
“Alex, kau ternyata bisa romantis?” Jovita menerima seikat bunga dari tangan Alexander.
“Terima kasih, kau menangani pekerjaan dengan baik.” Alexander menjawab. “Kenapa kau tidak kembali ke rumah? Apa kau tidak lelah?” tanya Alexander.
“Aku merindukanmu,” kata Jovita sambil menatap wajah Alexander.
“Biar aku memelukmu.” Alexander mendekati Jovita dan memeluknya.
“Aku juga rindu William, bagaimana jika besok kita jemput dia?” tanya Jovita sambil mendongakkan wajahnya menatap Alexander.
“Kau lebih baik istirahat, kau bisa menjemput Willy lusa atau lain waktu.” Alexander mencium pipi Jovita.
“Baik, apa kau sudah makan siang?” tanya Jovita.
“Aku sudah makan siang bersama client.” Alexander jelas berbohong.
“Kalu begitu aku memesan satu saja, apa kau ingin makan lagi?” tanya Jovita tanpa menaruh curiga apa pun pada suaminya.
“Kau saja aku kenyang.” Alexander mengambil beberapa dokumen dan membukanya, ia tenggelam dalam pekerjaannya sementara Jovita tidur di ranjang yang ada di balik ruang kerja Alexander.
Alexander membangunkan Jovita dan mengajaknya kembali ke tempat tinggal mereka, Alexander memang masih tinggal di sebuah pent house, bukan tidak mampu membeli sebuah mansion namun pertimbangan efisiensi waktu karena tempat tinggalnya tak begitu jauh dari perusahaannya juga karena mereka hanya tinggal berdua, mansion terlalu besar dan sepi jika hanya untuk di tinggali dua orang.
Tetapi, sekarang Alexander berpikir untuk memilik sebuah mansion, untuk membesarkan William. Ya, ia bisa menggunakan alasan itu memindahkan Prilly dan anak-anaknya, harga dirinya bisa jatuh jika terlalu sering tinggal di mansion peninggalan suami Prilly.
Sepanjang makan malamnya di tempat tinggalnya berdua dengan Jovita pikiran Alexander terus mengembara, mengingat satu minggu ia bersama mantan istri dan anak-anaknya, betapa manisnya bersama berkumpul menjadi keluarga yang hangat dan lengkap rasanya makan malam hanya berdua membuat semua yang tersaji di meja makan, semewah apa pun tidak akan terlalu menarik.
Hari berganti hari, Jovita belum memiliki waktu untuk bertemu William, karena setiap pagi Alexander langsung mengajak Jovita untuk bekerja hingga sore hari, tetapi sore itu pria kecil si bajak laut yang merampok hati Jovita tiba-tiba muncul di ruang kerja mereka bersama Harun yang mencangking tas punggung milik William di tangannya.
“Willy, kau datang!” Seru Jovita. “Mommy Jovi rindu padamu.”
“Mommy Jovi, aku juga rindu padamu." Seru William sambil memeluk pinggang Jovita dengan lengan kecilnya.
Jovita mengusap-usap rambut Willyam.
“Kau tidak merindukanku?” tanya Alexander sambil mengangkat kedua alisnya.
“Tentu saja aku merindukanmu, Daddy.” Wiliam segera melepaskan lengannya dari pinggang Jovita dan berpindah ke pangkuan Alexander.
“Di mana Leonel dan Grace?” tanya Alexander.
“Mereka bersama Mommy ke mansion grandmom Victoria,” jawab William dengan nada riang.
“Kenapa kau tidak ikut?”
“Aku akan ke sana besok, kata Mommy, aku harus menemui Daddy dan Mommy Jovi dulu sebab kalian telah lama tidak datang untuk mengunjungiku.”
“Maafkan kami, kami baru saja akan melihatmu sore ini tapi kau telah terlebih dulu datang," kata Alexander, entah benar entah tidak kata-kata manisnya itu.
William melompat turun dari pangkuan ayahnya, ia mendekati meja di mana tasnya tergeletak kemudian ia mengeluarkan buku dan pensil dari tasnya, pria kecil itu mulai mencoret-coret bukunya dengan pensil di tangannya.
“Oh ya? Tidak masalah jika kau ingin aku yang menjemputmu, Willy,” kata Alexander.
“Tidak, aku harus patuh apa kata Mommy, aku akan pulang bersama Aunty Linlin.” William menjawab dengan nada tegas, sudut bibir Alexander terangkat, hatinya menghangat, bagaimanapun mantan istrinya dan Mike memang mendidik putranya dengan sangat baik, dan hal itu membuatnya semakin ingin memiliki Prilly dan anak-anaknya.
Sementara itu di kediaman orang tua Mike.
“Prilly, kau tidak harus bekerja keras seperti ini, jual saja semua aset Mike dan kemudian investasikan uangnya di perusahaan Anthony, kau bisa fokus membesarkan anak-anak.” Victoria berulang kali mengusulkan hal itu pada Prilly dan Victoria sebenarnya telah hafal dengan jawaban yang akan Prilly berikan.
“Mommy, itu perusahaan yang di bangun Mike dengan hasil kerjanya sendiri, saat ia kembali nanti aku tidak ingin ia kecewa, aku tak bisa menjaga hasil usahanya.” Prilly menunduk dalam-dalam sambil menahan air matanya.
“Sudah tiga tahun sayang, kau berhak melanjutkan hidupmu, kau berhak mencari penggantimu, kau seharusnya menikah lagi dan bahagia.”
“Tidak Mommy, aku belum bisa.”
“Jangan memaksakan dirimu.” Victoria menggenggam telapak tangan Prilly. “Dengarkan aku, kami tidak mempermasalahkan siapa pun yang menjadi pendampingmu kelak, anak-anak perlu ayah.”
“Mommy, Mike pasti kembali.”
“Sayang, ini sudah terlalu lama.”
“Mommy, tidak masalah, aku akan menunggunya.”
“Tidak sayang, Mommy, lebih bahagia jika kau menemukan orang lain, kau berhak bahagia.”
Prilly tak mampu menahan lagi air matanya, ia mulai terisak.
“Jangan sampai anak-anak melihatmu seperti ini.” Victoria mengingatkan menantunya, melihat Prilly yang begitu rapuh setiap kali datang bersama Leonel dan Grace membuat Victoria merasa ia takut menghadapi menantunya.
Leonel dan Grace bahkan belum bisa mengingat seperti apa ayah kandungnya hingga mereka berdua dengan mudah memanggil ‘Daddy’ kepada Alexander.
Prilly memasuki kamar Mike, kamar masa kecil Mike, atau apa pun nama tempat itu, ia tak banyak mengetahui masa kecil suaminya, kedekatan mereka tak banyak, Prilly hanya mampu mengingat semua tentang masa kecilnya bersama Alexander dan Anthony kakaknya, karena mereka berdualah yang bersama Prilly kecil.
Prilly membersihkan wajahnya lalu ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang menikmati kesunyian tempat itu, memang benar anak-anaknya membutuhkan seorang ayah, namun Prilly velum siap membuka hati pada pria mana pun, sulit memang menjadi ibu sekaligus ayah, tak jarang ketika Mike baru saja di nyatakan hilang anak-anaknya menanyai di mana Ayahnya, namun seiring berjalannya waktu kehadiran Alexander yang intens ke tempat tinggal Prilly dan anak-anaknya membuat ketiga anak itu berhenti menanyai di mana Mike berada.
Besok ia harus pergi ke New York untuk beberapa urusan perusahan, ia sengaja membawa Grace dan Leonel ke mansion orang tua Mike karena Sandra masih berada di Turki, ibunya itu sedang mengunjungi kedua orang tuanya di sana, sedangkan William ia akan tinggal bersama Anthony dan Linlin selama ia di New York, namun Prilly yakin putra pertamanya itu juga akan memilih tinggal bersama Grace dan Leonel ketimbang tinggal di kediaman Anthony .
Menyedihkan memang, tapi untaian takdir yang membelenggunya benar-benar tak terduga, suami pertamanya menghianatinya lalu suami keduanya meninggalkannya entah untuk selamanya atau masih ada harapan, Prilly sendiri tidak bisa memastikan, ia bahkan mulai kehilangan kepercayaannya, kini harapan satu-satunya adalah bisa melihat pusara suaminya.
Hingga saat itu tiba nanti, ia akan mengikhlaskan Mike. Hingga saatnya tiba nanti biarlah Tuhan yang menuntunnya menemukan siapa sebenarnya jodohnya.
OHALLO 😚😚😍😍😍
KALIAN JANGAN VOTE NOVEL INI YA, MESKIPUN SISTEM VOTE MASIH ADA, SAYANGI KOIN DAN POIN KALIAN, NANTI KALAU AKU MAU IKUT LOMBA SISTEM RANGKING LAGI BIAR AKU SAJA YANG MINTA KALIAN VOTE 😊😊😊😊
TAP JEMPOL KALIAN 😚😚😚😚