
Setelah seharian mengelilingi setiap penjuru Grand Canyon, malam harinya usai menyantap makan malam mereka berdua duduk santai di dalam kamar tempat mereka menginap. Alexander sedang membuka laptopnya untuk mengecek pekerjaan walau bagaimanapun ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja, sedangkan Prilly ia sedang berguling-guling di atas ranjang sambil memilih foto yang akan ia unggah ke media sosial miliknya.
Satu jam kemudian Alexander setelah selesai dengan pekerjaannya, ia melirik istrinya sambil berpura-pura masih mengecek dokumen pekerjaannya, sebenarnya ia sedang mengkhayalkan lekuk tubuh indah istrinya yang berada tepat di depannya, membayangkan meraba bokong istrinya, meraba lekuk tubuhnya, meraba setiap inci kulitnya, bibir Alexander menyunggingkan senyum tipis.
Namun, senyum itu mendadak lenyap dari bibir Alexander manakala sebuah pesan tiba-tiba muncul di layar laptopnya, “jaga istrimu dengan baik, aku telah mengirim orang-orangku untuk menjaga kalian.” Bunyi pesan yang dikirim oleh Harry.
Alexander merasa keningnya tiba-tiba berdenyut hebat, mungkin otaknya tiba-tiba menabrak tulang tengkorak di kepalanya.
'Ada masalah apa lagi? Bukankah permasalahan dirinya dan Charles telah usai?’ Alexander merasa tidak memiliki urusan apa pun selain masalahnya dengan keluarga Charles dan tentu saja mantan istrinya Jovita. Alexander rasa penasaran siapa sebenarnya target yang sebenarnya dirinya atau Prilly istrinya.
Alexander segera membalas pesan yang masuk. “Aku mengerti."
Harry membalas kembali pesan yang dikirim oleh Alexander. “Lebih baik kalian segera kembali tidak aman berada di sana.”
“Baiklah,” jawab Alexander, lagi pulang memang berencana akan kembali besok.
Alexander menutup laptopnya kemudian menghampiri istrinya dan berucap, “Sayang sebaiknya kita tidur kita harus kembali besok pagi-pagi sekali.”
Prilly yang sedang mengetik di atas layar ponselnya menghentikan jari-jemarinya. “Kembali?” wanita itu tampak bingung.
“Iya, kembali,” jawab Alexander dengan nada sangat lembut. “Apa kau lupa kita akan kembali besok?” Ia mendudukkan bokongnya di tepi ranjang.
“Tapi, bukankah rencana awal kita akan ke New York?” Prilly menatap suaminya dengan tatapan seperti sedang melayangkan protes.
Alexander menghela nafasnya diam-diam. “Iya, kita akan ke New York, Aku memiliki beberapa pekerjaan di sana.”
“Berarti kita belum akan kembali bukan?” Prilly seperti anak kecil yang enggan kembali ke rumah tatapan mata Prilly membuat Alexander gemas meski dalam batin Alexander begitu berkecamuk karena ia masih tidak tahu siapa target sesungguhnya yang ingin dimusnahkan oleh musuhnya, musuh? Dalam hati Alexander berdecih, bagaimana mungkin ia tiba-tiba memiliki musuh di Amerika, sungguh konyol kedengarannya.
“Kita tidak akan kembali jika kau tidak menginginkan kita kembali ke London,” kata Alexander sambil tersenyum menyembunyikan keresahannya.
“Omong kosong,” kata Prilly sambil tersenyum jangan katakan kau akan memboyong William Grace dan Leonel ke Amerika.”
“Itu tidak mungkin sayangku, rumah kita di London, kita akan menghabiskan sisa umur kita di sana bersama anak-anak kita tentunya.” Alexander menyentuh dengan ujung jemarinya kulit punggung tangan Prilly.
“Kalau begitu ayo gosok gigi dan bersiap untuk tidur,” kata Prilly sambil meletakkan ponselnya ke atas nakas di samping tempat tidur.
Malamnya setelah Alexander memastikan istrinya tertidur ia mengambil senjata api miliknya dan menggenggam dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memeluk Prilly, sepanjang malam meski matanya terpejam telinga Alexander tetap berada di bawah kewaspadaan, ia tidak pernah menyangka akan berada di dalam situasi seperti sekarang, entah dirinya yang di dalam bahaya atau Prilly yang di dalam bahaya, namun yang jelas mereka berdua terjebak di dalamnya.
Sekitar pukul dua dini hari Alexander mendengar suara gaduh, suaranya terdengar begitu dekat, bahkan lantai kamar seperti bergetar, Alexander membuka matanya sedikit, di antara renangnya lampu Alexander mengamati ruangan itu memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua di dalam kamar itu. Ia yakin suara itu berasal dari balkon, Alexander menutup telinga Prilly menggunakan telapak tangannya dengan lembut agar istrinya tidak mendengar suara gaduh, namun tak urung istrinya terjaga juga.
“Hubby, apa kau mendengar sesuatu?” Prilly menepis telapak tangan Alexander yang menutup daun telinganya.
“Hmm...” Alexander menggumam. “Aku tidak mendengar suara apa pun,” katanya berbohong.
“Suaranya sangat jelas,” kata Prilly pelan, ia berusaha bangkit dari tidurnya, namun Alexander menahan tubuh Prilly.
“Kau salah dengar,” kata Alexander.
“Benarkah? Tetapi, suaranya sangat jelas.” Prilly berbisik.
Tidak lama terdengar suara letusan yang tak begitu kencang, mungkin mereka menggunakan senjata api yang menggunakan peredam.
“Hubby, ada suara letusan." Prilly masih percaya dengan Indra pendengarannya, dan sekarang Alexander merasakan tubuh istrinya itu sedikit bergetar tentu saja istrinya itu mungkin masih trauma dengan suara tembakan.
“Mungkin suara petasan,” kata Alexander lagi-lagi ia berbohong. Namun, kali ini ia tidak bisa terus-terusan mengatakan bahwa istrinya hanya salah dengar, tentu saja Prilly bukan wanita bodoh, semakin lama Alexander meyakinkan bahwa Prilly salah dengar istrinya itu mungkin akan semakin curiga.
“Ini bukan perayaan tahun baru,” protes Prilly.
“Istriku tersayang, aku sangat mengantuk kenapa kau mengajakku terus berbicara.” Alexander berpura-pura mengeluh. “Patuh dan tidurlah kembali.” Titah Alexander dengan nada sedikit tegas.
Setelah mematikan Prilly kembali tertidur, Alexander bangkit dari ranjang, perlahan ia berjalan sambil memegang senjata api di tangannya, ia mendekati pintu yang mengarah ke arah balkon dan dengan siaga ia mengarahkan tersebut untuk berjaga-jaga tepat saat ia membuka pintu seorang pria mengenakan topeng berdiri di balkon membelakanginya. Pria itu sedang menghisap rokok dengan sangat santai, seolah tidak mempedulikan kehadiran Alexander yang mengarahkan senjata api ke arahnya.
“Aku utusan Harry,” kata pria itu dengan suara pelan.
Alexander masih tidak mengarahkan senjata api di tangannya ke arah pria asing itu, lampu di balkon itu rupanya telah di padamkan entah oleh siapa, hanya cahaya temaram yang berasal dari dalam kamar samar-samar menyinari.
“Di mana pembunuh itu?” Tanya Alexander dengan nada datar.
“Kami telah membereskan,” jawab pria itu dengan suara datar pula.
“Siapa yang mengutusnya?” Alexander perlahan menurunkan lengannya.
“Sayang sekali orangnya tewas,” jawab pria asing itu sambil terus menghisap tembakaunya.
Alexander tersenyum masam. “Baiklah, terima kasih, aku rasa keadaan telah aman.”
“Tidak ada jaminan, kami akan tetap mengawasimu seperti apa yang Harry perintahkan,” jawab pria asing itu.
“Baiklah.” Alexander berbalik dan meninggalkan balkon, ia kembali masuk ke dalam kamar dan memeluk tubuh istrinya, perasaannya sangat berkecamuk amarah di dadanya meronta-ronta, Alexander bersumpah ia tidak akan pernah memaafkan orang-orang yang berusaha menghancurkan kebahagiaannya.
***
Sementara di Texas, Simon mengutuk dan mencaci maki anak buahnya melalui penggilan telepon. "Kalian tidak berguna, membunuh seorang wanita saja tidak becus!"
TERIMA KASIH TEMAN TEMAN YANG SELALU MENGINGATKANKU DENGAN TYPO DAN PENGULANGAN KATA MAUPUN PARAGRAF, AKU SENANG SEKALI. 💘💘💘💘💘💘
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️
RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐
VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️
JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️