Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Istri galak & suami pengatur



Sementara di tempat lain, Jovita membenamkan wajahnya di balik selimutnya. Wanita itu sedang menikmati rasa sakit, marah dan kecewa yang menjadi satu. Hatinya terasa terpotong oleh belati, bahkan baginya kini dunia terasa seperti runtuh dan menimpa kepalanya, sakit. Sangat sakit. Mungkin setara dengan rasa sakit yang Prilly derita saat ia menjumpai suaminya tidur dengan ****** yang tak lain sekretaris Alexander, memang bukan Jovita perusak rumah tangga Alexander dan Prilly. Tetapi, ia termasuk salah satu ****** koleksi milik Alexander, apa bedanya ia dengan sekretaris terdahulu Alexander? Hampir tak ada bedanya. Bedanya hanya ia beruntung dinikahi oleh Alexander.


Siapa pun di London mengenal Alexander, ia bukan keturunan bangsawan di Inggris namun ia memiliki kekayaan yang fantastis dan derajatnya tidak di ragukan lagi, di masa lalu hanya dengan dengan menjadi ****** Alexander saja gadis-gadis di London seperti mendapatkan gengsi tersendiri, padahal mereka bahkan mungkin tidak pernah di ajak berbicara oleh Alexander yang kaku dan dingin, dan bisa dipastikan Alexander tidak mengingat satu pun nama mantan sekretaris ranjangnya.


Sekarang dimata Jovita, ia adalah korban pelarian Alexander yang patah hati karena wanita pujaannya di nikahi sepupunya sendiri, pria itu bisa-bisanya memperlakukannya dengan baik selama bertahun-tahun dan berpura-pura mencintainya.


Jovita terus meratapi nasibnya, bagaimanapun image mantan ****** Alexander tak bisa di hapus meski ia adalah istri sah Alexander, ini bukan pertama kalinya ia menyesal menerima kontrak sebagai sekretaris Alexander dan dengan bodohnya jatuh cinta pada pria itu, Jovita merasa ia semakin hancur manakal teringat dirinya adalah wanita cacat, ia akan di tinggalkan suaminya karena tak mampu memberikan keturunan, siapa yang tak menginginkan hangatnya keluarga, memiliki anak kecil di tempat tinggal mereka yang menjadi penerang dalam rumah tangga, tapi manusia bisa apa? Ada Tuhan yang mengatur segalanya.


Bagaimana kelak ia menjelaskan pada orang tuanya?


Bagaimana ia menghadapi cemoohan teman-temannya?


Apa ada pria yang mau menikahinya lagi kelak dengan keadaannya?


Apa ia harus berpura-pura hidup sebagai wanita normal kelak?


Beberapa hari lagi ia yakin ada akan datang seorang pengacara untuk mengantarkan dokumen perceraian yang harus ia tanda tangani, mau tidak mau ia harus menandatanganinya, ia tahu perangai Alexander, ia tidak akan berhenti memaksakan kehendaknya, pria yang tak lain akan menjadi mantan suaminya itu tidak bisa di bantah.


Semakin ia berpikir semakin kepalanya terasa berdenyut, ia berusaha memejamkan matanya, meskipun ia pikirannya mengambang dan melayang mengembara mengingat kebersamaannya dengan Alexander.


Sedangkan di rumah sakit di mana Prilly dirawat, Alexander sedang menyuapi istrinya sarapan pagi itu.


“Kau berjanji pagi ini,” ucap Prilly pada Alexander dengan nada galak.


“Berjanji?” tanya Alexander berpura-pura lupa.


“Hubby, jangan main-main dengan janjimu tadi malam,” ucap Prilly dengan nada galak.


“Kau galak sekali sekarang,” kata Alexander dengan nada geli.


“Tentu saja aku galak karena aku sedang mengandung anakmu,” jawab Prilly acuh.


“Anak kita.”


“Apa dia akan mirip William?” tanya Prilly.


“Aku ingin dia mirip ibunya yang galak dan cengeng,” jawab Alexander dengan nada menggoda, pantas saja Prilly sangat cengeng dan sensitif, ternyata sel telurnya telah berhasil di buahi sejak pertama kali mereka melakukan hubungan badan.


“Aku tidak cengeng,” elak Prilly dengan nada tidak terima.


“Benarkah? Tapi kau penakut dan terken—“


“Ei-lek-sen-de!” Prilly tahu , suaminya akan mengungkit aibnya di masa lalu.


Alexander terkekeh, tentu saja ia tidak melanjutkan kalimat itu, “habiskan makanmu, jadilah patuh, kau sangat manis seperti Grace jika patuh,” kata Alexander sambil menyuapkan makanan ke mulut Prilly.


“Bukan aku yang seperti Grace, kau harus tahu itu,” Prilly menjawab setelah ia selesai mengunyah dan menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.


“Oh ya? Jadi seperti apa yang benar?” tanya Alexander sambil mengangkat kedua alisnya.


“Gracelah yang sepertiku,” kata Prilly dengan nada percaya diri.


Alexander terkekeh, ia mengecup kening Prilly.


“Grace baik-baik saja, Mommy merawatnya dengan baik,” jawab Alexander menghancurkan harapan Prilly untuk bebas dari jarum infus.


****


Dua hari kemudian.


“Hubby kau dari mana?” tanya Prilly pada Alexander yang baru saja masuk ke dalam kamar tempat ia di rawat, Prilly masih duduk di kursi roda di temani oleh Anne dan Linlin, setiap hari mereka datang menjenguk Prilly setelah di beritahu oleh Alexander bahwa Prilly di rawat di rumah sakit.


“Aku memanggil Harun untuk menyelesaikan tagihan rumah sakit,” kata Alexander sambil menghampiri istrinya dan membelai rambut pendek Prilly.


“Jadi aku boleh kembali?” tanya Prilly antusias.


“Ya, kita akan kembali.”


“Sukurlah, kau di izinkan kembali,” kata Linlin.


“Aku sangat bosan berada di sini,” keluh Prilly untuk ke sekian puluh kali.


“Kau selalu memakai trik licik agar bisa keluar setiap harus di rawat di rumah sakit,” kata Linlin sambil tertawa kecil.


“Tapi kali ini trikmu tidak satu pun berhasil karena suamimu lebih licik di banding trikmu,” ejek Anne.


Ketiga gadis itu tertawa bersama, sedangkan Alexsander hanya tersenyum, istrinya itu telah berulang kali berusaha mengelabuhi perawat dengan berbagai macam alasan agar di izinkan mencabut jarum infus di tangannya, namun triknya tidak di gubris perawat. Tentu saja penyebabnya karena Alexander terus berada di samping Prilly menatap perawat dengan tatapan dingin yang membuat bulu kuduk perawat yang di tatap oleh Alexander ingin segera meninggalkan kamar itu.


Tidak lama Harun datang, ia telah membereskan semua tagihan perawatan Prilly, Harun di bantu Anne mengemasi barang-barang Prilly dan Alexander, setelah perawat datang dan melepas jarum infus yang melekat di punggung tangan Prilly.


“Hubby, di mana sandalku?” tanya Prilly.


Alexander mengernyit, ia membawa Prilly ke rumah sakit dalam pingsan, tentu saja ia tidak mengenakan sandal di kakinya saat itu dan selama di rumah sakit Alexander Prilly mengenakkan sandal yang di sediakan rumah sakit.


“Kau tidak memerlukan itu, aku akan menggendongmu,” kata Alexander membuat Prilly membelalakkan matanya.


“Jangan bercanda, aku sudah sehat, kakiku baik-baik saja.”


“Aku lupa meminta Harun membawakan sandal, kau pakai dulu sandal rumah sakit, maafkan aku.”


“Aku rasa itu lebih baik dari pada di gendong.”


Alexander hanya tersenyum menghadapi istrinya yang sulit sekali di atur sesuai keinginannya, tetapi pada akhirnya Prilly tetap harus duduk di kursi roda, Alexander tetap tidak mengizinkan istrinya berjalan sendiri meski bibir Prilly tak henti-hentinya melayangkan protes berkali-kali, ia hamil, bukan lumpuh, kenapa suaminya memperlakukannya seperti orang lumpuh?


Sementara Annne, Linlin dan Harun hanya saling lirik penuh arti menyaksikan Prilly dan Alexander yang terus saja berseteru.


PASTI PADA NGAREP PART INI ADA PENJELASAN SIAPA YANG BOBO SAMA JOVI 😄😄😄


UWUUUUUUU 😄😄😄


TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤


VITE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤