Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Alexander gelisah



Ketika, Jovita memisahkan diri untuk menuju toilet. Alexander tidak menyia-nyiakan momen itu. Ia langsung menyambar pergelangan tangan Jovita dan menyeretnya masuk menuju mobilnya.


Menyadari siapa yang datang dan menyeretnya, Jovita hanya diam. Ia sadar jika ia berontak dan berteriak ia akan menarik perhatian orang dan mungkin ia akan masuk ke dalam headline berita besok pagi. Jadi Jovita mempertahankan ketenangannya.


“Alex, biarkan aku turun,” kata Jovita ketika mereka berada di dalam mobil.


“Jadi kau bersama pria yang membelimu, malam ini?”


“Jaga bicaramu, Alex. Mereka teman-teman di tempat kerjaku.”


“Aku bisa membelimu dengan harga lebih tinggi. Tidak perlu kau pergi ke klub mencari pria.”


“Tidak semua wanita yang pergi ke klub adalah wanita bayaran. Jangan samakan kebiasaan orang lain dengan kebiasaanmu, Tuan Alexander yang terhormat,” kata Jovita sambil berusaha membuka pintu mobil meskipun sia-sia.


Alexander tersenyum sinis. “Mau kemana kau? Kembali mendatangi pria itu hah?!” tanya Alexander emosi nadanya meninggi.


“Itu bukan urusanmu,” jawab Jovita dengan nada sinis.


“Itu urusanku.”


“Kita tidak memiliki urusan.”


“Baiklah, jika kita memang tidak memiliki urusan,” kata alexander sambil menghidupkan mesin mobilnya dan menginjak pedal gas melajukan mobilnya dengan kencang.


Kembali pergelangan tangan jovita di seret oleh Alexander dan Jovita juga tidak meronta maupun berteriak. Dari sekian banyak sekretaris dan ****** yang pernah Alexander tiduri, hanya Jovita yang memiliki ketenangan luar biasa dan seakan akan tidak pernah terpengaruh oleh status Alexander.


Mereka tiba di apartemen yang di tinggali Alexander dan dengan kasar mendorong tubuh Jovita ke atas sofa.


“Tunggu di sini,” kata Alexander


tegas.


Jovita hanya diam, ia ingin sekali memaki mantan bossnya tetapi mulutnya terasa terkunci.


Alexander meninggalkan Jovita masuk kedalam kamarnya. Hanya tiga menit, Alexander kembali sambil tangannya memegang satu kemeja bersih berniat menyuruh Jovita untuk mengganti pakaiannya dengan kemejanya. Tetapi, tidak di sangka gadis itu telah meninggalkan ruangan itu.


Di meja ada selembar kertas, rupanya Jovita meninggalkan benda itu. Alexander mengambilnya dan membacanya, matanya memicing rahangnya megatup dengan geram penuh emosi.


Ia mer**emas kertas itu dan membuangnya di tempat sampah kemudian ia menyambar kunci mobilnya dan menuju kembali ke klub dimana ia bertemu Jovita. Namun, sia-sia gadis itu tidak ia temukan. Bahkan rombongan yang bersamanya juga tidak terlihat.


Alexander bergegas menuju tempat tinggal Jovita. Namun, kembali sia-sia. Berulang kali ia menekan bel, tetapi tidak ada jawaban. Karena ia tahu kode akses apartemen Jovita, Ia segera membukanya dan ternyata Jovita memang tidak kembali ke apartemennya.


Dua hari berlalu, sepulang bekerja Jovita memutuskan untuk kembali ke apartemennya setelah dua hari menginap di rumah orang tuanya.


Setelah membersihkan tubuhnya, Jovita keluar dari kamar mandinya dan ia terkejut mendapati seorang pria sedang bekutat dengan laptopnya duduk di atas ranjangnya.


“Apa yang kau lakukan di rumahku? Pergi dari sini,” kata Jovita dingin.


“Mulai besok kembalilah bekerja di perusahaanku, sebagai sekretarisku,” kata Alexander.


“Aku tidak mau.”


“Aku akan memaksamu.”


“Alex, telah lama aku telah menyadari, menerima cek sebagai sekretaris mesummu adalah kesalahan fatal dalam hiduku. Itulah sebabnya aku mengembalikan cek pembayaran kontrak itu,” kata Jovita dingin. “Sejak hari ini aku tidak ingin lagi berurusan apapun denganmu.”


Alexander meletakkan laptop dan ia turun dari atas ranjang itu, lalu berjalan mendekati Jovita.


“Jika aku membantah, apa yang akan kau lakukakan?” tanya Jovita dengan nada angkuh sambil mengangkat dagunya.


Alexander langsung ******* bibir Jovita dan mengunci kedua pergelangan tangan Jovita hingga ia tak bisa melawan. Apalagi Alexander menekannya hingga ia terpojok ke pintu.


Jovita meronta-ronta, namun sia-sia saja. Meskipun ia dan Alexander tidak memiliki banyak perbedaan tinggi badan, Namun tetap saja tenaga Jovita tidak sebanding dengan tenaga pria. Dan lagi tubuh Jovita bereaksi dengan sendirinya. Dia membalas ******* bibir Alexander.


Setelah tautan bibir mereka terlepas, Jovita memalingkan wajahnya dan air matanya entah mengapa turun tergelincir di pipi putihnya. Ia segera bergegas meninggalkan Alexander dan masuk kembali ke dalam kamar mandinya.


Ia memang menyukai Alexander sejak awal pertemuan mereka, namun sekarang perlakuan Alexander yang seolah mengejarnya justru membuat batin Jovita tertekan.


Ia tidak siap menerima Alexander yang mungkin saja akan membuangnya. Ia hanya wanita biasa bukan dari kalangan milyarder seperti Prilly. Bahkan Prilly saja dengan mudah di buang oleh Alexander apalagi dirinya? Jovita benar-benar takut dengan kebiasan Alexander yang berganti ganti ******.


Jovita duduk di atas kloset sambil menyeka air matanya. Alexander berulang kali mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Jovita, namun gadis itu hanya diam.


Tiga puluh menit kemudian, Jovita keluar dari kamar mandinya, ia berharap pria sudah pergi. Tetapi, ketika Jovita menuju dapur, Alexander ternyata berada di sana. Ia sedang memindahkan pasta dari wajan ke dalam piring. Menyadari kehadiran Jovita, ia mengambilkan gadis itu segelas air putih dan mengulurkannya, Jovita menerimanya dan meneguknya.


“Terima kasih.”


“Makanlah, kau belum makan malam,” kata Alexander sambil menyodorkan sepiring pasta pada Jovita.


Mereka makan malam dengan canggung, ini adalah masakan pertama Alexander selain untuk dirinya sendiri. Seumur hidup, baru kali ini Alexander membuat pasta untuk orang lain.


Setelah makan, Jovita bahkan tidak mencuci piringnya. Ia bahkan merasa tidak bisa menatap wajah Alexander. Gadis itu segera melarikan diri ke kamar mandinya untuk menggosok gigi kemudian menuju ranjangnya dan megubur dirinya ke dalam selimut. Memaksa matanya untuk terpejam.


Sementara Alexander terdiam di dapur sambil memutar-mutar gelas di tangannya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sekarang. Untuk apa ia repot-repot mengejar Jovita? Tersadar akan keanehan dirinya ia bergegas menuju kamar Jovita untuk mengambil barang-barangnya.


Namun sesampainya di kamar Jovita, ia justru menarik selimut Jovita perlahan. Dipandanginya wajah gadis itu, dibelainya rambut pirang Jovita. Tiba-tiba ia merindukan Prilly dan merasa menjadi pria bodoh karena mengejar Jovita hanya karena rasa frustrasinya.


Frustrasi karena mantan istrinya menikahi sepupunya membuatnya tidak mampu berpikir jernih. Alexander mengambil dompet laptop dan ponselnya, kemudian ia melangkah meninggalkan kamar itu.


Namun, baru saja ia hendak membuka pintu, ia berbalik kembali menghampiri Jovita dan berniat mengecup kening gadis itu meski ia urung melakukannya lalu ia benar-benar meninggalkan apartemen itu mengemudikan mobilnya menuju sebuah bar. Sayangnya ia perasaan berkecamuk di dadanya tidak bisa membaik. Akhirnya, ia kembali menuju kediaman orang tuanya lalu memaksa memejamkan matanya.


***


Paginya, ketika terbangun Jovita merasa sedikit kecewa. Karena Alexander tidak berada di apartemennya. Setelah merenung dan merasa dadanya sedikit sakit, Jovita bersiap-siap untuk pergi bekerja seperti biasanya.


Baru saja ia duduk di kursi kerjanya, office boy mengantarkan sebuah undangan dengan design mewah, itu adalah undangan pesta pernikahan Prilly.


Jovita menerimanya dengan senang hati. Tak lama sebuah pesan masuk ke ponselnya, pesan itu dari Prilly yang menanyakan apakah undangannya telah sampai di tangannya. Jovita membalas pesan itu dan mereka sedikit mengobrol melalui pesan singkat.


“Jovita kau harus menjadi bridesmaidku.”


“Prilly, aku sangat senang, tapi aku merasa itu berlebihan.”


“Tidak, kau temanku, bukan? Kau tidak boleh menolak,” pinta Prilly.


“Baiklah.”


“Aku akan mengirimkan gaunmu secepatnya. Bisakah kau kirimkan ukuran tubuhmu?” tanya Prilly.


“Tentu saja.”


“Terima kasih, Jovita.”


Prilly mengakhiri obrolan mereka melalui pesan singkat itu.