
Alexander memeluk pinggang Prilly yang sedang menuangkan air ke dalam gelas di depan meja pantri dapur mereka. “Prilly, aku mencintaimu,” bisiknya pelan di telinga istrinya, ia bahkan menghisap cuping telinga istrinya itu membuat Prilly sedikit menggeliat.
“Kau terlalu banyak minum,” kata Prilly dengan nada lembut.
“Aku tidak mabuk,” elak Alexander.
“Mulutmu sangat berbau alkohol.” Prilly mengulurkan segelas air putih di tangannya kepada suaminya yang berada di belakang tubuhnya.
“Aku hanya meminum sedikit,” ujar Alexander setelah seluruh air putih di dalam gelas itu ia habis.
“Kalian berdua meminum satu botol champagne dan kau mengatakan sedikit.” Prilly menggelengkan kepalanya.
“Anthony menyebalkan,” gerutu Alexander.
“Kalian sama saja, ini bukan perayaan apa pun untuk apa kalian meminum sampanye? Astaga.”
Champagne atau sampanye, adalah minuman anggur putih bergelembung yang dihasilkan di kawasan Champagne di Perancis. Umumnya, champagne terbuat dari anggur Pinot Noir yang berkualitas bagus dan mempunyai warna kekuningan. Champagne biasanya hanya diminum pada acara-acara khusus seperti perayaan tahun baru dan kemenangan kejuaraan olahraga seperti Formula 1, di mana sang pemenang di podium membuka sebotol sampanye dan menyemprotkan isinya.
“Ayo ke kamar,” ajak Alexander, ia tentu saja ingin memakan tubuh istrinya.
“Hubby, ini masih terlalu sore,” Prilly sedikit terkekeh.
“Aku rindu istriku." Alexander berbisik sambil bibirnya menelusuri leher Prilly membuat Prilly mau tidak mau menggeliatlah tubuhnya.
“Aku tidak ingin bercinta dengan pria mabuk,” erang Prilly.
“Aku mabuk karena cintamu, Prilly,” geram Alexander.
“Kau pandai bermulut ma—“
Bibir Alexander telah berada di bibir kenyal milik Prilly, ********** dan menghisap seperti pria yang dahaga, telapak tangan Alexander berada di bagian belakang kepal Prilly sementara sebelah telapak tangan yang lainnya berada di bokong Prilly membelai dan meremasnya penuh perasaan.
Erangan-erangan kecil terlepas dari bibir Prilly, hingga Alexander mengangkat tubuh kecil istrinya mendudukkan di atas meja pantri lalu memperdalam ciuman mereka, jemari Alexander menyusul di antara pakaian istrinya menelusuri kulit lembut Prilly, melepaskan pengait yang ada di belakang punggung Prilly.
“Hubby, kita di dapur,” erang Prilly yang masih menyadari di mana mereka berada.
“Kita coba di sini.”
“Bagaimana jika pelayan melihat?” Meskipun begitu Prilly membiarkan suaminya melepaskan pakaian dalam yang ia kenakan.
“Tidak akan, aku menjamin,” Alexander meletakkan pakaian dalam Prilly di atas meja, ia juga membuka sedikit bagian delan celana kain yang di kenakannya.
“T-tapi,” Prilly hendak melayangkan protesnya.
“Kau tidak percaya padaku?”
“Aku—“
“Patuhlah, sayangku,” geram Alexander, ia tidak peduli itu di mana ia ingin sensasi yang berbeda bersama Prilly. Di masa lalu ia hanya bisa membayangkan melakukannya dengan Prilly, sekarang semuanya nyata.
Prilly akhirnya memilih patuh, ia membiarkan suaminya melakukan apa pun yang ia mau terhadap tubuhnya, ia cukup menikmati, menggeliat dan melenguh merasakan seluruh sentuhan dari telapak tangan Alexander yang lembut membelai setiap jengkal tubuhnya.
Masih dengan posisi duduk dia atas meja pantri, Alexander membungkuk untuk menikmati gundukan kenyal di dada Prilly menggunakan bibirnya, telapak tangan Prilly meremas rambut Alexander seolah memperdalam kenikmatan yang di ciptakan suaminya.
Alexander bahkan mulai menyatukan tubuh mereka tanpa mengubah posisi Prilly di atas meja, mengentak-entakkan pinggulnya dengan perlahan, sedikit kasar dan berirama membuat Prilly terus mengerang memanggil namanya.
“Alexander, aku mencintaimu,” erang Prilly.
Berasaman dengan ungkapan cinta keduanya gelombang itu datang, Alexander mempercepat tempo gerakannya dan mereka mendapatkan puncak bersama-sama, cairan hangat menyembur memenuhi dinding rahim Prilly yang diiringi doa dari dalam hati Alexander, ia ingin putri secantik istrinya.
“Prilly, kau membuatku gila,” bisik Alexander, kening mereka bersatu sambil masing-masing dari mereka berdua mengatur nafas.
Prilly membuka matanya dan menatap mata suaminya? “Peluk aku,” erangnya.
“Tunggu sebentar.” Alexander membenarkan posisi celana kain yang hanya di buka di bagian depannya.
Ia juga mengambil pakaian dalam istrinya yang sempat ia lepas dan teronggok di atas meja, ia menggendong Prilly dengan gaya bridal style, membawanya ke kamar mereka, melanjutkan babak kedua percintaan membara, menuntaskan gairah untuknterus saling memiliki, meluapkan cinta yang terus bermekaran seperti bunga bermekaran di musim semi.
Hari ini Alexander memotong rambutnya karena ia akan menghadiri sebuah acara penghargaan untuk para pengusaha, umurnya bukan lagi muda sekarang, berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu, ia memang menyandang sebagai salah satu miliarder termuda, sekarang umurnya tiga puluh lima tahun.
“Apa aku sudah tampan?” Alexander mengangkat kedua alisnya.
“Kau sangat tampan,” jawab Prilly sambil melilitkan dasi di leher Alexander.
“Pantas saja kau sangat mencintaiku,” kata Alexander percaya diri.
“Omong kosong, aku mencintaimu bukan karena wajahmu.”
“Oh ya, katakan karena apa?” Alexander akhir-akhir memiliki hobi baru yaitu mnggoda Prilly istrinya karena sedikit saja menghidanya wajahnya pasti akan berubah merah merona seperti tomat masak.
Prilly menyeringai, wajahnya memang telah merona, kemudian ia menjawab. “Karena kau adalah Alexander.”
Alexander mengecup pelipis istrinya yang sedang memasangkan dasi di lehernya, “Terima kasih, kau pandai memilih dasi.”
“Kau cocok mengenakan warna apa saja,” jawab Prilly.
“Kau terlalu banyak memujiku.”
“Aku rasa tidak juga.” Senyum menghiasi wajah Prilly.
“Aku lebih menyukai penjepit dasinya,” kata Alexander saat Prilly memasangkan penjepit dasi, itu adalah desainnya sendiri, di bagian belakang jepitan dasi itu ada initial nama mereka berdua.
“Aku akan marah jika kau menghilangkannya,” ucap Prilly dengan nada mengancam.
“Tentu saja aku akan menjaganya sebaik mungkin, seperti menjaga cintaku untukmu, Madam,” goda Alexander lagi.
“Kau sangat pandai berkata-kata sekarang,” kata Prilly sambil mengambil jas, mengulurkan kepada Alexander dan langsung di kenakan oleh pria bermanik mata abu-abu itu.
“Oh ya? Tidak juga,” ujar Alexander sambil mengancingkan jas telah menempel di tubuhnya.
“Aku rasa telah cukup rapi, kita bisa berangkat,” kata Prilly sambil mengamati penampilan mereka berdua, tentu saja Prilly juga akan menghadiri acara tersebut untuk mendampingi suaminya.
Photo from Instagram
TAP JEMPOL KALIAN❤❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤