
Setelah Echidna tenang, ia mulai terlihat tidak baik-baik saja. Dalam pelukan Alice, Ia memegangi kepalanya yang berdenyut karena nyeri. Echidna merasa kalau ada sesuatu yang hampir ia ingat namun saat ia mencoba mengingatnya, kepalanya jadi terasa sakit.
"Mama..." Echidna memanggil Alice dengan wajah murung. Matanya sayup-sayup menatap wajah Alice. Melihat Echidna yang kelelahan, Alice berbalik dan memberikan punggungnya pada Echidna.
"Ayo naik. Aku akan menggendong mu." Kata Alice. Echidna mengangguk dan menuruti kata Alice.
Karena ia telah melewati pemeriksaan, seharusnya tak masalah baginya untuk masuk ke dalam kota. Alice berjalan sambil menggendong Echidna di punggungnya. Saat ia melewati seorang penjaga, tiba-tiba penjaga lainnya memanggilnya.
"Nona...! tunggu sebentar." Penjaga yang memanggilnya itu berlari mendekat.
"Apakah kami ketahuan?" Batin Alice
Tidak seperti pemikirannya. Penjaga itu menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda terimakasih. "Atas bantuan nona, kami dengan mudah menjatuhkan wyvern itu tanpa adanya korban luka satupun. Kami benar-benar berterimakasih."
Alice tersenyum canggung. Ia tidak terlalu memperdulikan hal itu, baginya saat ini adalah memasuki kota dan segera mencari tempat tinggal untuk beristirahat berhubungan dengan kondisi Echidna juga.
"Umm...kalau begitu, aku permisi." Ucap Alice.
"Oh, maaf menunda anda. Silakan, silakan. Selamat datang di kota Ilium." Sambut penjaga itu meski terbilang telat.
Alice melangkah melewati gerbang dan melihat pemandangan baru di kota itu. Kota Ilium, tanah ras iblis dimana para deemon tinggal. Alice melirik ke kiri dan ke kanan mencari penginapan selagi ia menggendong Echidna yang tertidur di punggungnya.
Di kota itu, berbagai macam bentuk deemon memenuhi setiap sisi kota. Baik yang bersayap atau pun yang tidak bersayap. Adapula yang bertanduk dengan tubuh kecil dan ada yang bertubuh besar setinggi dua orang dewasa. Bahkan kekuatan mereka pun rata-rata menyamai penyihir level 5. Aktivitas mereka bisa dibilang tidak jauh berbeda dengan para manusia.
Alice mengalihkan perhatiannya kembali pada Echidna saat ia melihat pedagang yang menjual sesuatu yang terlihat seperti buah-buahan. Ia berpikir untuk membelikan Echidna.
"Dia kelelahan setelah menggunakan kekuatan sebanyak itu. Syukurlah dia baik-baik saja." Benak Alice. Lalu ia berjalan ke arah pedagang itu.
"Permisi paman." Sapa Alice.
"Oh, seorang pembeli. Mau beli apa nona? Kami menjual buah-buahan segar disini. Silakan, anda boleh memilih dulu, di sebelah sini anda boleh mengetes rasanya." Terang paman penjual itu dengan lihai dan kemudian menunjuk ke salah satu buahnya yang sudah di potong menjadi beberapa bagian.
Alice melihat buah yang ditunjukkan paman penjual itu. "Selain warnanya, bentuknya tidak jauh berbeda dengan buah-buahan di benua manusia. Apakah rasanya juga tetap akan sama? Hmm, tidak akan aneh kan?" Tanya Alice pada dirinya.
Karena paman penjual itu menawarkan satu potong buah untuk dites, kenapa tidak? Sedikit ragu tapi Alice tetap mengambil sepotong dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Ternyata tidak berbeda. Buah ini terasa seperti apel." Pikirnya sembari mulutnya mengunyah. Alice pun mengeluarkan uang dan membeli beberapa buah untuk putrinya.
Setelah itu, Alice bertanya tentang penginapan terdekat, lalu ia pun berangkat menuju jalan yang paman penjual itu tunjukkan.
Tak jauh dari keramaian kota, Alice akhirnya tiba di tempat yang dimaksud oleh paman penjual itu. Dari luar penginapan itu tampak sederhana dan kelihatan murah. Alice tidak pilih-pilih, lagi pula tempat itu hanya akan menjadi tempat peristirahatan sementaranya. Alice membuka pintu dan disambut oleh suasana tenang dan santai dari para penyewa yang sedang menikmati percakapan mereka di ruang masuk penginapan.
"Silakan kakak, kamar anda ada di lantai dua dengan nomor 203." Kata gadis kecil yang memberikan kunci padanya. Dia tersenyum lembut nampak begitu lucu.
"Terima kasih. Sekalian aku ingin memesan makanan untuk makan malam nanti. Apakah kalian bisa mengantarnya ke atas?"
"Tentu. Untuk satu menu makan malam akan kami kenakan biaya 5 spina perunggu. Berhubung karena kakak adalah orang baru, maka kami cuma mengenakan biaya 8 spina perunggu saja."
"Tidak masalah. Kalau begitu tolong ya." Alice pun berlalu ke lantai dua sambil menggendong Echidna.
~
Saat ini keduanya tengah berburu monster, lebih tepatnya mereka sedang mencari kristal mana yang di dapat setelah membunuh monster. Selain bisa di jual, Alice juga menyadari keanehan lainnya yaitu kristal mana yang dijatuhkan oleh para monster ternyata saling sinkron dengan energi Qi nya, sehingga ia bisa menyerapnya dan menggunakannya sebagai bahan baku untuk meningkatkan kultivasinya.
"Echidna, belakangmu!" Teriak Alice.
Echidna yang terlalu menikmati dirinya dalam pertarungan menjadi lengah akan sekelilingnya. Ia tak menyadari serangan diam-diam dan cepat dari kelinci buas yang menyerangnya. Beruntunglah, Alice begitu sigap dan segera membunuh kelinci itu dengan pedang Qi nya dari jarak jauh.
Echidna terkejut mendengar teriakan Alice dan ketika ia berbalik, ia melihat mayat kelinci tepat di depan matanya yang sudah terbelah dua. Echidna yakin kalau serangan kelinci kecil itu tak akan melukainya namun kurangnya perhatian pada sekitarnya ketika bertarung menunjukkan kekurangannya. Echidna menunduk sambil melihat kedua tangannya. Ia berpikir kalau dirinya hanyalah beban. Selama ini mama nya selalu saja melindunginya. Echidna kehilangan semangatnya.
Echidna meminta maaf dengan nada pelan pada Alice yang datang mendekatinya. Alice meletakkan satu tangannya di atas kepala Echidna.
"Tidak apa-apa, yang terpenting Echidna baik-baik saja. Sebenarnya Echidna itu kuat. Berkemampuan dan berbakat. Echidna hanya kurang pengalaman saja. Tidak perlu cemas. Nantinya, Echidna pasti akan lebih hebat dari mama." Kata Alice dengan lembut menasehatinya. Kalimat Alice barusan membangkitkan kembali semangat Echidna.
Echidna dengan gembira menganggukkan kepalanya. Mata polosnya kembali berbinar-binar. Apa yang dikatakan mama nya benar. Dirinya tidak lemah hanya kurang pengalaman saja. Oleh karena itu, Dia akan terus bertarung dan belajar untuk menjadi lebih hebat dan bisa melindungi mama nya.
Alice terkekeh melihat ekspresi lucu Echidna yang begitu mudah berganti-ganti. Ia berpikir kalau tujuannya mengambil misi untuk membunuh Hornet Rabbit bukan hanya mencari uang atau kristal tapi juga melatih Echidna untuk mendapatkan pengalaman bertarung.
Setelah dua bulan lamanya, Alice telah menjadi seorang pemburu seperti Davella dan Salvor. Pertama kali ia mendaftar adalah sehari setelah Echidna istirahat penuh.
Menurut informasi yang ia dapatkan dari para penyewa kamar dan juga Myusel. Di benua Arkham, selain spina, kristal mana juga merupakan pengganti alat tukar menukar dengan nilai yang tergantung kualitas kristalnya.
Adapula hal mengejutkan lainnya adalah ia baru tahu kalau kacamata yang Davella berikan padanya bukanlah kacamata biasa. Alice baru sadar saat ia terkejut melihat bayangan dirinya di balik cermin yang terlihat seperti ras iblis suku oni sama seperti Davella dan Salvor.
Tanduk kecil yang menonjol di dahinya, pupil mata dan telinga yang menjadi runcing.
"Mungkinkah, waktu pemeriksaan di gerbang....aku terlihat seperti ras iblis makanya mereka tak menahan ku." Benaknya.
"Aku penasaran di mana mereka mendapatkan alat seperti ini."
Setelah menghabiskan siangnya berburu Hornet Rabbit. Sudah waktunya Alice kembali melapor ke serikat pemburu.