
Alexander tidak menanggapi omongan Jovita, ia justru menarik tubuh Jovita dan memeluknya.
“Alexander lepaskan.”
“Jangan keras kepala.”
“Kau berpura-pura baik!”
“Sebaiknya kau istirahat." Alexander mengecup kening Jovita lalu memapah Jovita dan mendudukkannya di tepi ranjang.
“Istirahatlah, aku memiliki beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan.”
Pria itu menghilang di balik pintu, sementara telapak tangan Jovita berada di dadanya, degup jantungnya tak beraturan, ia tahu ia memang telah lama jatuh cinta pada Alexander, namun sekali lagi, di samping status sosial mereka seperti jurang pemisah yang mengaga, ia juga tahu seperti apa Alexander, bahkan mungkin jika Jovita salah sedikit saja melangkahkan kakinya jurang itu akan menelannya hidup-hidup.
Jovita semakin merasa gelisah, bahkan sekilas terbersit pikiran untuk melarikan diri membawa calon bayi yang ada di rahimnya, namun saat ia melihat wajah polos William yang sedang tertidur di atas ranjang perasaannya seperti meleleh, Jovita merasa takut kehilangan pria kecil yang mencuri hatinya, bukan hanya ayahnya yang telah mencuri hatinya, pria kecil yang sedang pulas tertidur itu adalah bajak laut yang merampok hatinya.
Jovita merebahkan tubuhnya di samping William, ia menyentuh kulit pipi William yang terasa begitu lembut dengan ujung jarinya. Jovita semakin tidak tega jika benar-benar meninggalkan pria kecil ini, apalagi jika William belum berada di tangan ibu kandungnya. Tidak lama Jovita justru terlelap, akhir-akhir ini sejak ia di nyatakan sedang dalam keadaan mengandung ia benar-benar mudah sekali mengantuk.
Sementara Alexander sedang di ruang kerjanya membaca beberapa dokumen, ia berniat mengambil sesuatu di dalam laci meja kerjanya. Tanpa sengaja ia menyentuh sebuah bingkai foto itu adalah foto Prilly dan dirinya, foto Prilly kecil dan dirinya. Prilly yang ingin ia miliki, Prilly yang dulu selalu ingin ia jaga dan ia miliki sendiri, namun nyatanya keinginannya tak mampu ia wujudkan, cintanya pada Prilly membuatnya ia ingin memiliki Prilly, menjaga Prilly bagai bunga di tamannya.
Sedangkan oada Jovita perasaannya berbeda, gadis biasa itu justru mampu membuatnya terlihat bodoh, sekarang gadis biasa itu justru mengandung calon anaknya. Gadis keras kepala yang membuat Alexander berkali-kali harus membuang harga dirinya hanya untuk membawa gadis itu berada di sisinya. Dan masalah status sosial gadis itu, orang tuanya pasti akan menentangnya, Alexander yakin itu.
Namun, bagaimanapun orang tuanya harus merestui hubungannya dengan Jovita, mau tidak mau, Alexander tidak akan pernah mau tahu.
Alexander, Jovita dan William memasuki mansion keluarga Johanson. Tentu saja Jovita adalah satu satunya orang yang paling tegang, telapak tagannya bahkan berkeringat dan ia merasakan pasokan udara yang ia hirup seakan menipis, berulang kali ia menghela nafasnya. Suasana lengang di mansion itu seolah mampu menciptakan suara bahkan jika hanya satu jarum yang terjatuh ke lantai, suara langkah kaki mereka seolah olah satu-satunya suara yang bisa terdengar.
Diana sangat terkejut ketika mendapati putra dan cucunya datang bersama seorang gadis, terlebih lagi Diana dapat mengingat siapa gadis yang datang bersama putranya. Gadis itu adalah salah satu mantan sekretaris putranya, Diana beberapa kali bertemu dengan gadis itu.
“Grandmom, aku rindu padamu,” kata William menghambur ke pelukan neneknya sambil menciumi pipi Diana, “Grandmom aku akan banyak memiliki adik.”
“Oh ya? Calon adikmu kembar, grandmom sangat senang mendengarnya,” jawab Diana.
“Tante Jovi juga memiliki calon adik di perutnya,” kata William dengan polosnya.
Sudut bibir Alexander terangkat mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir putranya, bagaimana bisa pria kecil itu begitu lancar berkata-kata seolah olah ia pria dewasa yang gemar bergosip.
Sementara Jovita wajahnya mendadak merah padam, antara malu dan ketakutan menunggu reaksi Diana yang tidak menunjukkan kemarahan.
“Oh ya, bagus, kau harus mandiri jika adik-adikmu lahir kelak,” jawab Diana.
“Aku sudah dewasa, tentu saja aku telah mandiri,” jawabnya sambil berusaha melepaskan tubuh kecilnya dari pelukan neneknya lalu berlari ke arah kakeknya, Richard Johanson.
“Alex, kau belum mengenalkannya padaku,” kata Diana dengan nada ramah namun tatapan matanya begitu dingin.
“Mommy, Daddy, aku dan Jovita, kami akan menikah secepatnya,” kata Alexander sambil menarik sebuah kursi untuk Jovita duduk.
“Selamat malam, nama saya Jovita,” Jovita memperkenalkan diri.
Bagaimana? apa menurut kalian Jovita akan mendapat restu dengan mudah dari ibunda Diana???
Semoga aja yaaa....
Selamat tahun baru teman teman, jangan lupa ya tap jempol kalian 😍😍😍😍