
Alexander membawa Prilly sebuah bangunan tertinggi di Manhattan, New York. Di area Observatory gedung Empire State ini, pengunjung dapat menikmati indahnya pemandangan 360 derajat perkotaan New York secara bebas dari balik tepian jendela kaca besar. Di sini para tamu akan mengalami momen perjalanan menuju lantai 102 yang menakjubkan. Ketika melakukan perjalanan menggunakan lift, mereka akan diberikan pandangan bagian dalam tiang menara dan sekilas lampu menara yang terkenal di dunia.
Saat lift mendekati tujuannya, para tamu dapat mengintip pemandangan yang menakjubkan sebelum melangkah keluar ke lantai Observatorium.
Foto sourch Google.
“Indah sekali.” Prilly tampak takjub dengan pemandangan yang tersaji di hadapan matanya, ia berdiri tepat di depan kaca ambil telapak tangannya menyentuh kaca tang berdiameter 142mm.
“Kau sudah tidak takut ketinggian lagi sekarang?” tanya Alexander sambil mengurung tubuh Prilly dengan lengannya.
“Omong kosong, tentu saja aku tidak takut lagi, aku sudah dewasa.” Prilly terkekeh.
“Dulu kau akan menangis dan meminta aku menggendongmu setiap kau takut ketinggian,” goda Alexander.
“Aku tidak seperti itu,” elak Prilly.
“Kau bahkan pernah terkencing-kencing karena....”
Belum lagi Alexander menyelesaikan kalimatnya Prilly membalik badannya dan telapk tangannya membekap mulut mantan suaminya.
“Alex hentikan!” bentak Prilly, ia sangat malu hingga wajahnya memerah, bagaimana mungkin pria itu mengingatkannya kembali pada masa kecilnya karena bukan hanya sekali Prilly sering ketakutan hingga terkencing-kencing, ia selalu menangis jika takut oada sesuatu dan meminta gendong pada Anthony atau Alexander sambil menyembunyikan wajahnya di tubuh Alexander atau kakaknya.
Alexander tertawa kecil sambil menjauhkan telapak tangan Prilly dari depan bibirnya, namun pria itu juga mengecup punggung tangan Prilly dengan lembut. “Kenapa kau malu? Kita hanya berdua.”
Kecupan dari bibir Alexander di punggung tangan Prilly membuat gelenyar aneh yang tiba-tiba datang merasuki perasan Prilly.
“Jangan mengungkit aibku,” rengek Prilly, wajahnya masih terlihat merona, ia berusaha menarik tangannya namun Alexander menahannya dan mengecupnya kembali.
“A-Alex,” Guman Prilly ia terlihat salah tingkah.
“Ada apa?”
“Apa Jovita tahu kau di sini?”
“Tidak,” jawab Alexander cepat.
“Kau serius mengabaikan pekerjaanmu?”
“Mau bagaimana lagi, aku harus mengawasimu,” jawab Alexander sambil menatap manik mata berwarna hazel milik mantan istrinya.
“Aku bisa menjaga diri.”
“Tapi aku tak bisa jauh darimu,” jawaban Alexander semakin membuat Prilly semakin salah tingkah dan ia segera membalikkan badannya kembali untuk menatap pemandangan di depannya, sementara Alexander melingkarkan kedua lengannya di pinggang Prilly.
Mereka terdiam, menikmati suasana sepi dan detak jantung masing-masing, baru setelah senja tampak menguning mantan pasangan suami istri itu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
“Lusa kita akan kembali ke London, apa ada tempat yang ingin kau datangi lagi?” tanya Alexander.
“Kurasa tidak ada, besok aku hanya ingin berbelanja sedikit,” jawab Prilly.
“Baiklah,” kata Alexander sambil memasang seat belt, menghidupkan mesin mobilnya, memindah persneling lalu menginjak pedal gasnya dan mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota New York menuju hotel tempat mereka menginap.
Keesokan harinya Prilly, Alexander dan Anne pergi ke sebuah pusat perbelanjaan setelah melalui perdebatan panjang antara Prilly dan Alexander, Prilly bersikeras mengajak Anne sedangkan Alexander bersikeras untuk pergi berdua, Anne menyaksikan perdebatan mantan suami istri sambil memakan stik kentangnya seperti ia sedang menonton drama.
Akhirnya dengan jurus ancaman pembatalan Prilly, Alexander bersedia mengalah, bagaimanapun Prilly dan Alexander tidak bisa tampil di tempat umum terbuka hanya berdua mengingat status Alexander dan juga mereka bukanlah orang biasa meskipun tak setenar selebriti, Prilly memikirkan hal itu sementara Alexander tidak.
Benar saja firasat Prilly, mereka bahkan baru saja tiba di Fifth Avenue, Fifth Avenue adalah nama jalan yang berada di pusat Manhattan, New York City. Tempat ini sangat cocok untuk para penggila belanja, Fifth Avenue memang terkenal dengan pusat perbelanjaan bergengsi, berbagai barang bermerek ternama semuanya ada di sini.
Seorang wanita yang seharusnya telah berumur namun masih sangat terlihat cantik bak bidadari bahkan tampak lebih muda dari Prilly, menghampiri mereka, dengan ramah gadis itu menyapa Prilly.
“Prilly, aku tak menyangka kita bertemu di sini,” sapa Wilona solah-olah ia tak pernah berdosa setelah apa yang pernah ia lakukan di masa lalu, wanita ini benar-benar tidak tahu malu batin Prilly, pantas saja Sophia begitu membencinya.
“Hai Wilona,” sapa Prilly canggung.
“Hai, Alex,” sapa Wilona dengan suara lembut.
Alexander bahkan hanya melirik dengan ekor matanya, pria itu sama sekali tak bergeming.
“Prilly aku turut berduka,”
“Sampai jumpa Wilona,” sela Alexander sambil merangkul pundak Prilly dan menyeret Prilly menjauh, rahang Alexander tampak mengeras dan wajahnya berubah menjadi dingin, namun Wilona justru mengekori mereka.
“Prilly, aku akan menikah tahun depan, aku ingin mengundangmu,” kata Wilona.
Prilly menunjuk Anne yang berada tak jauh darinya.
“Baiklah, sampai jumpa,” kata Wilona.
***
“Kau mengenal Wilona?” tanya Prilly sambil menatap Alexander yang duduk di sampingnya.
Mereka telah selesai berbelanja barang-barang bermerk, bukan hanya barang-barang milik Prilly namun juga untuk ketiga anaknya, dan kebanyakan barang yang di pilih Alexander adalah barang untuk Grace, dan mereka sedang berada di sebuah restoran untuk menyantap makan malam.
Alexander hanya mengangkat kedua alisnya.
“Kau pernah tidur dengannya?” tanya Prilly dengan nada terkejut.
Alexander justru membelai rambut prilly.
“Apa yang ada di kepala cantikmu ini?”
“Tebakanku benar bukan?” tuduh Prilly pada mantan suaminya.
“Dulu ia pernah menjadi simpanan mantan bossmu.”
“Bos?” Prilly tampak bingung.
“Mr. Brown.”
“Orang tua itu?” tanya Prilly dengan nada sangat takjub.
“Bukan dia, tapi David.”
“David?” kali ini nada suara Prilly justru seperti ada yang salah dengan pendengarannya.
“Ya, David,” jawab Alexander dengan tenang.
“Kelihatannya David pria baik-baik.”
“Kau terlalu lugu sayang,” kata Alexander sambil memotong steak di piringnya lalu menyuapkan potongan steaknya ke mulut mantan istrinya.
Prilly membuka mulutnya dan mengunyah daging steaknya.
Ia mengerjap-ngerjapkan matanya sedikit tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, pantas saja Mike selalu cemburu dan khawatir selama Prilly masih bekerja di BROWN’S COMPANY. Ternyata suaminya mengetahui banyak sepak terjang David.
Mengingat hal itu prilly merasa bulu kuduknya merinding.
“Buka mulutmu,” kata Alexander, ia kembali menyuapkan daging steak kepada Prilly.
Prilly dengan patuh membuka mulutnya, “kau manis seperti Grace jika patuh seperti ini.”
Wajah Prilly merona, ia mencubit paha Alexander dengan lembut karena merasa jantungnya tiba-tiba berdetak tidak normal. Ia buru-buru meminum wine yang berada di dalam gelas tepat di depannya untuk menghilangkan kegugupannya.
“Jangan minum lagi, besok kalian terbang pagi-pagi sekali,” Alexander mengingatkan Prilly.
“Kau tidak pulang?” tanya Prilly.
“Aku ke Barcelona, ada yang harus kuurus di sana.”
“Apa Jovita di sana?” tanya Prilly dengan nada lirih.
“Jovita di singapura,” jawab Alexander. “Anne jaga Prilly baik-baik, jika aku sampai mendengar kau mengajaknya ke club lagi aku yang akan memecatmu.”
“Aku yang mengajak Anne bukan dia yang mengajakku,” bela Prilly pada Anne.
Sementara Anne hanya menyeringai, entah senang atau takut pada ancaman Alexander.
“Kalian berdua sama saja, akan kuikat kaki kalian jika tidak patuh,” kata Alexander dengan nada bersungguh-sungguh.
SELAMAT HARI MINGGU TEAM PRILLY DAN ALEX 😁😁😁😁❤❤❤❤
SELAMAT HARI MINGGU JUGA TEAM PRILLY DAN MIKE 😍😍😍😍😍😍💖💖💖💖
JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN 😉😉😉