Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Kekasih palsu



TAP JEMPOL KALIAN TERLEBIH DULU SEBELUM MEMBACA PLIS!


“Hubby, kau yakin akan bekerja sama dengan Al-Fatih itu?” Prilly bertanya dengan nada yang terdengar sangat amat khawatir. Acara pesta telah berakhir dan pasangan yang saling mencintai itu telah kembali ke tempat tinggal mereka.


“Sepertinya iya,” jawab Alexander sambil melepas jas yang melekat di tubuhnya kemudian memasukkan ke dalam keranjang tempat pakaian kotor.


Prilly menatap wajah suaminya, mengerjapkan matanya lalu berucap, “Apa kau yakin? Kau pasti tahu... maksudku, aku khawatir Jay itu dia bisa saja bekerja sama dengan Jovita....”


“Tidak apa-apa, aku justru ingin melihat apa sebenarnya yang direncanakan oleh mereka kau jangan khawatir percayakan semua kepada suamimu yang tampan ini,” ucap Alexander dengan nada sombong.


Prilly memberengut mendengar apa yang di ucapkan suaminya. “Biar aku yang membuka pakaianmu,” katanya sambil mendekatkan dirinya kepada Alexander, jemari tangannya perlahan membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. “Bagaimana tidak khawatir, bisa saja akan di jebak oleh mereka aku tidak ingin ada huru-hara di dalam kehidupan kita lagi.” Wanita itu ternyata masih ingin melanjutkan menyuarakan keresahannya.


Alexander membelai rambut istrinya dengan gerakan lembut penuh dengan kasih sayang. “Tidak akan pernah ada yang bisa mengganggu kebahagiaan keluarga kita lagi,” ujarnya.


Prilly merapatkan jaraknya dan Alexander. Ia memeluk pinggang suaminya, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. “Alex, aku hanya ingin hidup penuh kedamaian bersamamu dan anak-anak,” ucapnya lirih.


Ia telah lelah menjalani hidup yang seolah dipermainkan oleh nasib buruk, sekarang ia hanya ingin hidup tenang bersama suami dan anak-anak yang menggemaskan.


Alexander membalas pelukan istrinya, ia mendaratkan bibirnya di atas kepala Prilly. “Aku pastikan sayangku, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Semua yang kau impikan itu aku akan mewujudkannya.”


Prilly mendongakkan kepalanya, mata hazelnya menatap mata abu-abu milik Alexander dengan tatapan khawatir. “Bisakah kau batalkan rencana itu?”


Alexander tersenyum, ia mengambil sejumput rambut yang tergerai di wajah Prilly lalu membawanya ke belakang telinga wanita pujaannya itu. “Kau berpikir terlalu banyak, kami bahkan belum memiliki kesepakatan apa pun, kami hanya membicarakan rencana. Ia hanya memberikan aku penawaran. Lusa ia akan menawarkan kerja sama secara resmi ke perusahaan.”


“Perasaanku mengatakan....” Prilly menggantung kalimatnya. Ia memiliki firasat ada konspirasi tidak biasa antara Jovita dan Jay. Entah hanya pikiran negatif yang merayapi otaknya atau memang benar adanya.


“Aku tahu,” jawab Alexander. “Jangan katakan kau cemburu.” Alexander menyeringai jail.


Prilly mengatupkan bibirnya erat-erat, wajahnya tampak lucu saat ia merajuk seperti anak kecil. Tatapan matanya tampak kesal menyorot Alexander seolah memprotes kejailan yang tersirat di wajah suaminya. Ia sedang mengkhawatirkan kedamaian hidup keluarganya yang mungkin akan terusik dengan kembali hadirnya Jovita ke dalam kehidupan mereka tetapi suaminya justru menganggap itu hal yang bisa di buat guyonan.


“Berperilakulah yang baik, kau belum selesai menggantikan suamimu ini pakaian. Apa kau akan membiarkan aku tertidur di sini sambil berdiri?” goda Alexander. Mereka masih berada di dalam walk in closet.


Prilly bahkan belum selesai melepas seluruh kancing kemeja yang di kenakan oleh Alexander.


Prilly memukul pelan lengan Alexander kemudian ia menarik dirinya menjauh dari tubuh suaminya. Ia mengambil dua potong pakaian Alexander lalu menyerahkannya. “Kau bisa mengganti pakaianmu sendiri Tuan yang jail,” katanya masih dengan ekspresi kesal karena suaminya tidak mengindahkan kekhawatiran yang sedang Prilly rasakan.


Setelah membersihkan wajah dan menggosok gigi mereka naik ke atas peraduan. Alexander menarik tubuh Prilly membawanya ke dalam pelukannya. “Dengarkan rencanaku,” ucap Alexander sambil membisikkan sesuatu di telinga Prilly.


Setelah mendengarkan semua yang di tuturkan oleh Alexander, Prilly menyeringai lebar. Akhirnya ia bisa bernapas lega. Dada yang tadinya terasa terimpit batu, kini terasa lega. “Dasar licik,” katanya.


“Bagaimana jika malam ini kita tidak usah tidur?” tanya Alexander.


Kilatan matanya seperti seekor kucing jantan yang nakal.


Prilly mengerutkan keningnya.


Alexander mengelus pipi lembut istrinya menggunakan ibu jarinya. Ia tahu Prilly terkadang tidak mengerti dengan hal-hal nakal yang tidak di ucapkan dan tidak di praktikkan langsung. “Karena Alexa berada di rumah neneknya... bagaimana jika kita menikmatinya hingga pagi?”


Alexander tertawa kecil. “Aku mesum karena kau meminta untuk itu,” ucapnya menggoda istrinya.


“Aku tidak,” elak Prilly. Ia memang tidak menggoda Alexander, sedikit pun tidak.


***


“Harun, bisakah aku meminta bantuanmu?” tanya Anne lambat-lambat. Berulang kali ia hendak mengutarakan niatnya meminta pertolongan Harun tetapi baru kali ini ia membulatkan tekadnya. memberanikan untuk menyuarakan tujuannya.


Saat itu mereka sedang berada di sebuah restoran cepat saji untuk menyantap makan siang mereka. Harun yang sedang menyendok makanannya tidak menghentikan kegiatannya, ia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari piring makanannya. “Hhmmm... Apa itu?”


“Aku perlu batuanmu sebagai teman,” kata Anne mengulangi ucapannya.


Harun mengalihkan pandangannya ke arah Anne. Ia merasa sedikit aneh karena Anne bersikap sungkan padahal selama ini mereka memang berteman di luar jam kerja? Karena bagaimanapun mereka telah saling mengenal sejak Harun masih menjadi sekretaris Alexander. “Katakan,” ucapnya.


Anne meraih gelas yang berisi air putih di depannya, meminum isinya untuk membasahi kerongkongannya. Membuang kegugupan yang merasuki perasaannya. Bagaimanapun Harun adalah atasannya meskipun mereka berdua bersikap santai sebagai teman di luar jam kerja dan mereka juga selalu membangun suasana tidak formal di perusahaan selama hanya ada mereka berdua. Anne hanya bersikap formal di waktu dan tempat yang di perlukan.


“Begini... David ingin melamarku tetapi...” ucap Anne menghentikan ucapannya, ia menggigit bibir bawahnya.


Harun mengerutkan dahinya. “Bukankah itu bagus?”


“Ya. Maksudku... ia mengira kau adalah kekasihku.”


Harun tertawa kecil mendengar apa yang dilontarkan oleh Anne. “Apa kita terlihat seperti pasangan?”


“Aku ingin kau bersandiwara,” ucap Anne cepat-cepat. “Menjadi kekasihku,” lanjutnya.


“Tidak masalah,” kata Harun tanpa berpikir panjang.


“Benarkah?” tanya Anne seolah tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar dari bibir Harun.


“Apa aku terlihat seperti pria yang gemar bermain-main?” Harun mengangkat sebelah alisnya.


Anne mengerjapkah matanya, ia tampak sangat gembira. “Aku akan berterima kasih, katakan kepadaku bagaimana caraku berterima kasih kepadamu?”


Bibir Harun mengulas senyum tipis. “Tidak perlu,” katanya.


Anne tersenyum lebar. “Baiklah. Katakan kepadaku jika kau ingin sesuatu, jangan sungkan.”


“Jika kau memaksa aku tidak akan sungkan, aku akan memikirkannya dulu. Sepertinya.” Harun menyeringai.


Keduanya melanjutkan makan siang mereka lalu kembali ke perusahaan, menyelesaikan pekerjaan mereka yang menggunung. Tenggelam dalam berkas yang berisi deretan huruf dan angka-angka yang harus direalisasikan dalam sebuah bentuk kerja nyata oleh seluruh orang yang bekerja di Glamour Entertainment.


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤❤


🍒🍒🍒🍒