
Sebenarnya hari kedua setelah Alexander mengalami deman, ia telah sembuh, demamnya mereda hanya dalam satu kali saja meminum obat dan beristirahat seharian. Tetapi, karena Prilly merawat dan memanjakannya, Alexander memutuskan untuk menikmati kasih sayang istrinya, ia juga pria biasa, ia juga senang di manjakan seperti pria lain. Dimanjakan oleh istrinya ternyata manis sekali.
Tetapi berdiam diri di dalam kamar ternyata membosankan juga, jadi Alexander berinisiatif untuk memanfaatkan waktunya, ia tidak bisa berdiam diri saja sementara hari pernikahan mereka semakin dekat.
“Sayang, aku ingin mengecek sejauh apa persiapan pernikahan kita,” kata Alexander sambil membuka laptopnya.
“Setelah kau sembuh kita akan memilih gaun,” jawab Prilly. Pagi itu mereka berdua baru saja kembali mengantar anak-anak pergi ke sekolah.
“Aku menginginkan pernikahan di atas selembar kertas secepatnya,” kata Alexander, entah mengapa bayangan kata-kata Anthony, peluang Mike kembali masih ada meski hanya 0,0001% mengganggu telinganya, bahkan sangat mengganggu.
“Bukankah kau mengatakan akan mendaftarkan pernikahan kita secara resmi?” Prilly mendudukkan bokongnya di samping Alexander.
“Sebenarnya ada yang harus kau tanda tangani terlebih dahulu untuk itu.”
“Apa itu?”
“Surat kematian Mike, kita tidak bisa mendaftarkan pernikahan kita di biro pencacatan sipil dan gereja di sini jika kau tidak menandatangani itu.” Alexander sedikit ragu mengatakan hal itu, tetapi tahapan itu benar-benar harus dilalui.
“Kalau begitu, ayo,” ucap Prilly begitu ringan tanpa beban justru membuat Alexander membeku, ia takut pada dirinya sendiri dan meragukan pendengarannya, mungkinkah ia sedang berhalusinasi?
“Biar kuasa hukumku mengurusnya,” kata Alexander berusaha menutupi kegugupannya, ia bukan hanya gugup karena kenyataan yang terpampang nyata di depannya, ia mengira harus membujuk Prilly, meyakinkan Prilly dengan sedikit kata-kata manis yang tidak mudah, di luar dugaannya Prilly justru langsung menyetujui.
“Kita saja yang ke sana aku merasa bosan di rumah,” jawaban Prilly yang terdengar seperti ia tidak sabar lagi menunggu kembali membuat Alexander terperangah meski ia masih mampu mengontrol ketenangannya, apalagi saat ekor matanya melirik ekspresi Prilly yang menggemaskan, jantung Alexander sepertinya akan benar-benar terlepas dari rongga dadanya karena tidak mampu menahan kegembiraan yang meluap-luap.
“Kau tidak bisa menunggu sekarang, ya?” seringai Alexander sambil menoleh pada istrinya yang duduk di sampingnya membuat rona di pipi Prilly tampak memerah.
Prilly mengerjapkan matanya, ia tersenyum kemudian menyandarkan kepalanya di lengan kekar milik suaminya. “Resepsi pernikahan kita perlu persiapan matang, namun akta pernikahan kita di atas selembar kertas sama sekali tidak perlu persiapan lama, kita bisa melakukan hari ini,” kata Prilly dengan nada yang lembut.
Dengan lembut Alexander meraih tubuh Prilly, membawa tubuh kecil wanita pujaannya ke dalam dekapannya, menciumi rambut di kepala istrinya dengan penuh rasa syukur. Akhirnya ia mendapatkan apa yang paling ia dambakan dalam hidupnya selama ini, Prilly.
Alexander memarkir Maybach yang berwarna hitam di depan gedung biro catatan sipil, pria itu menggenggam lemari mungil istrinya ia mengecup jemari itu berulang kali. “Sayangku, kita telah di sini dan kau tahu, sekali kau menandatangani semuanya tidak akan ada lagi jalan untuk kembali,” kata Alexander saat mereka tiba di biro pencatatan sipil pukul empat sore, karena meskipun Alexander memiliki uang ia tidak bisa serta merta melakukan segala hal dalam hitungan menit, semuanya melalaui proses.
Setelah Prilly menandatangani surat pernyataan bahwa suaminya telah meninggal mereka harus menunggu beberapa jam untuk bisa datang ke biro pencatatan sipil mendaftarkan pernikahan mereka.
“Aku tahu.” Prilly menjawab sambil menatap dalam mata Alexander.
“Kau yakin?” Alexander sebenarnya tidak ingin menanyakan hal itu, ia takut Prilly berubah pikiran, akan tetapi ia sungguh tidak ingin memaksakan kehendaknya lagi kepada Prilly, ia ingin semua hal-hal yang akan mereka lalui di masa depan tidak ada lagi unsur keterpaksaan dari Prilly.
“Tentu saja aku sangat yakin,” Prilly mematuk bibir Alexander.
Alexander ******* bibir Prilly ia tidak bisa membiarkan bibir kenyal milik istrinya terlewatkan begitu saja, mereka berciuman penuh dengan cinta yang dalam dan tulus, tidak ada nafsu.
“Kalau begitu ayo,” kata Alexander setelah ciuman mereka terlepas.
Hanya butuh waktu lima belas menit dan semuanya berubah, mereka telah menjadi pasangan yang sah di mata hukum negara yang mereka tinggali. Prilly dan Alexander melangkah keluar dari gedung biro catatan sipil dengan perasaan bahagia dan lega sambil telapak tangan mereka terus saling menggenggam erat.
Di depan gedung terlihat Harun sedang berdiri di depan sebuah mobil sport yang berwarna putih bersama Anne, pria itu dengan penuh hormat menghampiri Alexander dan menyerahkan sesuatu.
“Prilly, selamat atas pernikahan kalian, kali ini aku harap kau bisa bahagia bersama Alex hingga kalian menua.” Anne memeluk Prilly, keduanya tampak tenggelam dalam perasaan haru.
“Anne, terima kasih." Prilly menganggukkan kepalanya.
“Sir, ini kunci mobil yang Anda minta,” Harun mengulurkan sebuah kunci kepada Alexander.
“Sayangku,” kata Alexander saat Prilly dan Anne telah melepaskan pelukan mereka. “Ayo kembali,” ajaknya kepada Prilly.
Prilly mengangguk bibirnya menyunggingkan senyum manis yang seakan-akan tidak akan pernah pudar.
“Harun, kau bawa mobilku." Alexander melemparkan kunci Maybachnya kepada sekretarisnya.
“Sayang, aku ingin kau menyetir hari ini,” kata Alexander sambil meraih telapak tangan Prilly dan meletakkan sebuah kunci mobil di sana.
“Apa-apaan? Aku bukan sopirmu,” protes Prilly.
“Kau memang bukan sopirku sayang, tapi kau sangat pandai memainkan joystick,” kata Alexander sambil mengangkat sebelah alisnya sukses membuat wajah Prilly berubah menjadi merah padam.
“Alex!” Prilly membesarkan bola matanya membuat Alexander semakin terkikik dengan seringai jahil di wajahnya.
‘Joystick? Yang satu itu berbeda, oke? Dan itu tidak sama dengan Joystick mana pun!' protes Prilly dalam hati.
Harun tampak salah tingkah melihat bosnya bercanda di depan matanya begitu ringan tanpa beban, bukan seperti Alexander yang selalu serius di balik meja kerja yang selama ini ia kenal.
“Ayo, ini adalah mobil hadiah untuk pernikahan kita, untukmu, kau pemiliknya, jadi kau yang mengemudikannya.” Alexander merangkul bahu Prilly dan membawanya meninggalkan Anne dan Harun yang berdiri di tempat semula.
“Hadiah?”
“Iya sayangku.”
“Tapi--” Prilly merasa itu berlebihan, ia tidak memerlukan banyak mobil, mobil sport miliknya juga sangat mewah Lamborghini Veneno yang berharga 4.500.000.000 Milyar Dolar atau setara dengan 67.500.000.000.000 Rupiah.
“Masih banyak kejutan yang lain,” kata Alexander sambil membukakan pintu mobil tersebut.
“Jangan berlebihan,” kata Prilly sambi duduk di bangku kemudi.
“Seluruh dunia ini, jika kau ingin aku akan membelinya,” kata Alexander sambil tersenyum kemudian ia menutup pintu mobil tersebut dan ia duduk di bangku samping kemudi.
Photo from Gooogle.
Silakan bayangkan uang 67,5 T 😭😭😭
Joystik? apa? mmmmm apa ya??? tongkat pemukul gitu 😅😅😅
Terus ada yang harus aku luruskan lagi takut bengkok eehhh, kali aja ada yang bingung, tulisan Ei-lek-sen-de 👈 ini adalah ejaan Inggris, cara membaca tulisan Alexander yang benar, bukan Aleksander kaya lidah kita orang Indonesia. Mike di baca 👉 Maik 😚
OKE JANGAN LUPA TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤❤
DAN JANGAN LUOA JAOIN GRUP AUTHOR DENGAN APLIKASI NOVELTOON BIAR KITA LEBIH DEKAT ❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤❤