
Jovita kita baru saja selesai memakan sarapannya ketika hell pintu apartemen tempat tinggalnya berbunyi, ia bergegas membuka pintu tempat tinggalnya, ia hampir tidak percaya melihat siapa yang berdiri di depannya, Harun berdiri di depan pintu tempat tinggalnya bersama Danny, ‘bukankah Danny seharusnya berada di Singapura?’ batinnya bukankah Dani seharusnya sibuk dengan semua tugas yang diberikan kepadanya.
“Selamat pagi,vMadam,” sapa Harun dengan sopan, pria itu masih saja tampak bingung harus memanggil Jovita apa karena Jovita bukan lagi nyonya besarnya. “Sir Alexander meminta saya membawa anda untuk bertemu dengannya,” katanya.
“Alexander—“ Jovita bergumam.
“Ya, sir Alexander ingin bertemu dengan anda.” Harun menegaskan.
“Tapi, aku tidak memiliki urusan lagi dengannya." Jovita tampak sedikit mengelak.
“Maaf, sir Alex mengatakan bagaimanapun caranya saya harus bisa membawa Anda ke depan Sir Alex,” kata Harun dengan nada tegas.
“Bukankah Alexander yang memiliki kepentingan denganku? Mengapa bukan dia aaja yang datang kemari?” kata Jovita dengan nada angkuh.
“Maaf, saya hanya menjalankan perintah,” kata Harun.
“Danny, untuk apa kau berada di sini bukankah kau seharusnya mengerjakan pekerjaanmu di Singapura?” Jovita mengerutkan keningnya sambil tetapannya mengarah kepada Danny dengan tatapan tidak suka.
“Saya bekerja untuk Sir Alexander bukan untuk Anda, saya mematuhi perintahnya bukan mematuhi perintah Anda,” jawab Dani dengan nada datar.
“Maaf Madam, Anda bisa memilih ikut dengan sukarela atau kami memaksa Anda,” ucap Harun dengan nada datar.
“Baiklah aku akan ikut apa katamu, Harun. Jangan coba-coba memaksaku karena aku mengandung anak Alex, sedikit saja kalian menyakitiku, aku tidak yakin Alexander akan mengampuni kalian,” kata Jovita dengan nada angkuh.
“Kami tidak akan menyakiti Anda selama Anda patuh,” kata Harun dengan sopan.
Akhirnya Jovita menurut mengikuti kedua pria yang membawanya, ternyata Harun dan Dani membawa Jovita ke tempat tinggalnya yang lama.
Di sana tampak Alexander sedang duduk di atas sofa dengan gaya angkuh seperti seorang raja, itu memang gaya khas Alexander, Jovita sudah tidak heran melihat cara duduk Alexander yang seperti itu, cara duduk seorang raja yang angkuh dingin dan kaku seperti saat pertama kali Jovita mengenalnya.
“Apa kabar, Jovita?” Alexander bertanya kepada Jovita setelah beberapa detik Jovita duduk, pria itu bertanyadengan nada dingin dan datar, tatapan matanya menatap Jovita dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Kau tahu Jovita untuk apa Aku memanggilmu?” Alexander menatap Jovita dengan tatapan dingin.
Jovita hanya mengeratkan bibirnya.
“Aku yakin kau sudah tahu, bukankah kau ingin membangkrutkanku dalam waktu singkat?” Tatapan mata Alexander semakin tampak dingin.
Jovita hendak membuka mulutnya, namun Alexander lebih dulu melanjutkan kalimatnya. “Kau salah Jovita, kau tahu siapa aku, tidak semudah yang kau kira, bukankah kau mengenalku selama enam tahun?” tatapan mata Alexander begitu dingin dan mematikan seolah Jovita adalah musuh tidak ada belas kasih sedikit pun di sana.
“Seharusnya kok memiliki keadilan, aku hamil, aku menanggung semuanya sendiri dan bayi yang aku kandung adalah anakmu tapi kau sama sekali tidak peduli. Ya Tuhan, kau sama sekali tidak peduli kepadaku, tidak, bukan untukku tetapi untuk anakmu,” kata Jovita dengan tatapan penuh harap.
Alexander menghela napasnya dengan pelan kemudian mengembuskannya. “Jovita, ada sesuatu yang harus kau tahu, sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu masalah ini, hanya saja kau memiliki niat yang begitu buruk kepadaku belakangan ini, ternyata Tuhan yang memperlihatkan bagaimana wujud aslimu, Aku tidak ingin membandingkanmu dengan Prilly, tetapi Prilly memang pantas dicintai. Ketika aku melakukan hal buruk kepadanya, dia tidak pernah sama sekali berusaha untuk membalasku,” ucap Alexander sambil mengusap dagunya.
Jovita menelan ludahnya. “Prilly memiliki segalanya sedangkan aku? Aku berbeda, aku hanya menginginkan sedikit perhatianmu untuk anak kita,” kata Jovita dengan nada tidak suka, bagaimana pun di dunia ini benar atau salah tidak ada wanita yang suka dibanding-bandingkan.
“Menginginkan perhatianku tidak harus dengan melakukan cara yang seperti itu, cara keji tidak akan menghasilkan apa-apa, kau bersamaku di masa lalu, berapa kali aku melakukan cara keji kepada Prilly, buktinya Aku tidak mendapatkan apa pun dari cara keji yang kulakukan. Jovita hidup ini pembelajaran, kita harus belajar dari masalah yang kita hadapi.” Alexander memberikan petuah bijak kepada mantan istrinya meskipun ia tidak pandai merangkai kata.
“Lalu harus bagaimana? Kau hanya memikirkan Prilly dan anak-anaknya, sedangkan aku? Aku juga mengandung anakmu, kau menceraikanku, kau membuangku demi wanita itu." Jovita tampak mulai emosi.
Alexander memijit pelipisnya yang tidak terasa sakit, ia juga memejamkan matanya beberapa detik kemudian membukanya kembali, membasahi bibirnya dengan lidahnya lalu mengatur napasnya. Perlahan ia mulai berbicara. “Jovita, dengan berat hati aku harus memberitahumu. Sejak awal aku ingin mengakui anak yang kau kandung itu sebagai anakku, awalnya begitu tetapi semua yang kau lakukan seolah ingin memanfaatkan bayi yang ada di rahimmu untuk menyerangku, untuk memanfaatkanku, sampai batas ini akhirnya aku tidak bisa lagi memberikanmu toleransi, kalau bertindak terlalu jauh Jovita." pria itu mencoba berbicara sebaik mungkin. “Dan kau tahu, aku tidak suka menyukai orang yang berusaha menghianatiku, aku juga tidak menyukai orang yang bertindak di luar kehendakku sementara ia ada di bawahku.”
Alexander menatap wajah Jovita yang tampak bingung mencerna apa yang sedang Alexander coba sampaikan. “Apa yang sedang ingin kau katakan? Jangan bertele-tele." Jovita menyipitkan kedua matanya.
“Bayi yang kau kandung itu adalah milik Charles.” Alexander berhenti sejenak, matanya masih menatap wajah Jovita, memperhatikan ekspresi wanita di depannya yang tampak terkejut hingga bola matanya bahkan membesar.
"Maksudmu?" Mulut Jovita juga ternganga lebar.
KEMARIN DI KASIH 3 CHAPTER PADA GAK KASIH LIKE YANG DI LIKE CUMA PART TERAKHIR, SEDIH AKUTUUUHHHHH ,😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭