Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Ayo bercerai



“Harun kita harus bagaimana?” tanya Anne pada Harun setengah berteriak di telinga Harun.


“Aku tidak tahu,” jawab Harun dengan nada frustrasi, bagaimana tidak, bossnya meneriakinya agar tidak seorang pun pria boleh menyentuh Prilly, sementara Prilly telah mabuk dan sedang menari bersama pria yang tak lain adalah Charles, pria itu diketahui sebagai seorang bangsawan, Harun tidak memiliki nyali untuk mendekati dan mengambil Prilly dari dekapan Charles. Begitu juga dengan Anne, begitu ia mendengar Prilly mengajaknya bersenang-senang ia segera menghubungi Harun agar Harun memberi tahu Alexander, ia tidak ingin di salahkan oleh pria otoriter itu, dan ketika mereka berdua tiba di club Prilly sedang minum bersama Charles dan mulai kehilangan kesadarannya.


Harun berulang kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, nyonya menggemaskan kesayangan tuannya itu hanya patuh beberapa hari dan tidak membuatnya repot, kali ini Harun tidak yakin, tuannya pasti akan marah besar, saat ini rasanya Harun ingin mati saja di tiang gantungan di banding menghadapi wajah marah tuannya yamg sangatbdingin, kaku, angker dan menakutkan saat moodnya hancur.


Bruuug...!


Seorang pria tersungkur membuat lamunan Harun hancur berkeping-keping, Alexander tuannya telah datang dan langsung melayangkan bogem mentahnya di wajah Charles.


Charles bangkit sambil memegangi sebelah wajahnya yang terkena tinju dari Alexander, pria itu melayangkan tinjunya kepada Alexander yang dengan sigap dihindari oleh pria bermanik mata abu-abu itu.


Dengan sekali cengkeraman di kerah leher pakaian yang di kenakan Charles, Alexander mengangkat tubuh Charles seperti mengangkat kapas, rupanya emosi yang menguasai membuncah hingga ke ubun-ubun membuat tubuh mereka yang sepadan seoalh tidak ada artinya bagi Alexander, hanya dengan satu tangan saja tubuh Charles bisa di angkat hingga kakinya tak lagi menyentuh lantai.


Anne yang memeluk tubuh Prilly tak jauh dari Alexander berdiri merasa ketakutan, Alexander bisa saja membunuh pria itu. “Alex, hentikan, kau bisa membunuhnya, kendalikan emosimu!” teriak Anne sekencang kencangnya karena dentuman musik begitu nyaring, “Harun! Urus tuanmu!” bentak Anne pada Harun yang masih tampak linglung.


Dengan tangan bergetar Harun meraih lengan bossnya, “Tuan, hentikan, kau bisa membunuhnya,” kata Harun memperingatkan Alexander dengan setengah berteriak di telinga bossnya.


Alexander melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Charles lalu mendorong dengan kasar tubuh pria tampan itu hingga tubuhnya terjengkang ke lantai, Alexander kemudian meraih tubuh Prilly dan menggendongnya ala bridal style melangkah menuju keluar dari club, sementara Prilly yang berada di gendongan suaminya terus memberontak sambil mencaci maki Alexander, memukuli dada suaminya dan ia juga beberapa kali menggigit bahu Alexander.


Anne dan Harun berjalan mengikuti langkah panjang Alexander dengan tergopoh-gopoh.


“Alex apa kalian bertengkar?” tanya Anne yang sejak tadi hampir mati karena penasaran.


“Tidak.” Alexander menjawab dengan singkat padat namun yang pasti tidak jelas bagi Harun dan Anne, karena tidak mungkin Prilly nekat pergi ke club jika tidak ada masalah diantara mereka berdua, Harun dan Anne saling memandang dengan tatapan mata bingung.


“Alexander!” suara itu sontak membuat langkah kaki Alexander, pria itu memalingkan wajahnya menoleh pada sumber suara.


“Apa kau ingin kuhajar lagi?” tanya Alexander dengan nada dingin yang membuat Harun dan Anne bergidig.


“Kita bertemu di pengadilan nanti, kau harus membayar perbuatanmu padaku!” ancam Charles dengan suara lantang.


“Oh, silakan saja,” jawab Alexander dengan nada sangat angkuh dan sombong.


“Sombong sekali kau, akan kubuat mantan istrimu itu menjadi wanitaku,” kata Charles dengan nada mengejek.


“Coba saja kalau bisa,” tantang Alexander.


“Akan kuhancurkan kau!” Ancam Charles dengan nada sinis.


Alexander membawa Prilly menuju apartemen yang pernah di lelang Prilly dengan harga satu dolar, terkadang batinnya merasakan konyol jika mengingat sejarah apartemen itu, dengan sabar Alexander mengurus istrinya yang mabuk, menyeka tubuh istrinya dengan handuk hangat, menggantikan pakaian Prilly, dengan penuh rasa sakit hati ia mendengarkan celotehan dan makian istrinya yang terus mengatai hal-hal buruk tentang diri Alexander.


Bahkan kini Alexander seperti seorang suami yang sedang di aniaya istrinya, Prilly berkali-kali menggigitnya, di legannya punggungnya dan pundaknya, Alexander hanya mengernyit, membiarkan istrinya bertindak semaunya.


Alexander sadar saat ini percuma berbicara dengan orang mabuk, sia-sia saja meskipun Alexander menjelaskan hingga mulutnya berbusa sekalipun, istrinya akan terus mengamuk dan besok paginya bisa di pastikan Prilly tidak mengingat semua kata-kata Alexander. Setelah lelah dengan makian dan isak tangisnya, akhirnya Prilly tertidur dalam pelukan suaminya.


Siang hari saat Prilly membuka mata yang pertama tampak adalah wajah suaminya yang begitu dekat dengan wajahnya, Prilly mengernyit, melihat betapa dalamnya kerutan alis Alexander, Prilly yakin pria ini sedang memikirkan sesuatu bahkan dalam tidurnya sekalipun, sedikit mengingat-ingat tadi malam ketika dirinya mabuk, pasti ia telah memaki Alexander hingga puas dan ia yakin sekarang suaminya sedang dalam mode sakit hati karena ucapannya.


“Sudah bangun sayang?” tanya Alexander tanpa membuka matanya.


“Alex, ayo kita terpisah,” kata Prilly dengan nada rendah dan terdengar putus asa.


“Bahkan jika dunia ini kiamat dan terbelah dua, aku tidak akan menceraikanmu,” jawab Alexander dengan nada acuh.


“Aku bukan mesin reproduksi, kau hanya ingin anak dariku, kau tidak mencintaiku, kau hanya menjebakku, kau hanya mencintai Jovita!” Tuduh Prilly dengan membabi buta pada suaminya.


“Logika macam apa itu?” Alexander membuka matanya, tatapannya begitu tajam menatap mata berwarna Hazel milik Prilly.


Prilly memalingkan wajahnya namun dengan lembut Alexander meraih dagu Prilly dan kembali mengarahkan wahah Prilly menghadap ke arahnya.


“Jangan pernah berpikir untuk bercerai dariku kecuali aku mati,” kata Alexander dengan nada tegas.


“Bukankah kau berjanji jika Mike kembali.”


“Itu pengecualian,” sela Alexander cepat.


“Katakan apa salahku? Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Alexander dengan sangat lembut sambil membelai kulit wajah Prilly.


Prilly tak bereaksi, hanya bibirnya yang terkatup semakin dalam dan tatapan matanya semakin nanar menatap Alexander.


“Kita telah berkomitmen bukan? Tidak ada apa pun yang kita tutupi.” Alexander mengingatkan Prilly.


“Kau sangat mencintai Jovita bukan?” tanya Prilly dengan nada sangat rendah.


Alexander menghela napas berat, pertanyaan ini menyusahkan, perasaannya pada Jovita bahkan tidak tersisa apa-apa lagi, namun jika ia mengatakan pada Prilly hal yang sejujurnya sekali pun ia yakin ucapannya hanya akan di anggap pria pembual yang sedang merayu istri mungilnya.


TAP JEMPOL KALIAN 🤗🤗🤗🤗😚😚😚😚😚😚