
Setelah mengalahkan kedua golem besar itu, Fee membuat keributan dengan menghancurkan gerbang raksasa yang menghalanginya.
"The Ancient Temple Of Dark Dragon. Begitulah seharusnya nama tempat ini sesuai dari apa yang Rose katakan padaku." Kata Alice.
Keduanya melewati puing-puing gerbang itu dan melihat begitu banyak naga yang berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Wah..wah...meriah sekali, mereka benar-benar tahu etika dan bagaimana harus menyambut seorang tamu." Kata Fee tersenyum sinis melihat puluhan naga itu.
"Tempat ini begitu besar sampai bisa menampung segitu banyaknya naga." Takjub Alice ketika melihat dinding, pilar-pilar dan interior tua sederhana yang menghiasi bagian dalam ruangan itu.
Suara tepuk tangan mengalihkan perhatian mereka. Seorang pria berambut merah dengan wujud humanoid setengah naga dan setengah manusia muncul dari balik salah satu pilar besar.
"Selamat datang di Kuil Agung kami. Aku tidak menyangka kau bisa sampai sini. Aku salut dengan ketangguhanmu iblis kecil." Ucap pria itu dengan nada yang terdengar meremehkan keduanya.
Kyrant melebarkan kedua tangannya ke samping seolah ia memperlihatkan seluruh naga yang mengepung mereka. Namun sepertinya Alice dan Fee tidak peduli dengan hal itu. Jumlah ataupun kekuatan mereka, keduanya sudah tidak peduli lagi. Setelah masuk maka tidak ada pilihan untuk mundur. Tujuan Alice sudah berada di depan matanya. Kali ini, dia harus mendapatkan putrinya kembali.
"Bagaimana? Apakah kau yakin bisa mengalahkan mereka?" Tanya Fee.
"Tentu Fee, lagipula kau kan ada disini. Setidaknya aku bisa menyerahkan punggung ku padamu." Balas Alice dengan tawa kecil.
Fee menggelengkan kepalanya melihat sikap Alice yang masih saja tampak santai meski dikepung oleh banyaknya kekuatan yang besar. "Yah...kalau kau masih bisa bercanda seperti itu disaat ini, berarti mereka memang tidak berarti di matamu." Batinnya
Melihat ke dalam mata Alice yang penuh tekad, Fee merasa kalau ia akan berusaha lebih keras lagi hari ini.
Fee kemudian mendengus merespon candaan kecil Alice. "Heh! Sudah ku katakan sebelumnya, para naga ini tidak jauh berbeda dari seekor kadal di mataku."
Merasa diabaikan, urat nadi di pelipis Kyrant menegang karena naik pitam. Wanita deemon itu sungguh tidak menganggapnya sebagai lawan. "Cih! Kali ini kau sendiri yang mencari kematian. Akan ku tunjukkan seberapa kuat kami, ras naga." Gumam Kyrant kesal.
Alice melihat pria berambut merah itu baik-baik. Ia merasakan energi Mana yang tidak asing. Alice menyipitkan matanya sembari memutar-mutar ingatan dalam kepalanya.
"Ahh..! Pantas saja kau tidak terasa asing. Ternyata kau adalah pria berjubah yang waktu itu melarikan diri dariku." Alice tertawa pelan memberikan senyum sinis yang mengejek, membuat Kyrant menjadi lebih kesal.
Demi menjaga wajahnya di hadapan para naga lainnya, Kyrant yang notabene statusnya putra dari seorang pemimpin ras naga sebelum kedatangan Echidna mulai mencari-cari alasan.
"Ka-Kau! Omong kosong!" Gelagat gugupnya berhasil ia tutupi saat ia tertawa lepas dan menuduh balik Alice. "Seorang naga perkasa seperti ku lari dari ras deemon dengan tubuh kecil seperti mu?! Bahkan aku ragu kau bisa menahan injakan kaki ku." Kyrant berlagak sombong.
Dari apa yang ia katakan memanglah benar dan ras naga lainnya pun percaya. Mereka tertawa habis-habisan akan bualan wanita itu.
"Ku pikir ada kericuhan apa disini?" Suara Wanita yang baru saja bergabung itu mengalihkan pandangan semua orang.
Para naga termasuk Kyrant berbalik ke arahnya dan berlutut. Wanita itu berdiri di ujung tangga layaknya penguasa yang patut di sembah.
"Ya, Yang Mulia."
"Bukankah aku menyuruhmu menyambut mereka? Apa yang membuatmu begitu lama hanya untuk membereskan seekor anjing kecil dan iblis wanita dari ras deemon ini?" Tanya Wanita itu menegur Kyrant dengan nada yang terdengar mengancam.
"Maafkan atas kelalaian saya Yang Mulia. Saya akan segera melaksanakan perintah Anda."
Sementara itu Alice terus saja memperhatikan wanita yang membuat para naga menunduk padanya. Walaupun jaraknya cukup jauh, tapi Alice bisa melihatnya dengan jelas wajah wanita itu.
Dia bingung lalu bertanya pada Fee yang memiliki kemampuan Clairvoyance. "Aku tidak yakin, tapi sepertinya hatiku berkata kalau dia adalah putri ku. Fee bagaimana menurutmu?"
"Kau tidak salah Alice. Dia memang Echidna, putrimu. Wujudnya saat ini hanyalah sebuah manifestasi Mana yang ia gunakan untuk menyamarkan wujud aslinya tapi... dengan jumlah Mananya yang begitu besar. Aku yakin kalau putrimu telah mendapatkan ingatannya kembali."
Alice menoleh kembali melihat sosok wanita itu. "Echidna..." Gumamnya pelan menyebut nama putrinya.
Bentuk wajahnya, tubuhnya yang dewasa dan suara serta auranya, semua apa yang ia lihat di depan matanya bukanlah Echidna yang selama ini selalu bersamanya. Setelah memanggil nama putrinya dengan pelan, Alice berharap kalau putrinya itu akan menjawabnya dan memanggilnya mama seperti yang biasa dia lakukan.
Tangannya bergetar entah karena kecewa atau bahagia. Dadanya ikut menyempit ketika dia memandangi wajah asing itu. Rasa bimbang datang menyelimuti hatinya. Ingatan Echidna telah kembali, haruskah ia menyerah dan membiarkannya? Alice tidak tahu. Tapi, jauh di sudut hati kecilnya, Alice benar-benar menyayangi Echidna dan ingin tetap bersamanya.
Salahkah jika aku sedikit egois?
"Tidak! Aku tidak boleh goyah. Kalau memang dia bukan lagi Echidna putriku yang dulu, maka aku akan melepasnya." Alice menarik nafasnya dalam-dalam dan kembali menguatkan tekadnya. "Aku harus berbicara dengannya. Apa itu keputusannya untuk tinggal atau ikut denganku. Aku ingin mendengar itu dari mulutnya."
Alice menoleh pada Fee, keduanya saling menatap sekejap lalu Alice mengangguk sebagai tanda kalau dia akan tetap maju.
Dari sudut pandang lain. Echidna yang berdiri di puncak tangga melihat ke bawah dan memperhatikan sosok deemon wanita yang datang ke wilayahnya. Ia meliriknya untuk waktu yang cukup lama.
"Wanita ini...." Sebuah tekanan kecil tiba-tiba terasa di dadanya. Seketika jantungnya berpacu sedikit lebih cepat.
Echidna mengangkat lengannya dan mengarahkan telapak tangannya untuk menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdegup lebih cepat. "Wanita ini... memberikan perasaan aneh. Rasanya...dia tidak asing bagiku."
Sebelum keraguannya menjadi lebih besar, kebencian dalam hatinya menarik kembali dirinya dari perasaan itu. Bunuh! Saat ini, Echidna tidak perlu menunjukkan belas kasihan pada siapapun, terlebih pada orang yang berani menginjakkan kakinya di wilayahnya. Echidna yang baru saja kembali ingin menjadikan deemon wanita itu sebagai hidangan pembuka akan penyerangannya ke benua Regnum.
Echidna berdecih. "Aku menantikan hasil yang memuaskan." Pungkasnya lalu ia meninggalkan tempat itu.
Melihat Echidna pergi, Alice segera bergerak tapi seekor naga tiba-tiba melompat turun dan menghalangi jalannya.
"Iblis kecil, mau kemana kau? Kau tidak akan bisa kemana-mana lagi. Tempat ini akan menjadi pemakamanmu."
Alice melihat naga angkuh itu dengan sangat jengkel. Tanpa basa-basi, Alice menarik pedangnya dan melayangkan sebuah tebasan.