
Sesampai di kamar hotel tempat mereka menginap Mike menatap wajah Prilly dengan tatapan menggoda.
Mike mendapatkan jawaban mengapa Prilly selalu bersikap posesif dan manja berlebihan selama mereka berada di Calofornia.
Prilly mengatupkan bibirnya karena kesal suaminya terus memandanginya seolah mengejek dengan kemenangan telah yang terpancar di wajahnya.
“Apa yang kau pikirkan?” gerutu Prilly.
“Tidak ada, aku hanya sedang sangat bahagia.”
Seringai Mike dengan tatapan menggoda, wajah tampannya semakin menawan di mata Prilly.
“Kau jangan mengejekku,” sungut Prilly menutupi kegugupannya, ia sadar bahwa taktiknya telah terbongkar oleh Mike suaminya.
“Aku pria yang sangat beruntung.” Mike meraih pinggang istrinya agar jarak mereka semakin dekat. “Wilona dulu adalah teman akrab Sophia,” Mike memberitahu Prilly.
“Dan mantan pacarmu?”
“Satu-satunya mantan pacarku hanya Prilly Johanson.”
“Bohong,” ucap Prilly cepat.
“Tidak mungkin aku membohongi wanita yang sangat aku cintai.”
Wajah Prilly menjadi merah merona.
“Dia memanggilmu Mike, kenapa bukan Michael seperti kru yang lain? Kalian sangat akrab,”
protes Prilly.
“Kami dulu tinggal bersama.”
Prilly terbelalak dengan pengakuan suaminya.
“Aku, Sophia dan Wilona kami tinggal serumah.” Mike membawa Prilly duduk di sofa, di dudukkannya wanita mungil yang perutnya semakin membuncit itu di pangkuannya.
“Untuk penghematan, kami menyewa sebuah apartemen dengan tiga kamar.”
Saat itu Mike adalah asisten Sophia sepupunya sendiri, Sophia adalah calon bintang bertalenta pada saat itu. Di samping tidak ada yang tahan dengan mulut pedas Sophia, orang tua Sophia langsung yang meminta tolong pada Mike untuk menjaga gadis itu selama mereka di New York.
Saat itu Mike batu saja menjadi mahasiswa, dengan senang hati Mike menerima tawaran itu. Lagi pula mahasiswa semester awal tidak banyak memiliki kesibukan.
Seiring berjalannya waktu Wilona juga mencoba peruntungannya di dunia hiburan dan Mike mengurus dua gadis yang sangat merepotkan, Sophia dengan mulut pedasnya dan Wilona dengan perangainya yang selalu lemah lembut dan mengalah dengan apapun yang Sophia lontarkan .
Satu tahun kemudian, Mike memutuskan untuk membuat manajemen artis sendiri dengan sedikit informasi dan pengalaman mengurus Sophia dan Wilona, ternyata respons positif datang tak terduga, usahanya maju perlahan, tahun demi tahun segalanya mulai berubah, Glamour Enterprise menjadi salah satu rumah produksi film dan menaungi banyak artis artis ternama di dunia perfilman Hollywood.
Namun persahabatan antara Sophia dan Wilona mulai goyah, bahkan retak dan akhirnya mereka seperti tidak pernah mengenal dan fatalnya Sophia terang-rerangan memusuhi Wilona. Sedangkan Wilona, gadis itu selalu tenang, bungkam dan terlihat selalu mengalah.
“Mengapa mereka bertengkar?” tanya Prilly.
“Masalah asmara.”
“Memperebutkanmu?”
Mike terkekeh, lalu menjentikkan jarinya di antara kedua alis Prilly, Prily mengusap keningnya dengan ujung jemari lentiknya.
“Apa yang ada di kepala cantikmu itu?”
“Aku hanya bertanya.”
“Setiap pria yang disukai Wilona entah mengapa berbalik arah lebih memilih Sophia.”
Prilly mengerutkan keningnya, bukankah jika dilihat dengan mata Wilona jauh lebih cantik dan sempurna di banding Sophia, namun Prilly tak mungkin mengucapkan kalimat itu.
“Meski mulut Sophia pedas namun percayalah, ia memiliki perangai yang baik, ia hanya suka melihat orang yang tampak gentar jika di gertak olehnya”
“Aku tahu Sophia gadis yang baik,” gumam Prilly.
“Kau sangat akrab dengannya sekarang.”
Prilly terkekeh mengingat perkenalan pertamanya dengan Sophia yang kurang baik.
“Apa Harry juga termasuk?”
Mike menggeleng.
“Harry adalah temanku di fakultas dulu.”
“Kalian lulusan fakultas yang sama?”
“Kau tertarik pada politik?”
“Apa kau akan mengijinkanku jika aku terjun ke dunia politik?”
“Tidak.”
“Awalnya aku tertarik tapi pada semester kedua aku berubah pikiran, aku mengganti Fakultas di bidang Bisnis, aku rasa aku lebih cocok disana.”
“Sangat,” kata Prilly. “Lalu bagaimana dengan Harry? Maksudku apa Harry pernah menyukai Wilona?”
“Sebaliknya.”
“Bagaimana dengan Harry?”
“Harry pria yang baik dan setia, ia telah berusaha mengejar Sophia lebih dari aku mengejarmu”
“Benarkah?”
Mike mengelus pucuk kepala Prilly. “Sebaiknya kita bersiap untuk makan malam bersama mereka”
“Kau belum menjawab apa hubunganmu dengan Wilona.”
Prilly masih belum puas dengan cerita suaminya.
“Tidak ada, ia hanya salah satu artis di manajemen kami dan ia dulu temanku”
“Kalian bertengkar?”
“Tidak”
“Lalu?”
“Dia tidak memasuki kualifikasi untuk menjadi temanku”
“Kenapa tidak mengeluarkan dari manajemen?”
“Jika ia tidak memiliki kesalahan apa pun dalam hal bekerja apa mungkin kami menyingkirkannya?” Mike bertanya sambil menatap wajah istrinya yang tampak semakin menggemaskan karena pertanyaan pertanyaan konyolnya.
***
Sementara Alexander dan William putranya, mereka berdua menikmati waktu mereka selayaknya ayah dan anak dengan baik. Perlahan-lahan, William mampu ia jinakkan meski tanpa harus merayu dengan menerbangkan pesawat.
Alexander mengakalinya dengan membelikan sebuah mesin permainan yang berbentuk pesawat lengkap dengan layarnya yang biasa tersedia di arena permainan anak-anak di dalam mall. Dan semuanya beres dalam sekejap.
Jovita baru saja menidurkan William, ketika Alexander masuk ke dalam kamar yang sekarang menjadi kamar William.
Ia sedang berdiri di depan jendela Paris yang langsung menghadap ke sebuah taman di kota London.
“Aku ingin mengajakmu makan malam di rumah orang tuaku malam ini,” kata Alexander tiba-tiba. Jovita mengerutkan keningnya.
“Cepat atau lambat mereka harus tahu. Kau sedang hamil calon anak kita,” Alexander mengecup punggung Jovita. “Kita harus menikah.”
Jovita memejamkan matanya, ia baru saja mengetahui kehamilannya saat kembali dari New York menjemput William.
“Apa harus menikah?”
“Apa kau suka membesarkan anak tanpa pernikahan? Aku tidak menyukai hal seperti itu, aku ingin memberikan nama Johanson di belakang namanya saat ia lahir.”
Jovita terdiam, pria ini adalah ******** yang bergonta-ganti ******. Jovita yakin, suatu saat ia akan bernasib sama seperti Prilly.
“Alex,aku tidak bisa menikah denganmu.” Jovita telah menyiapkan mental untuk mengatakan hal ini, Alexander pasti akan tersalut amarah.
“Kenapa?” di luar dugaan Jovita, Alexander bertanya dengan penuh kelembutan.
“Kita bisa membesarkannya tanpa pernikahan, aku bisa tinggal di sini untuk merawatnya dan...,” Jovita menggantungkan kalimatnya.
“Dan apa?” suara Alexander masih terdengar lembut.
“Kau bisa bergonta-ganti wanita sesukamu aku tidak akan melarang. Jika kita menikah, aku tidak akan sanggup untuk menghadapi dirimu. Aku mungkin lebih lemah di banding Prilly.” karena reaksi Alexander yang begitu lemah lembut Jovita memberanikan diri untuk mengeluarkan semua beban pikiran yang menghantui pikirannya selama ini.
“Begitukah?” Alexander mengecup kembali punggung Jovita.
Jovita memalingkn tubuhnya menghadap Alexander.
“Alexander, berhenti berpura-pura bersikap sabar!” ia mendadak jengah dengan sikap Alexander yang menurutnya di buat-buat.
Alexander tersenyum, wajah kakunya sebenarnya sangat menawan jika di hiasi dengan senyum, namun sepanjang hidupnya, pria itu jarang tersenyum. Alexander tidak menanggapi omongan Jovita, ia justru menarik tubuh Jovita dan memeluknya.