
Alexander kembali ke mansion di mana Prilly tinggal, saat memasuki kamar ia melihat bantal berserakan di lantai, sambil tersenyum Alexander memunguti bantal dan membawa bantal-bantal itu menaruhnya di sofa agar besok pelayan mengganti sarung bantalnya, Prilly ternyata tidak berubah ia masih saja kekanakan, setiap merasa marah padanya ia kan melempar bantal-bantal ke lantai dan itu hanya jika ia marah pada Alexander, ia tidak pernah melakukan hal itu pada orang lain. Ia mendekati wanita yang paling ia cintai, wanita yang telah mengakui bahwa ia mulai menyukai Alexander.
Alexander duduk sambil memandangi wajah Prilly yang tampak resah, kerutan alisnya begitu dalam dan tampak ada jejak air mata yang telah mengering di wajahnya.
Alexander mengecup kening Prilly dengan pelan, merebahkan tubuhnya di samping Prilly lalu membawa wanita pujaannya ke dalam pelukannya. Perasaannya kini sangat berbunga-bunga selama satu minggu ini, sejak ia kembali dari Barcelona.
Alexander Johanson by Instahram #zaceffan
Flash back on.
Prilly terbangun karena suara nafas Alexander begitu dekat di lehernya, terlebih lagi sesuatu yang sangat keras menempel di perutnya.
“A-alex, apa yang terjadi?” Prilly berusaha meronta.
“Jangan bergerak sayang,” geram Alexander sambil mengeratkan pelukannya.
“Apa yang kau lakukan?” pekik Prilly.
“Tidak ada, jangan bergerak, aku sedang tersiksa,” geram Alexander.
“Kau mesum Alex?!”
“Hmmmm.”
“Apa Jovita telah kembali?”
Alexander tidak menjawab ia justru mengecup leher Prilly.
“Kau bisa melakukan bersama istrimu,” kata Prilly sambil berusaha menghindari kecupan dari Alexander .
Alexander mengendurkan pelukaannya, bahkan benda tumpul yang mengeras di balik celana kain yang di kenakan Alexander juga melemah, ia juga menghentikan cumbuannya pada leher Prilly.
Prilly memalingkan wajahnya, entah mengapa ia merasa kesal, beberapa hari di New York bersama Alexander dan perlakuan manis Alexander di sana membuat ia sepertinya mulai bisa menerima kehadiran mantan suaminya.
“Kembalilah Jovita pasti mencarimu,” guman Prilly dengan nada kesal.
“Jovita ada di Singapura,” kata Alexander sambil meraih dagu Prilly agar kembali menghadap ke arahnya.
Prilly menatap kesal pada Alexander, pandangan mata mereka beradu cukup lama, Alexander mengecup bibir Prilly dengan lembut, tanpa di duga oleh Alexander, Prilly membalas kecupannya membuat kecupan bersambut itu berubah menjadi ciuman panas yang penuh dengan decap-decapan liar dan erangan yang keluar dari bibir Prilly, tangan Alexander menelusuri kulit di balik pakaian yang di kenakan Prilly, menyentuh dengan penuh perasaan gundukan yang masih terbungkus kain bra.
Sentuhan Alexander yang begitu lembut seperti membangkitkan jiwa liar Prilly, Prilly menginginkan Alexander, dan ia sepenuhnya sadar siapa yang di inginkan oleh tubuhnya, Alexander mantan suaminya yang kini masih menjadi suami wanita lain.
Tangan Prilly secara alami juga menuju sebuah benda tumpul dibalik celana Alexander.
Ciuman di bibir mereka semakin dalam, ini pertama kali Prilly dan Alexander melakukan hal seperti ini dalam keadaan sadar tanpa pengaruh Alkohol pada Prilly.
“Alex,” erang Prilly.
“Apa boleh aku melakukannya sayang?” tanya Alexander, pakaian yang mereka kenalan telah terlepas dari tubuh mereka.
Prilly masih memejamkan matanya, ia mengangguk, “aku ingin dirimu,” erangnya.
“Sayang lihat aku, aku Alex, Alexander,” Alexander tidak ingin Prilly melihatnya sebagai Mike lagi.
Prilly membuka matanya, telapak tagannya mengelus wajah Alexander yang berada di atas tubuhnya dengan sangat lembut. “Aku sadar, aku tahu kau Alexander.”
“Apa kau tidak menyesal nanti?”
“Aku tidak tahu,” jawab Prilly lirih.
Alexander menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Prilly.
“Kita bisa lakukan nanti, saat kau siap, saat kau telah yakin padaku, saat kau telah sepenuhnya membuka hatimu untukku.”
“Alex, apa aku ini ****** bagimu?” tanya Prilly dengan nada pelan dan terdengar putus asa.
“Kenapa bertanya lagi? Kau orang yang paling kucintai di dunia ini, kau ibu dari anak-anakku, bagaimana kau menjadi jalangku?” Alexander menjawab sambil meraih pinggang Prilly.
“Kau memiliki Jovita.”
“Ini antara kau dan aku, tidak ada wanita lain.” Bibir mereka kembali bertemu, bercumbu penuh kerinduan dan kelembutan yang dalam hingga pasokan udara di sekitar mereka menipis dan mereka mengakhiri ciuman mereka.
Prilly menyembunyikan wajahnya didada bidang Alexander sambil mengatur nafasnya.
“Maaf,” kata Alexander pelan.
“Alex kau harus bertanggung jawab,” Prilly terisak.
“Maaf,” kata Alexander lagi. “Aku pasti mempertanggung jawab untuk kita, kita akan bersama seumur hidup kita.”
Alexander meminta maaf untuk apa yang ia lakukan pada Prilly, ia memaksakan dirinya masuk ke dalam kehidupan Prilly dan mungkin ia masuk kedalam hati Prilly seperti badai yang menerjang perasaan Prilly hingga memporak-porandakan pertahanannya selama ini.
“Aku sepertinya mulai menyukamu.” Isak Prilly. “Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi Jovita nanti, kau harus bertanggung jawab karena kau yang menggodaku!”
“Kita pikirkan bersama lagi nanti, aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk kau dan anak-anak kita.” kata Alexander sambil mengecup kening Prilly.
“Mulai sekarang kau adalah milikku, patuhlah padaku.”
Prilly mengangguk.
Flash back Off
Pagi hari Prilly terbangun di dalam pelukan Pria yang tadi malam ia tangisi, ia dengan kesal mendorong tubuh Alexander.
“Tidur dengan kekasihku,” guman Alexander.
“Kenapa kau kembali ke sini? Apa istrimu tidak mencarimu?”
“Kau sedang cemburu?”
“Omong kosong! Aku tidak cemburu!” nada suara Prilly meninggi.
“Iya, kau tidak cemburu, tapi hanya berprasangka buruk,” kata Alexander menggoda mantan istrinya sambil menarik hidungnya.
“Alex, sakit!” keluh Prilly.
“Mulai sekarang panggil aku sayang, hubby atau darling,” pinta Alexander.
“Kau narsis,” ucap Prilly dengan nada ketus.
“Kau kekasihku, calon istriku, ibu dari anak-anakku, aku ingin kau memanggilku dengan cara yang mesra.”
Prilly hanya mencubit pinggang Alexander dengan pelan, wajahnya merona merah.
“Seharusnya aku mengejarmu seperti ini sejak dulu.”
“Sesal tidak berguna,” kata Prilly.
“Baiklah tuan putriku, maafkan aku tadi malam membuatmu cemburu,” kata Alexander masih dengan nada menggoda penuh kemenangan di wajahnya.
“Jadi, benar Jovita datang?”
“Kakak iparku mengundangku untuk datang ke tempat tinggalnya,” jawab Alexander dengan santai.
“Kakak ipar?”
“Anthony,” jawab Alexander.
“Kau terlalu percaya diri. Lagi pula, siapa yang akan menikah denganmu,” cibir prilly.
“Mommy William, Leonel dan Grace akan menikah kembali dengan Daddy mereka, Alexander Johanson. Itu pasti.”
“Apa kau sudah bertanya pada Mommy mereka?”
“Aku yakin mommynya sangat setuju,” jawab Alexander percaya diri dan sukses membuat rona merah di wajah Prilly semakin memerah.
“Mulai sekarang, berjanjilah, jangan ada yang kita tutupi, bicarakan semua dengan baik.” Alexander mengambil telapak tangan Prilly dan menggenggamnya.
Prlily mengangguk setuju.
Alexander tampak menghela napas lega. “Baiklah. sekarang apa yang harus kita lakukan?” tanya Alexander dengan seringai menggoda.
“Lebih baik kita tidur,” jawab Prilly sambil mengubur kepalanya di dalam selimut.
“Jangan bersembunyi,” kekeh Alexander.
“Kau membuatku malu,” sungut Prilly.
“Jadi kau akan memanggilku apa?”
“Tidak ada yang berubah!” kata Prilly dari balik selimutnya.
Alexander menarik selimut yang menutupi kepala mantan istrinya.
“Aku akan memanggilmu sayang,” kata Alexander.
“Aku akan memanggilmu, Alex,” ucap Prilly diiringi tawa mengejek.
“Kau berani mengejekku, Mommy?”
“Aku... tidak,” elak Prilly.
“Panggil aku, Hubby,” pinta Alexander.
“Kau bukan suamiku.”
“Ayo pergi ke Barcelona,” ajak Alexander tiba-tiba.
“Untuk apa?”
“Menikah.”
UWOOOOOOO 😉😉😉😉
WALAUPUN NITIZEN BERKATA TIDAK 😅😅😅
KALAU CINTA SUDAH BERSABDA 😎😎😎
HAAHAHAHAHHA
UNTUK NEXT CHAPTER HARIAN BOCORANNYA ADA DI INSTAGRAM STORY AUTHOR, SILAHKAN FOLLOW AKUNNYA
👉👉👉 @reevi.chan
TAP JEMPOL KALIAN PLISH 😚😚😚💖💖💖💖💖