
“Jauhi Alexander putraku,” kata Diana dengan nada teramat sangat dingin, wanita itu mengundang Jovita untuk bertemu di sebuah restoran siang itu.
Jovita hanya diam menundukkan wajahnya.
“Kau gugurkan saja bayi di dalam kandunganmu, atau kau besarkan lalu setelah ia lahir serahkan padaku, aku akan mengganti seluruh biayanya, kau tinggal sebut saja berapa nominal yang kau inginkan,” kata Diana lagi.
Jovita benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengar, wanita di depannya ternyata tak memiliki belas kasih, ia bahkan berencana membunuh cucunya sendiri? Perlahan Jovita mengangkat kepalanya, mencoba menatap wajah Diana, ternyata wanita di depannya adalah wanita terhormat yang tak memiliki perasaan dan velas kasih.
“Anakku tidak mungkin mencintaimu, kau hanya mainan baginya, penghangat ranjangnya, setelah ia bosan aku yakin Alexander akan membuangmu, bahkan derajat Prilly yang setara dengan kami saja tidak berarti di matanya, apalagi kau, seharusnya kau tahu diri sejak awal,”
cerca Diana.
Jovita menghela napasnya, kali ini telinganya mulai terasa panas, kata kata Diana semakin dalam terasa melukai perasaannya.
“Madam yang terhormat, saya akan dengan senang hati meninggalkan putra anda, jika ia memang bersedia melepaskan saya, tapi untuk membunuh ataupun menjual bayi saya, bahkan jika nyawa saya taruhannya, saya tetap tidak akan melakukannya,”
Jovita dengan tenang mencoba menjawab.
“Rupanya kau sangat ingin menjadi nyonya di keluarga Johanson ya?” sinis Diana.
“Terserah anggapan anda, tapi yang jelas saya hanya akan meninggalkan putra anda, jika putra anda meninggalkan saya,” jawab Jovita tak kalah sinis.
“Kau tidak perlu buru-buru mengambil keputusan, pikirkan tawaranku, kau bisa membeli rumah dan mobil dengan uang yang kau terima,” Diana masih terus mencoba bernegosuasi.
“Madam, sebaiknya uang itu anda simpan untuk yayasan amal anda,” jawab Jovita sambil tersenyum mengejek, Diana begitu banyak memiliki yayasan amal dan terkenal dengan kedermawanannya, tidak di sangka ternyata ia bahkan berniat memisahkan dirinya dengan calon bayinya, Jovita sangat tidak percaya dengan apa yamg ia alami hari ini.
“Kau benar-benar ******, tidak tahu di untung!” kata Diana sambil berdiri dan menggebrak meja lalu meraih tasnya yang terletak di atas meja dan pergi tanpa berkat apa-apa lagi.
Jovita menghela napas dengan kasar, ia menekan bell yang ada di depannya. ‘Bersitegang dengan calon mertua ternyata menguras tenaga juga,’ batinnya dan sekarang perutnya sangat merasa lapar.
Setelah makanan yang di pesan datang, Jovita dengan santai melahap makanannya seolah-olah tidak pernah terjadi apa apa sebelumnya.
“Kau pemberani juga ya?”
“Jadi kau telah setuju menikah denganku?”
“Kau membuntutiku,” jawab Jovita dengan nada dingin.
“Aku khawatir mommyku menyakitimu,” kata Alexander.
“Tidak mungkin ada orang bodoh yang berbuat jahat di tempat umum seperti ini,”
“Aku tidak menyangka kau sangat cerdas,” sudut bibir Alexander terangkat menyunggingkan senyum tipis.
“Ku rasa kita bisa hidup bersama sebagai orang tua dari calon bayi kita, Alex, aku tidak ingin memiliki ikatan pernikahan denganmu,”
kata Jovita dengan nada suara yang terdengar sangat tenang.
“Jovi...!” geram Alexander.
“Kau bebas berkencan dengan ****** mana pun, hubungan kita cukup sebagai ayah dan ibu, aku akan merawat anak kita dan juga William,” kata Jovita dengan nada acuh, setelah melahap potongan terakhir makanannya ia meletakkan garpu dengan posisi terbalik lalu menyapu bibirnya menggunakan tisu.
Alexander menatap wajah Jovita dengan tatapan dingin, rahangnya juga tampak mengeras, pria itu menekan tombol di meja untuk memanggil pelayan, setelah membayar tagihan makanan yang dipesan Jovita, kemudian pria itu dengan lembut mengulurkan telapak tangannya.
“Ayo kita pulang,” katanya dengan nada lembut.
Jovita tak menyambut uluran tangan Alexander, ia denagn acuh berdiri kemudian berjalan tanpa mempedulikan Alexander, merasa harga dirinya hancur di depan Jovita, Alexander mulai kehilangan kesabarannya, ia meraih telapak tangan Jovita kemudian menyeretnya menuju dimana mobilnya bearada.
Selamat Sore 😚😍😘
Part ini menyisakan kesedihan sebenarnya 😂 karena pas mau di copy aplikasi word authir error dan ngeblank, alhasil tulisannya ilang. author harus tulis dua kali 😢😢 sampe pengen jedotin kepala di bantal 😂
jangan lupanyah tap jempol kalian 😚😚 makasih.