Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Prasangka



Di kamar hotel tempat Prilly dan Alexander menginap, Prilly sedang meringkuk di dalam pelukan Alexander seperti anak kucing. Pikirannya berkecamuk, jantungnya teramat sangat sakit, bahkan paru-parunya seperti tersumbat, ia nyaris kesusahan bernapas setiap kali mengingat mata Morgan yang ia yakini yakini pria itu bukanlah Morgan.


Terserah saja ia hendak menggunakan nama siapa yang jelas pria itu memiliki mata milik Michael Johnson, Michael Brian Johnson. Bukan hanya postur tubuhnya, warna rambutnya, manik matanya, alisnya, semua adalah milik Mike, kendati bentuk bibir hidung dan bentuk pipi yang telah berubah tetapi matanya tidak pernah akan bisa berubah.


Prilly meyakini bahwa 90% pria bernama Morgan itu adalah Mike, suaminya. Yang berarti sekarang ia adalah seorang wanita yang memiliki dua suami atau bagaimana sebutannya? Ia tidak mengerti. Yang jelas perasaannya sekarang sangat sakit dan takut. Sakit karena Mike meninggalkannya, ia tidak kembali, padahal ia masih hidup dan takut. Takut, bahkan sangat takut kehilangan Alexander, perasaannya pada Alexander berbeda. Ya, sekarang berbeda. Yang Prilly rasakan hanya mencintai Alexander, ia sangat mencintai Alexander, ia tidak ingin sedikit pun kehilangan Alexander, ia tidak ingin meninggalkan pria itu.


Bagaimana jika Alexander juga menyadari bahwa Morgan adalah Mike? Bagaimana jika Alexander menepati janjinya bahwa ia akan mengembalikan Prilly jika Mike masih hidup?


Hanya memikirkan itu tiba-tiba otak Prilly terasa nyaris menjadi gila, sekarang ia tidak ingin kehilangan Alexander, batinnya seperti tersayat-sayat, ia ingin berada di pelukan Alexander dan dunia kiamat hari itu juga. Prilly tidak ingin Alexander mengembalikannya kepada Mike.


Sementara dalam pikiran Alexander pria itu juga merasakan kegelisahan yang sama meski ia tidak menampakkan sedikit pun kepada Prilly, ia mempertahankan sikap tenangnya di depan Prilly sebaik mungkin, ia berharap Prilly tidak mengenali Mike, tepatnya Alexander menghibur hatinya sendiri, meski Alexander yakin Prilly tentunya mengenali Mike.


Saat pertama kali ia melihat Morgan, yang ia lihat bukanlah Morgan. Memang wajahnya berbeda tetapi postur tubuh dan matanya pria itu meski ia jarang berkumpul bersama Mike. Tetapi, mata Alexander cukup tajam untuk mengenali seseorang dan sejujurnya Alexander telah curiga kepada Morgan ia adalah pria yang datang ke Arizona dan menghabisi pembunuh bayaran yang diutus oleh Simon. Dari suara, aksen bicara, serta postur tubuhnya, walaupun ia mengenakan topeng malam itu.


Batin Alexander terus bertanya-tanya.


Jika aku ingin mempertahankan Prilly apakah itu jalan yang benar?


Jika aku ingin mempertahankan Prilly apakah Prilly akan keberatan?


Jika aku memaksa Prilly untuk tetap berada di sampingku, apakah aku egois?


Perasaan-perasaan seperti itu berkecamuk di dada Alexander, ia tidak ingin melepaskan Prilly, ia tidak ingin kehilangan Prilly tetapi di satu sisi, ia takut Prilly meninggalkannya. Ya, ia takut memaksakan kehendaknya pada Prily, ia takut Prilly kembali membencinya.


Alexander merasa kehidupan benar-benar tidak adil mengapa kisah cintanya begitu rumit?


Setelah mendapatkan hati Prilly mengapa Mike harus kembali? Sedangkan ia dan Prilly sekarang benar-benar sangat bahagia karena mereka saling mencintai. Alexander mengecek Prilly yang meringkuk di dalam pelukannya, dengan penuh kasih sayang dibelainya rambut istrinya, dikecupnya pucuk kepala Prilly, kemudian perlahan Alexander melepaskan pelukannya dari tubuh Prilly dan berniat untuk turun dari ranjang. Tetapi, tanpa ia duga Prilly menarik ujung pakaian yang dikenakan oleh Alexander.


“Jangan tinggalkan aku,” erang Prilly.


“Aku hanya ingin mengambil minum, aku haus.” Alexander berbohong, dia sama sekali tidak haus tetapi ia hanya merasa dadanya sangat sesak, ia perlu udara segar.


“Berjanjilah untuk kembali,” ucap Prilly dengan nada lirih.


“Aku hanya ingin mengambil air, apa kau ingin minum?” Alexander menawari Prilly.


Prilly segera bangkit dari posisi tidurnya, ia duduk sambil memandang Alexander dengan tatapan seolah ia dalam keadaan ketakutan, ia menggelengkan kepalanya.


Tak mampu melihat tatapan Prilly Alexander mengelus pipi istrinya, wanita yang sejak lahir telah Alexander klaim sebagai miliknya. “Aku hanya mengambil minum, hanya sebentar, beri aku waktu dua menit,” kata Alexander.


Tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Alexander Prilly melepaskan ujung kain pakaian yang dikenakan Alexander dari cengkeramannya, ia terus mengawasi Alexander yang mengambil minum air minum dan meneguk isinya hingga habis.


“Apakah kau akan pergi meninggalkanku setelah aku tertidur ?” Prilly menatap Alexander dengan tatapan waspada.


Alexander tersenyum simpul seolah tidak terjadi apa pun kemudian ia berucap, “Kau sangat konyol Nyonya Johanson, ini sudah terlalu larut besok aku harus bekerja. Tidurlah,” titahnya sekali lagi.


Prilly mengusap dada telanjang Alexander, saat itu adalah bulan Juni, tentu saja udara sangat panas, Alexander tidak memerlukan pakaian saat tidur. “Aku ingin dirimu,” erang Prilly.


Sebenarnya itu adalah trik Prilly karena sampai detik ini ia belum juga mengandung anak dari Alexander dan dengan cara ia segera hamil, Prilly berharap Alexander tidak akan pernah menyerahkan dirinya kepada Mike.


Mendengar apa yang diucapkan Prilly, Alexander merasa mendapatkan oase di tengah-tengah gurun pasir, ia menatap dalam mata berwarna Hazel milik istrinya. Satu-satunya cara untuk menguasai Prilly agar tetap berada di cengkeramannya adalah wanita mungil di depannya harus mengandung benih cintanya, batin Alexander, ya hanya cara itu, hanya dengan cara Prilly mengandung kembali benih cinta mereka dan Prilly tidak bisa pergi darinya.


Tanpa pikir panjang lagi Alexander segera menempelkan bibirnya di bibir kenyal milik istrinya, menghisapnya menciumnya penuh perasaan penuh dengan cinta dan gairah serta yang bercampur ketakutan.


Kedua insan itu mungkin merasakan perasaan yang sama hanya saja mereka takut untuk saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing, kedua insan itu justru larut dalam prasangka masing-masing. Malam itu mereka bergulat di atas ranjang seperti mereka tidak ingin pagi datang, mereka bergumul seolah-olah dunia ini akan berakhir jika mereka mengakhiri pergumulan tersebut.


Berulang kali Prilly mengerang memanggil Alexander sambil mengatakan cintanya, tetapi meski mendengar ungkapan cinta Prilly berulang kali, hati Alexander merasa tidak puas, ia justru merasa sangat ketakutan, ia takut saat ini Prilly mengatakan cintanya, tetapi jika Prilly bertemu Mike kembali dan tahu Morgan itu Mike akankah ada jaminan dari kata-kata Prilly?


Tidak ada yang tahu, memikirkan itu membuat Alexander sangat emosi, ia menekan Prilly dengan gerakan sedikit kasar yang mungkin saja menyakiti tubuh Prilly, perasaan Alexander sangat marah membayangkan kemungkinan Prilly akan meninggalkannya, ia menambahkan gerakannya semakin liar dan kasar.


Alexander sama sekali tidak menikmati permainan yang ia dominasi, amarah di dadanya berkobar dan nyaris menenggelamkannya. Tiba-tiba Alexander menghentikan gerakannya, ia terkesiap karena kesadaran menghampirinya.


“Apakah kau kesakitan, Sayang?” Alexander melepaskan tautan tubuh mereka berdua.


“Tidak, kau tidak menyakitiku, aku menikmatinya jangan berhenti. Kumohon,” erang Prilly.


“Istirahatlah,” Alexander benar-benar tidak ingin menyakiti Prilly kembali karena ia bermain terlalu kasar.


“Alex, aku masih menginginkanmu,” Prilly membesarkan bola matanya.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️