
Hening sejenak, Prilly membalikkan tubuhnya untuk menghadap Alexander sambil tatapannya nanar menatap wajah mantan suaminya.
“Alex, aku yakin kau hanya ingin tubuhku.” Prilly tiba-tiba berkata demikian.
Alexander balik menatap wajah Prilly kemudian menjentikkan jarinya di antara kedua alis Prilly. “Jika aku hanya ingin tubuhmu, aku sudah berulang kali memakanmu setiap kau mabuk hingga pingsan.”
Prilly mengusap usap keningnya yang terkena jentikan jari Alexander. “Alex, sakit!” gerutunya.
“Aku yakin, suatu saat kau pasti menjadi milikku.”
“Kau seperti Tuhan saja.”
“Akan kuminta kau pada Tuhan,” kata Alexander.
“Kau sangat religius sekarang, apa Jovita mengajarimu?” tanya Prily dengan nada mengejek.
“Tidak ada yang mengajariku, kehidupan yang mengajariku.” Alexander membawa Prilly ke dalam pelukannya membenamkan wajah Prilly di dadanya.
Jika Alexander mau, ia bisa saja memakan Prilly saat wanita pujaan hatinya memintanya menggantikan Mike, nyatanya mereka hanya bercumbu, mereka hanya nyaris melakukannya, nyaris, hampir saja, Alexander segera tersadar, ia tidak sampai hati melakukan hal itu pada Prilly, ia akan melakukannya nanti, saat hati Prilly talah terbuka untuknya.
Alexander tahu Prilly sangat sulit di dekati karena statusnya sekarang, Prilly selalu merasa ia telah melakukan dosa pada Jovita meskipun mereka belum melakukan hubungan yang lebih jauh, dan untuk mengatasi hal ini, Alexander juga merasa ia menemui jalan buntu, ia juga tidak mungkin menceraikan Jovita mengingat Jovita wanita yang baik, istrinya juga di vonis dokter hanya memiliki 10% kesempatan untuk bisa memiliki keturunan, namun sekali lagi, bukan itu masalahnya, Alexander tidak mempermasalahkan keturunan, justru yang menjadi masalahnya adalah perasaannya pada Jovita yang lenyap begitu saja, yang Alexander rasakan pada Jovita kini hanya tersisa perasaan iba dan ia harus terus berpura-pura mempertahankan sikapnya di depan Jovita, sangat sulit harus berakting.
Pagi harinya Prilly membuka matanya dengan dan mendapati posisinya belum berubah sejak tadi malam, karena udara yang cukup dingin pagi itu ia memilih tidak bergerak meskipun ia telah terjaga.
“Sayang, kau sudah bangun?” Alexander bertanya dengan suara serak yang terdengar seksi.
“Mmmm.” Prilly hanya menggumam.
“Jam berapa jadwalmu bekerja hari ini?” tanya Alexander lagi.
“Jam dua siang, aku memiliki waktu panjang untuk tidur lagi.”
“Kau tidak lapar?” tanya Alexander.
“Aku mengantuk.” Prilly menjawab dengan suara yang terdengar malas.
“Bagaimana jika kita sarapan kemudian tidur lagi?”
“Kenapa dulu kau tak sebaik ini?” tiba-tiba Prilly mengungkit masa lalu mereka.
“Apa dulu kau pernah memberiku kesempatan untuk mendekatimu?”
Prilly hanya diam mengingat betapa dingin dan kakunya hubungan mereka dulu, mereka jarang berbicara berdua, bukan hanya karena sifat Alexander yang kaku dan dingin, juga karena Prilly yang selalu menjaga jarak, setiap pagi Prilly bahkan lebih sering berpura-pura masih tertidur ketimbang mempedulikan Alexander yang akan pergi bekerja.
“Dulu aku masih terlalu muda,” sangkal Prilly, bagaimanapun wanita selalu benar.
“Maafkan perbuatanku dulu,” Alexander dulu begitu frustrasi karena Prilly begitu dingin padanya, istrinya dulu melayaninya dengan terpaksa. Ia mencari pelampiasan, tidak ada yang bisa di benarkan dari sikap Alexander yang mencari pelampiasan, kesalahannya adalah karena ia kurang sabar menghadapi Prilly untuk mendapatkan hati wanita itu, kesalahan yang menghancurkan rumah tangganya sendiri.
Dan itu tidak akan menjadi kedua kali, kegagalan mendapatkan hati Prilly tidak akan terjadi lagi.
“Bisakah kita mengubur masa lalu kita?” tanya Prilly.
“Jadi kau mau memberiku kesempatan?”
“Jadi jika aku tidak beristri kau bersedia?”
“Kau tidak berubah, kau penghianat, aku yakin jika kita bersama kembali tidak ada jaminan kau tidak menghianatiku lagi,” kata Prilly mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.
“Prilly, selama aku bersama Jovita aku belum pernah berkhianat, tapi kau meruntuhkan pertahananku, aku tidak bisa berkata tidak jika wanita itu adalah kau.”
“Aku tidak menggodamu.”
“Tapi aku tergoda olehmu.”
Prilly melepaskan pelukannya dari tubuh Alexander dan membuang selimutnya. “Aku rasa kau lapar sekarang,” kata Prilly sambil berusaha duduk.
Mereka berdua makan sarapan pagi di kursi yang terletak di balkon kamar, Prilly dengan anggun memakan sarapannya, ia membiarkan rambut pendek dan kulitnya terpapar sinar matahari pagi yang membuat kulitnya seperti terlihat merona dan rambutnya tampak memancarkan kilau kecokelatan.
“Dulu kita tidak pernah berbulan madu.” Tiba-tiba Alexander berkata sambil matanya lurus menatap gedung-gedung tinggi di New York.
“Kau tidak memiliki waktu, kau juga merencanakan pernikahan begitu mendadak,” jawab Prilly. “Aku bahkan tidak kau beri kesempatan memilih gaun pengantin sendiri.”
“Jika waktu bisa kuputar kembali.” Alexander mengalihkan pandangannya pada Prilly.
“Alex, aku....” Bibir prilly tiba-tiba bergetar, kerongkongannya terasa tersekat, ia tak mampu mengucapkan kalimat yang hendak ia ucapkan.
Mata mereka saling beradu pandang, cukup lama hingga Prilly tak mampu lagi menatap manik mata berwarna abu-abu milik Alexander, ada secuil penyesalan menghinggapi di batin Prilly, mengapa Alexander tidak sabar menghadapi dirinya dulu? Mengapa ia tak pernah memberi Alexander kesempatan dan ia juga tak berusaha menerima kehadiran Alexander sebagai suaminya?
Pria ba**ngan di depannya mungkin telah berubah, dulu secara tidak langsung ia sendiri yang mengubah Alexander menjadi pria ba**ngan dan sayangnya yang mengubah Alexander menjadi pria baik adalah wanita lain, ada sesak mengimpit batin Prilly. Sekarang meski ia merelakan kepergian Mike tetap saja, Alexander juga tak mungkin bisa dimiliki.
Tuhan benar-benar mempermainkan nasib Prilly.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Alexander ketika Prilly telah duduk dengan manis di bangku samping kemudi.
Alexander menjemput Prilly sore itu, ia bahkan menjauhkan Anne dari Prilly, semenjak Alexander berada di New York setiap hari Anne harus turun naik taxi karena perbuatan Alexander yang tidak mau Anne mengganggu kebersamaan mereka, pria itu benar-benar licik di mata Anne, namun Anne justru bahagia setiap kali melihat Prilly bersama Alexander.
“Semuanya berjalan baik, aku hanya tidak suka mengapa begitu banyak artis pendatang baru sekarang di Glamour Enterprise,” gerutu Prilly.
“Kau tidak mendesain perhiasan lagi?” tanya Alexander sambil melirik cincin pernikahan Prilly dan Mike yang masih melingkar di jari manis Prilly.
“Aku tidak memiliki waktu untuk itu mendesain lagi,” jawab Prilly dengan nada suara yang terdengar sedikit putus asa.
“Bagaimana jika perusahaan itu aku yang mengurus? Aku akan tunjuk satu orang yang memenuhi syarat, aku akan mengawasinya sementara semua hasilnya tetap menjadi milikmu, kau bisa mendesain perhiasan dan mengurus anak-anak.” Alexander mengusulkan sambil mulai menginjak pedal gasnya.
“Alex, ku rasa itu mustahil,” jawab Prilly dengan kening yang berkerut dalam.
“Sayang, pikirkan terlebih dahulu, kau tidak perlu terburu-buru menjawab usulku.”
“Baiklah, akan kupikirkan.”
SELAMAT BERMALAM MINGGU 😚😚😍😘😘😚😗
READERS KECE SEMOGA MALAM MINGGU KALIAN MENYENANGKAN ❤❤💖❤
TAP JEMPOL KALIAN 😗😗😗