
Selama tiga hari Alexander tidak pergi kemana pun, ia hanya bekerja di laptopnya, ia juga hanya menghubungi Jovita melalui pesan singkat, sedangkan Prilly menjalani hari harinya dengan biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa dan berharap kejadian bersama Alexander hanya terjadi di dalam mimpinya.
“Prilly, Alex ingin beretmu denganmu.” Suara Anne terdengar melalui interkom.
Prilly mendengus, ia tidak siap bertemu Alexander setelah semua yang terjadi. ‘Ada urusan apa pria menyebalkan itu datang ke perusahaannya?’ batin Prilly kesal.
“Untuk apa kau kesini?” sungut Prilly begitu Alexander duduk di depannya.
“Mengembalikan gaunmu, apa harus Jovita yang mengantarkan gaun ini?” Alexander balik bertanya sambil meletakkan sebuah paper bag di meja kerja Prilly.
Prilly menatap galak pada Alexander. “Harun bisa mengantarkannya, kau juga bisa membuang gaun itu ke tempat sampah.”
“Kau takut sekali pada Jovita seolah kita telah berselingkuh,” jawab Alexander dengan nada jahil.
“Alex pergilah!” Prilly dengan tatapan kesal mengusir Alexander, ia tidak mengerti bagaimana pria dingin dan kaku itu sekarang menjadi pria yang sangat menyebalkan, pria yang dulu tidak pernah tersenyum menjadi pria yang sanggat usil dan gemar mengejek.
“Ayo pergi makan siang.” Alexander justru mengajak Prilly makan siang.
“Aku akan makan bersama Anne,” jawab Prilly sambil tangannya mengetik di atas keyboard dan menatap layar laptopnya.
“Ajak Anne bersama kita, lagi pula kita tidak berdua, aku juga akan mengajak Jovita dan harun,” jawab Alexander dengan nada santai, ia duduk dengan posisi bersandar di kursi sambil kaki panjangnya menjuntai lurus di lantai, ia tampak seperti orang biasa, bukan seorang CEO apalagi miliarder.
Mendengus kesal Prilly mengalihkan pandangannya ke arah Alexander. “Alex, bisakah kau menjaga jarak dariku?” tanya Prilly dengan nada dingin dan menyipitkan matanya.
“Kau adalah ibu dari anakku, bagaimana mungkin aku menjaga jarak darimu?”
“Dulu kau bisa menjaga jarak dariku.”
“Dulu dan sekarang berbeda,” jawab Alexander dengan santainya.
“Alex,” Prilly berhenti sebentar. “Asal kau tahu, aku tidak akan pernah kembali padamu, meskipun dunia ini kiamat,” kata Prilly dengan nada sinis.
“Kau memandang dirimu terlalu tinggi Prilly, kau terlalu kurus untukku, aku lebih menyukai wanita berdada besar seperti Jovita,” ejek Alexander dengan ekspresi sombongnya.
“Dadaku tidak kecil!” bantah Prilly.
“Ya, memang mereka tumbuh agak membesar di banding dulu,” jawab Alexander dengan mata menerawang ke atas seolah sedang mengingat sesuatu.
“Alex!” bentak Prilly, ia tampak sangat kesal tetapi bagaimanapun wajahnya merona, mengingat ia dan Alexander beberapa malam uang lalu bertelanjang bersama meski tidak melakukan hubungan badan.
“Cepatlah bersiap,” kata Alexander sambil bangkit dari duduknya.
Prilly mendengus kesal, ia dengan terpaksa mengikuti ajakan Alexander tetapi Alexander justru pergi lebih dulu bersama Harun, sedangkan prilly dan Anne mereka menyusul Alexander yang hanya memberitahu nama restoran yang harus mereka tuju.
Baru saja Prilly memasuki restoran, tampak Alexander, Harun dan Jovita duduk bertiga, Alexander melambaikan tangannya. “Prilly, kalian makan siang di sini juga? Kebetulan sekali, bergabunglah di sini,” kata Alexander.
“Hai Jovi,” sapa Prilly. “Ya, kebetulan sekali, bagus sekali aku akan memesan makan sebanyak mungkin agar tubuhku tidak kurus lagi,” jawab Prilly dengan nada menyindir sambil menarik kursi yang tepat berada di depan Alexander dan duduk dengan nyaman. Sementara Anne, ia duduk tepat di samping Jovita karena hanya itu satu satunya kursi yang bisa ia duduki, kursi di samping harun terisi barang barang bawaan Harun.
“Prilly, besok pagi biar kami yang akan mengantar anak-anak pergi ke sekolah, aku baru saja kembali dari Barcelona, aku rindu mereka,” kata Alexander
“Oh iya, silakan saja kak Alex,” jawab Prilly acuh sambil memilih menu makanan, ia selalu menggunakan kata kakak pada Alexander setiap ada orang lain di antara mereka sejak mereka bercerai.
Mereka berlima makan dengan tenang, tidak banyak percakapan di antara mereka, hanya sesekali terdengar suara garpu dan sendok yang beradu dengan piring.
Jovita juga tidak banyak mengajak Prilly berbicara, ia lebih masih memikirkan bagaimana nasib dirinya yang di vonis dokter sulit untuk mendapatkan keturunan, ia berulang kali melirik pada prilly, wanita mungil itu sempurna, ia memiliki banyak anak, ia memiliki banyak harta, keluarga yang menyayanginya, bahkan memiliki mantan suami yang masih mencintainya. Jovita melirik pada Alexander yang sangat tenang memakan makanannya tidak sekalipun ia melirik pada Prilly yang berada tepat di depannya.
Setelah selesai makan Prilly buru-buru berpamitan pada Jovita dan Alexander. “Aku hampir muntah karena kekenyangan," gerutu Prily ketika mereka berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Anne.
“Kau memesan begitu banyak makanan dan menghabiskannya seperti orang gila makan,” kekeh Anne yang sudah sangat lama tidak melihat Prilly memiliki nafsu makan sebesar itu.
“Sepertinya kita akan sering makan siang bersama mereka,” kata Prilly.
“Kurasa mantan suamimu itu mulai mendekatimu.”
“Bahkan jika dunia kiamat atau terbelah dua sekalipun aku tidak sudi kembali padanya,” ucap Prilly sambil tertawa hambar.
“Tapi sepertinya dia pria yang baik.”
“Itu hanya kedoknya, ia tetap Alexander yang suka berganti ******,” jawab Prilly dengan nada sinis.
“Jika dia telah berubah?”
“Dia memiliki Jovita, sekarang kurasa memang hanya Jovita yang mampu mengubah Alex.”
Sementara malam itu Alexander menyandarkan kepalanya di kursi kerja, setelah makan siang di restoran ia tidak mengantarkan Jovita kembali ke tempat tinggalnya, Alexander memilih pergi ke perusahaan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda karena ulah Prilly.
Sudut bibirnya menyunggingkan senyum mengingat malam itu bersama Prilly, liar dan binal. Ya, menurut Alexander Prilly sangat binal dan liar di ranjang, hanya saja Prilly tidak memiliki perasaan apa pun kepadanya hingga Prilly tak pernah menunjukkan pada Alexander seberapa liarnya ia di ranjang tetapi tiga hari yang lalu, Alexander melihat betapa jiwa liar Prilly membara, andai Alexander belum memiliki Jovita tentu ia akan memakan Prilly dengan senang hati meski Prilly mendesahkan nama Mike.
Sejak menikahi Jovita ia bertekad untuk berubah, ia ingin menjadi pria sejati yang hanya memiliki satu wanita, ia ingin memiliki keluarga yang hangat. Meski Alexander tahu Jovita hanya memiliki 10% kesempatan untuk memiliki keturunan, Alexander tidak mempermasalahkan hal itu, karena menurutnya pernikahan bukan hanya semata-mata untuk mendapatkan keturunan. Lagi pula, ia telah memiliki William, ia tak harus merisaukan keturunan lagi.
Tapi sejak hari di mana ia bercumbu dengan Prilly, bibir manis dan tubuh kecil mantan istriny yang sintal membayangi di otak Alexander, berapa kali pun ia menepis bayangan tubuh indah mantan istrinya itu, bayangan Prilly akan datang lagi dan menguasai pikirannya, hingga Alexander merasa sedikit Frustrasi.
HALLO 😍😍😍
KALIAN SUKA PRILLY YANG DULU APA PRILLY YANG SEKARANG????
TAP JEMPOL KALIAN 💖💖💖❤❤❤💖💖❤