Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Menggunting dalam lipatan



Anne tampak cemberut karena merasa di curangi oleh Prilly, sahabatnya itu di anggap telah menjebaknya. Prilly mengajak Anne makan siang sesuai perintah Alexander.


Anne berulang kali menetap galak ke arah Prilly yang memasang ekspresi lugu seolah tanpa dosa, seolah ia tidak terlibat persekongkolan.


“Jadi David, aku mengajakmu makan siang hari ini, tujuanku hanya ingin membayar hutang kepadamu, beberapa bulan yang lalu kau mentraktir istriku makan siang, aku tidak ingin berhutang,” kata Alexander dengan nada datar dan seolah dengan malas menatap David.


“Aku sangat tersanjung dengan undangan seperti ini, aku harap kita akan lebih sering makan siang bersama seperti ini.” seringai David, ekor matanya melirik ke arah Anne yang terus saja memasang ekspresi galak.


Sementara Prilly ia lebih banyak diam, ia terus saja berpura-pura tidak mengerti dengan suasana tegang yang menyelimuti David dan Anne.


“Anne menurutmu bagaimana Harun?” Alexander yang sedang memotong-motong daging steak di piring Prilly menanyakan Harun kepada Anne.


“Harun?” Anne mengerutkan keningnya menatap wajah Alexander yang fokus kepada makanan di depannya.


“Ya, Harun,” jawab Alexander tanpa mengalihkan fokusnya.


“Dia sangat cekatan,” jawab Anne.


“Apa kau menyukainya?” Alexander bertanya tanpa mengalihkan fokusnya. “Maksudku pekerjaannya.”


“Aku menyukai... pekerjaannya.”


“Aku berniat memindahkan dia ke Glamour Entertaiment.”


“Ooo...”


“Kalian akan lebih sering bertemu,” kata Alexander.


Ekspresi David, menghitam. Alexander benar-benar bersenang-senang sendiri untuk menguji kesabaran David. Alexander dengan acuh terus memberi istrinya makan dengan tangannya, lalu menekan bel memanggil pelayan untuk meminta tagihan makan siang mereka.


“Sayang ayo kita kembali,” ajak Alexander setelah pembayaran tagihannya selesai.


Prilly mengangguk dengan patuh dan bangkit dari posisi duduknya. “Anne aku akan mengirim sopir untuk mengantarkanmu kembali ke Glamour,” kata Prilly.


“Baiklah,” jawab Anne meski wajahnya tampak masih menyiratkan kekesalan kepada temannya.


“Sampai jumpa David,” kata Prilly dengan seringai jahil.


“Sampai jumpa Anne." Kali ini Alexander yang menyeringai licik ke arah Anne membuat Anne semakin ingin memarahi kedua orang yang membuat dirinya terperangkap berdua David.


“Terima kasih atas traktiran kalian kuharap lain kali kita bisa makan siang seperti ini,” jawab David dengan nada begitu santai.


Ane mendengus kesal, ia meraih tasnya. Kemudian dengan gerakan sedikit kasar ia bangkit dari duduknya, dengan sigap David meraih pergelangan tangan Anne yang hendak menjauh dari tempat itu.


“Beri aku kesempatan, ayo kita diskusikan masalah kita secara dewasa,” ucap David dengan nada rendah.


“Kita memiliki urusan, kau masih kekasihku.”


Tanpa mempedulikan David, Anne melangkahkan kakinya menuju pintu keluar restoran meskipun pergelangan tangannya masih dicengkeram erat oleh David.


Anne bahkan memanggil taksi seolah-olah tidak ada David yang terus mencengkeram pergelangan tangannya, pria itu bahkan mengikuti Anne masuk ke dalam taksi.


“Keluar...!” desis Anne mengusir David keluar dari dalam taksi.


“Aku akan mengikuti ke mana saja kau pergi sebelum kau memberiku kesempatan untuk berbicara berdua.”


Anne makin mendengus kesal, ia berbicara kepada sopir taksi dan menyuruh sopir taksi itu untuk menjalankan mobilnya menuju Glamour Entertainment.


Sedangkan David dengan nada diktator menginstruksikan sopir taksi untuk membelokkan arah menuju apartemen tempat tinggalnya.


“David apa-apaan kau ini? Aku masih dalam jam kerja!” Anne melayangkan prosesnya sambil melotot tajam menatap David.


“Sudah kukatakan kepadamu, aku perlu berbicara berdua denganmu,” ucap David sambil menyandarkan punggungnya di jok mobil.


“Kau bisa berbicara sekarang!” bentak Anne.


“Aku ingin berbicara denganmu. Berdua.” David menekankan kata berdua.


“Demi Tuhan, David....” Anne menekan pelipisnya, “kita memang tidak berdua, kita bertiga. Oke.” Anne mengakui kekalahannya, pria yang sedang menyanderanya ini seorang pengacara yang sangat keras kepala. Anne melupakan itu.


Lebih baik Anne mengalah, tidak ada gunanya bersikeras menghadapi David, ia tidak lagi membuka mulutnya hingga mereka tiba di apartemen tempat tinggal David. Tempat tinggal dirinya juga dulu ketika ia menjabat sebagai sekretaris pribadi David.


Awalnya mereka bekerja secara profesional tetapi kebersamaan mereka, pertemuan yang terus-menerus bahkan hampir dua puluh empat jam Anne berada di sekitar David membuat benih-benih cinta di antara keduanya perlahan mulai tumbuh dan berkembang. Perlahan yang awalnya mereka hanya sebatas atasan dan bawahan mereka mulai menjalin hubungan yang ambigu.


Hingga lebih dari satu tahun kebersamaan mereka tiba-tiba terkuak kebenaran bahwa Adelia dan David telah bertunangan sejak kecil, Anne merasa ia seperti sedang menggunting dalam lipatan.


Setelah berpikir panjang dan mulai lelah, Anne memutuskan untuk berhenti menjadi sekretaris David, tentu saja ia juga mengundurkan diri dari Brown’s Company. David sama sekali tidak mengejarnya, pria itu membiarkan Anne pergi begitu saja. Konyol bukan dan setelah hampir empat tahun pria itu tiba-tiba datang berinisiatif ingin membicarakan hubungan mereka yang sebenarnya menurut Anne sama sekali sudah tidak layak untuk dibicarakan.


TAP JEMPOL KALIAN ❤️❤️❤️


RATE BINTANG LIMA ⭐⭐⭐⭐⭐


VOTE POIN SEBANYAK-BANYAKNYA ❤️❤️❤️❤️


JANGAN LUPA JEJAK KOMENTAR KALIAN ❤️❤️❤️❤️


TERIMA KASIH ❤️❤️❤️❤️