Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Restu



“Selamat malam, nama saya Jovita.” Jovita memperkenalkan diri.


“Sayang, kauharus membiasakan memanggil Mommy dan Daddy,”kata Alexander.


Jovita hanya mengangguk.


“Kita beberapa kali bertemu di perusahaan Alexander, kau dulu sekretarisnya bukan?” tanya Diana dengan nada ramah namun terdengar dingin.


“Benar, Madam.” Jovita membenarkan perkataan Diana.


“Ayo nikmati makan malamnya, aku seharusnya menyuapkan makanan untuk ibu hamil,” kata Diana.


“Terima kasih. Tapi, aku tidak masalah dengan apa pun,” ujar Jovita dengan sopan.


“Baguslah, aku yakin calon bayimu akan sangat sehat karena kau tidak pemilih makanan,” kata Diana datar.


Makan malam berlangsung dengan suasana canggung dan hening, hanya William yang sesekali berbicara dan kadang ia sengaja membuat suara-suara di puringnya. Sementara Richard dengan sabar sesekali menyuapi cucunya.


Jovita berulang kali mengatur nafasnya menghilangkan ketegangan di saraf-saraf otaknya, sangat menegangkan, tentu saja ia tegang, ini pertama kalinya makan malam bersama keluarga miliarder, meskipun bukan makan malam yang formal namun rasanya kali ini seribu kali lebih menegangkan. Apalagi melihat sikap dingin Diana padanya, Jovita setidaknya memahami wanita itu sama sekali tidak menginginkan ia berada di tengah-tengah keluarga Johanson. Rasanya Jovita benar-benar ingin melarikan diri dari tempat itu.


“Makanlah yang banyak, kau dan bayi kita harus sehat” kata Alexander sambil memotongkan daging steak miliknya lalu memberikan pada Jovita.


Jovita dengan malu-malu menerima daging yang datang ke mulutnya, melahap dan mengunyahnya dengan hati-hati.


“Kami akan menikah dua bulan lagi,” kata Alexander memberi tahu kedua orang tuanya, tidak bahkan Jovita pun tidak tahu rencana Alexander, ia baru saja mendengarnya.


“Apa harus secepat itu?” tanya Diana dengan nada terdengar tidak suka.


“Sebenarnya aku ingin secepatnya, namun mengingat Mike dan Prilly batu akan kembali 2 bulan lagi, aku harus menunggu mereka, aku ingin semua berkumpul sebagai keluarga.”


“Pendapatku lebih baik menunggu bayu kalian lahir saja.”


“Tidak Mommy, kami telah sepakat,” jawab Alexander tegas.


“Kau bahkan tidak mendengarkan saran dari ibumu Alex?”


“Terima kasih atas saranmu, tapi ku rasa kamilah yang akan menikah, kami berhak membuat keputusan.”


“Terserah pada kalian saja,” jawab Diana. “Richard katakan sesuatu!” Diana tampak sangat kesal karena suaminya bahkan tidak berkomentar apapun.


“Aku tidak ada masallah, Alex sudah dewasa, tapi jika kau mengulangi kesalahanmu aku tidak akan ragu-ragu lagi bertindak, sudah cukup sekali kau mencoreng wajah keluarga Johanson,” kata Richard dengan nada dingin.


“Jovita, apa orang tua sudah mengetahui rencana pernikahan kalian?” tanya Richard.


Jovita tergagap, ia tidak memiliki jawaban atas pertanyaan ayah Alexander, ia segera menendang kaki Alexander menggunakan ujung sepatunya.


Alexander dengan santai meraih gelas yang berisi air putih dan dengan santai meminumnya. “Tentu saja, mereka tidak baik-baik saja dengan keputusan kami,” jawab Alexander.


“Tentu saja mereka senang mendapatkan menantu dari keluarga kata, siapa pun tidak mampu menolak,” kata Diana dingin.


Jovita hanya mampu menghela napasnya, hatinya terasa terpotong, bukan hanya terpotong namun terasa terpenggal. Dirinya bukan penggali emas, dan keluarganya juga bukan keluarga yang materialistis! Kata-kata yang di ucapkan Diana benar-benar penghinaan besar, rasanya ia ingin berlari meninggalkan tempat itu, namun sekuat tenaga ia menahan perasanannya. Ia harus menjaga emosinya di depan kedua orang tua Alexander meskipun perasaannya sangat gusar!


Apalagi Alexander dengan seenaknya sendiri memutuskan untuk menginap di mansion itu, Jovita benar-benar semakin merasa tertekan.


Di dalam ruang kerja milik Richard Johanson, Diana sedang menatap tajam pada Alexander.


“Kau pikir meski jalangmu itu hamil aku bisa menerimanya sebagai menantu?”


“Mommy, dia calon ibu dari anakku,” sanggah Alexander.


“Omong kosong! Di London ada banyak wanita yang bersedia menggantikan posisinya, kau tidak boleh menikahinya, masalah bayinya, aku yang akan mengurusnya,” kata Diana penuh dengan tekanan emosi.


“Aku tetap akan menikahinya, aku yang akan menikah, aku tidak perlu meminta restu padamu.” Dengan tatapan dingin Alexander menjawab perkataan ibunya.


“Untuk apa kau membawanya kesini?”


“Aku hanya mengenalkan pada kalian karena kalian adalah orang tuaku,” jawab Alexander sambil berlalu pergi.


“Kau akan ku coret dari posisimu di perusahaan jika kau berani menikahi jalangmu!” hardik Diana.


Jumpa lagi 😚😚😚


Ayo tap jempol kalian 😚😚😚