
Barcelona
Alexander dan Prilly mendarat di Barcelona Airport pada pukul 11.30 am. Mereka langsung menuju sebuah gereja, Sacred Heart of Jesus yang berada di Tibidano, Spanyol.
Images : Sourch Google
Alexander memilih tempat itu karena ia memiliki kenalan seorang pastor yang juga mengenal ibunya Diana Johanson yang telah banyak menyumbangkan amal di gereja tersebut, hari ini mereka akan menikah.
Pernikahan yang hanya di saksikah oleh pastor, Anne dan Harun.
Prilly menghela nafasnya, jantungnya berdegup kencang saat Anne dan Harun mengantarkannya untuk menuju Altar di mana Alexander menunggunya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
“Prilly, kau cantik sekali,” bisik Anne menggoda Prilly.
“Jangan membuatku gugup,” bisik Prilly.
Prilly mengenakan gaun pengantin sederhana yang di pilih secara mendadak dari desainer ternama, mereka mempersiapkan pernikahan hanya dalam waktu satu hari.
Meski hanya ada lima pasang mata di dalam gereja itu pernikahan Prilly dan Alexander tampak begitu sakral dan khidmat, setelah mengucapkan sumpah pernikahan Alexander mencium Prilly, untuk kedua kalinya mereka sah sebagai suami istri.
Seperti mimpi rasanya untuk ke tiga kalinya ia menjadi pengantin, dan pengantin prianya adalah mantan suami pertamanya sendiri.
“Aku mencintaimu, Prilly.” Alexander terus membisikkan kalimat sakral yang juga terus-terusan membuat rona wajah Prilly memerah.
Jantung Prilly seakan-akan hendak terlepas dari rongga dadanya setiap Alexander mengatakan kalimat itu.
Setelah upacara pemberkatan selesai, prilly dan Alexander menuju sebuah hotel yang berada di kawasan pantai Barcelona.
Alexander telah memesan sebuah kamar yang viewnya menghadap ke pantai.
Images sourch Boking.com
Prilly duduk di sofa sambil memandangi hamparan pantai yang tersaji di depanya. Ia sangat gugup menghadapi Alexander, ia berulang kali menolak pria yang tak lain mantan suaminya dengan kata-kata kasarnya, bahkan ia mengatakan sendiri dengan lantangnya bahkan jika bumi terbelah dua ia tak akan sudi kembali padanya, nyatanya hingga saat ini bumi baik-baik saja, bumi tidak terbelah dua namun ia telah kembali pada Alexander bahkan ia menjadi istri simpanan mantan suaminya.
“Apa yang kau pikirkan istriku sayang?” Alexander tiba-tiba berdiri di samping tubuh Prilly.
“Aku tidak menyangka semua ini terjadi,” guman Prilly lirih.
Alexander terdiam, ia juga memandangi hamparan pasir sepanjang pantai, cukup lama mereka larut dalam diam hingga Alexander menekuk kakinya bersimpuh di depan Prilly sambil menggenggam telapak tangan Prilly.
“Apa kau menyesal sayang?” tanya Alexander lirih.
“Yang jelas semua telah terjadi.” Prilly berhenti sejenak dan menghela napasnya. “Dan yang pasti aku tidak menyesal, tapi jika kau membuatku menyesal maka aku tidak akan lagi mengampunimu,” kata Prilly tak kalah lirih.
Alexander meletakkan kepalanya di pangkuan Prilly, sedangkan Prilly secara refleks melepaskan sebelah telapak tangannya dengan hati-hati dari genggaman Alexander dan ia mulai membelai rambut coklat keemasan di kepala Alexander, Prilly tersenyum, ini pertama kali ia menyentuh rambut Alexander dengan penuh perasaan, warna rambut yang sama seperti milik William putra mereka. Rambut Alexander ternyata sangat lembut, tiba-tiba air matanya tergelincir begitu saja, andai saja ia dapat menerima Alexander sejak dulu, kepedihan yang sekarang ia ada di dalam benaknya tidak perlu ia rasakan, rasanya sangat pedih saat ia harus berbagi pria yang ia cintai dengan wanita lain.
Sesak yang mengimpit batinnya tidak bisa lagi ia sembunyikan, ia sedikit terisak hingga Alexander menyadari bahwa istrinya sedang menangis. Alexander mendongakkan wajahnya dan melihat mata Prilly penuh dengan air mata.
Bergegas Alexander bangkit dan mengangkat tubuh istri barunya, ia membawa Prilly ke dalam dekapannya, dan berganti posisi menjado dirinya yang duduk di atas sofa sementara Prilly duduk di atas pahanya, wanita itu meringkuk di dalam pangkuannya.
“Jangan menangis, aku tidak tahan melihat air matamu,” ucap Alexander dengan nada lirih.
“Sayang,csudah kukatakan, jangan pikirkan itu, pikirkan dirimu dan anak-anak kita." Alexander terus meyakinkan Prilly untuk tidak memikirkan Jovita.
“Bagaimana jika kita berenang?” tanya Alexander, jika mereka terus berada di dalam ruangan itu tidak ada jaminan, mereka akan terus tenggelam dalam kecanggungan dan pikiran bersalah karena Alexander juga merasakan rasa bersalah pada Jovita, bagaimana pun jalan yang di ambil bersama Prilly tidak bisa di benarkan.
“Alex, aku ingin di sini saja.” Prilly mengeratkan pelukannya di pinggang Alexander.
“Baiklah, apa kau lapar?” tanya Alexander.
Prilly menggeleng pelan.
“Tapi, sepertinya kita harus makan,” kata Alexander sambil menjangkau gagang telepon yang berada di meja tak jauh dari tempatnya untuk memesan makanan.
Tiga puluh menit berlalu bell pintu kamar berbunyi, Alexander bangkit dan mendudukkan Prilly di kursi seperti semula sebelum mereka bertukar posisi, setelah itu Alexander melangkah untuk membukakan pintu dan membiarkan petugas hotel menata makanan yang di pesan di atas meja.
Prilly dan Alexander makan dengan tenang, tidak ada percakapan di antara mereka, hanya sesekali Alexander menyuapkan makanan ke mulut Prilly dan Prilly dengan patuh membuka mulutnya.
Mereka bukan seperti pengantin baru yang di mabuk cinta mereka justru tampak seperti pasangan yang sedang bertengkar dan menjaga jarak, hingga malam datang merayapi kota Barcelona kedua orang itu masih saling bungkam, setelah Prilly membersihkan tubuhnya ia mengenakan gaun tidurnya ia bergegas membungkus tubuhnya dengan selimut, sedangkan Alexander ia masih berada di dalam kamar mandi.
Prilly berusaha keras memejamkan matanya, meski sedikit pun kantuk tak kunjung menghampiri matanya.
Tak lama Alexander keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya sementara satu tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya. Prilly berpura-pura memejamkan matanya meski ia melihat dengan jelas otot-oyot perut suaminya yang terpahat sempurna, tak lama kemudian Alexander telah mengenakan kimono tidurnya dan menyusul istrinya ke dalam selimut lalu memeluk prilly dari belakang.
Pria itu menciumi kepala Prilly dan mengeratkan pelukannya.
Tidak ada percakapan, kecanggungan itu benar-benar hampir membunuh Prilly, merasa semakin tidak nyaman Prilly berusaha membuang jauh egonya, ia sadar dirinyalah yang menciptakan suasana tegang di ruangan itu.
Prilly membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Alexander.
Dalam temaramnya lampu, pandangan mata mereka beradu, kedua mata mereka menatap dalam, Alexander mengecup kening Prilly.
“Tidurlah,” kata Alexander.
Prilly tak bergeming, ia menatap kembali wajah Alexander yang kini menjadi suaminya dan dengan pelan ia bergumam, “H-hubby.”
“Istriku, Prilly, aku mencintaimu.” Alexander menyatakan cintanya, perasaannya sekarang sangat bahagia hingga perasaan itu tidak bisa di gambarkan dengan kalimat indah yang ada di seluruh muka bumi ini.
“Aku juga mencintaimu, Alex,” jawab Prilly pelan.
“Terima kasih telah menerimaku dengan semua dosa yang pernah aku lakukan.”
Prilly menggelengkan kepalanya. “Aku mencintai Alexander yang sekarang.”
Alexander kembali mengecup kening Prilly dengan penuh perasaan, beralih ke mata, hidung dan bibir.
Ciuman mereka perlahan namun pasti membawa mereka kedalam gairah yang berapi-api.
"Sayangku, bolehkah aku?" tanya Alexander.
😥😥😥😥
TAP JEMPOL KALIAN 😄😄😄😄
BHAY 😉😉😉😉