
TAP JEMPOL KALIAN SEBELUM MEMBACA PLIS!
Mike dengan gerakan lembut menjauhkan lengan Helena yang melindungi dadanya. “Biarkan aku melihatmu,” katanya dengan suara parau.
Helena merasa sangat malu, ia tahu wajahnya telah merah padam melebihi warna mobil pemadam kebakaran kerena ini adalah pertama kalinya ia tidak mengenakan apa pun di depan seorang pria.
Telapak tangannya meraih dagu Helena, tatapan mereka beradu sesaat. Bibir Mike mendarat di bibir Helena menghisapnya perlahan, seolah menyesap anggur yang berharga sangat mahal. Mendesakkan lidahnya untuk menyentuh lidah Helena. Menikmati rasa manis dari bibir Helena.
Erangan halus keluar dari tenggorokan Helena, ia mencengkeram erat bagian pinggang pakaian yang di kenakan Mike. Yang jelas saat ini Helena merasakan sel-sel dalam tubuhnya membengkak. Sesuatu di dalam dirinya tidak biasa, terlebih lagi telapak tangan Mike mencengkeram kedua bokongnya meremasnya perlahan. Sensasi liar yang menyengat seolah mengaliri darahnya.
Ia menginginkan sentuhan itu di sekujur tubuhnya.
“Helena....” Mike seolah merintih ketika tautan bibir mereka terlepas. Pria itu menyatukan kedua kening mereka membuat embusan napas Mike menyapu hangat kulit wajah Helena.
Mike tiba-tiba mengangkat bokong Helena, membawanya keluar dari kamar mandi. Membaringkannya di atas tempat tidurnya yang luas.
“Aku tidak bisa menunggu beberapa hari lagi,” ucap Mike. Tubuh Helena terlalu menggoda. Mike menatap Helena bak predator yang sedang mengintai mangsanya.
Helena hanya bungkam, ia telah siap. Ia telah mendamba Mike sejak lama, bukan untuk waktu satu atau hari.
Mike kembali mencumbu bibir Helena, memanjakan lidahnya menyesap rasa manis dari calon pengantinnya. Ciuman mereka panas dan penuh gairah. Bibir hangat Mike berpindah di kulit leher Helena, perlahan bibirnya bergerak ke bawah menelusuri dada Helena. Memberikan beberapa tanda merah di sana kemudian mendarat di atas puncak dada Helena yang berwarna pink. Menggigitnya perlahan lalu menghisapnya.
Helena melenguh, nyaris menjerit. “Mike...,” erangnya.
“Katakan apa yang kau inginkan?”
Helena tidak menjawab. Ia hanya menatap Mike dengan tatapan berkabut gairah.
Bibir Mike menyapu perut Helena di mana tato bergambar kupu-kupu. “Di mana kau membuat tato ini?” tanya Mike sambil sebalah tangannya mengelus paha Helena kemudian sedikit merentangkan paha Helena.
“Itu... aku....” Helena terkesiap karena ujung jemari Mike menyentuh bagian paling sensitif dari dirinya.
“Katakan di mana kau membuatnya?” Mike membelai bagian itu dengan cara yang sangat sensual membuat punggung Helena melengkung.
“Mike... aku....”
“Hmmm....”
“Itu di buat bersama Wilona saat kami di H-hawaii...,” kata Helena.
Mike membelai bagian sensitif Helena yang terasa basah, ia bermaksud memasukkan satu jemarinya tetapi ia mengurungkan niatnya. “Sayang, apa kau pernah melakukan ini sebelumnya?” Mike bertanya sambil mendekatkan wajahnya mendekati Helena.
Helena hanya menggelengkan kepalanya, wajahnya tampak merah merona. Ia adalah gadis polos yang tidak memiliki waktu untuk menjalin cinta karena kesibukannya.
Api kebahagiaan Mike tampak menyala di matanya. Ia akan bercinta dengan seorang perawan rupanya. “Aku akan menunggu,” katanya.
Berbeda dengan Mike, kekecewaan justru tampak di mata Helena. “K-kita tidak jadi?”
Mike mendaratkan kecupan di kening Helena. “Istirahatlah, besok kita akan memilih gaun penganti dan mendatangi Gereja,” ucapnya sambil merebahkan tubuhnya di samping Helena.
“Apa kau kecewa karena aku tidak berpengalaman?” tanya Helena lirih di balik dada Mike.
“Jangan berpikir macam-macam,” jawab Mike.
Aku ingin mengambilnya dengan cara yang terhormat.
***
Pagi harinya Mike membuka matanya, sejak bertahun-tahun yang lalu ia tidak pernah menemui wanita di atas ranjangnya. Hari ini seorang wanita berada di atas ranjangnya. Posisi mereka masih sama seperti tadi malam, Helena juga masih tidak mengenakan apa pun di tubuhnya. Mike tahu hari telah beranjak siang tetapi ia masih enggan untuk berpisah dengan tempat tidurnya terlebih lagi di dalam pelukannya ada Helena.
Menyenangkan. Ya, sudah lama ia tidak pernah merasakan hal yang menyenangkan seperti ini. Kembali memiliki keluarga memang penawar dari rasa sakit yang diam-diam terkadang masih merasuki sudut hatinya. Dari pada pergi bekerja sepertinya memejamkan matanya beberapa menit lagi sambil memeluk calon istrinya adalah pilihan paling tepat.
***
“Jadi Mike masuk ke dalam kolam renang berisi air dingin selama tiga jam demi mendapatkan flu?” Prilly tertawa mendengar cerita yang di tuturkan Alexander.
Mereka berdua membicarakan Mike yang baru saja mengirimkan kabar akan menikah lusa bersama Helena. Mereka berdua berbicara seolah tidak ada beban apa pun di masa lalu.
“Jadi bagaimana Mommy? Apa kita akan pergi ke New York untuk menyaksikan pengambilan sumpah pernikahan mereka atau tidak?” tanya Alexander. Tatapan matanya tak lepas dari Alexa yang berada di dalam gendongannya.
“Hubby, Alexa masih terlalu kecil. Aku tidak tega membawanya meski kita menggunakan pesawat pribadi,” ucap Prilly.
“Kau benar Mommy, biarkan Anne dan Harun mewakili kita bagaimana?”
“Ide yang bagus. Apa kau tahu kapan mereka mengadakan resepsi pernikahan?”
“Yang aku dengar mereka tidak akan menggelar pesta pernikahan,” jawab Alexander.
“Kenapa?”
Alexander mengalihkan pandangannya kepada Prilly, istrinya tercinta tanpa menjawab pertanyaannya.
“Karena Grace dan Sidney?” tanya Prilly memperjelas.
Alexander mengangguk.
“Apa Helena tidak masalah? Maksudku ini pernikahan pertamanya,” kata Prilly lirih. Seolah-olah ia merasa tidak nyaman. Begitu banyak orang yang terseret ke dalam masalahnya.
“Hentikan pikiran berlebihanmu itu, sayangku.” Alexander tahu, istrinya sedang menyalahkan dirinya.
Prilly menghela napasnya pelan kemudian mengembuskannya. “Kalau begitu, bisakah kita memberikan hadiah pernikahan yang pantas untuk mereka?”
TAP JEMPOL KALIAN ❤️ DAN JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KOMENTAR ❤❤
TERIMA KASIH ❤️
🍒🍒🍒🍒