Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Jangan berbohong



Air mata Prilly terus berjatuhan membasahi pipinya, bahkan rasanya paru-parunya menyempit, ia hampir tak dapat bernafas.


Inikah rasanya takut kehilangan orang yang di cintainya?


Mike menggenggam jemari Prilly, mengecupnya berulang kali.


“Aku pasti mengajakmu kemanapun aku pergi, tapi rencana pergi ke California aku masih belum tahu aku akan pergi atau tidak. Itu sebabnya, aku belum memveritahumu, Sayang." Mike memberikan penjelasan yang sebenarnya pada Prilly.


Prilly hanya diam tak menjawab masih dengan isak tangisnya.


"Mulai besok ayo ikut ke perusahaan untuk mengawasiku, oke?”


Prily menggeleng lemah. “Lalu aku harus bagaimana?”


“Aku tidak tahu” guman Prilly.


Mike merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya, memeluknya erat seakan-akan akan takut istrinya meninggalkannya.


“Percayalah padaku,” bujuk Mike, ia tidak memiliki pengalaman membujuk wanita yang sedang cemburu.


Prilly semakin terisak, ia bahkan akhirnya tertidur di dalam pelukan Mike setelah lelah menangis.


Paginya Prilly terbangun masih dalam pelukan suaminya,


Dengan linglung ia memandang wajah suaminya yang masih terlelap, rupanya tidak hanya ia yang terluka dengan apa yang terjadi tadi malam, melihat alis suaminya yang berkerut dalam menunjukkan ia dalam suasana hati yang buruk membuat Prilly merasa bersalah.


Dengan hati-hati Prilly meraba pipi suaminya mengelus dengan sentuhan lembut.


Mike menangkap telapak tangan istrinya lalu menciuminya dengan penuh kasih sayang.


“Kau sudah bangun sayang? Kau tidak makan malam, apa kalian lapar?” tanya Mike.


Prilly hanya mengangguk kecil. “Ayo bersihkan tubuhmu dulu, aku akan menyiapkan sarapan kalian,” kata Mike bersikap sebiasa mungkin tanpa mengungkit ungkit lagi masalah yang menerpa mereka tadi malam.


Prilly mengikuti semua instruksi suaminya, setelah membersihkan tubuhnya Prilly menuju ruang makan di mana Mike dan William sudah menunggunya.


Mereka bertiga sarapan dengan sedikit kecanggungan yang di bangun entah oleh siapa, hanya William yang sesekali berceloteh dan Mike dengan sabar menjawab pertanyaan pertanyaan dari pria kecil yang kadang membuat pusing itu. Hingga sarapan berakhir Mike tampak tidak menunjukkan tanda-tanda untuk pergi bekerja. Pria tampan itu setelah mandi ia mengenakan setelah pakaian santai kemudian duduk di depan laptopnya sambil sesekali berbicara melalui ponselnya.


Merasa tidak nyaman, Prilly mendekati suaminya. Duduk di samping Mike tanpa mengatakan apa apa sambil memperhatikan jemari suaminya yang dengan lincah menari di atas keyboard.


“Apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Mike pada Prilly setelah ia selesai mengetik.


“Kenapa kau tidak pergi bekerja?” tanya Prilly hati-hati, “Maksudku, kau jangan....”


“Aku sedang tidak mempunyai pekerjaan hari ini,” jawab Mike cepat. “Aku ingin menikmati waktuku di rumah”


“Jangan berbohong, jelas pekerjaanmu sangat banyak.”


“Sekretarisku akan mengurusnya, aku bisa mengerjakan di sini." jawab Mike seraya menggeser posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Prilly.


“Jangan membuatku menjadi tidak nyaman Mike, pergilah bekerja,” pinta Prilly dengan wajah tampak merasa bersalah.


Mike menghela nafas, ini pertama kalinya mereka seperti bertengkar. Hanya seperti bertengkar saja rasanya segalanya menjadi begitu rumit.


“Sayang, aku tidak ingin membuatmu berpikir macam-macam, kau dan babies adalah prioritas utamaku. Aku tidak ingin kau stres,” Mike mengelus punggung tangan istrinya dengan lembut.


“Kau tidak baik baik saja, kalau perlu aku akan membatalkan proyek ini, aku tidak ingin apa pun merusak rumah tangga kita.”


“Jangan lakukan itu Mike, aku mohon” pinta Prilly.


Mike mengangguk lalu memagut bibir bawah istrinya, kemudian bergantian ******* bibir atasnya.


Prilly membuka bibirnya memberikan akses untuk suaminya agar suaminya puas menjelajah dan lidah mereka bertemu, saling membelit dalam ciuman yang semakin dalam dan dalam.


Mike menggendong tubuh Prilly ala bridal Style untuk memasuki kamar mereka, satu satunya cara yang ampuh untuk membuang segala keresahan di dada mereka masing masing adalah menyatukan cinta mereka di atas segalanya, mendesahkan nama pasangan dalam hangatnya madu asmara yang terjalin di atas ranjang.


“Aku sangat mencintaimu Prilly,” kata Mike ketika tubuhnya telah terkulai lemas di samping tubuh istrinya.


Prilly dengan raut malu-malu mendekatkan wajahnya lalu mengecup pipi suaminya.


“Aku lebih mencintaimu."


Dua hari kemudian, Mike meminta Alexander dan Jovita untuk menjemput William. Sementara Mike pergi ke California bersama Prilly. Namun tidak di sangka Sophia mengikuti kedua orang itu ke California.


“Prilly kau harus menjaga sepupuku, banyak artis kelas kalangan atas yang mengejarnya, aku tidak yakin kau bisa bertahan dengannya,” racaunya ketika mereka duduk di atas bangku pesawat.


Bahkan Sophia merebut kursi Mike agar bisa duduk bersebelahan dengan Prilly, membuat Mike benar benar semakin kesal pada sepupunya yang bermulut tajam itu.


“Sophia bisakah kau diam? Aku ingin beristirahat,” kata Prilly dengan nada tajam


Mike mengatakan pada Prilly untuk membalas setiap kata kata Sophia, karena sifat Sophia berbeda. Semakin lawannya diam ia semakin akan menjadi jadi dengan mulut tajamnya.


Dan benar saja Sophia langsung terdiam tidak bersuara lagi, ia akhirnya mengambil earphonennya dan mendengarkan musik dari ponsel mewahnya, ponselnya mungkin ponsel mewah pada umumnya namun hardcase yang melapisi ponselnya tampak terbuat dari emas dan bertabur berlian.


Prilly sedikit mengernyit melihat hal itu, tiba-tiba ia memiliki ide bergegas ia mengambil kertas dan pensil di tasnya lalu mencoret coret desain untuk pengaman ponsel.


Ia terlarut dengan gambar yang ia desain selama berada di atas pesawat menuju California sedangkan Sophia ia diam-diam berulang kali mencuri pandang dengan desain yang sedang Prilly buat.


Sesampainya di California, Sophia bahkan memesan sebuah kamar yang letaknya persis berhadapan dengan kamar yang Mile dan Prilly tempati, gadis itu seperti bayangan Prilly, ia mengekori ke mana pun Prilly pergi. Ia tidak lagi mengucapkan kata-kata pedas namun karena terus membuntuti Prilly dan Mike tetap saja gadis itu membuat risih keduanya.


“Sophia kenapa kau terus membuntuti kami!” keluh Mike.


“Aku hanya ingin berteman dengan istrimu, apa tidak boleh?” jawabnya lirih, tatapan matanya seolah-olah memohon belas kasihan.


“Jangan gunakan kemampuan aktingmu di depanku,” sinis Mike.


“Kau akan bekerja sepanjang hari di sini dan istrimu akan kesepian, aku bisa menemaninya berkeliling California agar ia tidak jenuh di kamar.”


“Aku tidak setuju,” jawab Mike.


Prilly mencubit pinggang suminya lembut


“Sayang, sepertinya ide Sophia tidak buruk,” kata Prilly. Ia merasa tidak nyaman terus menghindari Sophia, bagaimanapun Sophia keponakan Victoria, mertuanya.


Hallo Prilly lovers 😉


Maafksn author ya 😊😊 maafin yaaaaa.....


Percayalah author akan mulai produktif lagi di sini🤗🤗🤗