
Jovita tidak ingin menunggu terlalu lama lagi, satu minggu atau satu hari baginya sama saja tetap saja ia tidak memiliki pilihan lain, lagi pula bukankah perusahaan di Singapura juga telah di ditarik oleh Alexander kembali, yang itu berarti saat ini ia menjadi wanita miskin, Alexander benar-benar tidak ingin mengampuninya sedikitpun, jadi jika tidak segera mengambil keputusan maka dirinya tidak akan bisa hidup sementara ia harus berdiri di atas kakinya sendiri sekarang.
Mencari pekerjaan di saat perut membuncit itu tidak mungkin, lebih baik Jovita menahan rasa malunya, toh hanya kepada Alexander ia harus menjilat ludahnya sendiri dan memilih perlindungan, ketimbang ia harus mencari pekerjaan, ia akan menjadi bahan cemoohan orang di luar sana. Setidaknya itu juga cara satu-satunya untuk menyelamatkan bayinya, ia tahu Charles, pria bangsawan tidak mungkin menikah dengan gadis biasa apalagi statusnya sekarang adalah dia seorang janda Jovita sadar itu dan Charles Jovita yakin jika dia tahu Jovita hamil anak Charles, mungkin saja pria itu akan melarikan diri dari tanggung jawab, atau mungkin akan mengatakan Jovita memfitnahnya, semakin lama berpikir Jovita semakin merasa kepalanya berdenyut, iya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, ia harus mendapatkan kepastian, Jovita bangkit dari peraduannya ia berjalan kaki ke dalam kamar mandi membersihkan wajahnya kemudian memolesnya dengan sedikit make up, tangannya meraih ponsel lalu memanggil Charles. ‘Kita lihat seperti apa tanggung jawabmu,’ batin Jovita geram.
Setelah memanggil Charles Jovita segera keluar dari tempat tinggalnya ia menuju sebuah toko obat harus memastikan sesuatu sebelum dia salah mengambil keputusan bisa saja kan Charles mau bersedia bertanggung jawab atas putranya tetapi Jovita juga harus memikirkan keselamatannya dan keselamatan calon anaknya usianya kini tidak mudah lagi usia Jovita telah menginjak tiga puluh satu tahun, jika ia kehilangan bayinya sekali lagi ia tidak yakin bagaimana iya bisa memiliki keturunan di masa depan, ia akan mempertahankan bayi itu dengan sekuat tenaga.
Sore hari Charles seperti dugaannya sore itu datang ke tempat tinggalnya dengan batin bergejolak antara jijik benci dan marah Jovita berakting sebaik mungkin di depan Charles, ia kembali harus menjadi seorang ****** merangkak diatas tubuh seorang pria, dulu ia pernah menjadi ****** Alexander, meskipun saat itu Alexander memang telah bercerai dari Prilly namun tetap saja statusnya adalah ******, bukan kekasih ataupun murni sekretaris, ia menandatangani kontrak sebagai ****** Alexander dengan keadaan sadar dan tidak terpaksa selama tiga bulan dan sekarang ia merangkak diatas tubuh Charles sementara ia tahu pria ******** ini pernah menodainya, tetapi ia harus memastikan masa depan bayinya.
Setelah dua babak mereka lalui, Jovita meringkuk di diperlukan Charles dan membuka pembicaraan. “Charles, Bagaimana jika bayi yang di dalam rahimku adalah anakmu?” Jovita merasakan tubuh Charles tiba-tiba menegang, Jovita mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Charles, ekspresi wajah Charles juga tampak menegang.
“Omong kosong,” ucap Charles dengan nada datar. “Jangan-jangan kau jatuh cinta kepadaku karena kita sering bercinta,” kata Charles dengan nada sangat sinis.
Jovita tertawa ringan, “jatuh cinta kepadamu? Hanya wanita bodoh yang jatuh cinta kepada pria yang mengambil kesempatan dari wanita yang sedang patah hati,” kata Jovita dengan batin yang terasa sangat sakit dan marah, namun ia harus melanjutkan misinya.
"Aku memang mengambil kesempatan tetapi Kau juga sangat menikmatinya bukan?" Charles mau mengangkat sebelah alisnya, bibirnya menyunggingkan senyum licik.
Jovita juga tersenyum di sudut bibirnya. “Jadi, bagaimana jika ini adalah anakmu?”
“Aku tidak mungkin memiliki anak dari wanita yang tidak diatur oleh keluargaku untuk menjadi istriku,” kata Charles dengan nada hambar.
“Apa sebegitu rumitnya hidup kalian?”
“Ya, kami harus menikah dengan pilihan yang telah ditetapkan,” jawab Charles. “Jadi, jika ada seorang wanita mengandung anak dari kami pilihannya hanya ada dua, gugurkan atau hidup tanpa pengakuan,” kata Charles terdengar ringan tanpa beban seolah-olah apa yang di ucapkannya adalah hal yang lazim.
“Begitukah? Sangat rumit, ya?” Jovita bangkit dari tempat tidurnya. “Aku merasa lapar aku pikir tidak ada salahnya jika kau sekali makan di sini kau menginap di sini mungkin,” kata Jovita menawarkan basa-basinya.
“Tidak, aku harus kembali. Aku tidak bisa menginap di sini,” katanya dengan nada enggan.
“Jadi kau benar-benar akan kembali?” Jovita memastikan.
“Aku akan sangat kecewa karena sebenarnya aku telah menyiapkan makan malam untuk kita, tidak mewah,” kata Jovita. “Hanya saja sepertinya jika kau hanya datang kesini untuk memakai tubuhku itu terdengar sangat kasar, aku bisa saja tersinggung, kau sekolah menganggap aku seorang ******* kau bahkan tidak pernah membayarku,” sarkas Jovita.
“Jadi kau ingin aku membayarmu dengan makan malam? Baiklah dengan senang hati aku akan membayarmu dengan makan malam di sini,” kata Charles sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.
“Baiklah, sebaiknya kau bersihkan tubuhmu aku akan menghangatkan makanan untuk kita,” kata Jovita diiringi dengan seringai kebencian yang tidak bisa dilihat oleh Charles.
Jovita mengambil kesempatan untuk menempelkan benda pemberian Alexander kebagian belakang ponsel milik Charles saat pria itu berada di dalam kamar mandi, ketika Charles keluar dari kamar mandi, Jovita berpura-pura terduduk di tepi tempat tidur dan berakting merasakan pusing.
“Charles, aku sepertinya tidak bisa menghangatkan makanan untukmu, tiba-tiba aku merasa pusing, bisakah kau, oh maksudku maafkan aku, aku tidak bisa memanaskan makanan kita untuk makan malam,” kata Jovita dengan nada lemah.
“Tidak masalah kata Charles lebih baik kau istirahat apa kau ingin aku panggilkan dokter?” Charles memasang pakaiannya.
“Tidak, tidak perlu,” ucap Jovita, “aku hanya perlu istirahat sebentar setelah tidur keadaanku akan baik-baik saja.”
“Baiklah kalau begitu, aku akan kembali jaga dirimu, jika kau merasa sangat sakit, panggil aku, akan mengirimkan orang untuk mengantarkanmu pergi ke rumah sakit,” kata Charles.
“Terima kasih,” kata Jovita. Charles mengangguk dan ia keluar dari tempat tinggal Jovita, setelah memastikan Charles tidak ada lagi di tempat tinggalnya, Jovita memanggil Harun dan memberitahukan keputusannya ia memang tidak memiliki pilihan lain untuk sementara ini selain patuh di bawah Alexander, sampai bayinya lahir ia bisa berlindung di bawah belas kasih mantan suaminya.
Tetapi setelah bayinya lahir Jovita memiliki rencana lain, setidaknya itu yang ada di pikirannya sekarang.
TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️❤️
VOTE JIKA SAYANG AUTHOR ❤️❤️❤️❤️
TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️❤️