Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Bertukar cerita



Bibir Alexander menyeringai, istrinya sangat lugu, hukuman apa lagi yang di maksud jika bukan urusan di bawah perut yang telah menegang.


Alexander mengecup bibir ranum istrinya, menghisapnya penuh kerinduan, lidah mereka saling membelit bertukar saliva, tangan Alexander menelusuri tubuh telanjang istrinya, membawa istrinya ke bawah pancuran air shower, jemari Alexander berada di bagian intim istrinya untuk memorak-porandakan Prilly hingga istrinya melenguh dan menggelinjang karena mendapatkan puncaknya, Alexander benar benar puawai memainkan jemarinya, Prilly mengakui itu.


Tidak cukup sampai di situ Alexander duduk di atas kloset dan mendudukkan istrinya di atas pahanya, “ride me babe,” geram Alexander, prilly dengan luwes menggerakkan pinggulnya dengan irama seperti ia sedang menari hingga Alexander terus saja menggeram karena kenikmatan yang diberikan Prilly, cara istrinya mengaduk-aduk bagian kecil dari tubuhnya membuat Alexander benar-benar mabuk kepayang, tangannya berada di pinggang istrinya mengimbangi tempo yang di ciptakan Prilly, setelah beberapa lama di mabuk indahnya asmara yang membara akhirnya keduanya mencapai puncak bersama.


Prilly terkulai di dada basah Alexander. “Hubby, aku mencintaimu,” erangnya.


“Katakan lagi, Sayang,” Geram Alexander sambil menciumi bahu telanjang Prilly.


“Tidak, kau serakah!” jawab Prilly sedikit kesal karena ia merasakan benda yang baru saja menyemburkan lahar panas itu bahkan belum di lepaskan dari tubuh Prilly, namun mendadak benda itu menegang kembali saat Prilly menyatakan cintanya, suaminya sangat mesum dan serakah dalam semua hal.


“Aku memang ingin lagi, tapi aku yakin jika aku serius, kau akan pingsan. Lebih ayo kita mandi dan makan siang, setelah itu kita kembalu ke mansion, anak-anak pasti mencarimu,” kata Alexander sambil menggoyangkan pinggulnya yang membuat mau tidak mau Prilly menikmatinya dan mengerang, namun Alexander benar-benar tidak serius untuk melanjutkan, ia melepaskan penyatuan tubuh mereka, “aku akan melanjutkannya nanti malam,” bisik Alexander membuat pipi Prilly berubah menjadi merah merona.


“Kau benar-benar mesum." Prilly mengatai Alexander sambil mencubit pinggang Akexander dengan pelan.


“Aku mesum pada istriku sendiri, itu kewajiban sayangku,” jawab Alexander membela dirinya.


“Jadi kau jika bersama Jovita kau juga mesum seperti ini?” tanya Prilly dengan nada tidak senang.


“Aku tidak pernah menyentuhnya lagi sejak kau menyatakan cintamu padaku,” jawab Alexander sambil mengecup pucuk kepala istrinya.


Prilly justru menjauhkan kepalnya dari dada suaminya dan menatap wajah suaminya dengan tatapan tidak percaya, bibirnya sedikit terkatup.


Melihat ekspresi Prilly, Alexander bertanya. “Kau pasti ingin mengataiku pembohong lagi bukan?”


“Aku, tidak.” Prilly menjawab dengan alis sedikit berkerut.


“Tapi, caramu menatapku itu jelas kau sedang menuduhku,” kata Alexander dengan nada sedih.


Prilly mengecup bibir Alexander kemudian ia memberikan beberapa kiss mark di dada dan di leher Alexander. “Kau tidak kuizinkan membuka baju di depan siapa pun, bahkan jika orang itu adalah pria.”


“Kau posesif sekali Mrs. Johanson, kau sangat mencintaiku rupanya.” Alexander mengatakan dengan nada menggoda, jangan ditanyakan lagi seperti apa perasaannya, ia merasa sebagai pria yang paling bahagia di muka bumi ini, gadis yang aeumur hidup di kejarnya kini berada di dalam genggamannya, menjadi istrinya, mencintainya, takut kehilangan dirinya, bagi Alxander tidak ada yang lebih berharga di muka bumi ini selain mendapatkan cinta Prilly.


“Jadi kau tidak mencintaiku? Tapi kau sangat takut kehilangan aku dan sangat memujaku, apa itu namanya?” goda Alexander.


“Alex!” Prilly bangkit dari pangkuan suamnya dan berkacak pinggang di depannya.


“Hubby, tidak sopan memanggil suamimu dengan panggilan Alex,” kata Alexander sambil meraih pinggang Prilly, mencumbui bibir ranum wanita yang sangat di cintainya dan tidak sabar menunggu malam di mansion, mereka memulai satu babak kembali di atas ranjang.


Di tempat tinggal Alexander dan Jovita.


Jovita sedang berbaring di atas ranjangnya, sudah dua hari Alexander suaminya tidak kembali ke tempat tinggal mereka, tidak memberinya kabar dan juga tidak datang ke perusahaan, pekerjaan Alexander di tangani oleh wakilnya, dan Harun hanya menjawab jika tuannya sedang tidak bisa di ganggu saat Jovita bertanya.


“Apa aku akan di campakkan begitu saja oleh Alexander?” Gumamnya lirih, Alexander bahkan telah berpesan agar Jovita tidak perlu lagi mengurus pekerjaan.


Apakah pria itu telah mendapatkan penggantinya yang mampu memberikan keturunan? Apakah Alexander tidak menginginkannya lagi? Bukankah mereka tidak pernah bertengkar? Bukankah selama ini mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang normal? Meskipun tidak sehangat pasangan lain setiap merekam hanya berdua, Alexander sebenarnya hanya bersikap hangat setiap bersama William, berbeda jika hanya ada mereka berdua, suaminya itu bersikap biasa saja, ia pulang bekerja tepat waktu, makan malam di tempat tinggal mereka, menonton berita ditelevisi, bercakap-cakap seputar pekerjaan, menunaikan kewajiban sebagai suami istri kemudian beristirahat dan paginya ia kembali pergi bekerja. Hanya seperti itu rutinitas yang mereka jalani selama ini. Lain halnya jika di depan William, Leonel dan Grace. Pria itu berubah menjadi pribadi yang hangat dan penyayang, suaminya itu benar-benar menyukai anak kecil sepertinya.


Memikirkan hal itu membuat Jovita semakin merasa terpuruk, akhir-akhir ini Alexander begitu dingin kepadanya, tidak pernah menyentuhnya, terakhir kali suaminya menyentuhnya seusai pesta ulang tahun Richard Johanson ayah mertuanya, percintaan mereka terasa sangat membara, tapi mengapa tiba-tiba sejak malam itu suaminya tidak pernah lagi tidur di kamar yang sama dengannya dan sekarang suaminya bahkan sangat berubah.


‘Apa salahku? Apa sebenarnya yang terjadi?’ batinnya terasa sangat pahit.


Ia merih ponselnya dan mencoba memanggil Alexander namun panggilan itu telah dialihkan dan Harun yang menjawab panggilan tersebut.


Jovita menghela nafas dala-dalam dan mengembuskannya secara perlahan, batinyya terasa terimpit batu, ia perlu bertemu beberapa temannya atau mungkin bertemu William, tiba-tiba ia memiliki sebuah gagasan untuk mengunjungi William dan adik-adiknya, dan mungkin bertukar cerita dengan Prilly bisa mengurangi bebannya.


Jovita melajukan mobilnya menuju tempat tinggal Prilly dan ketiga anaknya, namun sesampainya di sana kediaman itu kosong, seorang penjaga keamanan yang menjaga pintu gerbang mansion mengatakan jika mereka sedang berada di kediaman orang tua Alexander, informasi yang ia terima membuat Jovita semakin merasa dirinya mengecil, ia tidak mungkin datang ke sana.


Tempat itu sangat mengerikan bagi Jovita.


TAP JEMPOL KALIAN 😍😍😍


MAKASIH YA MINGGU KEMARIN UDAH VOTE PRILLY DAN MASUK RANK 14 AKU TERHARUUUUUUU❤❤❤❤