
“Alex, ayo bercerai, aku tidak bisa lagi bertahan denganmu,” kata Prilly seraya duduk di tepi ranjang sambil membelakangi Alexander.
Tanpa menanggapi perkataan Prilly, Alexander bangkit dari atas ranjang, ia mengambil sebuah pena dan menulis di atas sebuah kertas, kemudian ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut, tangan pria itu membuka laci nakas di samping tempat tidurnya, ia mengambil sebuah benda yang terbuat dari timah, kemudian mendekati Prilly yang duduk di tepi ranjang dan sedari tadi menatapnya dengan tatapan nanar, Alexander meraih telapak tangan Prilly dan meletakan benda itu ke telapak tangan Prilly, menuntun telapak tangan Prilly mengarahkan benda itu ke arah pelipis Alexander.
“Lakukanlah agar kau bisa bercerai dariku,” ucap Alexander dengan nada sangat rendah.
Prilly tentu saja terkejut dengan apa yang sedang terjadi, ia tidak mengira Alexander berbuat demikian, Prilly dengan gemetar menarik pergelangan tangannya, semur hidup ia baru pertama kali melihat pistol dan menyentuh benda itu, Alexander terus menahan tangan Prilly. “Lakukan sayang, jangan ragu, kau tidak akan berurusan dengan hukum, aku menjaminnya, kau ingin bercerai dariku bukan? lakukanlah.” Alexander berkata dengan nada lemah.
Prilly justru mulai terisak, kesombongannya lenyap seketika berganti isak tangis yang tertahan.
Alexander memejamkan matanya seraya berucap kembali, “dalam hidupku, aku hanya pernah mencintai satu wanita, aku hancur saat wanita yang kucintai memilih sepupuku sendiri, aku hancur saat wanita yang kunikahi bahkan memiliki pria lain di hatinya, dan aku semakin hancur melihat kalian tampak begitu bahagia, aku merasa iri, hatiku sakit, perlahan aku mulai menyerah untuk mendapatkanmu, ada Jovita yang selalu bersamaku, ia baik, William juga menyukai Jovita, kebetulan ia kuhamili, aku tentu saja harus menikahinya bukan? aku harus bertanggung jawab, ia mencintaiku, aku juga berusaha mencintainya karena aku ingin sebuah keluarga yang utuh, seperti kau dan Mike, rasa cintaku padanya, mungkin hanya 1% di banding cintaku padamu, kau boleh mengataiku pembohong, kau boleh mengataiku sesuka hatimu, tapi yang jelas, kau satu-satunya wanita yang kuinginkan, aku mencintaimu seumur hidupmu, bahkan seluruh keluarga kita tahu sejak kau lahir di muka bumi ini, aku ingin kau menjadi milikku." Bulir bening tergelincir dari mata Alexander membuat amarah Prilly hancur bagai debu yang tersapu angin.
Prilly membuang pistol di tangannya hingga benda itu terpental jatuh ke lantai kemudian Prilly menerjang tubuh Alexander dan memeluknya erat-erat sambil terus terisak.
Alexander memeluk tubuh Prilly dengan penuh kasih sayang mengecup pucuk kepalanya, “jangan lagi meragukanku Prilly, hatiku sangat sakit, sangat sakit, jangan lagi mengatakan perceraian, aku lebih baik mati jika harus menceraikanmu,” kata Alexander lirih.
“Alex aku tidak bisa berbagi pria lagi aku tidak bisa, kau milikku, hanya milikku,” kata Prilly dengan tersengal-sengal.
“Aku mengerti, aku milikmu Sayang, hanya milikmu. Oke?!”
“Jika kau mencintaiku, jangan sentuh Jovita lagi, aku tidak mau berbagi dengan siapa pun,” kata Prilly lirih.
“Tidak perlu kau memintanya, percayalah padaku.”
“Ceraikan Jovita jika kau memang mencintaiku, atau lepaskan aku jika kau tidak bisa menceraikannya,” pinta Prilly, bagaimanapun ia harus meminta ketegasan Alexander.
“Apa kau bisa hidup tanpaku?” goda Alexander.
“Kau besar kepala! Alex, aku serius!”
“Kenapa kau tidak sabaran sama sekali?” Alexander melepaskan pelukan tubuh Prilly dengan lembut, ia menatap wajah istrinya.
Prilly menunduk, perasaannya sangat lelah, emosinya telah terkuras habis, rasanya ia seolah hampir gila karena mencintai suaminya.
“Lihat aku,” Alexander memerintah dengan nada rendah namun masih terkesan tegas dan memaksa.
Prilly mendongakkan wajahnya, napasnya masih tersengal sengal karena tangisnya.
“Aku sedang menyiapkan gugatan cerai, aku juga sedang menyiapkan kompensasi untuk Jovita agar di masa depan ia bisa menghidupi dirinya sendiri.” Alexander menjelaskan dengan sabar. “Jovita memberi tahumu ia hanya memiliki kemungkinan 10% untuk memiliki anak bukan?” tanya Alexander, ia tahu hal itu dari racauan Prilly saat mabuk.
Prilly menganggukan kepalanya.
“Aku harus memikirkan itu juga, ia memiliki kekurangan, jika aku menceraikannya begitu saja, ia akan merasa menjadi wanita cacat yang tak berguna dan terbuang begitu saja, aku bukan pria setega itu, setidaknya ia pernah menyelamatkan William dulu, putra kita sayang.” Alexander menjelaskan pada istrinya. “Bahkan jika kau tidak ingin menambah lagi anak lagi dariku, itu tidak masalah Prilly, kau bukan alat untuk bereproduksi bagiku, bahkan andai kita tidak memiliki anak sekalipun asal kau kumiliki aku sudah cukup, dan kita sekarang telah memiliki tiga, tidak perlu risau lagi masalah keturunan, tapi jika kau ingin lebih banyak aku memiliki banyak benih yang siap kutanam di rahimmu." Kalimat terakgir Alexander membuat Prilky sedikit kesal.
“Alex! Seriuslah,”
“Alex tidak ada.”
“Ei-lek-sen-de!”
“Hubby,” kata Alexander dengan nada tegas.
“Maafkan aku. Baik, mulai saat ini aku akan tinggal bersamamu setiap malam, bagaimanapun caranya.” Kata Alexander.
Prilly nendongakkan wajahnya menatap eajah Alexander dengan cemberut.
“Kenapa lagi?” tanya Alexander sambil mengecupi pucuk kepala Prilly.
“Kenapa sangat rumit jatuh cinta padamu,” Prilly terisak kembali.
“Kau terlambat jatuh cinta padaku. Tapi, aku yakin aku cinta terakhirmu,” kata Alexander sambil terus saja menciumi pucuk kepala Prilly.
“Hubby, aku mencintaimu,” ucap Prilly dengan nada manjanya.
“Sayang, bahkan jika seluruh bumi ini di tukar dengan cintaku padamu itu tidak akan sebanding," kata Alexander.
“Hubby, kau merayuku,” protes Prilky dengan nada senang.
“Aku sedang mengungkapkan apa yang sebenarnya kurasakan,” jawab Alexander.
“Hubby, aku lapar,” kata Prilly tiba-tiba.
“Tentu saja kau lapar, kau mengamuk sepanjang malam, jika bukan karna aku sangat mencintaimu kau sudah kutenggelamkan di sungai Thames,” kata Alexander dengan nada geram membuat Prilly semakin menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. “Harun sudah menyiapkan makan siang kita,” kata Alexander. “Tapi, sebaiknya bersihkan dulu badan kita.”
Alexander mengangkat tubuh istrinya ala bridal style menuju ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh mereka.
“Astaga!” pekik Prilly. “Sayangz siapa yang menyakitimu?” tanya Prilly saat Alexander membuka pakaiannya, begitu banyak lebam luka di kulit Alexander bergambar gigi.
“Vampir cantik tadi malam hampir saja memakanku.” Seringai Alexander, entah apa arti seringai di bibirnya.
“Maafkan aku,” erang Prilly lirih.
“Kau harus bertanggung jawab,” ucap Alexander dengan nada memelas.
“Apa ini sakit?” tanya Prilly sambil menyentuh gambar gigi yang berada di bahu Alexander, itu adalah gambar gigi yang paling jelas dan tampak dalam.
“Auuuhh...!” Alexander terpekik saat jemari Prilly menyentuh gambar gigi yang tampak memar.
“Maafkan aku,” kata Prilly lagi sambil kepalanya tertunduk.
“Tidak semudah itu meminta maaf nyonya Johanson si vampir cantik, kau sangat bandel, kau harus di hukum dan yang pasti kau harus merawatku karena ini sangat menyakitkan,” jawab Alexander dengan nada seolah ia benar-benar kesakitan.
“B-bagaimana caranya?” tanya Prilly dengan wajah ketakutan.
Bibir Alexander menyeringai, istrinya sangat lugu, hukuman apa lagi yang di maksud jika bukan urusan di bawah perut yang telah menegang.
😃😃😃😃😃😃 NEXT PART AJA, TAHAN DULU ALEX!!!!
TAP JEMPOL KALIAN 😅😅😅😅😅😅