Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
David mencari pendamping



“Harun kapan suamiku pulang? Prilly menatap Harun.


“Mungkin beberapa hari lagi,” jawab Harun.


“Apa urusannya berjalan lancar?”


“Sir Alex mengatakan semua berjalan lancar kepada saya,” jawab Harun dengan nada datar, Prilly tahu Harun berbohong, tetapi ia tidak akan pernah bisa mengorek apa pun dari mulut Harun.


“Suamiku selalu mengatakan semuanya berjalan dengan lancar tapi aku sedikit tidak percaya dia bersikap seolah semuanya baik-baik saja dia pikir aku anak kecil?” keluh Prilly.


Anne terkekeh mendengar keluhan Prilly dan baru saja mereka hendak menyantap makanan mereka seseorang datang menghampiri mereka pria itu adalah David.


“Hai gadis... bolehkah aku bergabung di sini?” tanya David dengan nada ceria dan centil seperti biasa, tanpa menunggu persetujuan Prilly maupun Anne David langsung mendudukkan bokongnya tepat di samping Anne.


“Kau datang ke sini juga rupanya?” Prilly tersenyum kearah David.


“Ya. Aku baru saja selesai pertemuan di sini sekaligus makan siang bersama beberapa klien,” jawab David.


“Kebetulan kau telah lama tidak mentraktir kami seperti dulu,” kata Prilly dengan nada bercanda.


“Ya, seperti enam tahun yang lalu. Astaga, seharusnya ada Linlin dan Adelia di sini kalian berempat selalu membuatku tidak memiliki pilihan lain selain traktir kalian berempat, dan jujur saja aku merindukan momen-momen seperti." Itu kata David sambil menyeringai.


“Itu sangat menyenangkan, kau tahu? Kadang aku juga merindukan momen itu,” kata Prilly dengan nada riang.


“Kalian membuatku bangkrut,” ucap David bercanda.


“Kau pelit sekali, untuk mentraktir Wilona kau mengeluarkan banyak uang,” ejek Prilly, ia teringat cerita Alexander bahwa David dan Wilona pernah menjalin hubungan yang tidak biasa.


“Itu hanya kesialanku tertipu dengan mulut manis artis. Oh astaga, apa Alexander memberitahumu?” David mengerutkan keningnya.


“Di dunia ini bahkan dinding memiliki telinga, bukankah begitu, Anne?” Prilly menyeringai sambil menatap Anne.


“Ya, dinding memiliki telinga,” jawab Anne dengan nada sedikit ketus, ia melirik David yang berulang kali mengambil kentang goreng di piringnya dengan ekor matanya, gadis itu tampak sangat kesal kepada David.


Prilly bisa membaca tatapan mata Anne yang begitu tidak bersahabat kepada David, tiba-tiba pikiran Prilly mengembara sepertinya ada yang tidak beres antara hubungan David dan Anne dan jiwa detektif Prilly tiba-tiba memberontak. Anna adalah sekretaris David di masa lalu setelah Prilly mengundurkan diri dari perusahaan milik David bukankah setahu Prilly bekerja sebagai sekretaris David dan tiba-tiba ketika dinyatakan hilang Anne langsung menawarkan diri untuk bekerja kembali bersama Prilly padahal tahu Prilly tidak ada masalah bekerja di perusahaan Brown’s Company karena David bukan tipe bos yang suka memerintah seenaknya dan menekan anak buah terlalu keras.


Mereka berempat akhirnya makan siang dengan obrolan santai, ralat, hanya Prilly yang mengobrol santai dengan David sedangkan Anne mood-nya tampak hancur, ia tampak lebih banyak diam begitu juga Harun.


Setelah santap siang mereka usai David mengeluarkan dompetnya dan memberikan benda itu kepada Anne untuk membayar tagihan makan mereka, bukan mereka karena David tidak makan, tetapi mereka bertiga tepatnya tiba-tiba seorang wanita berambut pirang datang menghampiri meja mereka dan dengan sinisnya ia berkata, “ kau tidak mampu membayar makanan sendiri sehingga meminta ditraktir oleh mantan bosmu?” suara sinis itu adalah milik Jovita, rupanya kebetulan ia juga makan siang bersama beberapa temannya di tempat itu.


Prilly memutar bola matanya dengan enggan, ia sangat enggan untuk berdebat kembali dengan Jovita di tempat umum sudah cukup satu kali ia tidak ingin mengulanginya.


“David, terima kasih telah mentraktirku, aku akan membalas traktiranmu nanti saat suamiku telah kembali dari New York,” kata Prilly dengan nada ringan tanpa menoleh kepada Jovita.


“Tentu saja kau bisa mentraktirku sepuluh kali lipat dari pada hari ini,” gurau David.


“Jadi Prilly apa rencanamu setelah ini apa kau akan mengelola perusahaan milik keluarga yang pasti di wariskan kepadamu?” David bersikap seolah-olah tidak mempedulikan keberadaan Jovita, David benar-benar mulai memancing keributan.


“Rencanaku tidak ada mungkin aku hanya akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, kau tahu suamiku tidak suka aku bekerja,” jawab Prilly benar-benar mengabaikan keberadaan Jovita.


“Dasar wanita tidak tahu diri suamimu pergi ke New York untuk mengurus perusahaan yang berada diambang kebangkrutan dan kau justru makan dan bersenang-senang dengan pria lain, Prilly kau memang wanita yang tidak tahu malu,” Jovita semakin sinis mengucapkan kalimatnya, tetapi baik Prilly David maupun Harun mereka tidak ada yang menggubrisnya.


“Oh iya, David apa di perusahaanmu memerlukan karyawan baru? Atau sekretaris baru?” Prilly bertanya seolah-olah ia sedang memerlukan pekerjaan.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?” David mengangkat sebelah alisnya.


“Aku pikir ada seorang wanita yang tidak memiliki pekerjaan dan memerlukan kegiatan agar dia sedikit memiliki kesibukan dan tidak mengurusi orang lain. Bagaimana jika kau memberikannya pekerjaan?”


“Sayang sekali, di perusahaanku posisi sekretaris tidak ada lagi,” jawab David dengan nada sedikit kecewa.


“Apa tidak ada posisi lain yang memerlukan tenaga kerja?” suara Prilly seperti sedikit merengek.


“Ada posisi lain, aku sedang mencari pendamping, tetapi kau lihat sendiri calon pendampingku dia sangat sinis kepadaku.”


“Oh astaga... jadi, benar dugaanku? Aku tidak menyangka sejak kapan kalian berhubungan?” mata Prilly tampak berbinar karena dugaannya benar.


“Kau selalu begitu ya? Selalu ingin tahu, aku yakin di benakmu kau hampir mati penasaran,” kata David sambil tertawa ringan.


Baru saja David menyelesaikan kalimatnya Anne datang, baik Prilly maupun David menutup pembicaraan mereka.


Anne tampak memperhatikan Jovita yang berdiri di dekat mereka dengan tatapan mata jijik. “Untuk apa kau berada di sini apa kau ingin bergabung bersama kami?” Gadis itu tersenyum sinis menatap Jovita. “Sayang sekali kami sudah akan kembali, mungkin lain kali kau bisa bergabung bersama kami,” kata Anne, ia memang mengenal Jovita sedikit karena sangat sering bertemu dengan Jovita di kediaman Prilly yang dulu meskipun tidak pernah berbicara secara akrab hanya saling bertegur sapa seadanya.


“Jangan besar kepala, siapa juga yang sudi bergabung dengan kalian?” Jovita berdecih malas dan ia bermaksud hendak membalikkan tubuhnya.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️❤️❤️


VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤️❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️ ❤️❤️❤️