
Sebelum fajar menyingsing dan matahari terbit, Alice berangkat melewati Lost Forest. Kubah hitam yang dulu menghalangi jalannya kini telah lenyap. Ternyata benar, kalau penghalang itu juga merupakan perbuatan dari kristal hitam yang Erebos tanam pada Yggdrasil.
Alice menduga-duga kalau ada sesuatu yang tersembunyi di dalam sana sampai membuat dewa jahat itu menutup jalannya. Ya, tempat dimana Sang Naga Agung tinggal dan pahlawan dimakamkan.
Wasteland. Begitulah para elf menyebutnya saat ini. Tidak banyak pohon yang bisa berdiri kokoh di atas tanahnya. Tumbuhan lainnya dan air sungai yang pernah mengalir di sekitarnya menjadi kering dan mati.
Alice memandangi seluruh wilayah gersang di depan matanya. Dia merasakan kalau gelombang energi di tempat itu memang sangatlah tipis.
"Aku tidak mengira ada tempat seperti ini di dekat Yggdrasil."
Ternyata apa yang ada di balik kubah hitam itu adalah sebuah tanah yang ditinggalkan. Tidak ada kehidupan di dalamnya. Menurut sejarah para elf, semenjak Gloria meninggalkan tempat itu, maka semua kehidupan yang ada di dalamnya juga ikut hilang. Itulah kenapa mereka menamainya dengan Wasteland.
Alice berbalik dan mendongak.
Yggdrasil yang menjulang tinggi ke langit masih bisa dilihat dari Wasteland, namun apakah yang membuat energi di tempat itu menjadi begitu sedikit? pikirnya. Akar Yggdrasil begitu panjang, Alice bisa merasakannya kalau energi Murni itu seharusnya masih bisa menyeberang setidaknya sampai di sisi tanah Wasteland.
Alice kembali melanjutkan perjalanannya diikuti oleh Echidna dan Selena.
Sebelumnya, Echidna telah memperkenalkan Selena pada Alice begitupun sebaliknya. Walaupun begitu, Selena masih belum menerima fakta bahwa Yang Mulia pemimpin dari para naga dan sosok terkuat yang ia kenal menjadi seorang putri dari ras hyuman yang jauh lebih lemah dari mereka.
Saat ini Selena hanya mengikuti Alice karena rasa penasaran dan juga khawatir.
Tidak lama setelah berjalan cukup jauh, Alice melihat sebuah gua. Di luar gua itu terdapat pohon tua dan sebuah pedang yang tertancap di bawahnya.
Setelah melewati begitu banyak batang pohon yang mati, anehnya pohon di depan matanya itu terlihat baik-baik saja. Daun-daunnya begitu hijau dan terlihat segar. Batangnya tampak kokoh begitupun dengan dahan serta rantingnya. Pohon itu berdiri sendiri tampak hidup dari sekian banyaknya tumbuhan di sekelilingnya.
Alice penasaran. Ia berjalan mendekati pohon itu.
Perasaan nostalgia mengetuk hatinya membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Alice memegang dada kirinya. "Perasaan ini..."
Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh pohon itu.
Terlintas wajah Lin Zhou Yun yang tersenyum di benaknya.
Untuk satu alasan yang pasti, air mata Alice menetes begitu saja.
Pantas saja dia merasakan kehangatan ketika mendekati pohon itu.
Alice melirik pada pedang yang tertancap di dekatnya. Ia jongkok dan mengangkat pedang itu.
Saat pedang itu tercabut, gelombang energi Qi dan Mana begitu banyaknya mengalir keluar memenuhi seluruh tempat. Energi yang sangat Murni seperti milik Yggdrasil.
Seketika keajaiban terjadi di depan mata ketiga orang itu.
Tumbuhan mulai tumbuh kembali. Mereka yang layu dan kering kembali segar dan berdiri tegak. Bunga-bunga indah memenuhi area sekitar pohon itu. Alice berbalik dan melihat padang rumput hijau terbentang luas di hadapannya.
Alice melihat laki-laki itu. Dia melihat Lin Zhou Yun kecil. Rambut hitam dan mata hitam yang menatap tajam dan goresan luka bakar kecil di bawah matanya, itu adalah ciri khas dari Lin Zhou Yun, muridnya.
Bayangan dari Lin Zhou Yun kecil bermain bersama Gloria Sang naga Agung muncul di hadapannya. Kemudian bayangan itu berganti menjadi sosok Lin Zhou Yun yang remaja sedang berlatih dengan pedang kayu.
"Kau masih tampak lucu walaupun sudah belasan tahun." Kata Alice menahan tawa kecilnya.
Kemudian bayangan itu memperlihatkan Lin Zhou Yun yang dewasa. Lin Zhou Yun berpamitan pergi. Gloria tampak sedih tapi ia menahannya dan memilih merelakan Lin Zhou Yun pergi.
Bayangan itu ternyata menunjukkan tentang pertumbuhan Lin Zhou Yun dari awal ia berpindah ke dunia ini hingga dewasa.
Sayangnya, Alice tidak menyangka akan bayangan terakhir yang menunjukkan seberapa putus asanya Lin Zhou Yun kala itu. Alice tidak tahu apa yang terjadi dalam gua itu. Ia hanya melihat kondisi Lin Zhou Yun yang seolah kehilangan semangat hidupnya setelah ia keluar dari gua.
Alice spontan ingin menyentuh dan memeluk tubuh Lin Zhou Yun, namun dia lekas sadar kalau itu hanyalah sebuah sisa kenangan saja.
Setelah itu, Lin Zhou Yun pun pergi. Alice menunggu sedikit lebih lama untuk melihat pemandangan selanjutnya. Sayang seribu sayang, untuk kedua kalinya dia melihat Lin Zhou Yun kembali dengan tubuh yang penuh luka.
Lin Zhou Yun berjalan menuju pohon itu dan bersandar padanya. Lukanya benar-benar parah. Alice yakin kalau Lin Zhou Yun terkena luka dalam juga.
Ia tahu kalau apa yang terjadi di depannya adalah saat-saat terakhir dari muridnya itu. Ia bisa merasakan kekuatan dari sisa jiwa itu mulai menipis.
Alice sedikit kecewa karena bayangan itu berlalu tanpa sebuah suara. Alice berharap bisa mendengarkan semuanya.
Kisah singkat dari pahlawan kuno pun lenyap dan menyisakan sebilah pedang tua di tangannya.
Alice melihat pedang itu dengan baik sambil mengelusnya perlahan.
"Pedang ini telah di kunci oleh pemilik sebelumnya. Aku tidak bisa menggunakannya dengan baik sebelum memurnikannya."
Alice mengalirkan Mana nya dan mencoba memurnikan pedang itu.
Rasanya ada sesuatu yang di tinggalkan oleh Lin Zhou Yun dalam pedang itu. Dan benar dugaannya, Lin Zhou Yun juga meninggalkan sisa jiwanya dalam pedang itu.
Sisa jiwa Lin Zhou Yun berdiri di depan matanya. Alice tahu kalau tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia ingin berbicara dan mengatakan banyak hal padanya tapi apalah daya kalau sisa jiwa di depannya itu hanyalah sebuah rekaman semata.
Lin Zhou Yun menatapnya dengan lembut, ia tersenyum lalu melambaikan tangannya.
Saat sisa jiwa itu terlihat semakin transparan, ia membungkuk begitu dalam pada Alice. Tanpa sepatah kata lainnya, sisa jiwa Lin Zhou Yun lenyap bagaikan embun pagi.
Dalam hati Alice menduga kalau mungkin saja...Lin Zhou Yun tahu bahwa jiwanya akan datang ke dunia ini dan terus mencari dan menunggunya hingga maut datang.
Alice memegang erat pedang itu. Ia menunduk menatap tempat terakhir dimana Lin Zhou Yun duduk menyadarkannya punggungnya.
~
Setelah ia menyimpan pedang Lin Zhou Yun dalam cincin dimensinya, Alice mendatangi Echidna.
Echidna melihat wajah masam mama nya namun dia tidak ingin bertanya akan apa yang baru saja terjadi. Sejak tadi Echidna tadi hanya diam sembari melihat Alice berdiri menunduk di bawah pohon itu.
"Apapun yang terjadi aku ingin kalian tetap disini. Terutama untukmu Echidna. Aku ingin kau melindungi ku dan menjaga agar tidak ada siapapun yang mendekat."
Echidna mengangguk. Kemudian ia berkata "Mama..." Panggilnya pelan. "Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi tapi...aku harap mama baik-baik saja."
Alice menghela nafasnya. Ia tersenyum tipis mendengar ucapan Echidna.
"Terima kasih Echidna. Aku sudah membuatmu khawatir rupanya."
Dia telah memenuhi permintaan Lin Zhou Yun. Hatinya juga semakin ringan, meskipun sebenarnya ia masih belum sanggup untuk melupakan semuanya secara utuh.
Tapi, dia bukanlah orang yang ingin terjebak dalam masa lalu. Kini dia memiliki dua orang putri dan sebuah keluarga lengkap. Dia harus menjadi lebih kuat untuk bisa melindungi mereka.
Kemudian ia berjalan memasuki gua di belakangnya.
Terjebak dalam masa lalu dan melupakan waktu saat ini. Lantas bagaimana kau akan berdiri untuk masa depanmu kelak?
Setelah Alice meninggalkan mereka. Selena bertanya pada Echidna. "Yang Mulia, saya ingin menanyakan sesuatu pada Anda mengenai manusia bernama Alice itu."
"Hmm, kenapa? Apakah ada sesuatu yang membuat mu penasaran?"
"Kenapa Anda ingin mengakuinya, terlebih lagi menganggap dia sebagai seorang ibu? Bukankah jelas kalau Anda lebih kuat darinya. Lagi pula dia itu hanya ras hyuman rendahan yang sangat lemah."
Selena tidak habis pikir kenapa sosok hebat sepertinya ingin berada di bawah manusia yang notabenenya sangatlah lemah.
Sembari ia terus bergumam dan mengeluarkan keluh kesahnya pada Echidna, Selena tidak sadar kalau diamnya Echidna merupakan pertanda buruk baginya.
Selena tidak melihat mimik wajah dan tatapan mata Echidna yang melototinya dengan tajam melainkan dia terus mengoceh. "Dari segi kekuatan saja, saya yakin kalau dia tidak lebih kuat dari saya dan saya pasti bisa mengalahkannya dengan mudah. Ataukah jangan-jangan dia melakukan sesuatu pada Anda? Hmph! Dari dulu sampai sekarang para hyuman itu memang licik. Yang Mulia tenang saja saya akan-"
"Kau sudah lama bersamaku. Apakah setelah seabad berpisah membuat mu jadi buta dan banyak bicara?"
Nada dingin itu sontak membuatnya menoleh seketika. Ia gemetar ketakutan saat matanya bertemu dengan mata tajam tajam Echidna.
Dia memang selalu menasehatinya dan mengomelinya. Kadang Echidna pun protes dan menutup telinganya saat ia berbicara. Tapi untuk pertama kalinya dia melihat Echidna melemparkan niat membunuh yang begitu besar padanya.