Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 135



Dini hari, setelah Asiya pergi dari istana...


Echidna menatap wajah Alice yang serius. Kali ini dia dan Fee mendapatkan tugas dari ibunya.


"Aku tidak akan mengecewakan mama." Echidna juga Fee yang duduk disebelahnya, mengangguk bersamaan.


Alice tersenyum lembut, ia mendekap keduanya kemudian dia menatap Echidna dengan mata teduh. "Sayang, aku pergi dulu ya. Pastikan untuk tidak terluka." Ucapnya sambil meletakkan tangannya di atas kepala Echidna.


Raja Iblis yang menduduki tahta tertinggi di atas para monster, apakah dia akan terluka begitu mudahnya?


Apa yang Alice ucapkan barusan hanya untuk menenangkan hatinya saja. Dia sadar bahwa Echidna sangat kuat, namun tidak akan ada yang tahu seperti apa masalah yang ada di depan. Dia hanya... tidak ingin sesuatu terjadi pada putrinya juga.


Echidna juga menyadari kalimat itu seperti tidak ada artinya jika itu di dengar oleh orang lain. Namun bagi dirinya, kalimat itu membuat hatinya bergetar penuh kehangatan.


Echidna tersenyum lebar memberikan imut dan menunjukkan gigi putihnya. Memiliki seseorang untuk mengkhawatirkan mu terutama itu dari Alice, ibu tercintanya. Echidna mereka sangat gembira dan bersyukur bisa bertemu dengannya.


Setelah mengucapkan perpisahan, Alice pun pergi.


Echidna dan Fee saling menatap. mereka saling mengangguk. Keduanya lalu berpisah, mereka bergerak menuju arah yang berlawanan.


Berdasarkan apa yang Alice katakan, Fee akan mencari sisa kristal hitam yang masih ada di dalam kota lalu menuju Yggdrasil. Sementara itu Echidna bergabung dengan Helian. Dia memiliki tugas untuk melindungi Sang Ratu Kerajaan Elf.


~


Helian telah mengumpulkan prajuritnya untuk bersiaga di gerbang-gerbang kota dan di beberapa distrik. Seolah ia mengerti maksud dari kepergian Asiya sebelumnya. Rencana besar dari para pemberontak pasti akan dimulai.


Ketika fajar hampir menyingsing. Ledakan terjadi di beberapa tempat. Dugaannya benar, para pemberontak telah bergerak. Mereka mulai menjatuhkan kediaman para high elf dengan tiba-tiba.


"Seraaaannggg!" Riuh teriak para pemberontak setelah berhasil menerobos masuk pintu gerbang.


Para penjaga tidak menyangka serangan gerilya itu. Mereka muncul begitu saja dari balik pohon dan semak-semak. Tidak hanya itu saja, di gang-gang kecil dari sana mereka kelompok mereka juga berdatangan, bahkan beberapa dari sisi prajurit kerajaan ternyata adalah seorang pengkhianat yang telah bergabung dalam kelompok pemberontak.


"Jangan takut saudara ku. Dengan kekuatan Kita saat ini. Aku yakin, kita bisa menjatuhkan Sang Ratu dan mendapatkan kembali harga diri kita." Ucap salah seorang pria di antara mereka yang tampak seperti pemimpin mereka. "Kita akan membangun kembali negeri ini dan membalas dendam atas rasa sakit yang telah mereka perbuat." Lanjutnya dengan lantang.


"Oouuuu!!!" Balas sorak para pemberontak.


Sayangnya, gerakan mereka telah diantisipasi oleh Helian. Walaupun waktunya tidak begitu banyak, Tapi itu sudah cukup bagu Helian untuk menggerakkan prajuritnya dan menahan para pemberontak itu sampai bala bantuan selanjutnya datang.


"Jangan gentar! Dengan Yang Mulia Asiya disisi kita. Kita pasti bisa mengalahkan mereka."


"Ooouu!" Semangat para pemberontak semakin melonjak.


Di sisi gerbang yang lain. Asiya melihat keadaan pasukannya mulai dalam situasi yang buruk. Bala bantuan prajurit kerajaan telah datang. Mungkin mereka masih menang dalam hal jumlah tapi dalam hal kekuatan, mereka masih dibawah prajurit kerajaan yang memiliki perlengkapan tempur yang mumpuni.


"Kemana Gephard? Kenapa dia belum mengirimkan bala bantuan?" Tanya Asiya pada dirinya. Asiya terus menjatuhkan para prajurit selagi melihat-lihat sekelilingnya.


Gephard, salah seorang dari kelompok pemberontak yang ahli dalam ilmu strategi dan siasat.


Sebelum penyerangan mereka dimulai. Gephard telah mengatur semuanya dan mengatakan pada Asiya bahwa dia akan mengirimkan bala bantuan jika sudah waktunya, yaitu saat mereka telah berhasil menerobos dua gerbang kota. Tapi sampai saat ini, Gephard belum bertindak. Asiya bingung, ia tidak bisa mundur sekarang, namun jika pertarungan mereka terus berlanjut seperti itu, maka lambat laun mereka pasti akan dikepung oleh prajurit kerajaan.


Di atas gedung yang cukup tinggi, Gephard melihat pemandangan kota sambil tersenyum sinis. "Kini saatnya tiba untukku bergerak." Lalu ia memecah sebuah batu kristal di tangannya. Gephard menyeringai sebelum ia menghilang.


~


"Apakah aku sudah gagal?" Gumamnya menunduk.


Tiba-tiba dari sisi kirinya terdengar ledakan yang amat besar. Helian segera menoleh dan melihat lingkaran sihir yang menjulang di langit.


Cahaya yang amat terang. "Itu... Sihir teleportasi dalam jumlah besar." Matanya terbelalak melihat formasi lingkaran sihir itu.


Siapa yang melakukannya?


Helian segera berlari keluar untuk mencari tahu situasi terbaru yang sedang terjadi. Sesampainya di salah satu menara pengawas, Helian menahan nafasnya saat melihat rombongan monster muncul di tengah-tengah kota.


Lalu, untuk kedua kalinya, cahaya terang kembali muncul di langit, Helian segera berbalik dan melihat bahwa sihir teleportasi yang sama muncul lagi. Kali ini dia menjadi lebih panik karena tempat kedua dimana sihir teleportasi itu muncul berada di dekat pohon Yggdrasil.


Cahaya sihir itu menelan kegelapan di hutan sekitar pohon Yggdrasil untuk sekejap.


Helian ingin berlari kesana namun ia segera menghentikan hentakan kakinya dan menoleh ke belakang. Di hadapannya pohon Yggdrasil yang mungkin dalam bahaya, di belakangnya adalah rakyatnya yang saling berperang. Rasa dilema menyelimuti dirinya.


Helian tidak bisa meninggalkan posisinya, ia tetap harus berada di istana untuk mengkoordinasikan para prajurit dan bawahannya yang lain.


"Helian! Ini gawat! Situasi semakin memburuk!" Daeron berlari menghampirinya.


Setelah mengatur nafasnya, Daeron pun dengan detail menjelaskan situasi yang sedang terjadi.


Para prajurit kerajaan sedang menahan kelompok pemberontak. Saat mereka mengirimkan bala bantuan kesana, mereka dihalau oleh gerombolan monster. Pertarungan yang tak terhindarkan pun terjadi.


Lalu Daeron juga menerangkan bahwa situasi Yggdrasil tidak sama baiknya. Meski belum jelas mengenai keadaan yang terjadi di sekitar pohon itu, tapi diduga dari hasil pengawasan tim pengintai, kalau ada energi Mana kotor yang berasal dari sana, belum lagi miasma beracun bisa dirasakan saat para prajurit mencoba untuk mendekati wilayah hutan sekitar Yggdrasil.


Helian kehilangan warna wajahnya, tenaganya seperti terkuras dengan cepat hanya memikirkan takdir bangsa elf dan kerajaannya.


Helian mengeratkan giginya, ia tidak bisa berdiam lama disini. "Aku akan memeriksa pohon Yggdrasil." Ucapnya tergesa-gesa.


Tapi Daeron menahan kedua bahunya lalu berkata. "Tidak, kau tidak boleh kesana. Bagaimana dengan mereka?" Sambil ia menunjuk ke arah luar dinding istana.


"Kalau begitu apa yang harus ku lakukan?" Alisnya menukik naik.


Daeron menempelkan dahinya pada dahi Helian, dia menatapnya penuh kelembutan. Daeron mengusap air mata yang terlihat membasahi sudut mata Helian. "Bira aku saja yang pergi. Tetaplah disini dan lindungi rakyat kita."


"Tapi...disana berbahaya dan kau tidak begitu-"


Daeron menahan Helian dengan sebuah kecupan singkat pada bibirnya. Bibir merah muda yang lembut dan terasa manis itu sungguh bagaikan jimat yang memberinya keberanian.


Kecupan manja itu membuat Helian terdiam seketika. Dia tidak menyangka akan hal itu. Telinga dan pipinya sedikit memerah karena Daeron. Daeron terkekeh dua kali sambil melihat wajah imut Helian yang sedang malu.


Daeron Mablung. Tidak ada yang tidak mengenal dirinya dan sampai saat ini belum muncul seorang jenius pun yang bisa mengalahkan kepandaiannya. Meski pun begitu, Daeron memiliki kelemahan fatal yang membuat Helian cemas untuk membiarkan pergi.


Kelemahan terbesar dari seorang Daeron adalah dia tidak memiliki kontrak spirit yang bisa ia gunakan dalam pertarungan. Tanpa bantuan spirit dengan kemampuan tempur, Daeron akan menjadi lawan yang mudah dihadapi.


"Aku akan membawa banyak pengawal kesana, kau tak perlu khawatir." Daeron mengusap lembut pipi Helian. "Selamatkan negeri ini. Aku yakin kau pasti bisa menangani semuanya." Ucapnya dengan nada pelan yang begitu lembut.


Helian mengangguk tanpa sepatah kata, ia lalu memeluk Daeron dengan sangat erat.