Prilly'S Husband

Prilly'S Husband
Pandai memilih



Terengah-engah Alexander dan Prilly menyudahi ciuman mereka, tangan Alexander membuang semua penghalang yang menutupi tubuhnya dan juga tubuh istrinya, kini tak sehelai benang pun melekat di tubuh mereka. Dengan kobaran api gairah di benak masing-masing Alexander kembali mencumbu bibir ranum Prilly, menyentuh setiap jengkal lekuk tubuh istrinya dengan lembut, dan mempermainkan bagian-bagian tertentu hingga istrinya melenguh.


Dengan perlahan Alexander menyatukan tubuhnya, menikmati malam pertamanya, menggerakkan pinggulnya, rasanya masih sama seperti delapan tahun silam ketika Prilly berada di bawahnya, wanita mungil ini sangat sempit dan memabukkan.


Alexander menggerakkan pinggulnya dengan sangat lembut, seakan ia takut akan menyakiti Prilly.


“Alex,” erang Prilly.


“Iya sayangku,” geram Alexander dengan suara parau.


“Lebih dalam lagi,” pinta Prilly.


Mendengar permintaan Istrinya dengan senang hati Alexander menambah irama pinggulnya, “Alex faster,” pinta Prilly. Alexander semakin bersemangat, ia tidak berhati-hati lagi, mereka berdua bergumul seolah esok tidak akan pernah datang, mereka meneguk madu asmara sebagai pasangan pengantin yang mabuk kepayang.


“Prilly, kau milikku selamanya,” geram Alexander saat ia ambruk di atas tubuh kecil Prilly setelah menanamkan benihnya di rahim Prilly.


Mereka berdua terengah-engah mengatur napasnya, untuk pertama kalinya Prilly melakukan hubungan bahan bersama Alexander tidak dengan terpaksa, mereka berdua melalui malam pertama dalam desahan Prilly yang terus meneriakkan nama Alexander.


Paginya pengantin baru itu terbangun dan kembali melakukan ritual panas, bahkan mereka mengulanginya di dalam bath tube di kamar mandi. Alexander memeluk Prilly dari belakang sambil tangannya menyusuri gundukan didada Prilly, ritual panas di dalam bath tube telah berakhir, namun mereka masih enggan keluar dari tempat itu.


“Hubby, singkirkan tanganmu,” erang Prilly.


“Aku menyukainya,” ucap Alexander sambil terus mempermainkan benda itu dengan jemarinya.


“Kau mengatakan tidak menyukai, kau mengatakan ini terlalu kecil!” Dengus Prilly sambil berusaha menyingkirkan telapak tangan suaminya.


“Oh ya? Kapan aku tidak ingat,” elak Alexander.


“Alex!”


“Tidak ada Alex di sini,” goda Alexander.


“Kau menyebalkan sekarang,” gerutu Prilly.


“Kau mencintai pria yang menyebalkan, sayang sekali.” Alexander ******* cuping telinga Prilly membuat prilly melenguh dan menggeliat.


Ia membalikkan tubuhnya dan melahap bibir nakal milik suaminya yang terus menggodanya.


“Kau nakal sekarang sayang,” ucap Alexander ketika tautan bibir mereka terlepas.


“Kau mengajariku." Prilly terkekeh. “Ayo, keluar dari sini. Aku lapar, kau tidak memberi istrimu makan,” keluh Prilly.



Foto sourch Boking.com


Alexander tersenyum sambil mengecup sebelah pelipis Prilly, mereka meninggalkan Bath tube dan mengenakan pakaian setelah terlebih dahulu mengeringkan kulit mereka mengenakan handuk.


Setelah sarapan pagi yang terlambat itu, mereka masih duduk dengan santai di ruang makan, kamar presiden suite room yang mereka tempati sangat luas dan mewah. Prilly mengeluarkan benda kecil dari dalam tasnya dan meneguknya menggunakan air, Alexander mengerutkan kening melihat istrinya meminum obat.


“Obat apa itu sayang?” Alexander bertanya.


“Buka apa-apa." buru-buru Prilly menyembunyikan kulit obat tersebut ke dalam tasnya.


“Sayang, apa kau lupa komitmen kita?” Alexander mengingatkan.


Prilly menunduk. “Itu hanya pil pencegah kehamilan darurat, kau tidak menggunakan pengaman tadi malam,” jawab Prilly lirih.


“Kau istriku, kita tidak memerlukan pengaman sayang.” Alexander bangkit dari duduknya lalu mendekati Prilly dan membelai rambutnya. “Kau tidak ingin memiliki anak dariku lagi?”


Prilly mendongakkan wajahnya, menatap mata Alexander yang menatapnya dengan tatapan sayang namun juga ada sorot ke tidak sukaan.


“Hubby, status kita... ini akan menyulitkan jika kita memiliki anak sekarang.”


Alexander meraih kepala Prilly dan membenamkan di perutnya. “Maafkan aku, aku akan segera menyelesaikan semua ini, bersabarlah sebentar.”


Prilly hanya mengangguk.


“Bagaimana jika kita berkeliling atau ke pantai?”


“Aku tidak ingin ke pantai,” jawab Prilly.


“Kalau begitu kita berkeliling kota Barcelona saja,” usul Alexander.


Sementara menunggu Prilly Alexander duduk di sofa sambil membuka laptopnya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan, ia juga membalas surat elektronik yang di kirim oleh Jovita, ia memanggil Jovita dan bercakap cakap sebentar dengan Jovita. Ketika Prilly memasuki ruang di mana Alexander berada, Alexander segera mematikan panggilan telefonnya.


“Kau cantik sekali sayang,” puji Alexander begitu Prilly berdiri tepat di depannya.


“Kau dulu tidak pernah memujiku,” ucap Prilly sambil menyisir rambut pendeknya dengan jemarinya.


“Aku dulu memujimu dalam hati,” elak Alexander sambil meraih pinggang Prilly.


“Kau pandai bersilat lidah sekarang, siapa yang mengajarimu?” kekeh Prilly sambil menangkup wajah Alexander dengan kedua telapak tagannya.


Alexander menghirup aroma telapak tangannya dengan penuh penghayatan, seolah-olah sedang menyimpan aroma Prilly masuk ke dalam ingatannya kemudian ia mendudukkan prilly di pangkuannya, mencumbu bibir Prilly seolah-olah bibir itu adalah benda kesuakaannya sekarang, mereka tenggelam dalam ciuman memabukkan dan telapak tangan Alexander bahkan telah bergerilya di balik pakaian yang Prilly kenakan.


“Hubby, hentikan,” erang Prilly.


“Kau memabukkan sayang.” Alexander menggeram.


Prilly menyandarkan kepalanya di dada Alexander sementara Alexander mempermainkan jemari tangan Prilly.


“Kenapa kau melepasnya?” tanya Alexander, pria itu telah menyadari sejak mereka berada di dalam pesawat Prilly tidak lagi mengenakan cincin pernikahannya dengan Mike, namun ia baru saja memiliki moment yang tepat menanyakannya.


“Suamiku saat ini adalah kau, aku sudah memutuskannya,” jawab Prilly lirih, entah Alexander bisa di percaya atau tidak nantinya, namun sekarang ini ia merasa nyaman bersama pria yang ia kenal sejak kecil itu.


Bukan hal yang mudah bagi Prilly saat ia memutuskan melepaskan cincin di jemarinya, semalaman suntuk ia mempertimbangkan untuk melepas cincin di jarinya sebelum paginya mereka harus terbang ke Barcelona, bagaimanapun ia tidak bisa terpaku menanti Mike seumur hidupnya, bagaimanapun ia tak mungkin memakai cincin dari Mike sementara ia menikahi Alexander. Setidaknya ia harus menjaga perasaan Alexander.


“Kalau begitu aku berhutang kepadamu, katakan berlian dari mana yang kau inginkan,” kata Alexander.


“Cincin pernikahan kita dulu masih aku simpan, tidak perlu membeli lagi,” jawab Prilly.


“Lelang semua perhiasan yang pernah kuberikan padamu dulu, aku tidak ingin memiliki satu pun lagi kenangan buruk kita,” kata Alexander dengan tegas.


“Baik, aku akan meminta Mommy Diana untuk melelangnya,” jawab Prilly.


“Mommyku pasti sangat bahagia jika ia tahu kita kembali bersama,” kata Alexander sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Prilly.


“Mommy Diana lebih menyayangiku di banding kau anak kandungnya,” ejek Prilly pada Alexander.


“Kau pandai mengambil hati siapa saja." Alexander mengecup pipi Prilly, sangat lembut.


“Alex....” Prilly memanggil suaminya dengan nada seperti merintih.


“Tidak ada Alex di sini,” jawab Alexander.


“Hubby.” Prilly meralat. “Jangan kecewakan aku lagi,” pinta Prilly dengan nada penuh harap.


Alexander membawa telapak tangan prilly ke bibirnya, menciuminya dengan lembut. “Aku tidak bisa menjanjikan apa pun tapi kupastikan keluarga kecil kita akan sempurna sayang,” ucapnya.


Hening sejenak.


“Kau belum menjawab, berlian mana yang kau inginkan?” tanya Alexander.


“Rusia,” jawab Prilly singkat.


Rusia dipercaya merupakan salah satu negara penghasil berlian terbesar di dunia dengan produksi pertahunnya adalah 38-39 juta karat berlian. Pertambangan utamanya adalah ALROSA yang mengambil andil 90 % dari produksi tahunan Rusia.


“Kau pandai memilih,” kata Alexander.


“Tentu saja aku pandai,” kekeh Prilly sambil tersenyum mengejek pada Alexander.


“Kau ingin mendesain sendiri?”


Prilly menggeleng. “Kau saja yang memilih cincinnya, mulai sekarang aku pasrahkan semua padamu, termasuk perusahaan, aku ingin fokus mengurus anak -anak dan mendesain perhiasan,” jawabnya.


“Aku bahagia sekali mendengarnya, kau memang Prilly kecilku.” Alexander menciumi pipi Prilly dengan perasaan gemas dan bahagia bercampur jadi satu.


AKHIRNYA ALEXANDER DAPAT JATAH JUGA 😎😎😎


SELAMAT YA ALEXANDER 😄😄😄


TAP JEMPOL KALIAN PLISH 😆😆😆