
Bruuug...!
Alexander nyaris tersungkur.
“Kakak apa yang kau lakukan?” Pekik Prilly, ia segera membantu suaminya berdiri.
“Sayang apa-apaan kau?” Nada suara Linlin juga meninggi.
“Prilly, apa kau tahu? Suamimu ini menipumu! Pria ini ba**ngan!” Suara Anthony penuh penekanan.
“Menipu?” tentu saja Prilly bingung.
“Ya, menipumu,” desis Anthony.
“Kita bisa berbicara baik-baik, kau telah berjanji untuk tidak emosi tadi." Suara Linlin juga semakin meninggi karena panik.
Alexander memegangi perutnya yang terkena tinju dari kakak iparnya, ia juga merasa bingung dengan yang sedang terjadi, ia sama sekali tidak mengerti apa salahnya.
“Hubby, apa sakit?” Prilly membantu suaminya duduk.
“Tidak sayang, aku baik-baik saja,” jawab Alexander meski wajahnya meringis menahan sakit.
Prilly menelan ludahnya, ia sama sekali tidak menoleh kepada kakaknya, ia sedang berusaha menata emosinya. “Linlin tolong bawa pergi kakakku dari rumah kami, Aku bisa saja melaporkannya menganiaya suamiku,” ucapnya dengan nada rendah.
“Prilly, kau terlalu polos, kau bahkan mengusir kakakmu?" Anthony kembali terbakar emosi mendengar ucapan adiknya.
Prilly memejamkan matanya, menghela nafasnya dalam-dalam, satu jam yang lalu mereka berbincang di tepi kolam renang sambil menyesap teh menikmati sore mereka, dan tiba-tiba kakaknya memukul suaminya, tentu saja Prilly tidak bisa menerima perbuatan kakaknya. “Linlin bawa kakakku pergi sebelum aku melaporkan perbuatannya,” ucapnya sekali lagi.
“Sayang, ayo tenangkan dirimu, kita kembali.” Linlin mencoba membujuk suaminya.
“Alex, aku akan kembali, akan kutembak otakmu, seperti kata-katamu!” seru Anthony dengan suara lantang.
Alexander masih diam sambil memegangi perutnya, sementara Linlin benar-benar harus menyeret suaminya untuk meninggalkan tempat itu.
Alexander tampak menghela napasnya dan mengendurkan otot di perutnya yang tentu saja terasa nyeri, tinju Anthony sangat keras mengenai perutnya yang sama sekali tidak siap menerima serangan.
“Tunggu!” Alexander membuka suaranya. “Ayo bicarakan masalah ini, sekarang.”
Anthony menghentikan langkahnya dan berbalik dengan kasar, Prilly segera berdiri di depan tubuh suaminya dan memasang wajah dingin. “Jangan pernah menyentuh suamiku lagi,” ucapnya dengan nada dingin, ia tahu kakaknya itu belum puas memukul Alexander.
“Otakmu di burakan cinta ya?” ejek Anthony.
“Ya, aku sangat mencintai suamiku,” ucap Prilly dengan nada tegas.
“Kau salah menilainya, ia bahkan menceraikan wanita hamil, suamimu itu bre**sek, ia tidak berperasaan,” cerca Anthony.
Prilly tersenyum lalu berbalik dan membelai rambut suaminya, “tidak ada yang tidak kuketahui, semuanya tidak seperti yang kau kira,” ucap Prilly. “Setidaknya kau bertanya sebelum menyimpulkan,” lanjutnya.
“Sejak kecil kau gemar sekali menutupi kesalahan pria itu,” sinis Anthony.
“Ya, karena ia lebih sering bersamaku di banding denganmu,” jawab Prilly sambil memeluk kepala Alexander.
“Prilly, ia bisa saja meninggalkanmu lagi,” kata Anthony, kedua kakak beradik itu berdebat.
“Alex tidak pernah meninggalkan aku, tidak pernah dan tidak mungkin, asal kalian tahu anak yang di kandung Jovita bukan anak Alex, kami juga baru mengetahui Jovita hamil beberapa hari sebelum kami menikah, tapi yang pasti itu anak Charles.” Prilly menjelaskan sedikit permasalahan yang membuat kakaknya meradang.
“Apa katamu?”
“Ceritanya panjang, tapi sebaiknya kau meminta maaf kepada suamiku, kau telah menyakitinya,” kata Prilly dengan nada dingin.
“Tidak perlu,” kata Alexander sambil mengecup ujung jemari wanita pujaannya.
Anthony duduk di depan Alexander, sementara Prilly dan Linlin kedua wanita itu menjauh memberikan ruang untuk kedua sahabat yang bersitegang, cukup lama mereka tenggelam dalam kebisuan.
“Bagaimana bisa Charles menghamili mantan istrimu?” Anthony membuka pembicaraan, menyingkirkan kebekuan di antara mereka. “Ceritakan.” Pinta Anthony.
“Bagaimana bisa?”
Alexander menunjukkan video rekaman kamera pengintai kepada Anthony, ia menceritakan dengan detail kronologi kejadian yang terjadi.
“Sebenarnya Jovita memintaku menemaninya memeriksakan kandungannya, tapi itu tidak mungkin, aku tidak bisa pergi tanpa Prilly, dan aku juga tidak bisa pergi membawa Prilly, kau tahu kan kejadian dua bulan yang lalu, mereka akan bertengkar jika bertemu, itulah sebabnya aku mengutus Harun,” kata Alexander.
“Aaargghh...!” Anthony meremas rambutnya dengan kedua telapak tangannya dengan frustrasi. “Kenapa tidak memberitahunya? Wanita itu sekarang sangat sombong, ia pasti mengira kau menghamilinya, ia besar kepala, ia kira dengan anak itu ia bisa menyetirmu kelak, kau harus jujur kepadanya.”
“Aku tidak memiliki cara, aku juga merasa bingung,” Alexander mengusap-usap sebelah alisnya.
“Bagaimana dengan Charles?”
“Charles beberapa kali menemuinya,” kata Alexander.
“Dari mana kau tahu?”
“Danny melaporkan semua kepadaku, bagaimanapun juga Danny orangku,” Alexander memang mengutus Danny dengan dalih membantu mengurus perusahaan, Alexander memprediksi Jovita bisa saja akan melakukan hal konyol karena sakit hati.
“Apa yang mereka bicarakan?” Anthony menyilangkan kakinya dengan anggun, ketegangan di antar keduanya telah menguap, lenyap bersama udara yang mereka hirup.
“Itu masalahnya, Danny tidak bisa mengorek itu.”
“Godame shit...!” maki Anthony.
“Kami akan mengadopsi anak itu jika Jovita tidak menginginkannya,” Alexander memberi tahu.
“Bodoh! Wanita itu akan menggunakan anak itu sebagai tameng untuk merongrongmu jika ia tidak segera kau beri tahu, itu yang aku baca." Anthony memyampaikan analisanya.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya, sungguh, ia adalah korban pemerkosaan, aku juga bersalah, aku mengajaknya meminum anggur hingga ia mabuk kemudian meninggalkannya di dalam kamar, dan aku kau tahu sendiri, aku tentu saja lebih memilih bersama adikmu yang membuatku nyaris gila itu.” Aku Alexander.
“Begitu banyak gadis cantik di London, tapi matamu tertutup oleh adikku,” sinis Anthony.
“Salahkan adikmu yang terlalu menawan dan pandai mengambil hatiku juga kedua orang tuaku,” jawab Alexander dengan nada sangat santai.
“Keluarga Smith memang menakjubkan, bukan?” Anthony mengangkat sebelah alisnya.
“Terkecuali kau,” jawab Alexander dengan nada acuh.
“Cih...” Anthony berdecih malas.
“Kau belum meminta maaf kepadaku,” Alexander mengingatkan sahabatnya yang telah seenaknya saja memukulnya.
“Lebih baik kau pukul aku dua kali dari pada aku meminta maaf padamu,” jawab Anthony dengan nada malas.
“Satu buah Patek Philiphine & Co cukup untuk membayar satu pukulan,” kata Alexander sambil menyandarkan punggungnya di bangku dan meluruskan kaki panjangnya, ia juga menyilangkan tangannya di belakang keplanya.
“Lebih baik kau memanggangku di atas tungku api neraka,” jawab Anthony sinis. “Bagaimana dengan sebotol sampanye?”
“Tidak buruk," jawab Alexander.
Kedua sahabat itu mengakhiri pertikaian mereka dengan segelas sampanye di pinggir kolam renang malam itu, mereka berbincang banyak tentang bisnis hingga melupakan mencari solusi untuk masalah Jovita.
Sementara Jovita ia sedang membuka laptopnya sambil tersenyum.
“Alexander, tunggu saja,” gumamnya yang di angguki oleh seseorang yang duduk tepat di depannya.
TAP JEMPOL KALIAN ❤❤❤❤
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤❤❤❤
TERIMA KASIH ❤❤❤❤