Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Istri Taycoon



Tiga puluh menit setelah pertengkaran Prilly dan Jovita, Alexander dan Anthony datang dan langsung menuju di mana istri mereka berada, istrinya tentu saja telah berpindah tempat.


“Kudengar ada yang bertengkar?” Alexander duduk di kursi tepat di sebelah Prilly, telapak tangannya berada di atas kepala Prilly, mereka berada di salah satu resto khas China milik ayah Linlin.


“Tidak ada yang bertengkar,” jawab Prilly sambil menyeringai.


“Lalu apa? Memperebutkanku?” Alexander mengelus rambut Prilly yang telah tumbuh sedikit memanjang beberapa centimeter.


“Kau besar kepala,” Prilly terkekeh.


“Kau harus melawan, kau tidak boleh lemah, di mata siapa pun.” Alexander memberikan petuahnya kepada istri tercintanya.


“Aku enggan berdebat, dan aku tidak lemah.”


“Berdebat dan melawan itu berbeda sayangku,” kata Alexander.


“Jangan mengajari adikku menjadi sepertimu Alex,” Anthony angkat bicara, ia tmpak tidak setuju dengan petuah Alexander yang di ajarkan Alexander kepada adiknya.


Alexander tidak menggubris kata-kata Anthony ia hanya melirik kakak ipar sekaligus sahabat masa kecilnya itu dengan ekor matanya.


“Harun memberitahumu?” prilly meraba telapak tangan Alexander dan membawa telapak tangan mereka ke atas pangkuannya, jemari mereka saling menggenggam erat.


“Tentu saja,” jawab Alexander.


“Harun sungguh menyebalkan, ia tidak pandai menjaga rahasia,” keluh Prilly namun di sertai senyum manis di bibirnya.


“Harun sangat jujur, dia sangat kompeten dan patuh kepadaku.”


“Kau biasanya tidak suka membelanya,” Prilly melayangkan protesnya.


“Dia hanya terlalu sering bertanya,” ucap Alexander.


“Kudengar kau mengancam Jovita menggunakan nama besar Daddy,” kata Anthony.


“Kenapa bukan namaku?” Alexander mengerutkan keningnya.


“Pengaruh Daddy sudah cukup,” jawab Prilly.


“Aku tidak percaya, istriku kau meremehkanku?” Alexander tampak tidak senang.


“Tidak ada yang meremehkanmu, jika, maksudku--” Prilly urung mengatakannya karena kakaknya berada di sana, kehamilan Jovita sepertinya belum di ketahui orang banyak.


Prilly telah memperhitungkan, jika ia memukul Jovita menggunakan nama suaminya, bisa saja Jovita akan semakin membuka mulutnya.


“Suamimu adalah seorang taycoon, kau harus pandai menggunakan pengaruh suamimu ini,” kata Alexander dengan nada angkuh khas miliknya, ia juga mendekatkan wajahnya ke wajah Prilly dan mencuri ciuman di pipi Prilly membuat wajah Prilly seketoka tampak merona.


*Taycoon \= raja.


“Kau sombong sayang,” ejek Prilly kepada suaminya.


“Dia memang sombong,” sahut Anthony. “Sombong dan angkuh.”


Alexander hanya mengernyit, ia memang di kenal sombong, angkuh, kaku dan dingin, tetapi tidak di dalam keluarga, ia adalah ayah yang hangat dan penyayang dan mungkin hanya Prilly dan anak-anaknya yang bisa merasakan kehangatannya.


“Kalian tidak ada bedanya,” ucap Prilly mebuat Alexander tampak kesal. “Tetapi, bagiku suamiku yang terbaik,” katanya sambil memandangi wajah suaminya sukses membuat kesombongan di wajah Alexander kembali ke asalnya.


“Jadi kalian menyusul kesini untuk menonton wanita bertengkar?” Linlin bertanya diiringi dengan tawa kecil.


“Kami sedang dalam pertemuan tadi, Alex langsung menutup pertemuan dan mengajakku ke sini untuk menyaksikan pertengkaran para wanita,” kata Anthony dengan nada santai seolah oertengkaran para wanita adalah tontonan yang cukup menarik, mereka saat itu sedang dalam pertemuan membahas beberapa kerja sama bisnis bersama beberapa investor, begitu Harun memanggil, Alexander langsung menutup pertemuan dan pergi menuju lokasi di mana istrinya berada.


“Apa kalian kecewa? pertunjukan telah usai.” Prilly menyeringai.


“Aku yakin adikku hanya diam meski di caci,” ejek Anthony.


“Aku tidak.” Prilly tentu saja membantah.


“Jadi, benar kau diam saja?” Alexander mengangkat alisnya.


“Kata siapa, Linlin... aku tidak seperti itu,” protes Prilly sambil melepaskan genggaman tangannya dari tangan suaminya, ia mengecek alat pemanggang mejastikan suhunya telah tepat untuk memanggang daging.


“Lebih baik kita makan, setelah itu kita bersenang-senang,” kata Linlin sembari mulai memasukkan daging ke atas alat pemanggang yang ada di atas kompor.


“Laporan kartu bankmu telah memenuhi ponselku, Nyonya Smith,” protes Anthony.


“Putramu yang ingin berbelanja, bukan aku.” Linlin berdalih menggunakan janin yang berada di dalam rahimnya sebagai alasan untuk berbelanja.


“Baiklah, terserah kalian saja,” jawab Anthony.


“Kau pelit sekali, suamiku tidak pernah protes seberapa pun uangnya kuhabiskan,” protes prilly kepada kakaknya Anthony sambil mengulurkan sumpit dan piring kepada Alexander.


"Tentu saja, istriku harus pandai menghabiskan hasil kerja keras suaminya." Alexander menyeringai senang.


***


Dua bulan kemudian Linlin dan Anthony terkejut karena tidak sengaja bertemu dengan Jovita di rumah sakit saat hendak memeriksakan kandungan Linlin. Kebetulan Jovita keluar dari ruangan pemeriksaan sementara Linlin dan Anthony sedang duduk menunggu giliran mereka, terlebih lagi tampak perut Jovita telah terlihat membuncit, dan saat itu Jovita juga di temani oleh Harun. Anthony dan Linlin saling bertukar pandangan bingung, mereka tampak mengerutkan kening masing-masing.


“Jadi, Mr. Smith, apa anda juga akan mengusir saya dari tempat ini seperti yang adik anda lakukan?” Jovita dengan Angkuhnya melemparkan senyum sinis kepada dua orang yang di temuinya dengan tidak sengaja.


Anthony menggaruk rambut bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, tentu saja ia tidak ingin mengurusi mulut wanita, terlebih lagi wanita hamil, bukankah itu tidak etis?


“Jika kau melakukan itu, aku ragu apa Alex masih sudi menganggapmu teman.” Seringai Jovita sambil berlalu pergi.


Sementara Harun tampak salah tingkah mengikuti Jovita yang melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Anthony memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut, ia mengira drama rumah tangga adiknya telah melewati badai dengan tenang namun faktanya tidak seperti yang ia lihat, kenapa adiknya begitu tertutup sejak dulu? Setiap permasalahan rumah tangganya selalu saja di telan sendiri.


“Kau mengetahui sesuatu?” Anthony menatap istrinya dengan tatapan menyelidik.


“Prilly tidak pernah bercerita apa pun selain masalah anak-anak,” jawab Linlin jujur, Prilly tidak pernah menceritakan apa pun sejak dulu, ya sejak dulu, sejak suaminya adalah Mike, ia selalu menelan kepahitan rumah tangganya sendiri.


“Dia selalu menyembunyikan apa pun kesalahan Alexander sejak kecil,” gumam Anthony.


“Benarkah?” Linlin tentu saja terkejut.


Anthony mengangguk. “Prilly selalu begitu.”


“Mereka saling melindungi, manis sekali,” kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Linlin membuat Anthony tampak tidak senang.


“Alexander harus memberikan penjelasan kali ini,” geram Anthony. “Aku harus bertemu mereka.”


“Kendalikan emosimu, kau sangat pemarah setiap menghadapi Alex,” kata Linlin memperingatkan suaminya.


“Dia berulang kali menyakiti adikku,” gumam Anthony.


“Menurutku Alex sangat memuja Prilly,” ujar Linlin.


“Kau membelanya?” Anthony tidak teroma dengan ucapan istrinya.


“Bukan begitu, kita belum tahu kebenarannya.” Linlin membela dirinya dari tuduhan tak berdasar suaminya yang mudah sekali emosi jika menyangkut Prilly dan Alexander.


SELAMAT PAGI TEMAN- TEMAN, MOHON MAAF YANG JOIN DI GRUP, SEMUANYA AKU KELUARKAN KARENA GRUP AKU TUTUP. SETELAH BEBERAPA HARI AKU MERASA KURANG NYAMAN MENGGUNAKAN FITUR TERSEBUT,


YANG MAU NGOBROL SAMA AKU MASIH BISA, KALIAN JOIN DI GRUP LELE AJA, AKU MASIH DI SANA, SATU-SATUNYA GRUP AUTHOR YANG MASIH AKU IKUTI. HEHHEEHEH.


OKE TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤


VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤❤❤


TERIMA KASIH ❤❤❤❤