Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Bunga dari Alexander



Pukul tujuh pagi, Jovita terbangun. Ia menyiapkan sarapan untuk Alexander, menyiapkan obatnya, setelah itu menyuapi Alexander. Dokter juga telah memeriksa keadaan Alexander. Kemudian ia berpamitan untuk pulang mengambil baju ganti dan juga akan pergi ke kantor untuk mengambil laptop dan dokumen-dokumen penting yang harus di kerjakan.


Dari sekian sekretaris yang Alexander ubah menjadi ****** pemuas nafsunya, hanya Jovita yang paling lembut dan nampak bukan berjiwa ******. Ia juga satu-satunya sekretarisnya yang paling cerdas di antara yang pernah ia tiduri. Pekerjaannya rapi teliti dan cepat. Ia juga bisa di andalkan dan tidak merepotkan. Sepertinya harus memperpanjang kontrak Jovita pikir Alexander.


Sebelum sore, Jovita datang dengan beberapa tas dan di tangannya. Itu adalah keperluan mereka berdua selama harus tinggal di rumah sakit. Ia juga membawa laptop dan tas kerja Alexander yang tertinggal di ruang kerjanya.


“Bagaimana makan siangmu? Apa kau makan dengan benar? Aku sudah berusaha secepat mungkin mengatasi pekerjaan, namun tidak bisa selesai sebelum jam makan siang.” Jovita menggerutu sambil menyusun tas-tas di tangannya.


Alexander tersenyum tipis dan mengangguk. Entah apa arti anggukan dan senyumannya itu.


Jovita terpekik, “Alex, kau tersenyum. Cobalah lebih banyak tersenyum agar tak menakuti orang-orang, Alex.”


“Kak Alex, kau harus lebih sering tersenyum. Wajahmu membuat orang-orang takut,” itu kata-kata yang hampir sama. Prilly mengucapkan kata-kata itu ribuan kali. Alexander termenung sesaat.


Sudah enam hari berlalu sejak Alexander terbaring di rumah sakit. Jovita menggantikannya mengurus semua urusan pekerjaannya.


Jovita mendekati Alexander yang sedang berkutat dengan laptopnya, ia berkata dengan hati-hati, “Alex, maaf, sebenarnya ini bukan saat yang tepat. Namun aku harus memberi tahumu.” Ia berhenti sejenak, “Kontrak tiga bulanku akan habis lusa dan kau belum mencari penggantiku,” lanjutnya. Alexander berhenti mengetikkan jarinya tanpa menoleh sedikitpun pada Jovita.


“Maukah kau memperpanjang kontrakmu untuk tiga bulan kedepan? Aku memerlukanmu,” jawab alexander dengan dinginnya.


“Tidak masalah. Tapi aku mempunyai satu syarat,”


“Katakan saja.”


Jovita menghirup nafas pelan mengumpulkan keberanian. “Aku ingin jadi sekretaris biasa. Tanpa kontrak ranjang,” katanya hati-hati, “tidak masalah gajinya seperti karyawanmu yang lain.”


Alexander memandangi Jovita, apa dia tidak menyukaiku di ranjang? Bukannya biasanya ia sangat menikmati dan mendesah dengan seksi, batin AlexAnder.


“Baiklah, kontrak biasa. Cetakkan kontraknya ,aku akan menandatanganinya,” jawabnya enteng. Lagi pula saat ini ia sangat memerlukan Jovita di perusahaanya.


Jovita tersenyum lega, walaupun dalam hati kecilnya ia akan merindukan belaian tangan bosnya. Ia menepis jauh-jauh pikiran itu.


Semenjak rumor kedekatannya dengan Mike terendus media, Prilly tidak bisa lagi hidup dengan bebas. Mike memberinya beberapa pengawal yang selalu berada tak jauh dari dirinya. Saat ini, hari-hari Prilly juga berubah menjadi sangat sibuk di karenakan kakaknya, Anthony menitipkan beberapa urusan perusahaan padanya. Anthony dan Lin Lin pergi berbulan madu keliling Asia. What? Keliling Asia, Prilly tak habis pikir dengan selera kakaknya yang kini berubah semenjak mengenal Linlin.


Yah, cinta memang bisa merubah seseorang. Bahkan Prilly pun merasakan perubahan besar pada dirinya sendiri. Iya, sekarang Prilly bukan lagi seorang wanita pendiam, ia sekarang lebih berbinar dan ceria sejak mengenal Mike.


Prilly memilah-milah foto bersama Linlin yang akan ia posting ke dalam akun media sosialnya. Setelah beberapa hari, Prilly baru mempunyai waktu untuk sejenak membuka akun media sosialnya. Banyak sekali fotonya dan Mike terekspose di media sosial. Semuanya gosip tentang Mike dan dirinya. Prilly tidak memperdulikan. Toh memang benar adanya, ia dan Mike mempunyai hubungan. Orang tuanya juga tidak menanyakan apapun.


Prilly memposting fotonya dan Linlin dengan caption teman menjadi saudara.


Tidak menunggu lama, postingan itu dibanjiri dengan komen dari followersnya. Dan kebanyakan dari mereka terlalu fokus pada berlian yang mereka kenakan. Prilly mengetik sebuah komen di kolom komentarnya, “Hai teman-teman, set perhiasan yang kami kenakan adalah brand dari @luxuri.jewelry yang didesain secara exclusive olehku. Untuk pemesanannya, kalian bisa klik bio atau melalui website resmi luxury jewelry. Terimakasih.”


Prilly kemudian memanggil, Sandra, mommynya melalui telephone untuk membicarakan niatnya untuk belajar menekuni bisnis di bidang perhiasan seperti Mommynya. Tentu saja, Sandra dan Federick sangat setuju. Mereka jelas melihat potensi dalam diri putri mereka. Jika putri mereka serius, ia bahkan dapat dengan mudah melampaui Sandra. Tetapi, putri mereka adalah wanita yang sederhana. Ia pasti akan mendesain perhiasan hanya untuk kepuasan hatinya bukan sekedar untuk kebutuhan komersial.


“Sepertinya, ada yang akan menjadi designer perhiasan sekarang,” sapa David yang tiba-tiba duduk di hadapannya. Muncul di ruangannya tanpa permisi, ia selalu mengawasi setiap gerak-gerik prilly di media sosialnya.


“Itu hanya salah satu hoby,” elak Prilly sambil tetap membolak-balikkan kertas dokumen di depannya.


“Apa kau sudah makan siang?” tanya David.


Prilly melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah jam duabelas siang, “Kau mau mentraktir kami lagi?”


“Kau selalu membawa sekretarismu setiap kita pergi makan,” keluh David.


“Tentu saja, dia sekretarisku. Aku harus memenuhi kebutuhan gizinya selama ia bersamaku.” Prilly membela diri.


“Bisakah kita pergi berdua saja?”


“Tidak bisa,” ucap Prilly terus terang.


“Apa kau takut kekasihmu marah jika kita pergi berdua?”


“Dia tidak akan cemburu padamu,” jawab /rilly bohong. Pada faktanya, Mike terus saja mengeluh dengan keberadaan David.


“Jadi benar ia kekasihmu?” David tidak menyangka. “Lalu rumor yang beredar apa itu benar?”


“Kau cerewet sekali, David. kami bertemu sebulan setelah aku bercerai dan kami menjalin hubungan sampai sekarang.” Prilly mengkonfirmasi hubungannya dengan Mike.


“Kenapa tidak menjelaskan pada wartawan fakta tersebut?” tanya David.


“Ck, ck, ck,” Prilly menjawab dengan malas.


“Selama kau belum menjadi istrinya, tidak masalah bukan jika aku juga ingin mencoba mengejarmu?"


“David, kau jangan bergurau,” pinta prilly sopan.


“Aku serius.”


“Aku dan Mike akan segera menikah,” kata Prilly sambil menyusun kertas-kertas di tangannya dan memasukkan ke dalam map.


“Tidak, kami memang tidak bertunangan. Tapi kami telah merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.” Prilly menjelaskan dengan sabar.


“Jadi aku bahkan sudah tereliminasi sebelum menyatakan cinta?” sesal David.


“Tentu tidak, sejak awal kita sepakat berteman. Aku orang yang konsisten dengan apapun. Jadi sekali berteman maka kita hanya akan berteman selamanya,” jawab prilly dengan nada santai.


David tersenyum, ia mengerti bahwa wanita ini memang berbeda. Sangat menarik dan tak akan mudah di dapatkan.


“Apakah kau perlu bantuan agen cinta untuk mendapatkan cinta?” tanya Prilly dengan nada bercanda. “Asal kau tau, Lin Lin dan kakakku adalah hasil dari kerja keras seorang agen cinta bernama Prilly,” kata prilly dengan sombongnya.


David terbahak-bahak melihat kelakuan Prilly. Ia tidak menyangka bahwa wanita tenang ini bisa berkata-kata dengan gaya seperti itu.


“Apa yang lucu?” sungut Prilly.


“Kau yang lucu.”


“Baiklah, jika kau mempunyai kandidat yang bagus.”


“Anne, dia pilihan yang bagus.” Prilly menawarkan sekretaris sekaligus sahabatnya.


"Dia itu terlalu berisik.”


“Kalau begitu, Adelia.”


“Tidak, jangan karyawan di sini. Astaga....”


“Selebihnya hanya para ibu-ibu tua di departemen SDM dan yang lain aku tidak kenal.”


David tertawa lagi, “Kau... kau benar-benar payah. Kau... hahahaha. Apa benar temanmu hanya tiga tiga oramg?”


“Sudah puas mengejekku?” Prilly mulai sedikit kesal karena David mentertawakannya.


“Apa tidak ada yang lain?”


“Nuan Nuan.” Prilly ingat Nuan Nian yang kini tinggal di London bersama ayah Linlin, mengelola restoran mereka.


“Wanita Asia itu? Tidak, aku malas.”


“Sombong sekali kau. Apa kau tidak tahu, aku juga wanita Asia. Mommyku berasal dari Turki.”


“Kau berbeda.”


“Dan kau menyebalkan,” serang Prilly.


“Jadi, apakah kita jadi makan siang?” tanya David memastikan.


“Pamggilkan Anne untuk bersiap-siap.” Prilly memerintahkan David.


“Siapa atasan di kantor ini?” protes David mengerutkan alis.


“Ini jam istirahat, kita teman bukan?” elak Prilly santai mengangkat sebelah alisnya.


“Kau yang menyebalkan, Prilly” David merasa Prilly benar-benar mengerjainya.


Akhirnya mereka makan siang menuju restoran berempat dengan Adelia. David merasa setiap kali mengajak Prilly makan siang, ia akan menjadi pria yang di rampok masal oleh tiga wanita. Namun jujur, David menikmatinya. Ia bisa makan santai dengan teman-tema.nya seperti ini. Ia sangat jarang menikmati makan santai bersama teman-temannya karena kesibukannya. Ia lebih sering makan bersama klientnya sambil membicarakan pekerjaan dan negosiasi alot sebagai seorang pengacara.


Saat Prilly hendak pergi toilet, tanpa sengaja melewati meja seseorang yang sangat ia kenal. Pria dengan mata abu abu yang duduk bersama seorang wanita. Alexander menatapnya dan Prilly terus melewatinya, seolah-olah tidak melihat apa-apa.


Ketika Prilly keluar dari toilet, ternyata Alexander menunggu dengan tatapan sayu menatap ke arahnya. Prilly berniat melewatinya tanpa menganggap ia ada. namun pria itu memanggilnya pelan, “Prilly....” Prilly menghentikan langkahnya, “Bisakah kita berbicara sebentar?”


“Tentang William?” ini pertama kali ia membuka suaranya untuk Alexander.


“Tentang kita,” jawab Alexander.


“Tidak ada yang perlu kita bicarakan tentang kita, Kak Alex.” Potong Prilly cepat dan dengan santai melewati Alexander yang frustasi karena Prilly benar-benar mengabaikannya seperti orang asing.


Sudah satu minggu sejak pertemuan Prilly dan Alexander. Setiap pagi, Anne mengetuk pintu ruangan kerjanya dan memberikan seikat bunga pada Prilly. Bunga itu dari Alexander.


“Anne, buang saja bunga itu dan tolong jika ia mengirimiku bunga lagi, langsung buang atau bisa kau kembalikan atau buat kurirnya saja.” Prilly menekan pelipisnya yang tidak terasa sakit.


“Tampaknya mantan suamimu menyesal telah bercerai,” kata Anne sambil menyerahkan beberapa dokumen pada Prilly


“Entahlah. Aku tidak peduli,” kata Prilly sambil menerima dokumen-dokumen itu dan seperti biasa mereka mulai mengubur diri mereka berdua di ruangan Prilly. Lalu mereka makan siang di ruangan itu dengan cara memesan lewat aplikasi.


Tidak hanya makan siang yang tetap ia lakukan di ruangannya, Prilly juga tidak pernah menghadiri undangan pesta. Ia lebih suka mewakilkan undangan pestanya pada David atau Anne. Ia menjadi salah satu CEO yang paling sulit ditemui di luar jam kerja dan di luar perusahaan. Ia tidak bisa menghadiri pesta-pesta apapun karena ia tidak mungkin pergi sendirian tanpa di dampingi pria. Alasannya, bukankah tidak ada pesta tanpa alkohol? Prilly hampir tak bisa menyentuh alkohol dan memilih jalur aman tanpa pesta. Ia belum bisa pergi bersama Mike untuk saat ini. Untuk pergi bersama David, ia tidak mungkin. Karena Mike akan mulai menjadi pria tua pencemburu setiap ia mendengar nama David.