Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 100



Para naga yang ada di ruangan itu tidak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat. Naga dengan tubuh yang begitu besarnya hampir saja mati mengenaskan karena satu tebasan dari seorang deemon wanita.


"Untung saja aku segera melindungi diriku dengan sihir, kalau tidak, mungkin kepala ku sudah berguling di lantai." Batin naga itu. Ketika naga yang terhempas mundur itu mengangkat kepalanya dan melihat sepasang mata Alice untuk kedua kalinya, ketika itu pula rasa takut berselimut ke dalam dirinya dan membuat seluruh tubuhnya kaku tak bergerak. "Wanita ini...dia bukan sembarang orang."


Kyrant mengeratkan giginya. Saat ia merasakan energi yang deemon wanita itu lepaskan, dia teringat kembali akan hari itu dimana dia merasa dipermalukan.


"Wanita si*lan! Para naga sekalian, demi memenuhi perintah Yang Mulia, serang dan habisi dia!" Teriaknya.


Para naga adalah ras yang dikenal dengan kesombongan setinggi langit. Karena kekuatan mereka yang sangatlah besar dan memiliki keunggulan dari ras-ras lainnya, tentu itu membuat mereka berpikir dua kali untuk menyerang Alice.


Hanya seorang deemon wanita yang begitu kecil, apakah sampai harus mereka menyerangnya secara bersamaan?


Karena keangkuhan itu jugalah, ras naga memiliki etika mereka dalam pertarungan. Dalam perang memang mereka akan menggunakan seluruh kekuatan dari ras mereka, tapi beda ceritanya jika hanya melawan satu atau dua orang saja.


Dalam sebuah duel, ras naga akan bertarung secara adil yakni satu lawan satu. Para naga yang hadir di ruangan itu saling melirik, haruskah mereka melepaskan kebanggaan ras mereka demi melawan seorang wanita dan seekor anjing?


Kyrant baru sadar akan apa yang ia ucapkan. Setelah cukup lama mengikuti Cecilion, dia lupa akan kebanggaan rasnya. Segera Kyrant memutar otaknya untuk berdalih.


"Tapi wanita ini bukanlah sosok yang bisa dilawan hanya dengan kekuatan satu orang naga. Dia berbahaya. Kalau dibiarkan, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada Yang Mulia." Batinnya cemas.


Kyrant tidak pernah melihat atau merasakan kekuatan Echidna yang sesungguhnya, tapi walaupun begitu, dia memiliki firasat buruk akan kehadiran Alice. Rasa Was-was nya membuatnya kembali menyeru. "Apakah kalian tidak melihat saudara kita? Kalau kalian berpikir untuk berduel dengannya satu lawan satu, maka pikirkanlah kembali. Seperti yang kalian lihat, Wanita ini berbahaya. Demi melindungi Yang Mulia dari segala ancaman, bukankah ini waktunya bagi kita untuk menunjukkan kegunaan kita baginya?" Penjelasan Kyrant mencoba memprovokasi para naga dalam ruangan itu.


Para naga saling mengangguk membenarkan apa yang Kyrant katakan. Menghabisi penyusup itu adalah tugas yang Echidna berikan pada mereka. Demi menunjukkan kesetiaan dan kekuatan mereka, sudah pasti mereka harus segera menghabisi deemon wanita itu dan segera melaporkan kesuksesan mereka.


"Benar."


"Kau benar."


"Kurasa kita memang harus menyerangnya bersama."


"Wanita ini memang tanggung, jadi tidak ada yang salah."


"Penyusup harus dimusnahkan."


Puluhan alasan dan pendapat mulai keluar dari lidah mereka.


Kyrant tersenyum sinis, ia melihat Alice dengan penuh kepuasan di wajahnya.


"Saudara ku. Tunjukkan kesetiaan kalian pada Yang Mulia dan habisi penyusup yang berani menginjakkan kakinya di tanah kita." Serunya tegas sambil ia menunjuk Alice.


Para naga meraung dengan keras sampai membuat tempat itu bergetar. Alice melebarkan posisi kakinya untuk mengambil posisi kuda-kuda.


"Setelah lama berdiskusi, akhirnya mereka maju juga." Kata Fee terdengar malas. "Aku hampir kelelahan karena menunggu." Lanjutnya.


"Apa kau siap Fee?"


Alice mendorong tubuhnya dengan langkah yang lebar ke depan dan berlari cepat menerjang ke arah para naga. Alice mengeluarkan tombaknya lalu dengan sekuat tenaga ia melemparkan tombak itu ke arah Kyrant.


"Serangan pertama ini spesial buatmu."


Kyrant tersentak melihat tombak itu meleset dengan cepat ke arahnya. Ia tak sempat menghindar, dengan mengandalkan sihir juga keras tubuhnya, Kyrant terpaksa harus menahan lemparan tombak yang hampir saja menembus wajahnya itu.


Kakinya terseret mundur walau ia sudah menahan tombak itu dengan sekuat tenaga. Bahkan, sangking kuatnya dorongan tombak itu, kedua tangannya yang menahan serangan itu tergores sedikit.


"Bahkan sisikku yang sekuat mitril ditembus oleh serangannya dengan mudah."


Para naga mulai mendatangi Alice sari segala arah. Mereka yang berada di barisan belakang menembakkan berbagai macam elemen dan serangan sihir. Alice melompat ke langit menghindari laju sihir itu dan saat seekor naga datang ingin melahapnya, Alice memutar tubuhnya dan menggunakan Qi nya sebagai pijakan lalu ia naik ke atas kepala naga itu. Alice mengubah bobot tubuhnya menjadi lebih berat, kepala naga itu menghantam tanah saat Alice berpijak di atasnya. Alice kemudian berlari di atas tubuhnya, membuat begitu banyak pedang dari energi Qi dan menembakkannya ke segala arah.


Sedikit sulit jika itu hanya serangan biasa. Alice melihat pedang-pedang miliknya hanya menimbulkan luka kecil terhadap naga-naga itu. Walau begitu, ia tak boleh gegabah untuk mengeluarkan serangan yang akan menguras energi Qi nya dengan cepat.


Sementara Alice bertarung dengan sengit, salah seorang naga baru saja sadar kalau anjing yang bersama wanita itu tidak ada. Ia berpikir kalau anjing itu mungkin adalah binatang kesayangannya dan ingin membunuhnya.


Saat Alice melemparkan tombaknya tadi, Fee telah menghilangkan ke dalam tanah. Melalui gelapnya bayangan Fee menyelam mencari titik yang pas untuk melakukan serangan kejutan.


"Anjing, anjing, anjing. Aku sudah muak dengan panggilan itu. Apakah ras naga ini tidak memiliki penglihatan yang baik." Keluhnya.


Fee menyelami kegelapan untuk beberapa saat, kemudian ia melompat keluar. Naga yang mencari keberadaannya kaget saat ia melihat seekor serigala raksasa tiba-tiba muncul di depan matanya.


Fee menghantam kepala naga itu ke tanah dengan tangannya. Ia membuka rahangnya yang besar dan ingin merobek sayap naga itu tapi ia langsung melompat ketika dua meriam sihir menuju ke arahnya.


"Dia... sekarang seukuran dengan naga." Antara kagum atau heran. Alice tidak habis pikir akan kekuatan Fee yang sesungguhnya. "Pantas saja dia mengatakan kalau naga itu sama seperti seekor kadal di matanya. Yah...dengan tubuh seperti itu...aku masih ragu kalau itu bentuk yang sesungguhnya dari seekor Serigala Fenrir."


Ia ingat saat pertama kali bertemu dengan Fee. Alice kembali memikirkan tentang alasan apa yang membuat Fee ingin bergabung dan mengikutinya. Kalau seandainya Fee menggunakan kekuatannya yang saat ini ia lihat pada waktu itu, Alice yakin kalau dia tak akan memiliki kesempatan untuk menang melawannya waktu itu.


Fee dan Alice keduanya terus bertarung sengit menghadapi puluhan naga. Satu persatu para naga yang melawan mereka berhasil di lumpuhkan.


Alice melompat ke atas kepala Fee untuk menghindari batu besar yang muncul tiba-tiba dari langit.


"Waktunya babak kedua." Alice tersenyum memberikan kedipan sebelah matanya pada Fee.


"Heh. Akhirnya selesai juga." Balas Fee ikut menyeringai.


Fee melolong dengan keras. Gelombang suaranya begitu nyaring di telinga para naga sampai membuat mereka terdiam sejenak.


Sebelumnya ketika Kyrant dan para naga sibuk berdiskusi, ternyata Fee dan Alice telah menyusun rencana melalui telepati. Karena jumlah naga yang begitu banyak dan kekuatan mereka yang besar, Alice tahu kalau pertarungan ini akan menghabiskan banyak tenaganya. Setelah dia melihat wujud Echidna, Alice yakin kalau setelah pertarungan ini berakhir, akan ada rintangan selanjutnya yang bisa jadi lebih sulit.


Alice melayang di udara. Ia merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Metode yang ia gunakan sama ketika ia melawan Cecilion. Susunan Formasi memenuhi ruangan itu. Kali ini dengan Qi yang stabil Alice menggabungkan teknik Immortal dan teknik Plum Blossom Sword nya.


[ Immortal Technique. Plum Blossom Sword Second Form. Samsara ]