Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Mata biru



London


Sudah tiga hari Prilly dan Alexander berada di London.


Pagi itu Prilly baru selesai baru saja duduk di meja makan bersama Alexander dan ketiga anaknya, tiba-tiba ponsel milik Prilly berdering, Prilly segera menjawab panggilan tersebut.


“David? Hai, selamat pagi.” sapa Prilly, “tumben kau meneleponku, apa ada hal yang penting?”


Mendengar siapa yang memanggil Prilly, Alexander yang sedang mengangkat cangkir kopinya langsung meletakkan kembali cangkir di tangannya.


Alexander memberikan kode kepada Prilly agar istrinya memberikan ponsel di tangannya kepada Alexander, Prilly memutar kedua bola matanya dengan malas, ia tahu Alexander sedang cemburu. Dengan patuh Prilly memberikan ponsel yang berada di tangannya kepada Alexander.


Alexander menempelkan ponsel di telinganya sambil terbatuk dua kali. “Apa pantas pagi-pagi kau menelepon wanita yang telah bersuami?” Alexander bertanya dengan nada dingin.


“Oh astaga, Alexander aku tidak memiliki urusan denganmu,” jawab David di seberang sana.


“Ada urusan apa kau memanggil istriku? Apa ada hal yang sangat penting?” nada suara datar dan berat itu sedikit mengerikan, mungkin jika David ada di depan Alexander ia juga akan mendapatkan tatapan mata dingin dari Alexander.


“Aku dia ingin minta tolong kepada Prilly agar Ia memecat Anne dari Glamour Entertainment,” kata David.


“David apakah masih tidur? Sebaiknya kau membuka matamu,” Alexander mengangkat lengannya lalu memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dengan gaya angkuh. “Ini sudah pukul jam tujuh pagi kau seharusnya sudah bangun,” ejek Alexander.


“Tolong sampaikan permintaanku kepada Prilly, aku akan menutup panggilannya,” kata David.


“Apa kau gila?”


“Alex..!” Prilly memanggil Alexander dengan namanya. Ia juga membelalakkan matanya seperti hendak memarahi Alexander.


Melihat Prilly begitu kesal Alexander mengerjapkan matanya dan mengendurkan nada bicaranya yang dengarkan aku sejak tadi, “Anne sangat bagus pekerjaannya, ia sangat kompeten, kami tidak bisa seenaknya saja memecatnya, kau pikir memecat seorang karyawan tanpa kesalahan tidak memerlukan biaya kompensasi?” meskipun nada suaranya mengendur tetap saja nada bicara Alexander terdengar sinis.


“Astaga, aku akan mengganti biaya itu. Kau perhitungan sekali,” gerutu David di seberang sana.


Alexander tampak jengah meladeni David, ia menekan tombol merah di layar ponsel milik Prilly lalu meletakkan benda itu di atas meja.


Sedangkan Prilly menatap Alexander dengan tatapan mata protes, “seharusnya bertanya baik-baik.”


“Itu urusan mereka berdua, kita tidak perlu ikut campur sayangku,” Alexander manis kan ada bicaranya.


“Mereka itu pasangan kekasih, aku yakin mereka kembali bertengkar.” ucap Prilly terdengar sedikit panik.


“Pasangan?” Alexander mengerutkan keningnya, tentu saja Alexander merasa heran, dia tidak menyangka kalau David dan Anne adalah pasangan.


“Ya, mereka pasangan, mereka memiliki hubungan. Astaga.” Prilly menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang sekarang sedang terbengong mendengar apa yang Prilly ucapkan. “Kau selalu mencurigai David,” gerutu Prilly


‘Selalu?’ seingat Alexander ini baru kedua kalinya ia mencurigai Prilly dengan David. Apakah di masa lalu Mike juga mencurigai Prilly dengan David? Ada perasaan cemburu tersulut kembali di dalam benak Alexander


Jadi selama ini Prilly memang tidak bisa melupakan semua kenangan tentang Mike?


Dada Alexander terasa terimpit batu, rasanya begitu sesak, diam-diam ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan sangat perlahan untuk menata emosinya dan gejolak batinnya yang meronta.


“Panggil David kembali dan makan siang bersama kita bawaannya bersamamu,” Alexander mencoba menutupi kecemburuan yang hampir tidak mampu ya kontrol. Semenjak mereka kembali kembali ke London sebenarnya api cemburu di dada Alexander telah berkurang karena Mike berada di New York, perasaan Alexander begitu damai karena tidak lagi merasa waswas dan menghawatirkan istrinya yang bisa saja diam-diam menemui Mike.


Bibir Prilly tampak masih cemberut ekor matanya juga menatap dengan tatapan kesal ekor matanya juga melirik Alexander dengan lirikan yang tampak kesal karena Alexander mencurigai David. Prilly lanjutkan sarapan paginya kemudian setelah sarapan ia berjalan ke halaman depan mansion untuk melepaskan Alexander dan ketiga anaknya untuk berangkat memulai aktivitas mereka.


“Anak-anak kalian harus menjadi anak yang manis, sebentar lagi liburan akan tiba.” Prilly mengingatkan ketiga anaknya.


“Apakah kita akan pergi berlibur?” Grace seperti biasa ya selalu paling antusias di antara kedua saudaranya.


“Apakah kita akan berlibur? Kau bisa bertanya kepada Daddy,” Billy mengerlingkan matanya kepada anak gadisnya.


“Aku juga.” William tak mau kalah.


“Daddy. Bagaimana?” Prilly mengerjapkan matanya dua kali ke arah Alexander yang tampak masih sedikit tampak kesal, tentu saja karena panggilan dari David pagi itu.


“Baiklah kita akan berlibur dengan catatan nilai kalian di sekolah memuaskan. Kalian ingin ke mana?” tanya Alexander kepada ketiga anaknya.


“Aku ingin ke pantai!” seru Grace.


“Baiklah kita akan ke Grace,” kata Alexander.


“Apakah itu namaku?” Grace tampak heran ia memandangi kedua wajah orang tuanya bergantian.


“Grace, di sana indah, seperti matamu dan Leonel.” Alexander menjawab sambil menuntun Grace masuk ke dalam mobil.


Tenggorokan Prilly terasa tercekat, mata Grace dan Leonel?


Apa Alexander sedang mencoba mengingatkannya kepada Mike? mata biru milik Mike.


"Baiklah. Mommy, kami pergi dulu." Kata Alexander sambil mengelus puncak kepala Prilly lalu mencium keningnya dan berakhir dengan mengecup dengan lembut bibir istrinya.


"Jaga dirimu aku menunggumu di rumah kita," kata Prilly dengan diiringi senyuman manis melepaskan kepergian suaminya untuk bekerja pagi itu.


“Daddy Apakah Grace itu indah?” Grace terus saja berceloteh karena ingin tahu mengapa namanya sama dengan sebuah tempat.


“Grace bay ada di Tigaras, di sana pantainya sangat indah kita bisa berenang berjemur dan tentu saja menikmati indahnya alam bawah laut,” kata Alexander dengan sabar menjelaskan kepada putrinya di mana Grace bay berada.


Alexander mengelus rambut gadis kecil itu yang yang terlihat sedang mengerjap-erjapkan matanya yang berwarna biru mendengarkan dengan seksama penjelasan Alexander.


Alexander menatap mata Grace, mata yang sekilas tampak biru tetapi sesungguhnya jika di perhatikan dengan cermat dan teliti, warna mata itu berbeda dengan mata milik Leonel.



Photo dan infirmasi source Google.


Grace Bay dinobatkan sebagai pantai terindah di dunia oleh perusahaan konsultasi perjalanan wisata, Flight Network. Pantai yang berada di Kepulauan Turks and Caicos itu mendapat skor tertinggi untuk lima kategori penilaian, yakni; kelestarian alam, lokasi, kualitas pasir dan air, cuaca, dan suhu.


Pantai yang memiliki jumlah 319 hari cerah dan suhu rata-rata 29 derajat Celcius dalam setahun ini terbentang sepanjang 1,6 kilometer di bibir Turks and Caicos.


HOLLAA SELAMAT PAGI 💘💘💘


KALIAN SILAKAN BEBAS MENEBAK 😭😭


AUTHOR LELAH BERMAIN TEKA TEKI DI SINI, JADI 10 HARI LAGI NOVEL INI AKU END.


DAN AKAN AKU LANJUTKAN DI NOVEL BARU TENTUNYA DENGAN JUDUL YANG BERBEDA.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️