
Alexander kembali ke tempat tinggalnya, ia segera mencari istrinya, hasrat kelelakiannya membuncah menguasai dirinya, mendapati Jovita yang telah terlelap ia dengan terpaksa membangunkan istrinya itu untuk melayaninya.
Ia mencumbu Jovita seperti singa lapar yang memangsa buruannya, Alexander menekan Jovita di bawahnya, menggerakkan pinggulnya, menghentakannya penuh irama sambil membayangkan tubuh dan wajah mantan istrinya, ia bahkan terus mengulanginya tanpa peduli Jovita yang kelelahan, ia menekannya lagi dan lagi hingga hari menjelang pagi Alexander baru mengakhiri permainan yang di bangun dan di dominasi olehnya, setelah memastikan Jovita tertidur ia pergi ke apartemen di mana ia tinggal beberapa hari yang lalu, ia memasuki kamar utama lalu memejamkan matanya.
Alexander tiba di kediaman Prilly, cekungan dimatanya tampak begitu dalam, ia baru saja tidur satu jam tetapi karena ia memiliki janji untuk mengantarkan William dan adik-adiknya pergi ke sekolah, ia tidak mungkin mengingkarinya.
”Willy, jadilah patuh, belajarlah dengan baik di sekolahmu.” Prilly berpesan pada William.
“Aku tahu mommy.” William masuk ke dalam mobil dan duduk dengan manis di bangku penumpang belakang dan kedua adiknya juga menyusul William.
“Leonel, jaga saudara perempuanmu dengan baik,” kata Prilly dengan nada sangat lembut.
“Tentu, aku adalah malaikat penjaga Grace,” jawab Leonel.
“Sampai jumpa, Mommy!” Teriak ketiga anak kecil itu bersamaan ketika Alexander hendak menutup pintu mobil.
“Sampai jumpa, Mommy,” Alexander menirukan gaya ketiga anak kecil itu sambil mengedipkan sebelah matanya pada Prilly, membuat wajah Prilly seketika masam tetapi ia masih berusaha mempertahankan senyum manisnya pada ke tiga anaknya.
Menyaksikan pemandangan Prilly melepaskan ketiga anaknya di depan mansionnya, melambaikan tangan dengan diiringi senyum manis membuat Alexander semakin frustrasi, wanita itu benar-benar menggoyahkan imannya, ibu dari putranya itu membuat sekejap perasaannya pada Jovita bagai tulisan di atas pasir yang tersapu ombak di tepi pantai. Alexander ingin Prilly dan ketiga anaknya menjadi miliknya, bukan hanya William tapi juga Grace dan Leonel menjadi bagian dari hidupnya, bagi Alexander rasa sayangnya kepada Grace dan Leonel sama saja seperti ia menyayangi William.
Keinginannya itu menggebu gebu seolah hendak menelan semua akal sehatnya. Alexander yang biasa kembali tepat waktu kini ia mulai sering terlambat, ia memilih menghabiskan waktunya di depan meja kerjanya, ia juga sering kembali ke apartemen miliknya, Alexander yang di depan Jovita selalu bersikap lunak sepanjang usia pernikahan mereka kini berubah menjadi Alexander yang sering melamun.
“Alex, apa begitu banyak pekerjaan akhir-akhir ini?” tanya Jovita malam itu ketika Alexander baru saja duduk di meja makan.
“Ya, ada beberapa yang harus segera di tangani,” jawab Alexander.
“Bagaimana jika aku membantumu agar meringankan pekerjaanmu?” tanya Jovita.
Alexander hanya diam sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Lagi pula aku terlalu lama tinggal diam, aku sangat bosan,” keluh Jovita.
“Baik, akan aku pikirkan, besok akan kutanyakan pada Harun jadwalku, kau bisa urus semua pekerjaanku yang bisa di wakilkan.”
Jovita tidak menyangka suaminya dengan mudah berkata iya, rasanya Jovita mendapatkan hidupnya kembali, ia akan memiliki kesibukan dan setidaknya mengurangi beban pikirannya mengenai kekurangan dirinya yang mungkin tidak bisa memberikan keturunan pada Alexander.
“Jangan memberikan harapan palsu padaku, aku sangat bosan berdiam diri di rumah,” Jovita masih sedikit tidak yakin.
“Apa kau ingin pergi berlibur?” tanya Alexander.
“Aku ingin berlibur bersamamu, kita telah lama tidak melakukan perjalanan berdua,” jawab Jovita.
“Saat ini tidak bisa, aku tidak bisa meninggalkan perusahaan.”
“Kalau begitu tidak perlu, berlibur sendiri juga membosankan.”
“Bersabarlah,” kata Alexander dengan nada lembut.
Pukul 10.00 pm.
Alexander itu menghampiri Jovita. “Jangan tidur dulu sayang, aku menginginkanmu.”
“Alex, kau selama satu minggu tidak memberiku istirahat,” keluh Jovita, suaminya akhir-akhir ini memakannya seperti serigala lapar setiap malam.
“Aku akan sebentar kali ini,” geram Alexander sambil mulai mencumbu bibir Jovita, tangannya meraih telapak tangan Jovita dan menuntunnya menuju benda tumpul yang mengeras di balik handuk yang melilit di pinggangnya.
Baru saja tangan Alexander mulai melucuti gaun tidur yang di kenakan istrinya, ponsel miliknya yang berada di atas nakas berdering membuat Alexander menghentikan permainannya. “Baik Harun, aku mengerti,” kata Alexander sambil turun dari ranjang meninggalkan Jovita.
Ia melemparkan ponselnya ke atas nakas kembali kemudian pria itu memasuki walk in closetnya, mengganti pakaiannya dengan pakaian semi formal dan mendekati nakas di sisi ranjang untuk mengambil ponselnya.
“Sayang, aku tidak akan membuatmu lelah malam ini, kau tidurlah dulu, ada pekerjaan pentung yang harus aku atasi, jangan menungguku.” Alexander mengecup pipi istrinya. “Jadilah patuh, jangan begadang,” lanjutnya.
“Bukankah ini akhir pekan?” protes Jovita.
“Kau tahu pekerjaanku tidak kenal waktu, jangan berpikir macam-macam."
Jovita mengangguk, ia memang tahu pekerjaan suaminya tak kenal waktu.
Alexander sampai di club yang Harun maksud, di sana Prilly bersama teman-teman sosialitanya sedang meminum alkohol sambil mendengarkan dentuman musik yang memekakkan telinga, Alexander duduk di meja bartender, ia memesan segelas vodca, matanya tak lepas dari sosok Prilly, ia tak habis pikir, gadis pendiam yang lugu itu begitu hancur dengan kepergian Mike dan menempuh jalan yang tidak semestinya.
tiga puluh menit berlalu.
Alexander masih menunggu dengan tenang, mengawasi Prilly yang beberapa kali mengangkat gelas alkoholnya, setelah terlihat tubuh Prilly tampak melayang saat berdiri, Alexander menghampiri Prilly dan langsung membawa ke dalam dekapannya. Seorang wanita dengan dandanan mencolok mendekati Alexander dan verusaha menarik Prilly, namun Anne yang berada di antara salah satu wanita itu membisikkan sesuatu pada wanita itu dan wanita itu mengurjngkan niatnya.
“Alex, apa kau akan membawa Prilly?” teriak Anne.
“Iya.”
“Baguslah, jadi aku bisa bebas dari menjaganya." Seringai Anne penuh kebahagiaan.
Alexander merogoh sakunya memberikan sebuah kartu bank pada Anne. “Malam ini aku yang mentraktir kalian,” katanya.
Anne dengan segera menyambar kartu bank tersebut dan memanggil waiter, lalu meminta tagihan, ia juga tak lupa memesan beberapa botol lagi untuk bersenang senang bersama teman temannya, malam ini ia bebas tidak menjaga Prilly, jadi ia akan berpesta hingga pagi.
“Alex! aku tidak ingin pulang, aku masih ingin berpesta! turunkan aku!” Racau Prilly ketika Alexander mendudukkan Prilly di bangku belakang mobil.
Alexander tidak mempedulikan ocehan Prilly, ia membawa Prilly ke apartemen miliknya, memandikan prilly dengan air dingin.
“Alex kau ba**ngan, jangan ganggu aku, aku tidak ingin bersamamu, aku benci kau!” Maki Prilly ketika Alexander dengan paksa memandikan tubuhnya di bawah shower menggunakan air dingin.
“Jadilah patuh,” kata Alexander dengan sabar, ia mengganti pakaian Prilly dengan kemeja miliknya kemudian Alexander juga mengeringkan rambut Prilly dengan hairdryer.
“Alex, untuk apa kau mendekatiku?” tanya Prilly, ia telah mendapatkan kesadarannya.
Ohallo 😍😍😍😍
Author mau kasih ilustrasi buat tokoh tokohnya, terutama Alexander, tapi Author masih di luar kota sampai tanggal 10 kayanya 😢😢😢 Padahal tangan gatel banget tapi agak susah signal disini mau buka ig cari cogan kudu super sabar, author gak bisa sabar kalau masalah cogan 🙄🙄🙄🙄