Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Nyawa Prilly taruhannya



Alexander dan Jovita duduk berhadap-hadapan, Alexander menatap Jovita dengan tatapan penuh arti, sedangkan Jovita menatap Alexander penuh kebencian.


“Jadi Jovita, putusan cerai akan berada di tanganmu dalam satu minggu, dan anak cabang perusahaan yang berada di singapura akan menjadi milikmu, sebagai kompensasi perceraian kita, seluruh berkas lengkap akan kau terima bersama surat cerai nantinya,” kata Alexander setelah Jovita membubuhkan tanda tangannya di atas kertas yang berisikan gugatan cerai yang disodorkan oleh pengacara Alexander, meski Alexander menyewa pengacara ia merasa tidak etis jika tidak berbicara secara langsung pada Jovita, bagaimanapun di masa lalu ia juga yang membuat Jovita terperangkap menjadi istrinya selama lima tahun.


Jovita tak mampu membuka mulutnya meski ia ingin memaki Alexander, ia mendapatkan kompensasi, tempat tinggal dan masa depan yang terjamin, ia merasa seperti telah menukar kebebasannya dengan cara terhormat selama lima tahun. Hatinya tetap merasakan kepedihan yang amat sangat dalam, ia tetap tidak bisa menerima pengihanatan Alexander meski ia sadar dengan posisi dirinya selama ini, ia tidak di terima oleh keluarga Alexander, ia mantan ******, ia hanya pelarian Alexander yang patah hati, ia memiliki kekurangan. Ia sepenuhnya sadar Alexander memang tidak mencintainya lagi, memaksakan bersama pria itu adalah hal yang mustahil, bahkan sangat mustahil, seribunkali mustahil! Alexander tidak akan meliriknya meski ia mengemis cinta dengan cara sehina apa pun, yang pasti jika ia bertindak bodoh Alexander justru akan membencinya bahkan mungkin akan mengejarnya hingga sampai ke dalam neraka sekalipun.


Sekali lagi Jovita menatap wajah Alexander, raut wajahnya tetap sama, namun jelas tergambar rona wajahnya lebih bersahaja, terlihat jelas dari cahaya matanya hidupnya kini lebih bahagia.


“Terima kasih,” kata Jovita lirih seraya bangkit dari duduknya. “Sampai jumpa, Alex," kata Jovita dengan suara lemah.


“Sampai jumpa.” Alexander menjawab dengan nada suara datar, ia merasa sangat iba pada Jovita. merasa iba pada nasib calon mantan istrinya, Alexander tahu, ia sangat keterlaluan dan kejam, namun ia harus memilih dan Prilly adalah pilihannya, pipihan pertama dan terakhir, tidak akan ada pilihan lain bahkan jika ia harus mengorbankan seluruh apa yang ia miliki sekalipun, ia akan tetap pada pendiriannya yaitu memilih Prilly .


Setelah Jovita menghilang di balik pintu, Alexander menghela nafas dalam dan mengembuskannya, berbicara sedikit bersama pengacara yang menangani perceraiannya, ia juga memanggil Danny untuk memberitahunya bahwa ia telah dipindah tugaskan untuk mengikuti Jovita nanti.


Sore harinya saat Alexander kembali ke kediaman orang tuanya, ia mendapati Prilly yang sedang menangis di kamarnya karena mengeluh perutnya sakit dan kepalanya terasa berputar-putar. “Aku akan membawamu ke rumah sakit,” kata Alexander sambil memeluk Prilly.


“Tidak aku hanya mengidam biasa,” tolak Prilly cepat.


“Ayolah hanya memeriksakan keadaanmu saja,” bujuk Alexander dengan nada penuh kesabaran.


“Ini biasa terjadi pada wanita hamil, tidak masalah, hubby kau jangan khawatir,” erang Prilly sambil memejamkan matanya, ia merasa sangat pusing, kepalanya benar-benar terasa berat dan berputar-putar.


“Aku tidak bisa tenang seperti ini,” gumam Alexander terdengar nada suaranya sangat frustrasi.


“Kepalaku sangat sakit dan aku merasa sangat mual,” keluh Prilly, “mengapa dokter tidak memberiku obat anti mual?” tanya Prilly.


“Aku tidak mengerti itu, Sayang,” kata Alexander sambil membelai rambut Prilly, “kita kembali ke rumah sakit oke?” bujuknya lagi.


Prilly menggeleng. “Aku ingin istirahat saja, temani dan peluk aku,” erangnya begitu lemah.


“Baik.” Alexander dengan hati-hati membaringkan istrinya di atas ranjang dan menyelimuti tubuh mereka berdua lalu Alexander memeluk Prilly dengan perasaan gundah, ia tidak tahu harus bagaimana memberi tahu istrinya bahwa calon bayi yang ada di dalam kandungannya itu tidak dapat di pertahankan, kali ini Prilly mengalami hamil di luar kandungan.


Beberapa hari yang lalu di rumah sakit setellah Alexander menyuapi Prilly untuk memakan sarapannya, mereka menemui dokter Obgyb, dokter Obgyn itu tak lain adalah keponakan Diana, dengan kata lain dia adalah saudara Alexander.


“Alex, istrimu mengalami kehamilan di luar kandungan,” kata Nathalie langsung.


“Apa itu?” tanya Alexander, ia tentu saja buta masalah hal-hal seperti itu.


“Hamil di luar kandungan adalah kehamilan yang terjadi tidak di dalam rahim, dan kondisi ini tentunya dapat terjadi pada wanita yang sudah aktif secara seksual. Kehamilan yang terjadi di luar rahim ini bisa terjadi pada indung telur, tuba falopi (saluran indung telur), leher rahim, bahkan di rongga perut," jawab Nathalie mencoba menjelaskan kepada Alexander dengan bahasa sesederhana mungkin.


“Apa penyebabnya?” tanya Alexander.


“Penyebabnya bisa saja kerena faktor genetik, bawaan lahir, ketidakseimbangan hormon, peradangan akibat infeksi atau prosedur medis, Perkembangan organ reproduksi yang tidak normal.”


“Apa karena ia beberapa kali meminum kontrasepsi darurat dan alkohol?”


“Aku rasa itu bukan penyebabnya, tapi tidak tertutup kemungkinan juga, kehamilan Prilly harus segera di hentikan, itu sangat berbahaya jika tidak segera di tangani karena bisa menimbulkan pecahnya tuba falopi dan mengakibatkan kematian,” kata Nathalie.


“Beri aku waktu, aku akan memikirkan cara memberitahu istriku, emosinya tidak stabil, aku takut ia merasa terpukul." Suara Alexander terdengar begitu lemah.


“Kau harus secepatnya, jangan berpikir terlalu lama, nyawa Prilly taruhannya,” Nathalie mengingatkan dengan sungguh-sungguh.


Alexander merasa sangat frustrasi memikirkan hal itu, kehamilan Prilly kali ini adalah buah cinta mereka yang pertama, bayi yang mereka buat dengan penuh cinta dan kasih sayang, ia merasa sangat berat kehilangan calon bayi itu, ini mungkin hukuman langsung dari Tuhan bati Alexander, bayi yang di buat dengan cinta di atas penderitaan wanita lain.


Alexander mengeratkan pelukannya pada Prillly, gadis impiannya ada di dalam genggamannya sekarang, menjadi istrinya, mencintainya, begitu rumit dan begitu banyak hal yang harus mereka lalui, jika bisa di tukar dengan harta, ia ingin Prilly dan calon bayinya bisa di pertahankan. Bulir bening dari mata Alexander mengalir melalui pelipisnya, tidak bisa di gambarkan saat ini betapa hancurnya perasaan Alexander, terlebih membayangkan bagaimana reaksi Prilly nanti ketika ia di beritahu tentang kandungannya yang bermasalah.


Semenjak Mike menghilang Alexander telah ratusan kali melihat Prilly menangis. Terapi, sejak Prilly membuka hati untuk dirinya, ia tak mampu melihat air mata Prilly yang disebabkan olehnya, rasanya sangat menyakitkan saat Prilly menangis karena mencintainya yang dirasa rumit. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan Prilly, namun pada faktanya, ia bahkan tidak bisa memberikan yang terbaik, ia justru membuat Prilly kembali menderita merasakan sakit harus kehilangan janin yang baru di ketahui beberapa hari berada di dalam rahimnya.


TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤


VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤