Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 160



KLANG KLANG KLANG


Pedang Alice dan sabit Elysia saling beradu dengan kuat. Mereka kemudian mundur bersamaan untuk mengambil jarak. Elysia benar-benar tidak berkedip ketika ia mencoba untuk membunuh wanita yang sudah dia anggap sebagai ibunya.


"Hahaha...Bagaimana? Apa kau menyukai hadiahku? Kau pasti terkejut bukan?" Tanya Erebos setelah ia tertawa dengan riang.


Alice melirik ke atas sekilas lalu ia kembali menatap Elysia. "Apa yang sudah kau lakukan padanya?"


"Tidak banyak. Aku hanya memanipulasi ingatan dan penglihatannya saja." Jawab Erebos santai. Ia terdengar seperti mengejek Alice.


Laki-laki seperti berenang dalam kepuasan.


Lagi dan lagi, Erebos memainkan trik liciknya. Apakah dia itu Dewa dengan kemampuan ahli boneka atau apa?


Banyak hal yang ingin Alice tanyakan, tapi Elysia bergerak maju dengan ayunan sabitnya dan itu membuat Alice tidak bisa meladeni Erebos lebih lama lagi.


Meskipun serangan lebar dan ada celah dimana-mana. Namun setiap tebasan begitu halus dan cepat. Momentum yang ia ambil juga cukup cerdik.


"Lengah sedikit saja maka sabitnya akan mengenaiku. Tak sangka dia mampu mempelajarinya sampai sedalam ini." Gumam Alice.


"Fokus saja dengan pertarungan mu. Biarkan aku menikmati pertunjukan kalian. Setelah kau kalah maka saat itu juga kemenangan ada di tangan ku. Kukuku...Hahaha."


Alice berdecak kesal. Ia menepis sabit Elysia yang datang padanya dengan pedangnya.


Alice sadar kalau Erebos berusaha memainkan perasaannya. Ia tidak boleh kehilangan kontrol akan emosinya. Mengingat begitu banyak korban yang tenggelam karena bisikan dan rayuan manisnya yang mempengaruhi jiwa seseorang, bagaimanapun Alice harus menjaga ketenangannya.


Ia menghela nafas panjangnya berkali-kali untuk menenangkan jantungnya yang berdegup kencang karena amarah.


"Baiklah Elysia. Perlihatkan pada ibumu itu tentang kemajuan teknik bertarung mu selama ini."


Latihan fisik, pedang, tombak, panah dan tangan kosong. Selama puluhan tahun di dunia ingatan ini, Alice telah membimbing Elysia dengan ketat hampir setiap hari. Tidak peduli terik matahari yang menyengat atau dinginnya hujan. Elysia terus menempa kemampuannya di bawah bimbingan ketat Alice.


"Kau yang selalu berusaha untuk menjadi kuat dan tidak pernah menyerah dengan kerasnya latihan yang ku berikan. Aku ingin melihat sejauh mana perkembangan mu itu."


Menghiraukan dengusan dan tawa kecil dari Erebos. Alice kembali fokus menghadapi Elysia.


"Setidaknya itu menguntungkan ku karena kau tidak sekuat Echidna. Dasar, sebagai ibu aku tidak hanya mendidik putri pertama ku saja. Bahkan aku pun harus memberi pelajaran pada putri keduaku juga." Alice menghela nafasnya, ia menaikkan pundak dan dan lengannya secara bersamaan sambil menggelengkan kepalanya. Emosi negatifnya telah menghilang. Ia mulai menikmati situasi itu.


Ruangan itu tiba-tiba menjadi gelap gulita. Tidak ada siapapun disana selain mereka berdua. Erebos seperti telah menyiapkan arena bertarung itu hanya untuk mereka.


"Haaaaaat!" Elysia berteriak sambil berlari ke arah Alice.


~


Beberapa saat sebelumnya...


Ketika mereka telah memasuki ruangan aman itu. Para murid dan Evelyn akhirnya bisa merebahkan diri mereka dan bernafas lega.


"Hei, Elysia. Apa benar wanita tadi itu ada ibumu?" Aili tiba-tiba mendekati Elysia dan bertanya.


Elysia mengangguk. "Iya. Dia ibuku. Kalau ada ibu, aku merasa tenang." Jawabnya.


"Apakah dia sangat kuat? Aku lihat dia bertarung seimbang dengan Minotaur itu, bahkan dia sampai membuatnya terlempar tadi. Kau tahu itu sungguh mengejutkan." Tambah Maya ikut bergabung dalam percakapan mereka. Dia terlihat cukup antusias dengan kalimatnya.


Elysia tersenyum, ia senang ketika melihat teman kelasnya memuji-muji ibunya. "Itu belum seberapa. Ibuku itu sebenarnya sangat kuat. Jadi kalian tidak perlu cemas." Ujarnya bangga.


Aili, Maya dan Esther yang baru saja ikut nimbrung juga mulai kagum. Mereka memiliki mata yang berbinar-binar mendengar Elysia bercerita tentang ibunya. Melihat para gadis muda itu begitu tenang, Evelyn merasa kalau dia sudah tidak perlu menghawatirkan kondisi mereka lagi.


"Semuanya sudah baik-baik saja, syukurlah. Walau begitu... kekuatan wanita itu memang bukan main. Dia berada jauh di atas ku. Minotaur yang tergolong sebagai monster yang memiliki pertahanan tinggi mampu ia hempaskan dengan mudah." Gumam benaknya.


Sementara itu Reiss dan Yester memutuskan untuk pergi melihat-lihat sekeliling ruangan tersebut. Mereka merasa tertarik sekaligus penasaran akan cara kerja ruangan itu sampai bisa membuat monster-monster tidak bisa masuk ke dalamnya.


"Itu sedikit menggelikan untuk bergabung dalam obrolan mereka." Reiss tertawa canggung sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Kau benar. Aku malah lebih penasaran dengan tempat ini." Ucap Yester.


Ruangan atau area aman itu mungkin tidak begitu besar, luasnya hanya sekitar dua ruang kamar bangsawan jika disatukan. Juga tidak ada yang tampak istimewa di dalamnya. Sebagaimana dungeon pada umumnya, yang ada di dalamnya hanya bebatuan yang dari ukuran kecil sampai besar. Dindingnya bahkan biasa saja. Tidak ada ukiran atau catatan penting yang tersimpan disana. Tapi ada satu benda yang bisa menarik perhatian orang-orang, yaitu kristal biru bersinar yang melayang di langit-langit di tengah ruangan itu. Kristal itu bersinar terang menjadi pelita yang menerangi seluruh ruangan.


Mereka berkumpul.


"Kotak apa ini?" Tanya Esther sambil menunjuknya.


Evelyn yang memegang kotak itu mulai mengeceknya secara keseluruhan. Ia merasakan ada yang aneh dari kotak itu, namun dia sendiri tidak bisa menjelaskan dengan baik. "Dimana kau menemukannya?" Tanya Evelyn pada mereka berdua.


Yester menunjuk ke arah batu yang tadi. "Di balik batu itu." Jawabnya.


Semua orang menjadi penasaran ingin melihat isinya. Evelyn sama sekali tidak ingin membukanya dan ingin membawanya kembali ke akademi untuk diteliti. Tapi para murid memohon padanya dengan ekspresi memelas.


Evelyn menjadi tidak berdaya dengan permohonan lembut mereka. Ia mengibas-ngibaskan tangannya "Baiklah. Baiklah. Tapi karena kita tidak tahu apa yang ad di dalamnya. Aku ingin kalian mundur dua langkah."


""Baik~"" Jawab para murid serentak lalu mereka pun melangkah mundur sesuai arahan Evelyn.


Evelyn membukanya dengan perlahan. Matanya mencoba untuk mengintip ke dalam kotak kayu itu, tapi ia tidak bisa melihat apapun. Di dalamnya gelap. Saat kotak terbuka lebih lebar, sebuah bola hitam melompat keluar. Bola itu terbang memutar di tengah-tengah mereka.


Elysia melihat bola itu terbang ke arah Helian. Dia merasakan perasaan yang tidak mengenakkan sama seperti Evelyn. Elysia merasa kalau bola hitam itu bukanlah sesuatu yang baik. Ketika bola itu makin dekat dengan dengan Helian. Elysia segera melompat dan mendorong Helian.


"Helian! Awas!"


"Duh Elysia. Kenapa tiba-tiba....Hmm? Elysia?"


Elysia yang terjatuh tidak merespon perkataan Helian. Ia terdiam dalam posisi telungkup di tanah.


"Elysia.." Panggil Helian lagi.


Esther merasa cemas. "Apakah mungkin dia melukai dirinya saat melompat tadi? Ngomong-ngomong kemana bola itu? Apa hanya perasaan saja kalau bola itu masuk ke dalam tubuh Elysia ya?" Gumam benaknya.


Evelyn menggelengkan kepalanya. "Kau ini...sini, ibu bantu bangun." Ucapnya menghampiri Elysia. Tapi ketika ia mengulurkan tangannya untuk meraih Elysia, Evelyn kehilangan tangannya dalam sekejap mata.


Darah mengalir begitu saja. Sontak orang-orang terdiam dengan tubuh menggigil ketakutan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi? Kenapa Elysia menyerang instruktur Evelyn?


Beberapa diantara mereka menjadi pucat seketika.


Elysia bangun perlahan. Sebuah sabit besar muncul begitu saja di genggamannya. Ia melirik semua orang dengan tatapannya yang dingin.


Mulutnya mengatup terbuka tapi tidak ada yang mendengar apa yang ia katakan.


"E-Ely...?" Helian merasa ada yang aneh dengan aura Elysia. Sesuatu yang gelap dan menyesakkan tampak membungkus tubuh Elysia. "Kalian...Hati-hati. Aku merasa ada yang salah dengan Elysia." Helian segera memperingati semuanya.


Mereka pun melakukan posisi siaga.


Suasana menjadi hening dan mencekam. Elysia berdiri di tengah-tengah kerumunan teman dan instrukturnya.


Tanpa ada peringatan, Elysia mengangkat sabitnya ke langit dan menghilangkan dari pandangan mereka.


Satu demi satu para murid ditebasnya dengan mudah tanpa perlawanan. Mereka semua mengalami luka para. Bahkan Evelyn sudah tidak berdaya karena serangan pertama tadi.


Mereka yang masih mampu untuk berdiri memilih untuk melawan.


Entah apa yang telah terjadi pada Elysia.


"Tidak ada jalan keluar selain pintu itu." Ucap Evelyn. Pintu itu tepat berada di belakang Elysia.


Mereka tidak bisa kesana, Evelyn yakin kalau Elysia tidak akan membiarkan mereka pergi dari tempat ini. Satu-satunya pilihan adalah bertarung dan mencoba mengalahkan Elysia.


Evelyn, Helian, Yester dan Reiss. Hanya tersisa mereka berempat yang mampu berdiri untuk melawan Elysia tapi sayangnya pertarungan itu berakhir dengan cepat. Mereka kalah telak dengan luka parah.


"Kakak!!!" Esther menjerit dengan lantang ketika ia melihat kakaknya dilemparkan ke tembok oleh Elysia. Deru air matanya mengalir deras, melihat tubuh kakaknya yang tidak lagi bergerak.


Saat sabit itu menembus tubuh Yester. Gadis yang manis dan berkepribadian ceria itu melemparnya dengan sadis.


Helian memukul tanah. Elysia? Apa yang sebenarnya terjadi padamu?!