Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
END



Dua bulan kemudian.


“Bagaimana?” tanya Prilly sambil melihat dirinya di cermin.


“Kau sempurna,” jawab Alexander.


Prilly mendengus. “Hah? Kau bahkan tidak melihatku,” ucapnya dengan nada sengit karena Alexander yang sedang menggendong Alexa sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.


Suaminya itu sibuk menikmati pipi lembut Alexa yang ia hujani dengan kecupan-kecupan manis dari bibirnya berulang-ulang.


“Astaga, kau sudah satu jam di depan cermin seperti kau saja yang mau menikah, jika satu jam lagi kau masih berdiri di depan cermin aku jamin upacara pemberkatannya akan berakhir,” jawab Alexander sambil kembali menyapukan bibirnya di pipi Alexa.


“Berikan Alexa kepadaku,” pinta Prilly sambil mengulurkan tangannya kepada Alexander.


“Biar aku yang membawanya, gaunmu bisa kusut jika kau menggendong Alexa,” kata Alexander. “Tas tanganmu jangan sampai lupa,” lanjutnya. Ia tidak ingin sesampainya dilantai utama rumah mereka, istrinya akan menjerit karena melupakan barangnya.


“Baik, ayo,” ucap Prilly sambil mengambil tas tangan yang telah ia serasikan dengan gaun dan sepatunya. Pagi itu mereka akan menghadiri pemberkatan pernikahan Anne dan Harun.


Sesampainya di lantai utama rumah mereka mendapati Grace dan Leonel yang bisa dipastikan telah berseteru, hidung Grace tampak merah karena menangis sedangkan Leonel juga menangis, biasanya Leonel menangis karena terkena Omelan William.


Grace tampak berlindung di belakang tubuh William, melihat pemandangan itu Alexander tersenyum sambil menatap istrinya kemudian berucap. “Aku seperti melihat Dejavu.”


“Aku akan menikahkan mereka nanti,” jawab Prilly.


Alexander menyerahkan Alexa kepada Diana, ibunya. Seperti biasa anak-anak diurus oleh Diana setiap kali Alexander dan Prilly memiliki acara yang harus dihadiri bersamaan.


“Mommy, tolong jaga anak-anak,” kata Alexander.


“Tentu saja, tidak perlu kau berpesan. Aku pasti menjaga cucuku,” jawab Diana sambil membawa Alexa ke dalam gendongannya.


Alexander menyeringai. “Terima kasih.”


“Mommy, kami pergi dulu,” ucap Prilly sambil mengecup pipi Diana, ia tidak melakukan kepada Alexa karena wajahnya menggunakan sedikit make up. Ia khawatir make up yang ia gunakan berbahaya untuk Alexa jika terkena kulitnya.


“Nikmati waktu kalian dan sampaikan ucapan selamatku kepada Anne,” kata Diana.


“Baik, Mom,” kata Prilly sambil menggandeng lengan Alexander dan mereka berdua berjalan menuju keluar rumah.


“Aku rasa William lebih cocok, terserah Grace boleh memilih siapa saja,” jawab Prilly.


“Aku rasa Willy pemenangnya.” Alexander menstater mobil dan mulai mengemudikannya.



***


Sepuluh tahun kemudian.


Tepat dua hari setelah perayaan ulang tahun Leonel, Grace dan Sidney yang di rayakan di London. Sidney menyandang nama Johanson di belakang namanya, begitu juga Mike dan Helena juga Chloe, putri Mike dan Helena.


Kebahagiaan menyelimuti seluruh keluarga Johanson tetapi ada hal yang sangat menyulitkan bagi Prilly dan Alexander. Mereka di hadapkan kepada sebuah kenyataan harus membuka tabir kelam siapa Grace sesungguhnya. Mau tidak mau, meski sangat berat mereka harus melakukannya. Sidney juga putri Prilly, ia berhak menyandang nama besar Johanson di belakang namanya sesuai dengan darah yang mengalir di nadinya.


Malam itu seusai makan malam di kediaman mereka, Prilly dan Alexander mengumpulkan kelima anaknya di ruang belajar.


“Ada sesuatu yang harus Daddy sampaikan kepada kalian,” kata Alexander setelah diam-diam menarik napasnya dalam-dalam.


Kelima anaknya tampak tegang dan memfokuskan pandangan mereka kepada Alexander. Perlahan Alexander menceritakan bagaimana perjalanan cintanya bersama Prilly tanpa membuka sisi kelam hubungan mereka, perlahan pula ia menjelaskan siapa ayah kandung Leonel karena selama ini Leonel juga tidak tahu siapa ayah kandungnya karena baik Alexander maupun Mike, ia panggil dengan sebutan ayah. Perlahan-lahan pula Alexander menceritakan tragedi di mana Mike di nyatakan telah meninggal hingga pada titik terberat Alexander harus memberi tahu kepada Grace siapa jati dirinya.


Dengan hati-hati Prilly mendekati Grace, memeluk pundak Grace saat Alexander menceritakan jati diri Grace. Prilly jelas tahu jika saat itu tubuh Grace bergetar mendengar semua yang dituturkan oleh Alexander. Tetapi, reaksi Grace tidak berlebihan, ia mampu menguasai dirinya. Ia menatap Prilly dan Alexander bergantian lalu berucap, “Mommy, Daddy, terima kasih telah merawatku.”


Ucapan itu justru membuat tangis Prilly pecah, ia tidak bisa membayangkan seberapa hancurnya perasaan Grace saat itu tetapi anak itu mencoba menguatkan batinnya, Prilly yakin jauh di lubuk hatinya, Grace tidak semudah itu menerima kenyataan pahit.


“Sayang, jangan pernah berpikir macam-macam, kami menyayangimu sepenuh hati,” ucap Prilly di sela isaknya.


Grace mengangguk. “Aku tahu, Mommy. Kalian menyayangiku.”


END.


Terima kasih untuk kalian semua yang udah baca tulisanku dari awal, dari masih berantakan banget sampe aku pelan-pelan belajar PUEBI. Novel ini aku rasa sudah terlalu panjang dan membosankan, jadi aku putuskan untuk stop sampai di sini.


UNTUK SELANJUTNYA KALIAN BISA FOLLOW IG AKU @cherryblossom0311 UNTUK INFO NOVEL TERBARU DAN FB : SAKURA HIKARU.