
Terengah engah kedua insan itu menyudahi ciuman panas mereka, Prilly segera membuang wajahnya lalu mendorong tubuh Alexander, ia meninggalkan mantan suaminya menuju kamarny lalu Prilly mengubur tubuhnya dengan selimut.
Ia merasa sangat kesal karena tubuhnya selalu bereaksi setiap kali Alexander menyentuhnya, tidak di pungkiri ia rindu sentuhan pria tetapi kenapa harus mantan suaminya? Kenapa harus dia?
Kenapa tubuhnya tidak sabar menunggu Mike kembali?
'Apakah Mike akan kembali?' tanya Prilly pada dirinya sendiri dan ia mulai meragukan keyakinannya yang telah ia bangun selama tiga tahun.
Hingga tidak terasa satu minggu sudah Alexander tinggal bersama Prilly dan ketiga anak Prilly, setiap malam Alexander tidur di kamar William dan Leonel, membuat Grace cemburu dan akhirnya selama satu minggu juga Grace tidur di kamar Prilly karena kamar William dan Leonel tidak bisa menampung dirinya.
Monday, 07.00 am
Prilly sedang menyisir rambutnya pagi itu ketika pintu kamarnya di buka secara tiba-tiba, Alexander dengan tubuh tingginya yang menjulang memasuki kamar Prilly, sepintas Alexander dan Mike memiliki ukuran tubuh yang sama dan warna rambut juga sama, hanya wajah dan warna manik mata yang berbeda tetapi percayalah, sulit membedakan mana yang lebih tampan di antara keduanya.
“Prilly, hari ini Jovita kembali, malam ini aku tidak bisa pulang ke sini,” kata Alexander sambil memeluk pinggang Prilly.
“Baguslah, aku juga bosan melihatmu di sini.” Prilly dengan acuh terus menyisir rambut pendeknya.
“Kau tidak cemburu?” goda Alexander.
“Hanya ada dalam mimpimu, aku tidak mungkin cemburu.”
Alexander mengecup leher Prilly, memberikan beberapa kiss mark samar-samar di sana, tanpa sadar Prilly menggeliat dan mere**s rambut di kepala Alexander.
“Alex, hentikan,” Erangnya.
“Aku mencintaimu, Prilly.” Alexander membisikkan sebuah kalimat sakral ditelinga Prilly dengan lembut, sontak kalimat itu membuat tubuh Prilly menegang, bulu kuduknya meremang, ia tiba-tiba merasa gugup.
“Alex, hentikan omong kosongmu.” Prilly membebaskan tubuhnya dari kungkungan lengan Alexander dan meraih tas tangannya, ia bergegas berlari keluar dari kamarnya dan meninggalkan tempat tinggalnya menuju perusahaannya.
Sesampainya di perusahaan Prilly menyibukkan dirinya dengan dokumen dan laptopnya, Anne yang melihat kisa mark di leher Prilly mengu*lum senyumnya seolah-olah ia tahu segalanya.
Apalagi ketika Alexander berdiri di depan meja kerjanya menegang seikat bunga di tangannya Anne semakin yakin tebakannya tidak salah, Prilly dan Alexander dalam hubungan terlarang!
“Anne, apa prilly ada di ruangannya?”
“Masuklah, istrimu ada di dalam,” jawab Anne dengan santai.
“Sekali lagi kau membawa Prilly ke club kau akan kupecat.” Alexander tiba tiba memperingatkan Anne dengan nada dingin.
“Oh, aku takut sekali.” Anne terkekeh sambil mengamati leher Alexander siapa tahu ia juga memiliki kiss mark.
Menyadari Anne mengamati dirinya dengan tatapan mata ingin tahu yang tampak jelas, Alexander bertanya. “Apa yang kau cari?”
“Aku mencari gigitan serangga di lehermu,” jawab Anne disertai seringai mengejek tetapi tidak dihiraukan oleh Alexander.
Ketika Alexander membuka pintu ruangan kerja Prilly, tampak wanita itu terkejut melihat siapa yang datang.
“Kau?” Prilly menekan pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut, mantan suaminya kenapa menjadi penguntit yang menyebalkan?
“Jangan besar kepala, aku hanya mengantarkan barangmu, kau berlari dariku seolah aku penjahat yang akan memakanmu.” Alexander mengambil benda dari dalam saku celanya dan meletakkan benda yang tak lain adalah ponsel milik Prilly yang di tinggalkan di meja riasnya.
“Terima kasih,” kata Prilly ketus, ia bahkan tak mengingat ponselnya sama sekali.
“Baik, sampai jumpa, Mommy.” Alexander menatap nakal pada Prilly, Prilly masih mempertahankan wajah dinginnya sambil ekor matanya melirik buket bunga yang berada di genggaman tangan Alexander dan sayangnya Alexander melihat ke mana ekor mata Prilly mengarah.
“Oh, bunga ini untuk Jovita, ia telah sampai di perusahaan terlebih dulu," Kata Alexander dengan nada penuh kemenangan.
Begitu Alexander menutup pintu Prilly meraih sebuah binder yang berada terdekat dari jangkauan tangannya dan melemparkan benda itu sekuat tenaga dan dengan emosi penuh ke arah pintu, hingga terdengar bunyi, Braaaakkk!
Sayangnya, binder itu terpental kembali ke arahnya dan sudut binder mengenai keningnya sendiri, penderitaan Prilly belum berakhir karena ternyata Alexander kembali ke ruangannya dan melihat Prilly sedang memegangi keningnya.
“Suara apa tadi?” tanya Alexander dengan wajah tegang.
“Coba kulihat keningmu.” Alexander melepaskan telapak tangan Prilly yang menutupi keningnya. Ia melihat kening Prilly tampak memar, Alexander membuang buket bunga ditangannya. “Ayo ke rumah sakit.”
“Ini hanya luka kecil, aku tidak perlu rumah sakit, Anne bisa mengobatiku.” Prilly dengan kasar menepis lengan Alexander agar menjauh.
“Jangan keras kepala! Ini terlalu dekat dengan mata, kenapa kau bodoh sekali?” Alexander menggelengkan kepalanya.
“Ini hanya terkena ujung buku,” gumam Prilly.
Alexander melirik binder yang tergeletak di lantai tepat di bawah samping kursi di mana Prilly duduk. Pria itu tertawa geli namun tidak mengeluarkan suara, bahu Alexander terguncang. “Apa yang ada di kepala cantikmu ini nyonya Johanson?” tanya Alexander sambil mengangkat gagang interkom di meja prilly dan meminta Anne membawakan kotak P3K.
Setelah selesai mengoleskan salep anti memar di kening Prilly, Alexander mencuci tangannya, ia melirik arloji di pergelangan tangannya lalu memanggil Harun, tidak lama kemudian beberapa kotak makan siang datang ke ruang kerja Prilly, mereka berdua makan dengan tenang, sesekali Alexander memaksa Prilly agar membuka mulutnya, ia menyuapkan makanan ke mulut Prilly.
“Aku akan memberikan pada Anne daftar restoran untuk makan siangmu, kau harus perhatikan nutrisimu.”
“Aku tidak kurang gizi,” protes Prilly.
“Aku tahu, kau hanya tidak bisa tumbuh tinggi lagi.” Alexander mengejek Prilly dengan gayanya.
“Sejak kapan kau menjadi pria yang sangat suka mengejek?”
“Aku tidak ingat.” Alexander menjawab dengan santai.
“Sebaiknya kau segera pergi dari sini.”
“Aku belum selesai makan,” jawab Alexander sambil mengunyah makanannya.
“Cepat selesaikan dan pergilah,” ucap Prilly dengan nada ketus.
“Kau memperlakukan orang yang mentraktirmu makan siang seperti ini?”
“Aku akan bayar makananku satu poundsterling.”
“Kau miskin sekali.”
Prilly tidak menjawab, ia menghentikan makannya karena telah merasa kenyang.
Setelah selesai makan siang Alexander masih duduk di ruang kerja Prilly, ia beberapa kali menjawab panggilan dan berbicara serius dengan rekan kerjanya, ia juga beberapa kali memanggil Harun dan mamarahi sekretarisnya itu.
Ketika Alexander hendak meminggalkan ruangan itu, Prilly buru-buru mengingatkan Alexander. "Alex bungamu!"
"Jika kau mau kau bisa mengambilnya,"
"Ei-lek-sen-de!"
"Ada apa?"
"Asal kau tahu aku tidak sudi menerima bunga bekas!" Prilly melotot galak pada Alexander.
Alexander terkekeh lalu mengambil buket bunga miliknya, ia justru membuangnya di tempat sampah kemudian pergi meninggalkan Prilly yang diam-diam menyeringai melihat tingkah mantan suaminya.
HALLO 😍😍😍
AKU HANYA MAU CURHAT SEDIKIT 😊
JADILAH PEMBACA YANG BIJAK, MENIKMATI TULISAN AUTHOR TANPA MENGATUR, BOLEH KOK MENGKRITIK DAN KASIHBSARAN, KAMI PARA AUTHOR SANGAT WELCOME LOH DENGAN KRITIKAN MASUKAN YANG BAIK, INGAT YA KRITIKAN DAN MASUKAN BUKAN MENGATUR ALUR DAN CERITA YANG SUDAH SUSAH PAYAH AUTHOR BANGUN.
SETIAP AUTHOR PASTI MEMILIKI PERTIMBANGAN SENDIRI MEMBUAT SEBUAH CERITA DAN INGAT, KAMI MENGETIK SAMBIL BERPIKIR BUKAN ASAL KETIK, JADI TOLONG SEBAGAI PEMBACA GRATIS HANYA MODAL KUOTA INTERNET TOLONG HARGAI KAMI PARA AUTHOR NOVEL ONLINE 😚😚😚😚
NIKMATI SAJA KEMANA ARAH AUTHOR MEMBAWA CERITA, SUKA SILAHKAN DI BACA GAK SUKA SILAHKAN CARI YANG LAIN 😚😚😚😚
TERIMA KASIH ATAS PERHATIANNYA 😚😚😚