnya?” tanya Helena sedikit canggung.


Mike meraih cangkir kopi di depannya, perlahan ia menyesap kopi yang masih terlihat mengelukan uap panas dengan bibirnya. “Aku mengingatnya,” jawabnya sambil meletakkan kembali cangkir kopi di tangannya ke tempat semula.


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️


TERIMA KASIH ❤️


🍒🍒🍒🍒