Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Bukan taruhan



Tap jempol kalian sebelum membaca plis.


Anne tiba di perusahaan pukul sembilan. Setelah meletakkan barang-barangnya dibatas meja kerjanya, ia mengetuk pintu ruang kerja Harun. Ketika pintu terbuka tampak Harun sedang berkutat di depan laptopnya, cekungan matanya tampak agak dalam.


Harun mendongakkan wajahnya menatap Anne. “Padahal aku memberimu kelonggaran untuk beristirahat, kau bisa datang lebih siang,” katanya dengan nada begitu tenang.


“Pertemuan di mulai pukul sepuluh, bagaimana mungkin aku membiarkanmu bekerja sendiri,” kata Anne.


Harun hanya mengilas senyum di bibirnya yang tipis.


“Terima kasih,” kata Anne tiba-tiba yang berdiri di depan meja kerja Harun.


“Aku tidak tahu ukuran tubuhmu, maksudku... aku tidak tahu ukuran pakaianmu. Maaf jika kurang nyaman kau kenakan,” kata Harun sambil matanya sekilas menatap tubuh Anne.


“Ini sangat nyaman dan modelnya sesuai dengan seleraku, kau sangat pandai memilih.” Anne memandangi pakaian yang melekat di tubuhnya.” Anne tulus mengucapkannya, pakaian itu memang pas di tubuhnya, ia yakin Harun memang sangat terlatih dalam hal apa pun. Pekerjaannya selalu sempurna, bahkan memilihkan pakaian untuk seorang wanita saja ia sangat memahaminya tanpa bertanya terlebih dulu kepada Anne.


Harun berdehem kemudian ia berkata, “Oh iya, tadi pagi yang Alex memanggilku, ia mengatakan bahwa lusa Prilly memintamu untuk mendampinginya dalam sebuah pertemuan. Ada beberapa berkas-berkas yang harus kau pelajari dan aku telah mengirimkannya ke emailmu.”


Anne sedikit mengerutkan kedua alisnya. “Pertemuan apa? Tumben sekali.”


“Entahlah, kau bisa menanyakannya sendiri kepada Prilly,” jawab Harun.


Anne mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku akan menanyakannya nanti.” Ia menjeda ucapannya, memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Pertemuan dimulai tiga puluh menit lagi, aku akan mengecek ruang pertemuan. Kau bersiaplah," lanjutnya.


Kali ini Harun mengangguk, Anne keluar dari ruang kerja Harun, melangkah menuju ruang pertemuan yang akan digunakan oleh mereka. Setelah mengecek keperluan yang di bantu seorang karyawan, Anne menuju ke meja kerjanya untuk mengambil laptop dan dokumen yang diperlukan setelah itu ia kembali ke ruang kerja Haru memberitahu bahwa ruangan telah siap. Harun, ia sangat meneladani Alexander. Ia selalu datang lima menit sebelum pertemuan di mulai.


Anne sedikit gelisah karena dalam pertemuan itu ternyata ada David. Pria itu selaku salah satu kuasa hukum di Johanson Corporation ternyata turut hadir dalam pertemuan itu, untunglah jarak mereka duduk cukup jauh dan juga posisi mereka juga terhalang sehingga tidak membuat Anne semakin canggung. Beruang kali Anne melirik ekspresi Harun yang datar seperti biasanya. Perasaannya merasa sedikit tergelitik karena Harun yang memiliki ekspresi datar ternyata bisa di ajak kerja sama.


“Mr. Brown aku memiliki beberapa hal yang harus kubicarakan denganmu. Apakah kau memiliki waktu?” tanya Harun kepada David setelah pertemuan berakhir.


David memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku rasa... aku memiliki waktu beberapa menit.”


“Ms. Anne, kau bisa tunggu aku di ruang kerjaku, jangan ke mana-mana,” kata Harun sambil tatapan matanya sekilas menatap Anne.


Anne mengangguk. “Saya permisi, Sir,” katanya dengan sopan. Bagaimanapun ia harus mempertahankan kesopanan karena di dalam ruangan itu masih ada beberapa orang selain David dan Harun.


Harun, David dan dua orang yang memegang jabatan penting di Glamour Entertainment berbicara serius selama lima belas menit kemudian Harun mengakhiri pembicaraan mereka dan mempersilakan ketiga orang itu membubarkan diri karena waktu makan siang nyaris terlewat.


“Oh, maafkan kami karena kami tidak bisa makan siang bersamamu hari ini. Kekasihku... maksudku sekretarisku itu telah menyiapkan makan siang kami di ruang kerja, itu lebih menyenangkan dibanding harus harus keluar dari gedung hanya untuk mencari makan siang,” jawab Harun dengan nada sangat datar. Sama sekali tidak ada jejak kebohongan dalam sikap dan nada suaranya.


“Oh.” Tenggorokan David terasa tersekat, jantungnya terasa di remas. Dulu ia juga sering makan siang bersama Anne. Wanita itu sangat pengertian. Ia tidak perlu diminta untuk memesan makan siang, biasanya ia berinisiatif sendiri untuk menyiapkan makan siang di ruang kerja jika tidak ada jadwal makan siang keluar.


Karena kesibukannya ia bahkan melupakan bahwa ia seharusnya memiliki pendamping. Ia telah memikirkannya dengan matang-matang akhir-akhir ini untuk serius mencari pendamping. Dari sekian banyak wanita yang ia pertimbangkan memang sepertinya hanya Anne yang mengerti dirinya. Dan saat ia berniat serius untuk mengejar Anne sepertinya sekarang justru ia memiliki penghalang yang tidak bisa di bilang mudah meski secara materi Harun bukanlah saingannya karena ia jauh berada di atas Harun. Ia adalah seorang pengacara sekaligus pewaris tunggal Brown’s Company. Tetapi, dilihat dengan mata telanjang sekalipun Harun bukan saingan yang mudah.


Pria berperawakan tinggi seperti dirinya, rambutnya gelap dengan warna mata hitam. Wajahnya cukup tampan tetapi sikapnya selalu datar, tenang dan yang pasti tidak mudah di tebak.


David kembali berdehem. “Jadi, kalian... serius?”


Harun menatap David dengan tatapan datar, bibirnya tampak mengulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat. “Serius atau tidaknya aku kepada Anne, aku rasa itu bukan urusanmu Mr. Brown, kau tidak perlu khawatir, mantan kekasihmu itu kujamin akan baik-baik saja selama ia bersamaku. Lagi pula aku bukan tipe pria yang menarik ulur pasangannya,” ucap Harun.


Sialan, apakah Anne menceritakan semua kejelekanku kepada Harun?


David tersenyum sinis karena ucapan Harun yang tepat pada sasarannya. “Tetapi, selama dia belum menyandang status sebagai nyonya di rumahmu bukankah aku sebenarnya juga memiliki kesempatan yang sama?” Ia tidak akan menyerah, sudah cukup bertahun-tahun hubungannya dan Anne terkatung-katung. Usianya juga tak muda lagi, begitu juga Anne.


“Apa kau ingin bersaing denganku?” Harun melempar pandangan dingin kepada David sambil menaikkan sebelah alisnya.


“Jika kau bisa bersaing secara sehat,” jawab David.


“Jangan khawatir.”


“Baiklah, kita bersaing,” kata David dengan nada penuh tantangan.


“Dengan senang hati,” ucap Harun.


“Bagaimana jika kita bertaruh? Jika kau yang akan memenangkannya maka aku akan memberikan sebuah mobil sport untukmu,” kata David meluncur begitu saja dari bibinya.


Harun tersenyum sinis. “Maaf, Mr. Brown, calon istriku bukan barang taruhan.”


TAP JEMPOL KALIAN DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤❤❤


TERIMA KASIH


CHERRY