Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Bukan tawanan



Alexander memeluk Prilly dengan kasih sayang, sambil memandangi lampu-lampu yang tampak menyala di tengah laut pada malam hari melalaui jendela kamar tempat mereka menginap. Bibir Prilly terkatup rapat, besok pagi Jovita di pastikan datang ke Barcelona, ia hanya orang ketiga yang berada di antara Alexander dan Jovita.


“Sayang, ini tidak terduga, maafkan aku." Berkali-kali Alexander mengatakan hal itu, Prilly masih enggan membuka mulutnya bahkan hingga mereka kembali ke Hotel.


“Baiklah, besok kau ikut ke perusahaan, oke? Aku akan mencari alasan yang tepat.” Alexander berusaha membujuk istrinya.


Air mata Prilly tergelincir, ia begitu kesal pada dirinya, ia merasa ini bukan dirinya, jatuh cinta pada Alexander sungguh menyiksa batinnya.


“Tidak perlu, maaf aku yang mulai serakah, seharusnya aku tahu konsekuensinya sejak awal, seharusnya Jovita yang marah kepadaku, bukan aku yang bersikap begini,” jawab Prily dengan nada ketus.


Alexander semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Prilly. “Harun akan menemanimu berbelanja, kau bisa berkeliling ke mana saja semaumu.”


Prilly dengan berat hati menganggukkan kepalanya, malam itu mereka melalui malam yang begitu berat, tidak ada percakapan, kecanggungan dan jarak yang terus di bangun oleh Prilly, bahkan hingga pagi Prilly tidak membuka mulutnya untuk berbicara, mereka menikmati sarapan dengan suasana yang sangat berat, bahkan untuk bernafas pun udara menjadi sangat sulit seolah mereka berdua sedang berada di dalam ruang yang tekanan udaranya menurun.



Prilly Silviana Smith sourch Instagram @vcmbag


Setellah Alexander pergi ke perusahaan, Prilly mencoret coret kertas yang ada di depannya, konsentrasinya benar-buruk, ia mere**s kertas kertas itu lalu membuangnya di lantai, begitu seterusnya hingga tak terhitung jumlah kertas yang telah berubah menjadi gumpalan.


Hingga akhirnya ia merasa bosan, ia mengambil tas tangannya lalu melangkah pergi menuju sebuah Mall terbesar di Barcelona, Harun dengan setia terus membuntuti Prilly meski beberapa kali Prilly meminta Harun untuk menjauh, Prilly ingin menikmati waktunya sendiri, di buntuti oleh harun ia merasa dirinya bagai seorang tawanan. Prilly terus saja menggesek kartu bank yang di berikan Alexander padanya, ia tidak tahu lagi benda apa saja yang ia beli, yang jelas, ia hanya melampiaskan kekesalannya, kesal karena ia harus berbagi Pria yang ia cintai dengan wanita lain.


“Harun bisakah kau bawa ke mobil barang-barang ini?” tanya Prilly pada Harun.


“Baik, Madam," jawab Harun dengan sopan.


Prilly menyeringai, ia berhasil menjauhkan Harun, ia segera berjalan menuju pintu keluar Mall yang lain, memanggil taxi kemudian menghilang.


Sementara Jovita dan Alexander di ruang kerja perusahaan mereka mengobrol masalah seputar pekerjaan, sesekali Alexander tersenyum melihat betapa banyaknya email laporan bank, rupanya istri keduanya sedang melampiaskan amarahnya dengan berbelanja.


“Alex? Ada apa?” tanya Jovita yang melihat Alexander tersenyum sendiri.


“Tidak, aku hanya bahagia kau berhasil mengatasi kesulitan di perusahaan cabang Singapura,” Alexander berbohong.


“Kau menolak semua kandidat yang aku usulkan untuk menjadi kepala cabang, seperti apa kriteriamu yang sebenarnya?” tanya Jovita, nada suaranya lebih seperti keluhan.


Alexander hanya tersenyum simpul, berbicara kriteria, ia justru teringat Prilly, cinta pertamanya, istri pertamanya yang kini menjadi simpanannya, itu dia, wanita itu kriterianya.


“Oh Alex, seriuslah!” keluh Jovita.


“Aku sendiri yang akan menangani cabang singapura naanti,” jawab Alexander dengan nada riang.


“Baiklah. Alex, aku rindu Willy, aku ingin memanggilnya,” kata Jovita tiba-tiba.


“Anak-anak berada di mansion Mommy,” kata Alexander memberitahu pada Jovita.


Jovita memutuskan untuk kembali mengerjakan urusannya di depan laptopnya, sepasang suami istri itu tenggelam dalam pekerjaan masing-masing hingga suara dering ponsel Alexander memecah keheningan.


“Temukan dia, atau kau kupecat!” itu suara Alexander dengan nada dingin dan penuh tekanan amarah, rahang Alexander mengeras, sorot matanya terlihat penuh amarah, mimik wajahnya penuh emosi.


“Alex, ada masalah apa?” tanya Jovita yang sedikit terkejut karena suaminya tampak begitu emosi.


Alexander tidak menghiraukan pertanyaan Jovita, jemarinya sibuk mengetik di atas layar ponselnya sambil alisnya berkerut, ia melirik jam di sudut kanan atas ponselnya, sudah hampir sore, istrinya melarikan diri dari pengawasan Harun.


Panggilan itu berasal dari Harun yang mengabarkan ia kehilangan jejak nyonya barunya, nyonya baru yang telah di kenal Harun sejak lama sebagai mantan istri tuannya, nyonya baru yang di kejar tuannya hingga tuannya itu terlihat seperti pria konyol yang kehilangan akal sehat, mengabaikan pekerjaan hanya demi seorang wanita.


Sementara itu Prilly menikmati waktunya dengan berkeliling Barcelona, ia menyusuri jalanan sambil beberapa kali mengambil foto dengan cara Selfi.


‘Aku akan merencanakan liburan berkeliling dunia nanti,’ batinnya.


Setelah berkeliling dan melihat atraksi beberapa pengamen jalanan, Prilly dengan santai duduk di sebuah kedai kopi sambil menyesap kopinya sambil membaca sebuah novel yang ia beli di sebuah toko buku yang di lewatinya.


“Cih, novel sampah!” Gerutu Prilly sambil menutup novel yang ia beli, ia hanya asal mencomot novel yang ia beli tanpa membaca sinopsisnya, isinya tidak masuk akal dan tidak bisa di cerna dengan logika.


“Madam, Anda harus kembali ke hotel sekarang,” suara itu membuat Prilly mendengakkan kepalanya.


Prilly mendengus kesal, Harun berdiri di depannya dengan wajah tegang.


“Harun duduklah,” kata Prilly.


“Saya di perintahkan tuan untuk menjemput anda dan membawa anda kembali ke hotel,” kata Harun dengan sopan.


“Harun, aku bukan tawanan,” protes Prilly.


“Sir Alex berkata anda harus kembali.”


“Harun, aku bosan sendirian di kamar,” kata Prilly.


“Sir Alex akan datang nanti.” Harun memberitahu, entah bagaimana sekarang ia bukan seperti sekretaris pribadi Alexander, ia seperti pelayan nyonya barunya yang sangat di memanjakan oleh tuannya.


Dulu ketika tuannya hendak menikahi nyonya pertama Harun tidak serepot ini, kali ini Harun mengakui, pesona wanita kecil yang di kejar-kejar tuannya memang luar biasa, wanita itu cukup menggemaskan dengan segala tingkahnya.


Prilly mendengus kesal, akhirnya mau tidak mau, ia menuruti perintah Alexander kembali ke hotel. Baru saja ia melangkahkan kakinya ke dalam kamar, Prilly mendapati Alexander sedang duduk sambil menyilangkan kakinya di sofa, dengan wajah angker, kaku dan dingin tetapi tidak mengurangi pesona ketampanannya. Prilly spontan menghentikan langkahnya.


“Sudah puas membuat suamimu khawatir Mrs. Johanson?” tanya Alexander dengan nada dingin.


TAP JEMPOL KALIAN 😚😚😚😚