Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 118



Setelah membaringkan tubuh Alice di atas meja batu yang ia buat dengan sihirnya. Echidna masih saja tertunduk di samping tubuh Alice meratapi kesalahannya.


Andai saja aku cepat menyadari semuanya... Andai saja mama tidak datang ke tempat ini... Andai saja....


Echidna masih tersedu-sedu mencoba menahan tangisnya. Pundak keras dan punggung yang tegap dari seorang pemimpin ras terkuat di Aria menjadi begitu lembek dan terlihat kehilangan semua tenaganya. Padahal belum lama ia menampilkan sosok gagah yang tangguh dengan kemampuan yang luar biasa hebatnya.


Marzar tak tahu apa yang terjadi. Kenapa Sang Ratu dari para naga tiba-tiba saja menjadi kacau seperti itu? Karena telah mengalahkan wanita itu bukankah Ratu harusnya puas dan senang? Kenapa dia malah tenggelam dalam kesedihan?


Berbeda dengan Fee, seekor serigala kegelapan dari dunia lain yang kehadirannya sejajar dengan para dewa. Wajah masam Fee saat menatap tubuh Alice yang sudah tidak bergerak lagi. Dia melihat kedua tangannya lalu mengepalkannya dengan kuat hingga darah tampak menetes dari sela-selanya jemarinya.


Seandainya aku tidak bermain-main disini dan segera menolongnya, mungkin gadis itu tidak akan mati. Fee tidak menyangka masa depan berubah secepat itu. Walaupun ia telah merasakan kekuatan besar dari dalam diri Alice dan memutuskan untuk mengikutinya karena percaya bahwa gadis itu akan memberinya kejutan yang tidak pernah ia temui dalam hidupnya.


"Masa depan bukanlah sesuatu yang pasti. Payah, sungguh mengecewakan. Apakah aku pantas menyebut diriku sebagai rekannya?" Gumam sesalnya.


Serpihan-serpihan memori tentang masa-masa mereka bersama terlintas di kepalanya. Fee menghela nafasnya berat. Kenangan yang penuh emosi baik suka maupun duka atau saat bahagia dan kesal. Memori itu seolah menampar wajahnya dengan keras.


"Maafkan aku...."


Echidna duduk di atas pahanya. Ia benar-benar terlihat seperti seorang gadis kecil yang kehilangan sesuatu yang berharga miliknya. Echidna mengucek matanya yang basah. Air mata penyesalan terus saja menghalangi pandangannya.


"Hiks... Hiks... Mama.. Mama..."


Tubuhnya bergetar sembari tenggelam dalam isak tangis.


Tanpa ketiganya menyadari hal itu, energi dalam tubuh Alice perlahan berubah dan melonjak sedikit demi sedikit.


Jemari Alice perlahan bergerak. Jantungnya yang mati kini berdetak perlahan dan semakin kencang. Alice membuka matanya perlahan.


Kedua bola mata berwarna biru seindah laut itu memancarkan keindahan yang menenangkan hati. Alice melirik dengan matanya dan melihat situasi di sekelilingnya.


Echidna....


Alice menemukan putri kecilnya yang menangis dengan pelan di dekatnya. Ia tersenyum lembut. "Sayang.... Kau sudah kembali." Benaknya


Alice mengulurkan tangannya yang masih lemas perlahan dan meletakkannya di atas kepala Echidna. Echidna tersentak kaget. Sebuah tangan yang hangat membelai lembut kepalanya.


"Mama...?" Gumamnya dengan bibir yang bergetar.


Echidna perlahan mengangkat kepalanya.


Semua orang heran dan terkejut. Gadis itu baru saja mati dan kembali hidup. Marzar yakin kalau wanita itu seharusnya sudah mati, begitu juga dengan Fee yang tidak diragukan lagi bahwa Alice memang telah mati saat ia melihatnya dengan Clairvoyance nya.


"Lihatlah dirimu. Kau terlihat berantakan. Bukannya sebagai seorang pemimpin kau harus menunjukan kewibawaan mu di hadapan orang-orang mu." Canda Alice terkekeh lalu ia tersenyum lembut dengan pandangan teduh menatap wajah mungil Echidna.


Echidna terdiam mematung. Bibirnya mengatup terbuka dan tertutup namun tak ada suara dan kata yang terucap.


Echidna segera mengambil tangan itu dan tidak ingin melepaskannya dari wajahnya.


"Mama....Mama....Mama..." Panggil Echidna sambil menggosok-gosok wajahnya pada punggung tangan Alice.


"Ya sayang ini mama."


"Mama... Mama.. Mama..."


Haru tangis air mata bahagia berlinang membasahi pipinya. Echidna berdiri kemudian memeluk Alice dengan erat. Ia berteriak dalan dekapan Alice sambil memanggil mama nya.


"Hua... Mama... Mama...hiks...mama...!"


"Alice, kau..benar-benar selalu memberi ku kejutan..." Fee tertawa, hatinya menjadi ringan dan dadanya yang sesak kembali lega.


~


Beberapa hari setelah Alice kembali dari kematian. Para ras naga yang sebelumnya mereka lawan telah hampir pulih seluruhnya dan juga Echidna telah menjelaskan situasi dan kebenaran tentang Alice di hadapan seluruh ras naga.


Mereka tidak menyangka kalau Yang Mulia yang mereka layani ternyata memiliki seorang Ibu. Apalagi melihat tingkah manjanya saat bersandar di atas paha wanita bernama Alice itu.


Alice menghela nafasnya sambil memutar bola matanya. "Sampai kapan kau akan terus menempel seperti itu?" Ucapnya pada Echidna yang memeluknya dengan erat. "Apa kau tidak lelah?"


"Tidak. Aku mau dekat mama terus." Balas Echidna sedikit ngeyel.


Beberapa hari terakhir ini, Echidna selalu saja mencari alasan dan kesempatan untuk melekat padanya. Alice tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk melepas putri kecilnya itu. Walaupun sudah hidup ribuan tahun lamanya tapi di matanya, Echidna hanyalah seorang gadis kecil kesayangannya.


Alice melepas pelukan Echidna, ia jongkok dan menatap wajah Echidna baik-baik. "Mau tidak perlu seperti itu. Itu bukanlah salahmu." Ucapnya serius sambil meletakkan kedua tangannya di atas pundak Echidna.


Echidna cemberut. "Tapi tetap saja mama terluka gara-gara aku. Karena aku menyerang mama sampai..." Echidna lalu menunduk, ia memainkan dua jempolnya dengan perasaan tidak enak yang masih melekat di hatinya.


Alice menarik Echidna dalam pelukannya lalu mencium dahinya "Kau tidak perlu memikirkannya ya sayang. Mama baik-baik saja kok dan sekali lagi mama bilang, itu bukan salahmu."


"Ka-kalau begitu...appa mama yakin sudah baik-baik saja?"


Alice mengangguk. "Kalau sikap mu seperti ini, aku jadi mengingat sosokmu yang waktu itu melawan ku. Wanita dewasa yang kuat dengan tatapan tajam dan..."


"AH! Ah..!! Mama...! I-itu...Tolong jangan di ingat lagi."


Echidna memalingkan wajahnya yang memerah. Walaupun dia menutupnya dengan kedua tangannya, tapi Alice masih bisa melihat telinganya yang merah karena malu.


Alice tertawa pelan melihat tingkah lucu putrinya.