Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 179



Ketika pintu batu bergerak dan memperlihatkan apa yang ada di baliknya.


Betapa mengejutkannya. Seketika Alice mengerutkan keningnya, matanya terbelalak dan kemudian menatap tajam seluruh apa yang ada di dalam ruangan itu. Ia mengeratkan kepalan tinjunya, amarahnya memuncak hanya dalam sekejap.


Apa yang ia lihat di depan matanya tidak jauh berbeda dengan kejadian di kuil tahun lalu saat dia menyelamatkan Liliana. Di dalam ruangan itu terdapat batu kristal Mana yang besarnya hampir memenuhi seperempat ruangan itu.


"Oh...aku tidak menyangka ternyata kau bisa mengalahkan boneka ku. Yah, lagipula benda itu cuma boneka prototipe dari sekian banyaknya ciptaan ku."


Seorang pria dengan tubuh agak kurus tersenyum dengan wajah santai dan suaranya terdengar seolah merendahkan, ia melambaikan sedikit tangannya menyambut kedatangan Alice.


Wajahnya tampak pucat dengan kantung mata yang cukup jelas berwarna hitam terlihat dari balik kaca matanya. Ekspresinya tidak seperti orang yang sehat. Jika dilihat-lihat, dia terlihat seperti orang gila. Ya, gila akan penelitian yang sedang ia lakukan.


Pria itu berdiri di hadapan Alice. Entah dia seorang ilmuwan atau seorang yang gila. Baginya, pria itu adalah seekor monster yang terbungkus dalam kulit manusia.


Dia benar-benar akan segera menemui ajalnya.


"Ada apa? Kenapa kau diam saja." Pria itu berbalik mendekati mejanya, ia mengisyaratkan Alice dengan tangannya untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya. Atau lebih tepatnya sebuah kursi dengan tumpukan rantai dan borgol yang terpasang pada sandaran tangan dan kakinya.


Alice menghiraukan ocehan pria itu. Ia ingin melihat pemandangan kejam yang sedang terjadi di hadapannya.


Apa yang Alice lihat mungkin adalah hal asing bagi orang lain, tapi tidak baginya. Dia mengenal dengan baik dengan tabung kaca dan kabel yang terhubung dengan kristal Mana itu. Orang yang dari tadi mondar-mandir di depannya itu, adalah satu-satunya orang yang melakukan eksperimen keji itu.


Pria itu memang benar seorang peneliti gila.


Dua elf wanita dan dua elf pria. Mereka terjebak dalam tabung kaca yang berisi cairan khusus dengan selang udara yang dipasang ke hidung dan mulut mereka. Dada mereka yang mengembang dan mengempis secara perlahan menandakan kalau mereka masih hidup tapi cahaya kehidupan dari sorot mata mereka telah lenyap.


Alice tidak tahu sudah berapa lama mereka berada di dalam sana. Alice bisa merasakan kalau daya hidup mereka melemah karena Mana mereka yang terus menerus terkuras.


Entah sudah berapa kali Alice melihat sorot mata itu.


Dia muak.


Begitu banyak yang terjadi di dunia ini tanpa ia sadari sebelumnya. Apakah kehidupannya sebagai bangsawan tidak lebih dari seekor katak dalam sumur. Dia menikmati hari-harinya dengan penuh kesombongan tanpa tahu kalau Aria sedang dalam kekacauan. Raja Solus dan keluarganya, Nyx, Cecillion, Erebos dank mungkin Kekaisaran Arakhmeia.... apakah mereka juga...


Alice memalingkan wajahnya sesaat.


"Nona cantik, apa yang kau lihat? Apakah kau tertarik dengan penelitian ku. Hehe~ bukankah ini pertama kalinya kau melihat mahakarya sehebat ini. Kau bisa bilang ini adalah satu-satunya di dunia ini. Jadi berbahagialah karena kau bisa melihatnya sebelum....KAU MATI!"


Dua boneka humanoid lainnya muncul tiba-tiba dari langit-langit. Mereka melompat turun di atas kepala Alice. Keduanya membawa rantai besar dan mereka berhasil melilit tubuh Alice dengan rantai itu.


Alice melirik, melihat kedua boneka yang ada di sampingnya. Ia mencoba mengeluarkan sihir tapi sepertinya ada sesuatu yang menghalangi energi Mana dalam tubuhnya.


Pria gila itu tertawa lebar sambil menutupi wajahnya. "Bodoh! Kenapa? Kau pasti heran bukan karena kau tidak bisa menggunakan Mana mu?"


Pria itu berjalan mendekati Alice hingga mereka berjarak selangkah. Dia mendengus keras lalu menyeringai puas. "Biar ku jelaskan. Aku sudah mengawasi mu saat kau melawan boneka ku sebelumnya. Aku sudah mengukur tingkat kekuatan mu. Yah~ Mungkin kau itu setara dengan penyihir level 4 atau 5. Karena itulah aku menyiapkan rantai ini. Rantai ini memiliki sifat anti Mana. Mereka akan mengacaukan gelombang Mana dalam tubuh seseorang sehingga mereka tidak bisa mengontrolnya untuk menciptakan sihir. Kau tahu, benda ini bahkan bisa menahan seorang penyihir level 7." Jelasnya.


Pria ia mendekatkan wajahnya sambil ia memainkan rantai yang ada ditangannya.


Alice menghela nafasnya. Pria itu terlalu percaya diri. Saat matanya berpaling, Kedua sisi bibir sedikit terangkat.


Alice mengeratkan giginya dan menatap pria itu dengan marah lalu ia berteriak. "Sialan! Lepaskan aku. Kau! Lepaskan aku atau aku akan membunuhmu!"


"Membunuh ku? Lucu. Apakah kau tidak sadar akan situasi mu saat ini?"


Ia mengangkat kepalanya dan melihat kedua bonekanya. Pria itu memberikan instruksi pada kedua bonekanya dengan sedikit gerakan tangannya.


Kedua boneka itu kemudian menarik rantai yang mereka pegang dan membuat Alice merintih kesakitan. "K-kau! Ba**ngan! Arrgh!"


Pria itu menyipitkan matanya, ia kembali menunduk dan mendekatkan wajahnya pada Alice.


"Aku penasaran. Walaupun kau sedang marah tapi suaramu masih terdengar indah di telinga ku. Aku jadi ingin melihat rupa seperti apa yang ada di balik tudung dan kain ini."


Dia mengulurkan tangannya perlahan pada wajah Alice.


"Berhenti! Jangan lakukan itu! Kau! Tidak! Tunggu! Tunggu! Kumohon Tunggu!" Alice berteriak sambil meronta namun dan akhirnya ia memohon pada pria itu.


Tinggal sedikit lagi, pria itu hanya perlu menarik kain yang ada di tangannya dan ia akan melihat sosok seperti apa yang ada di balik kain itu.


Kedua mata Alice bergetar ketakutan, ia menatapnya dengan memelas dan sedikit berkaca-kaca.


"K-kau boleh melakukan apapun tapi..., bi-bisakah kau memberitahukan aku sesuatu. Aku tahu, aku sudah kalah. Jadi, bisakah kau menjawab pertanyaan ku sebelum...kau melakukannya." Suaranya terdengar pasrah.


Pria itu yakin kalau gadis misterius itu telah menyerah dan kehilangan semangat bertarungnya. Melihat tangan dan suaranya yang memelan, pria itu mengangguk menyetujui permintaan Alice.


Dia tidak mengira bisa mengalahkan seorang penyihir yang kuat sepertinya dengan sangat mudah. Pria itu dengan bangga tersenyum lebar.


Pengetahuannya memanglah yang terbaik. Pikirnya.


"Baiklah. Lagipula aku tidak tertarik pada tubuhmu. Aku punya firasat kalau kau itu seorang manusia. Aku tidak tahu apa hubungan dengan mereka sampai datang kemari. Tapi, lihatlah disana!" Pria itu menunjuk wanita elf yang ada ada dalam tabung dengan tegas. "Mereka adalah elf yang memiliki kecantikan bagaikan Dewi. Kalau mereka saja tidak membuat ku tertarik, lalu bagaimana dengan manusia jelek seperti mu." Ia berdecak lalu berbalik sedikit menjauh.


Alice berusaha menahan amarahnya.


Ia mengangguk-angguk sambil berkata. "Ka-kau benar. Kalau begitu bisakah kau menjawab pertanyaan ku?"


"Tentu. Lagipula sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Lebih tepatnya menjadi bahan penelitian ku." Pria itu kemudian tertawa terbahak-bahak.


Dia benar-benar tidak waras.


"Aku punya tiga pertanyaan. Aku ingin kau menjawabnya. Yang pertama..., apakah benar kau adalah orang yang bernama Azeer?"


Pria itu menggelengkan kepalanya. "Aku bukan Azeer. Namaku adalah Namtar. Seorang ilmuwan tampan dan terhebat sepanjang masa di Aria." Pria itu dengan bangga memproklamirkan dirinya sendiri.


Alice menatapnya jenuh. Selain gila, apakah dia tidak bisa berkaca?


"Aku sudah menjawab satu pertanyaan mu. Lanjutkan nona manis." Ucap manis pria itu.


Walaupun panggilannya terdengar lembut tapi itu membuat bulu kuduknya berdiri. Andai kata dia tidak sedang berpura-pura mungkin dia sudah menampar wajahnya hingga menghantam tanah.


"Baiklah. Kalau begitu aku ingin tahu tentang Azeer. Siapa dan dimana dia?"


"Hmm... Bukankah kau baru saja mengajukan dua pertanyaan. Itu berarti pertanyaan mu telah habis bukan?"


Alice berdecak. Serasa dia benar ingin mencekik pria itu. "Anggap saja itu cuma satu. Lagipula aku menanyakan tentang satu orang yang sama."


"Kau benar. Baiklah. Azeer adalah seorang pejabat pemerintahan yang memiliki hubungan perdagangan dengan para elf. Dia adalah orang yang telah menjalin kerjasama itu. Dan untuk keberadaannya, dia sebenarnya sudah mati." Ujar pria itu.


Alice terkejut. Ia tidak menduga hal itu.


Alice mengingat ekspresi ketakutan akan ketua bandit itu ketika pedang miliknya berada di lehernya. Dia yakin kalau ketua bandit itu tidak berbohong padanya. "Ini menjadi ambigu. Kalau begitu, siapakah orang yang sebenarnya menggunakan nama Azeer ini?" Benaknya.


"Oi nona. Apa yang kau pikirkan. Sekarang pertanyaan terakhir. Cepatlah, aku sudah tidak sabar untuk meneliti mu." Pria itu terkekeh melihat Alice.


"Aku ingin tahu, apakah ada seseorang di balik penelitian mu ini?"


Pria itu terdiam sejenak. Ia berbalik lalu melirik Alice dengan tajam dari sisi matanya.


Orang yang membantunya ya...


"Tidak ada." Balasnya singkat sambil ia menggelengkan kepalanya sekali.


Dia kembali mendekatkan wajahnya pada Alice. "Karena aku sudah menjawab semua pertanyaan mu. Kalau begitu, biarkan aku melihat sosok kecantikan seperti apa yang ada di balik kain ini." Dia mengulurkan tangannya perlahan. Perasaan antusias terlihat di matanya. Dia sungguh tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi.


Namun sebelum jemarinya berhasil menyentuh kain itu, kedua bonekanya hancur terbelah menjadi beberapa bagian.


Pria itu terbelalak kaget. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Dia berdiri terpaku menatap kedua bonekanya yang jatuh ke tanah.


"A-apa yang terjadi? Ini..." Pria itu segera menatap Alice ketika mendengar suara tawa kecil dari mulut wanita di depannya itu.


Dia melihat sorot mata wanita itu berubah. Tidak sama seperti sebelumnya yang pasrah dan ketakutan. Mata itu bersinar penuh keyakinan menatapnya dengan amarah.


Dia baru menyadari kalau wanita di depannya itu sebenarnya menyembunyikan kekuatannya. Sejak tadi dia sebenarnya telah dipermainkan olehnya.


Dia pun berpikir untuk melarikan diri. Dia masih memiliki pintu rahasia lainnya. Sayang seribu sayang, kakinya terlambat bereaksi sebelum akhirnya Alice memukul perutnya hingga ia jatuh berlutut.


"Gahhak! Uhuk!" Satu pukulan dan dia memuntahkan darah dari mulutnya.


"Tadinya aku berencana untuk memberikan mu kematian yang singkat. Tapi setelah dipikir-pikir... kurasa aku mendapatkan ide menarik."


Pria itu mengangkat kepalanya.


"Akan ku buat merasakan yang namanya hidup segan matipun enggan."


Walaupun wanita itu memakai sehelai kain untuk menutupi sebagian wajahnya, namun dia bisa tahu kalau wanita di hadapannya itu sedang tersenyum dengan mengerikan.


Keringat dingin mengalir membasahi pelipisnya. Tengkuknya tiba-tiba saja terasa dingin.


Dia menggelengkan kepalanya, ia mencoba bangkit tapi Alice menahannya dengan melepaskan energi Qi miliknya.


Tubuhnya menghantam tanah dengan keras. Ia bisa merasakan kalau beberapa organ dan saraf di tubuhnya rusak dalam waktu yang singkat.


Nafasnya menjadi semakin berat.


Kacau! Kali ini dia benar-benar tamat. Dia mencoba berteriak tapi sepertinya wanita itu melakukan sesuatu padanya sehingga ia kehilangan suaranya.


Dia hanya bisa menjerit dalam kepalanya.