
Sementara di ballroom tempat pesta berlangsung, Jovita dan Alexander meminum anggur mereka, Alexander beberapa kali mendentingkan gelasnya pada gelas Jovita, ia harus membuat Jovita mabuk agar istrinya itu tertidur, ia tahu berapa kaar alkohol istrinya, sepanjang pernikahan mereka istrinya tidak pernah lagi menyentuh alkohol, tentu saja kemampuannya terhadap alkohol sangat rendah.
Setelah Jovita tertidur Alexander harus membuat perhitungan dengan Prilly yang berani-beraninya menerima ajakan pria lain untuk berdansa di depan matanya.
Benar saja tidak berapa lama Jovita memegangi kepalanya. “Alex, aku ingin ke toilet,” kata Jovita.
“Sebaiknya kita ke kamar untuk beristirahat,” ajak Alexander.
“Kepalaku sangat sakit,” erang Jovita.
Alexander memapah Jovita membawa istrinya ke dalam kamar hotel setelah sebelumnya meminta kunci kamar pada receptionis, ia membaringkan Jovita yang mabuk hingga pingsan di atas ranjang dan meninggalkannya setelah menutupi tubuh Jovita dengan selimut.
Ketika ia keluar dari kamar, Alexander bertemu dengan Federick yang sedang berjalan di koridor kamar hotel.
“Alex, ada yang ingin kubicarakan,” kata Federick begitu ia melihat siapa yang berpapasan dengannya.
“Daddy, kita berbicara lain kali, aku harus menemukan Prilly,” jawab Alexander.
“Tentukan pilihanmu,” kata Federick sambil menepuk pundak Alexander.
“Pilihanku sudah sangat jelas,” jawab Alexander dengan tegas.
“Sekali lagi kau menyakiti putriku, kau akan tahu bagaimana cara seorang ayah melindungi putrinya,” kata Federick dengan nada sangat dingin.
“Nyawaku taruhannya, kau bisa pegang kata-kataku, Daddy,” jawab Alexander. “Sampai jumpa.” Alexander berlalu pergi menjauh dari Federick dengan langkah kaki panjang.
Alexander kembali ke ballroom dan mendapati Prilly sedang duduk berhadap-hadapan dengan Charles sambil bercakap dan meminum wine, api cemburu Alexander semakin bergemuruh membakar dadanya, istrinya itu memiliki banyak penggemar sejak muda, namun semua pria tak memiliki keberanian mendekatinya karena keberadaan Alexander, sekarang semua orang tahu Alexander beristri dan Prilly wanita bebas tentu saja banyak pria yang akan berusaha mendekati Prilly.
Dengan rahang terkatup rapat, Alexander mendekati kedua orang tersebut. “Prilly, Mommy Diana menunggumu di kamar,” kata Alexander dengan nada sangat dingin.
Tanggap dengan apa yang di inginkan suaminya, Prilly segera menganggukkan kepalanya. “Baiklah,” jawabnya sambil bangkit dari duduknya. “Charles sampai jumpa,” kata Prilly dengan nada sopan.
“Jangan lupa rencana kita untuk makan siang cantikku,” kata Charles sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Prilly terkekeh tanpa menanggapi ucapan Charles.
Di kamar tempat Prilly menginap.
Alexander memandangi Prilly dengan tatapan penuh kecemburuan, dada pria itu turun naik seperti sedang menahan amarahnya.
“Bagus, kau menerima ajakan pria lain berdansa di depan suamimu,” desis Alexander sambil menatap tajam mata Prilly.
“Tidak sopan jika aku menolaknya... maksudku dengan statusku sekarang, semua orang mengira aku wanita bebas,” ralat Prilly.
“Aku sangat marah,” geram Alexander.
Prilly justru menatap wajah Alexander dengan tatapan menggoda yang membuat Alexander gemas.
“Jangan menggodaku, aku benar-benar sedang marah,” desis Alexander.
“Aku tidak menggodamu,” elak Prilly.
Alexander dengan tiba-tiba mengangkat tubuh kecil istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi, “Bersihkan tubuhmu,” kata Alexander sambil membuka resleting gaun yang di kenakan Prilly.
Ia tidak ingin ada jejak pria lain di tubuh Prilly, ia juga melucuti pakaiannya sendiri dan mereka berdua berada di bawah guyuran shower, melakukan ritual panas yang membuat suasana kamar mandi itu begitu pengap oleh desahan dan geraman mereka berdua, Alexander bahkan meninggalkan begitu banyak jejak kepemilikan di leher dan di dada istrinya. Alexander terus saja memompa pinggulnya melampiaskan kerinduan bercampur kecemburuan kepada istrinya hingga mereka berdua mendapatkan puncaknya dan prilly terkulai lemas di dada suaminya.
“Dia dulu temanku di fakultas, kami tidak ada hubungan apa pun." Prilly berusaha menjelaskan pada suaminya meskipun ia tahu itu hal sia-sia.
“Tapi, kalian merencanakan makan siang, jangan mimpi Nyonya Johanson, tidak ada makan siang di luar dengan pria mana pun selain bersama Alexander Johanson,” kata Alexander dengan nada tegas.
“Aku akan makan siang di luar bersama Anthony." Prilly menjawab dengan nada mengolok.
“Sepertinya bibirmu ini benar-benar nakal sekarang." Alexander melahap bibir istrinya, ciuman penuh gairah asmara itu benar-benar memabukkan, tangan Prilly menyusuri bagian bawah perut Alexander, menggenggam benda tumpul yang menegang. Setelah ciuman mereka terlepas prilly berjongkok dan mempermainkan benda tumpul milik suaminya dengan lidahnya hingga Alexander tak berdaya terhanyut dalam kenikmatan yang memabukkan yang di berikan Prilly dengan mulutnya.
Tak mampu lagi bertahan, Alexander membalik posisi Prilly membelakanginya dan memasuki istrinya dari belakang , Alexander mengentakkan pinggulnya tak berirama hingga ia mendapatkan puncaknya, menyemburkan cairan cintanya di rahim istri kesayangannya.
“Apa kau puas, Sayang?” tanya Alexander sambil memeluk tubuh istrinya.
“Bagaimana denganmu?” Prilly justru balik bertanya.
“Kau yang terbaik,” jawabnya menatap wajah Prilly dengan tatapan mata memuja.
“Kau mengatakannya seperti itu juga pada Jovita?” tanya Prilly dengan nada tidak senang.
“Kau dan Jovita tidak bisa di bandingkan,” jawab Alexander sambil kembali melahap bibir Prilly. “Aku masih menginginkanmu,” geram Alexander.
“Hubby, kau serakah,” erang Prilly, tubuhnya menggeliat nikmat karena merasakan sesuatu di antara pahanya, jemari Alexander berada di sana sedang memorak-porandakan pertahanannya. “Hubby, masuki aku,” erang Prilly.
“As you wish my queen,” kata Alexander begitu lembut, namun ia justru mengangkat tubuh kecil istrinya menjadi posisi woman on top. “Dapatkan berapa pun kau ingin mendapatkan,” kata Alexander, ia tahu Prilly sangat menyuakai posisi itu dan ia akan dengan mudah mendapatkan puncaknya dengan posisi tersebut.
Tanpa ragu-ragu Prilly melakukan apa yang ia sukai, memimpin permainan, mendapatkan apa yang ia mau dan membuat Alexander tak berdaya di bawah kuasanya.
“Aku sangat mencintaimu Prilly, kau selamanya milikku,” ucap Alexander sambil membenamkan wajah istrinya di dadanya setelah tiga babak mereka lalui.
Prilly hanya diam karena lelah dan kantuk yang menyerangnya, ia mulai kehilangan kesadarannya dan jiwanya menuju alam mimpi.
Setelah memastikan istrinya terlelap Alexander bangkit dan menutupi tubuh telanjang istrinya dengan selimut, mengecup kening wanita pujaannya dan meninggalkan kamar itu untuk kembali ke kamar di mana Jovita berada.
Sementara di kamar Jovita, ia terbangun, kepalanya berdenyut hebat, pandangan matanya kabur, ia meraba-raba tempat tidurnya.
“Alex, di mana kau?” erang Jovita.
Terseok-seok Jovita melangkah menuju kamar mandi untuk mencari keberadaan suaminya, karena tidak menemukan siapa pun ia berusaha berjalan dan menuju pintu keluar.
“Alex, ke mana saja kau? Aku merindukanmu,” erang Jovita begitu ia mendapati Pria yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Berkali kali Jovita mengerjap-ngerjapkan matanya untuk memastikan pengelihatannya.
Pria itu membawa Jovita masuk ke dalam kamar dan mulai melucuti seluruh pakaian yang membungkus tubuh mereka, menyatukan dua tubuh dan saling meneriakkan nama masing-masing.
“Alex, aku merindukanmu, kau telah begitu lama tidak menyentuhku,” erang Jovita.
20 PART LAGI PRILLY AKU TAMATIN YA 😍😍😍
TAPI KALAU MASIH ADA YANG INGIN MEMBACA, AKAN AKU BIKIN SQUELNYA 60 PART LAGI DI BULAN FEBRUARI ATAU MARET 🤗🤗🤗🤗
TAP TANDA JEMPOL KALIAN TEMAN TEMANKUNTERSAYANG ❤❤❤❤